Sejak saat itu, Alice mulai punya perasaan terhadap Steven. Harapannya untuk confess memberinya kemungkinan yang kecil, karena disekolah itu, tak hanya Alice saja yang memiliki paras cantik. Karena hal itu juga, Alice semakin tidak yakin dengan harapan hati kecilnya yang ingin mengutarakan perasaannya. Setelah pelajaran bu Diah selesai, masuklah bu Sisi, wali kelas VIII. Selama pelajaran beberapa kali otaknya terganggu oleh kegantengan seorang Steven, tapi Alice berusaha untuk fokus ke mata pelajaran yang tengah diajarkan guru mereka itu. Reva sendiri juga bingung melihat tindakan aneh bestienya itu, gak seperti biasanya Alice melamun disaat jam pelajaran.
Tibalah jam pelajaran Kimia yang akan dibawa oleh bu Diana, yang rupanya hari itu beliau sedang sakit. Padahal guru ajaib mereka yang terkenal jarang banget sakit, tapi seluruh sekolah tahu, guru mereka yang sudah S1 teknik kimia dan S2 kesehatan, yang mana pasti beliau sedang meracik obat-obatannya tersendiri. Alice sendiri sedang melamun lagi melihat kearah jendela yang agak jauh darinya, ia sedang merenungi kemauannya untuk confess. Tiba-tiba datanglah Steven ke kelas Alice. Ia hanya berdiri dipintu sambil memegang kertas. Sasa yang merupakan sekretaris kelas, langsung berdiri untuk menghampiri Steven. Tanpa banyak bicara, Steven langsung memberikan 4 lembar kertas itu. “ kata bu Diana, harus dikumpul hari ini juga tugasnya. Yang tidak mengerjakan tugas, catat namanya, lalu kasih ke aku.” Ucap Steven sambil berlalu dari situ. Alice termenung melihat kejadian Steven datang ke kelas mereka, tapi ia tidak terlalu lama termenung ditempat, karena Sasa sudah mulai menuliskan simbol-simbol kimia dipapan tulis mereka. Anak-anak lain mulai berteriak, walau tak terlalu keras. Mereka berteriak kecil-kecilan itu karena simbol-simbol kimia, singkatan zat ditabel periodik yang mulai ditulis oleh Sasa, mereka terlihat seperti orang yang sedang di ruqyah dan kesurupan. Meski tangan Alice sedang menyalin soal yang tengah ditulis oleh Sasa, namun pikiran Alice tidak sejalan dengan tangannya, otaknya tengah memikirkan Steven. Reva saja melongo seperti orang bodoh, melihat betapa sulitnya soal yang diberikan guru mereka itu, berbeda dengan Alice, ia dengan entengnya menulis jawaban dari soal-soal rumit yang diberikan oleh bu Diana.
Setelah pelajaran kimia itu selesai, waktu istirahat untuk para siswa dan siswi tiba. Reva langsung menutup bukunya dan menghela nafas berat, ia langsung berdiri untuk mengantar tugasnya ke meja guru. “ Reva, makan yuk. Keburu lu pingsan “ ajak Alice kepada Reva yang tengah memijat kepalanya sendiri. “ ok, yuk makan.. mau makan dimana? “ tanya Reva pelan, karena energinya untuk menghadapi hari itu sudah habis untuk menghadapi rapat yang tadi diselenggarakan untuk para osis. “ pondok dekat lapangan aja yuk “ jawab Alice sambil membawa tempat bekalnya beserta tempat bekal Reva, dengan niat ingin membantu temannya yang lemah itu. Alice dengan semangat berjalan ke arah pondok yang berada didekat lapangan bola. Alice memilih tempat itu karena disana mereka bisa mendapat tontonan gratis yakni pertandingan bola antar kelas yang dibuat-buat hanya untuk kesenangan saja. “ kamu bekal apa Reva? “ tanya Alice sambil mengeluarkan tempat bekalnya. “ hmm... kalau dari baunya, kayaknya ini sup ayam buatan nenekku. “ jawab Reva dengan semangat. Karena menurut Reva, masakan neneknya adalah masakan yang paling enak di dunia, mungkin kalah dari chef – chef