eps /3 chelsea

BAB 3

Chealsea

Alarm ponsel Alice mulai menyanyikan lagu yang telah dipasang olehnya. Alice tersadar dari mimpi indahnya, yang membuat pipinya sendiri terasa panas yang bahkan membuat Alice bingung sendiri. Ia mencoba mengingat apa mimpi yang tadi ia alami?. Alice menggaruk kepalanya sendiri saking bingungnya ia dengan apa yang sedang terjadi dengannya. Alice memilih untuk tidak memikirkan hal itu, ia memilih untuk mandi dan mulai bersiap untuk sekolah. Alice menyambar handuk yang terletak dibelakang pintu dan mulai berjalan menuju kamar mandi. “ Alice! Sudah bangun belum? “ tanya ibunya yang sedang memasak sarapan untuk hari itu. “ udah bu “ sahut Alice dengan nada serak habis bangun tidur. “ sekalian bangunkan Gina ya! “ ucap ibunya sambil mengoseng nasi goreng di kuali legend. Ya, kuali legend, namanya begituu karena itu adalah warisan yang berumur lebih tua dari Alice, dan anehnya kuali itu tidak tergerus oleh waktu. Alice mengangguk lalu berjalan ke kamar Gina, ketika dibuka, seperti yang Alice duga, Gina masih tidur dengan posisi yang tidak valid. Alice mengguncang badan adiknya, tapi malah ditepis oleh Gina, Alice menggunakan cara yang pernah diajarkan ibunya bila Gina sulit dibangunkan yakni, tarik guling yang ia peluk lepas dari pelukannya. Alice menjalankan rencana itu, awalnya Gina biasa saja, tapi makin lama, ia merasa rese sendiri dan bangun secara mandiri. “ kok guling ku kau ambil? “ tanya Gina sembari duduk dan mengucek matanya yang menemukan kakaknya sendiri tengah memegang guling sarung keroppi itu. “ udah jam 5 dini hari, Gina Sekar “ ujar Alice. Bukannya Gina berdiri dan mengambil handuk, ia malah melanjutkan tidurnya dalam posisi duduk. Alice yang merasa geram dengan tingkah adiknya, ia cepat-cepat mengambil handuk Gina lalu menyeret adiknya itu ke kamar mandi. Sontak, Gina terkejut karena tiba-tiba ada sesuatu yang kasar yang menggores punggungnya. Alice membawa Gina melintasi dapur, ibunya yang menyaksikan tingkah putrinya tertawa keras melihat Alice yang menyeret Gina. “ Sono, mandi duluan “ kata Alice sambil menunjuk kamar mandi lalu melemparkan handuk Gina kemuka adiknya yang masih terkapar dilantai. “ iyaa. Santai lah kak “ kata Gina sambil menyingkirkan handuk itu dari wajahnya. Alice melepaskan kaki Gina yang masih dipinggangnya, ia membiarkan adiknya mandi terlebih dahulu.

Setelah 10 menit, Gina berjalan keluar dengan sekujur tubuh basah. Sekarang, giliran Alice yang mandi, ia hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit saja untuk mandi. Setelah mandi ia berjalan menuju kamarnya untuk mengenakan pakaian sekolah. Ketika sudah selesai, ia berjalan ke ruang makan untuk sarapan. Nasi goreng buatan ibunya telah disajikan dimeja. Gina yang baru datang bergegas duduk, ia ingin cepat-cepat menyantap nasi goreng spesial ibunya itu. Ibunya menyendokkan nasi gorengnya ke anak-anak nya. Gina cepat-cepat melahap makanan itu, sama dengan Alice. Selesai menyantap sarapan super lezat itu, Alice melirik jam dinding yang menunjukkan pukul

5 : 45 di dini hari. Alice berjalan ke ruang utama dan mengangkut tas sekolah nya dan mulai mengenakan kaus kaki beserta sepatu, yang disusul oleh Gina. Selesai mengenekan sepatu, ia mencium tangan ibunya sebelum berangkat. Seperti biasa, Kang Supri sudah menunggu didepan rumahnya, sedangkan Gina biasa naik bis, karena jarak rumah ke sekolahnya lebih jauh lagi daripada Alice. Kang Supri mulai mengayuh becaknya menuju sekolah Alice. Beberapa menit kemudian, Alice sampai didepan gerbang pintu sekolahnya. Ia beranjak berdiri dan memberikan uang ke Kang Supri. Sudah ada beberapa murid di sekolah, dan beberapa lagi baru sampai setelah diantar. Alice menghirup udara sekolah mereka yang asri. “ Pagi Alice! “ sapa Reva yang langsung merangkul Alice dengan kasar, yang hampir membuat Alice jatuh ke samping, tapi gak jadi karena tubuh Alice gak sengaja menyenggol orang disebelahnya, ya, dialah Chealsea Marissa Lalika, biasa dipanggil Chealsea. “ iih, hati-hati kalau jalan! Gara-gara kalian rambutku berantakan! “ oceh Chealsea ke Alice dan Reva. Alice segera minta maaf, berbeda dengan Reva, ia malah mengejek dengan membuat gestur tangan berbentuk huruf ‘ L ‘ disamping kepala sambil menjulurkan lidah. Chealsea tentu saja marah, mengetahui Reva yang tengah usil ke Chealsea, ia memperlambat langkahnya dan membiarkan Reva langsung berhadapan dengan Chealsea tanpa penghalang. Reva melanjutkan ajang adu mulutnya dengan Chealsea. Chealse adalah siswi paling centil disekolah itu. memang parasnya cantik, tapi hanya ketika menggunakan riasan wajah yang bukan main tebal. Selain itu Chealsea memiliki rambut panjang oranye agak tua yang amat lurus,bando merah muda berhiaskan pita-pita kecil berwartna merah muda yang sedikit lebih tua, ia juga memakai anting hati dan kalung remas. Ya, penampilannya sangat keperempuanan sekali, malah menurut pendapat pribadi Alice dan Reva, Chealsea terlihat seperti anak kecil yang belum dewasa dan mengerti dunia sepenuhnya dan masih membutuhkan bimbingan orangtuanya yang sangat memanjakannya. Chealsea juga terkenal karena bisa terus-terusan bisa nempel dengan Steven, dan anehnya Steven tidak marah sedikit pun, hanya saja ia sedikit berkomunikasi dengan Chealsea. Karena hal itu juga, Alice yakin bahwa Steven menyukai Chealsea.

Alice sudah sampai didepan pintu kelasnya, diikuti oleh Reva yang bermuka masam. “ gimana ajang adu mulutnya? Siapa yang menang? “ tanya Alice dengan nada jahil. Reva mengacak-acak rambutnya, saking marahnya ia. “ ya aku lah. Tapi sumpah tu anak, pengen aku botakkin tu kepala! “ ketus Reva sambil tetap mengacak rambutnya. Alice memerengkan kepala, memberikan kode bahwa ia tidak mengerti. Reva menghela nafas kasar dan menarik nafas panjang, bersiapkan menceritakan lrbih lanjut, “ masa dia bilang aku itu penampilannya jelek? Padahal aku ini cantik! Aku bentak dong, enak banget dia bilang penampilan aku jelek. Setelah itu aku tanya ‘ atas dasar apa kau bilang aku jelek? ‘ terus dia jawab ‘ kalau penampilan elu kayak aku, aku bisa akui kalo kamu cantik ‘ aku? Berpenampilan sepertinya? Cih! Mendengarnya pun aku tak sudi! “ kata Reva panjang lebar, lalu ia kembali menghembuskan nafas kasar. “ aneh-aneh aja Chealsea. Masa perempuan elite kayak kamu disuruh berpenampilan seperti anak kecil? “ balas Alice, yang merasa kalau Reva ada benarnya. Reva diam sejenak, mencoba memadamkan api kemarahan dalam hatinya. Setelah ia merasa dia mulai tenang, ia teringat tawaran yangpernah ia ajukan ke Alice. “ eh Alice, gimana? Kamu sudah memikirkan tawaranku kemarin? “ tanya Reva sambil menoleh ke arah Alice. Alice terkejut mendengarnya, karena ia terus-terusab menghindar dari hal itu. Alice berpikir sejenak, memikirkan mana opsi yang paling baik untuk diambil. Reva dengan sabar menunggu jawaban Alice. Akhirnya Alice menjawab “ Ah... iya ya.... “ ucap Alice pelan, sehingga Reva harus mencondongkan tubuhnya ke arah Alice agar dapat mendengar perkataan temannya itu. Alice melanjutkan ucapannya “ A-aku... belum memikirkannya....“ ucap Alice pelan, agar tak ada yang bisa mendengar peercakapan mereka selain mereka berdua. Reva menangguk mendengar saran Alice. “ ugh... fine, tapi cepetan buat keputusan, keburu disambar orang“ ucap Reva sambil tersenyum jahil. Alice menepuk bahu Reva, yang dibalas oleh tawa Reva yang diikuti oleh Alice.