yang ada dimuka bumi ini, padahal dirinya saja belum pernah memakan satupun masakan dari chef – chef terkemuka. “ kalau kamu Alice? “ tanya Reva. “ yaa, seperti biasa, telu dadar campur mie “ jawab Alice sambil membuka tempat bekalnya sendiri. Selagi mereka makan sesekali mereka melihat pertandingan bola yang berlangsung. Tiba-tiba otak Reva terpikir sesuatu yang ingin ia tanyakan kepada Alice dari tadi, hanya saja ia selalu lupa apa yang hendak ia tanyakan. “ Alice, lu kenapa dari tadi melamun mulu dikelas? “ tanya Reva sambil menyesap kuah sup ayamnya. Alice langsung tersedak mendengar pertanyaan bestienya itu, ia tidak menyangka bahwa selama ia melamun dikelas, ia diperhatikan oleh Reva. “ mm... kamu janji gak akan bilang siapa-siapa? “ bisik Alice kepada Reva. “ iya janji. Rahasiamu yang tentang kamu pernah gak sengaja ngebuka pintu kamar mandi yang ada orang lagi be- “ ucapan Reva tertahan oleh tangan Alice yang cepat - cepat menutup mulutnya. Alice memberi kode untuk tidak melanjutkan ucapan yang tadi, Reva menangguk, maka perlahan-lahan tangan Alice lepas dari mulut Reva. “ jadi apasih rahasianya? “ tanya Reva. “ kayaknya.... aku suka Steven deh.... “ bisik Alice. Nah, sekarang malah giliran Reva yang tersedak mendengar pengakuan temannya itu. Karena sepanjang Reva mengenal Alice, Alice hampir tidak pernah menyukai siapapun.
Hening....
Alice langsung memasang muka malu-malu meongnya. Reva ikut terdiam mendengar pengakuan temannya itu. “ kamu udah mikirin cara PDKT nya belum? “ tanya Reva setelah terdiam sekian lama. Alice menggeleng pelan dengan pipi yang memerah. “ kalau untuk PDKT... aku gak terlalu yakin... “ bisik Alice pelan. Reva makin tambah bingung dengan tingkah bestienya itu. “ lho, apa yang buat kamu ragu? “ tanya Reva lagi, mencoba menncari solusi untuk bestienya yang pemalu itu. awalnya Alice ragu untuk mengutarakan isi hatinya, tapi dia percaya bahwa Reva pasti akan membantu dan tidak akan membeberkan rahasia ini pada siapapun itu. Setelah sekian menit berpikir, akhirnya Alice menjawab “ disekolah ini, pasti ada yang lebih cantik, menarik dan semacamnya, aku gak mungkin bisa PDKT sama dia... “ jawab Alice pelan, sambil menyuap sesendok nasi dengan telur dadar campur mie nya itu. Reva berpikir sejenak, mencoba mencerna pengakuan Alice. Selagi Reva berpikir sendok demi sendok sup ayam dilahap Reva, walau otaknya sibuk memikirkan masalah Alice. “ jadi, simplenya kamu malu atau ragu gitu? “ tanya Reva setelah terdiam cukup lama. Alice mengangguk pelan dengan sendok berisi makanannya terus ia lahap. “ mau coba confess? Nanti aku bantu “ tawar Reva kepada Alice yang tengah mengunyah makanannya. Alice terdiam mendengar tawaran Reva yang mungkin bisa membantunya. “ tapi, gimana cara kamu membantuku? “ Tanya Alice yang ragu dengan tawaran yang diajukan Reva padanya. “ kamu mau aku bantu sampaikan atau aku bantu mengubah dirimu sendiri biar pede? “ Tanya Reva balik ke Alice. Itu merupakan pilihan yang sulit untuk dipilih oleh Alice. “ kalau aku pilih opsi kamu yang bilang aku suka sama dia, kamu bakalan ngomong apa didepannya? “ tanya Alice yang terus-terusan meminta kepastian tentang ‘ jasa ‘ Reva. “aku tinggal bilang kalau kamu mau ngomong sama dia. “ jawab Reva sambil mengedikkan bahu lalu menutup tempat bekalnya karena makanannya telah habis ia lahap semua. “mm... akan kupikirkan tawaranmu..” jawab Alice singkat sambil ikut menutup tempat bekalnya yang tidak menninggalkan satu butir nasi.