Jam masuk kelas telah berbunyi, pertanda semua siswa harus segera masuk ke kelas mereka masing-masing. Alice dan Reva segerea masuk dan menantikan guru killer mereka masuk. Semua siswa dan siswi dikelas itu tengah menyiapkan mental mereka menghadapi sang ratu, bu Lilis, guru matematika sekolah itu. guru ini terkenal akan ocehannya yang menusuk dan ngejudge anak muridnya sendiri, jadi semua siswa dan siswi harus tahan banting dan ocehan pedas guru ini. Sempat ada siswa atau siswi menangis karena merasa dihakimi, guru itu akan berkata “ heh, kamu udahSMP, kok nangis? Kamu itu udah besar! Jangan cengeng! “. Setelah sesi persiapan mental selesai, terdengar suara langkah kaki yang sudah mereka hafal, beberapa anak yang sedang bercerita atau lainnya segera diam dan mengambil posisi rapi dan siaga. Bu Lilis memasuki kelas itu, beliau menyapukan pandangannya ke seluruh isi kelas dengan tajam. Setelah gguru itu duduk, ia mulai memperintahkan seluruh kelas untuk membuka buku paket mereka. Beliau mulai berdiri dan mengambil spidol untuk mulai menjelaskan materi hari itu. selama pelajaran Alice santai saja menghadapi materinya, hanya Alice harus memproses tiap kalimat yang disebutkan oleh bu Lilis, karena beliau punya cara berbicara yang sangat cepat, makanya selain panggilan bu Lilis, dan guru killer, ia juga dianugerahi gelar guru Rapper, karena ia berbicara selayaknya seseorang sedang nge-rapp. Reva memijat kepalanya dengan mata yang tetap tertuju kearah papan tulis, inilah definisi tampang serius, otak tergerus. Tapi beruntungnya Reva, Stella datang ke kelas itu untuk memanggil Reva rapat osis. Reva sangat bersyukur atas bantuan Stella yang membantunya keluar dari neraka kelas yang menyiksa kehidupan serta otaknya. Reva meminta izin untuk pergi meninggalkan kelas.

Setelah kelas bu Lilis selesai, lebih tepatnya 15 menit setelah bu Lilis angkat kaki dari kelas mereka, Reva datang dengan senyum penuh syukurnya. Reva berjalan mendekati Alice dan duduk disebelahnya. “ Alice.. “ pannggil Reva dengan nada memohon dan manjanya yanng dicampur jadi satu. “ ngapa Reva? “ tanya Alice sambil menoleh kearah Reva. “ jadi gini... kan mungkin 3 minggu lagi kita bakalan ada acara bazar dan promnight nih... jadi Steven minta seluruh anggota osis untuk ngebawa beberapa barang tertentu.... aku disuruh ngebbawa gas melon 2 kilo 16 buah untuk koki privatnya Joseline masak buat makanan promnight nanti.... jadi... temenin aku beli ya? Plis plis dong.. “ mohon Reva sambil menggenggam tangan Alice. “ iyaa, apapun untuk bestieku, aku ikut “ jawab Alice mantap. Reva langsung bersoorak sambil melompat-lompat saking girangnya ia. Selama jam pelajaran, seperti biasa semuanya tetap berjalan seperti biasa hingga bel untuk pulang sekolah berbunyi. Alice merapikan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas dan mulai beranjak pergi sambil menggendong tasnya yang dibarengi oleh Reva. Ketika mereka berduua sudah ada didepan gerbanng , Alice sudah dijemput oleh Kang Supri. Alice menghampiri Kang Supri, Kang supri menyapa Alice dengan ramah “ Nnenng, pulang atuh? “ tanya Kangg Supri sambil menoleh kearah Alice. “ anu... Kang, hari ini Alice ada janjian sama teman, jadi sementara gak pulang sama akang dulu.. gak appa-apa kan kang? “ tanya Alice sopann. “ oh gak apa-apa neng. Berarti akang pergi dulu ya. “ ucap Kang Suprii seraya mengayuh becaknya setelah berucap demikian. Alice mengangguk kearah Reva, mencoba memberi kode bahwa ia siap untuk pergi. Reva langsung berjalan kearah mobilnya sambil menarik tangan Alice untuk ikut naik kedalam mobilnya. “ om, hari ini kita ke Warung Berkahin dulu ya. “ ucap Reva ke supirnya. “ Non mau ngapain disana? “ tanya supir Reva yang ingin memastikan apa yang hendak dilakukan oleh si ‘nona muda’ nya itu. “ mau belanja om ‘” jawabb Reva singkat. Tanpa banyak tanya lagi, supir Reva segera membawa mobilnya menuju Warung Berkahin. Sesampainya ditujuan, Reva turun pertama yang diikuti oleh Alice. “ mbok, ada gas melon 2 kilo gak? “ tanya Reva ke bu Mayamunnah, si pemilik warung. “ ada “ jawab bu Mayamunnah singkat. “ ada berapa tabung gas nya? “ tanya Reva. “ yang ada isi atau gak? “ tanya bu Mayamunnah balik bertanya ke Reva. “ ya yang ada isi dong “ jawab Reva cengengesan. Bu Mayamunnah memanggil karyawannya untuk menghitung stok gas melon yang ada diwarung itu. “ 84 tabung bu “ lapor si karyawan. Bu Mayamunnah menoleh kearah Reva. “ saya beli 16 buah “ jawabb Reva sambil menngeluarkan black cardnya. Alice tidak terlalu terkejut, sudah selayaknya seorang anak orang kaya seperti Reva sudah mendapat black ccard. 4 karyawann bu Mayamunnah mulai mengangkunt gas melonnya itu ke bagian belakang mobil Reva yang sudah dibuka lebar oleh supirnya.

“ berapa totalnya? “ tanya Reva setelah seluruh tabung gas masuk ke dalam mobil. Bu Mayamunnah menngghitung seluruh belanjaan Reva menggunakan kalkulator. “ Rp 1.200.000 rupiah nak. “ jawab bu Mayamunnah sembari menunjukkan kalkulatornya kearah Reva. “ bisa pake bank LKI bu? “ tanya Reva yang disambut anggukan dari bu Mayamunnah yang mengambil mesin gesek kartu berlabel ‘ LKI ‘ di atasnya. Reva langsung menggesek black cardnya dimesin itu dan memasukkan pinnya, lalu ketika pembayaran selesai, ia menunjukkan bahwa transaksinya telah selesai. Bu Mayamunnah mengangguk lalu mengucapkan terimakasih karena sudah berbelanja diwarungnya. Reva langsung mengajak Alice untuk naik ke mobilnya, dengan niat mengantarkan Alice pulang kerumahnya. “ tumben kamu minta temenin belanja, biasanya belanja sendiri “ sindir Alice sambil menyenggol kecil bestienya itu. “ hehehe.... iya sih.. tapi aku ada rencana yang kamu pasti suka “ sahut Reva sambil meletakkan jari telunjuknya didepan bibir sambil menyunggingkan senyum jahil. Tidak terima adanya rahasia yang disembunyikan oleh bestienya itu, Alice menuntut penjelasan Reva sambil mennyenggol kecil Reva. Reva tertawa setiap kali Alice memohon pada dirinya. Tak terasa, mobil Reva telah berhenti didepan rumah Alice. Alice segera turun dari mobil Reva dan mengucapkan terimakasih ke Reva karena telah mengantarkannnya kerumah. Gina yang sedang menyirami tanaman menganga melihat ada mobil mewah didepan rumah mereka, “ iihh ngapain kamu kayak gitu sih? Kayak gak pernah liat mobil aja! “ ledek Alice dengan nada jahilnya. Gina mendengarnya langsung ngambek dan mengejar Alice, sontak Alice berlari mengelilingi halaman depan rumah mereka dan lanjut berlari ke pintu belakang yang mengarah ke dapur tempat ibu mereka tengah memasak makan malam. Ibunya yang melihat tingkah kedua putrinya tersenyum sabar, mengetahui kedua-dua putrinya punya sifat iseng yang menurut ibunya turun almarhum ayah mereka. Ibunya langsung menyuruh kedua-dua purinya untuk segera mandi dan bersiap untuk makan malam. Keduanya cepat-cepat mandi. Bahkan ketika makan malam pun, Gina tetap marah ke Alice. Ibunya hanya bisa tertawa dan mendengar keisengan Alice. Padahal benak Alice tengah memikirkan hal lain, yakni yang tadi dikatakan oleh Reva.

--------------------------------------------------oOo------------------------------------------------------

Hot

Comments

Gohan

Gohan

The anticipation is killing me, update the next chapter already!

2025-11-10

0

See all
Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play