Jam sekolah habis, maka sekarang waktunya untuk semua siswa siswi kembali kerumah masing-masing. Reva pulang paling cepat karena les nya sana sini. Ia biasanya dijemput oleh sopir pribadi ayahnya, sedangkan Alice sedang duduk didekat pedagang siomay yang sedang membuatkan pesananya. Sembari menunggu, seperti anak pintar lainnya, ia membuka buku paket kimianya dan membaca bab yang tadi masuk disoal yang dituliskan oleh Sasa.ia mencermati satu persatu paragraf dibuku itu, terkadang ia menandai bagian pentingnya. “ Neng “ panggil sebuah suara yang membuat Alice mendongak untuk mencari sumber suara. “ Neng, ini siomay nya udah jadi “ ucap si pedagang sambil menyodorkan seplastik siomay lengkap dengan tusukannya. Alice menerima siomay itu dan berkata “ makasih ya bang “ yang disambut dengan anggukan dari si pedagang. Alice kembali fokus ke buku paket kimianya, sesekali ia memakan satu siomay nya. Suara kendaraan yang lewat, obrolan siswa dan siswi lain tidak mengganggu sesi belajar Alice. Beberapa siswa dan siswi duduk disampingnya, hanya untuk menunggu pesanan mereka dibuatkan oleh pedagang siomay atau sekadar menunggu jemputan mereka tiba. Semakin waktu berjalan, sekolah itu semakin sepi, karena sebagian siswa dan siswi telah pulang kerumahnya masing-masing, hanya beberapa siswa dan siswi yang tersisa disekolah itu. Alice masih duduk ditempat yang sama dengan buku yang sama, sesekali ia menatap langit biru yang bercampur dengan oranye sore hari, lalu kembali fokus ke bukunya. Setelah bab yang ia baca selesai, ia memasukkan buku paket kimianya itu ke tasnya lalu berdiri, mencari tukang becak langganannya. Ia berdiri ditepi trotoar melihat ke kiri dan ke kanan, mencari keberadaan sang tukang becak. Alice menundukkan kepala dan bercermin ke genangan air yang berada sangat dekat dengan kakinya, ia memperhatikan wajahnya sendiri dan teringat akan tawaran yang diajukan Reva untuknya. Namun untuk sementara ia tak ingin memikirkan itu. ia keembali melihat kesekelilingnya, melihat siswa yang tersisa mulai pulang. “ belum pulang? “ tanya sebuah suara yang mengejutkan Alice disela pencarian keberadaan si tukang becak. Alice menoleh kebelakang dan setengah terkejut, karena yang bertanya adalah Steven,“ b-belum” jawab Alice gagap. Steven mengangguk lalu pergi ke parkiran motor untuk mencari motornya lalu pulang. Alice menghela nafas penuh syukur, karena ia tak perlu basa basi dengan Steven.
Alice masih mencari keberadaan tukang becak. Ia menebak pasti si tukang becak lagi banyak yang pakai jasa becak nya, makanya ia lama mendatangi lokasi Alice. Karena ia bosan, ia mulai menggeser bebatuan kecil dekat kakinya. Suara motor mulai terdengar dari arah parkiran motor, Alice menebak bahwa itu suara motor Steven. Ya memang kenyataannya itu betulan motor Steven. Ketika suara motornya semakin dekat, Alice cepat-cepat menundukkan kepala dan berpura-pura menggeser bebatuan kecil dekat kakinya. Motor Steven melaju di jalanan dan melewati Alice yang tengah menyembunyikan wajahnya. Setelah Steven pergi, orang yang ditunggu Alice tiba, yakni si tukang becak. “ maaf lama ya neng, tadi macet dekat sana. “ sapa si tukang becak ke Alice. “ maklum lah, ini kan jam pulang kerja. “ sahut Alice sembari duduk di becak itu. setelah Alice duduk, si tukang becak bertanya “ langsung ke rumah nih neng? “ dan dijawab ramah oleh Alice “ iya bang “. Sepanjang perjalanan ia terus bercerita dengan si tukang becak selayaknya teman. Nama si tukang becak ini adalah Kang Supri. Ia selalu menjemput Alice ketika jam pulang sekolah, sangking seringnya Kang Supri mengantar pulang Alice, ia sampai hafal jalan pulang ke rumah Alice.
“ Neng, udah sampai nih “ ucap Kang Supri ketika becaknya sudah berada didepan rumah Alice. Alice segera beranjak dari tempat duduknya lalu mengucapkan terimakasih sembari memberikan uang sebesar Rp 12.000,00 kepada Kang Supri. Rumah Alice adalah rumah yang sangat sederhana tapi sangat enak dilihat. Di halaman rumahnya ada bunga-bunga yang ditanam Alice dengan ibunya. Sebagai ganti pagar, mereka menggunakan tanaman bunga yang cukup tinggi, sekitar sedada orang dewasa yang dipangkas rapi oleh ibunya. Jalan menuju pintu utama dihiasi batu – batu abu-abu yang tersusunn rapi. Alice berjalan menuju pintu utama, ketika membuka pintunya ia disambut oleh adiknya, Gina Sekar, yang masih kelas 2 SMP yang tengah menulis di meja dengan buku paket yang terbuka di depan buku catatannya. “ udah pulang? Tumben lama “ tanya Gina yang sempat melirik Alice lalu kembali fokus ke tugasnya. “ iya, Kang Supri tadi kejebak macet. “ jawab Alice yang tengah melepas sepatu dan kaus kakinya. Tiba-tiba Alice mendengar teriakkan ibunya, “ Alice! Cepetan mandi, setelah itu makan! “ teriak ibu Alice. “ iya bu “ jawab Alice. Ia masuk ke kamarnya untuk meletakkan tasnya dan meraih handuk yang terletak dibelakang pintu. Alice berjalan ke kamar mandi dengan langkah lelah yang disembunyikan. “ masak apa bu? “ tanyua Alice sebelum memasuki kamar mandi. “ Sardin “ jawab ibunya singkat. Alice mengangguk lalu masuk ke kamar mandi, dan mulai mendi. Selesai mandi, Alice pergi ke kamarnya untuk mengenakan pakaian yang ada didalam lemari. Ia mengambil kaus oblong hitam bergambar beruang coklat dan celana pendek yang pendeknya sekitar se lututnya. Alice menghampiri Gina yang masih duduk di ruang tamu. “ Ngerjain apa? “ tanya Alice sambil duduk disebelah adiknya itu. “ PR fisika “ jawab Gina yang tengah menulis jawaban di buku catatannya. “ kamu paham? Tumben bisa ngerjain sendiri “ sindir Alice sambil menyenggol kecil Gina. “ boro-boro paham. Aku mah pahamnya dikit aja “ jawab Gina sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
Alice tertawa melihat tingkah Gina. “ ada yang mau aku bantu gak? Keburu aku berdiri. “ tanya Alice. “ ada “ jawab Gina sambil menoleh ke arah Alice dengan mata berbinar.
“ bagian mana yang bingung? " “ semuanya " " lho, emangnya kamu gak merhatiin penjelasan guru mu? " “ udah aku perhatiin, udah aku cermati tapi gak paham paham “
“ yaudah sini ku jelasin "
Alice dengan sabar menjelaskan materi yang tengah dipelajari Gina. Ketika waktunya makan, mereka makan bersama di meja makan, ada Alice, Gina dan ibunya. Ayah mereka tiada karena kecelakaan. Sebelum tidur, Alice menyempatkan diri untuk mengulang pelajaran hari itu. setelah 45 menit belajar, ia merapikan meja belajar, menyiapkan buku, mematikan lampu, meyalakan kipas angin dengan pewangi berbau teh menggantung. Alice membantingkan dirinya ke kasurnya itu, ia mengubah posisi agar bisa tidur dengan posisi yang nyaman. Namun bukannya ia tidur, pikirannya malah terusik oleh tawaran Reva, apakah dia harus memilih Reva yang menyampaikan atau dirinya yang harus berubah? Alice mengacak-acak rambutnya, berusaha melupakan hal itu. Ia akhirnya bisa tidur dengan nyenyak, walau kerisauannya masih ada di dalam hatinya.
-------------------------------------oOo--------------------------------------
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 3 Episodes
Comments