Our Secret Love
Di SMP Harapan Bangsa 2, ada seorang siswi bernama Alice Kenavi, seorang siswa kelas VIII. Dia terkenal pintar dan baik hati, banyak orang yang berteman dengannya karena banyak alasan. Disekolah itu juga ada siswa yang terkenal karena kegantengannya serta sifatnya yang cool ke semua siswi – siswi, yang membuat dia terkenal di seluruh kalangan siswi – siswi sekolah itu, dia adalah Steven Tristanta. Dia orang yang sibuk banget, satu hari saja jadwalnya sudah setengah kertas A4, ya namanya juga ketos, alias ketua osis. Sangking sibuknya Steven, kemana-mana dia diikuti wakil osis yang merupakan temannya sendiri, yakni Tristan Arshaka yang selalu mengingatkan jadwal rapat osis. Tapi gak selamanya juga dia sibuk, terkadang ada hari dia senggang walau kesibukannya masih ada tapi masih tingkat sedang.
Di suatu pagi, Ketika jam istirahat pertama, Alice buru-buru ke kantin karena kalau telat ke kantin, bisa-bisa dia harus berdesak-desakkan dengan siswa-siswi lainnya yang berebutan ingin membeli jajan juga. Sangking buru-burunya langkah Alice, tanpa sengaja ia menyenggol Steven yang kebetulan lewat yang tentu saja diikuti oleh Tristan. Alice cepat-cepat minta maaf, lalu melanjutkan langkahnya. Steven hanya melihat sekilas lalu kembali lagi mendengarkan ocehan Tristan. Perjuangan Alice terbayar dengan sepiring lontong sayur.“ Alice, sini! “, panggilan tersebut membuat Alice menoleh ke asal suara, rupaya yang memanggilnya adalah Sasa Mariska, biasa dipanggil Sasa. Alice duduk disebelah Sasa yang tengah menyendokkan sepotong lontong berkuah kedalam mulutnya. “ capek banget tuh muka. Habis kelahi sama siapa lo?” tanya Sasa sambil tetap menyuapi satu persatu lontong di piringnya. “Yaelah, mana berani aku kelahi. Keburu kabur duluan aku.” Balas Alice yang tengah mengatur napasnya, karena selama berdesak-desakkan dengan siswa-siswi lain dikantin itu, ia harus mau menahan nafas karena bau udara siswa-siswi yang berdesakkan itu sangat memuakkan. “Dimakan cepat tuh lontong, keburu diemut lalat” ucap Sasa sambil meminum es teh cekeknya, karena lontongya sudah habis. Alice mengangguk saja.
Bel tanda masuk kelas berbunyi, Sasa mulai berdiri hendak beranjak pergi yang diikuti oleh Alice. Setelah sampai dikelas Alice pergi ketempat duduknya, menunggu bu Diah, guru bahasa mereka masuk. Disebelah Alice duduklah Reva Natashia Marshika, biasa dipanggil Reva, bestienya Alice. Reva sedang mengobrol dengan Georgina. Tiba-tiba mata Reva menangkap Steven yang lewat sambil menatap Reva jarak jauh. Steven itu siswa yang paling jarang ngomong, jadi setiap anggota osis sekolah itu pasti hafal kode Steven. Reva mengangguk mengerti kode Steven, dia langsung berdiri dari kursinya, namun bajunya ditahan Alice. “ Hayoo mau kemana? ” tanya Alice dengan nada jenakanya yang khas. “ Mau rapat osis lagi.” Jawab Reva sambil mengenakan jaket marun dengan logo sekolah mereka di sisi kiri atas, yang mana itu adalah seragam osis sekolah itu. “ Lho, bukannya kamu belum dipanggil Stella?” tanya Alice. “ itu bos kami sudah ngasih kode, berarti aku harus cepat-cepat ke ruang rapat osis” jawab Reva sambil buru-buru pergi. “ oh iya, bilang aku rapat ya sama bu Diah “ Kata Reva sebelum beranjak pergi dari posisinya. Alice mengangguk patuh, padahal hatinya menolak, karena Reva selalu meminta titip absen. Tapi Alice paham kalau Reva juga sibuk, karena dia itu bendahara osis, jadi dimana ada rapat maka Reva akan ada di sebelah kanan Steven. Ya, tempat paling bergengsi. Bukan karena jabatannya melainkan bisa dekat duduk sama Steven. Kalau Reva sih, dipilih sebagai bendahara karena dia kalau menghitung uang segepok saja tinggal diusap bagian yang paling tebal aja, dan hasilnya selalu benar. Reva gak pernah mengajukan diri, tapi dipilih oleh anggota osis lain karena kemampuannya yang bisanya dimiliki oleh orang-orang yang kerja di bank saja. Reva gak terlalu peduli dengan posisi tempat duduknya itu, karena dia bukan fansnya Steven, dia sudah punya pacar.
Sementara Alice dikelas bu Diah, ia sedang menyalin isi papan tulis yang berisi materi hari itu. Alice terus melihat jam, berharap Reva segera kembali. Padahal setiap hari ia sudah sering bertemu Reva, karena rumah mereka tidak terlalu jauh. Alice menghela nafas, ia tahu Reva sibuk, karena ia harus bisa menyesuaikan diri dengan mengikuti kemauan Steven. Tapi walaupun begitu, acara apapun ituu hasilnya pasti bagus, jarang banget gagal atau bisa dibilang gak pernah sama sekali. Sasa menghampiri Alice yang sedang melamun mengarah jam, “ Hei Alice, ngapain liatin jam? “ tanya Sasa sambil menyenggol kecil Alice. “ Lagi nunggu Reva balik nih “ sahut Alice dengan nada bosan. “ tapi jangan kelamaan melamunnya, nanti kesurupan “ ucap Sasa sambil tersenyum, ia sedang mengganggu Alice. Ia tahu Alice paling takut sama sesuatu yang berbau mistis. “ eh, ok, aku berhenti melamun deh” balas Alice sambil menggeleng cepat. “ tuh, lagi pula bu Diah sudah menuliskan soal dipapan tulis, kerjain yuk “ kata Sasa sambil menunjuk kearah papan tulis yang sudah dipenuhi soal tentang materi mereka hari itu.
Setelah beberapa menit, mungkin 40 menit setelah percakapan antara Alice dan Sasa, Reva datang sambil berjalan terseok-seok, seperti orang yang habis dipalak di pasar. “ Reva, lu kenapa? Habis dibabat sama siapa lu? “ tanya Alice sambil menoleh kearah Reva yang menghamburkan diri dikursinya dengan kepala menghadap langit. “ mana ada aku dibabat. Aku Cuma capek aja, soalnya banyak yang harus diurus nanti...” Sahut Reva pelan, awalnya dia terlihat teguh, namun ketika pulang dari ruang rapat osis, tiba-tiba saja dia pulang seperti orang yang nyawanya sedang berada diluar tubuhnya. “ oh iya, itu materi hari ini, pahami sendiri yaa “ kata Alice dengan nada malasnya sambil mengalihkan pandangannya kearah lain. Reva menoleh kearah Alice dengan mulut terbuka lebar, seperti orang bodoh. Alice tertawa kecil melihat muka bodoh Reva yang terlihat lucu menurut Alice. “ hehehe... aku cuma bercanda kok. Sini aku ajari “ kata Alice sambil kembali melihat kearah Reva.Reva menghela nafas, sambil ngomel ke Alice. Selagi ia mengajari Reva yang hanya merespon setiap penjelasan yang disampaikan oleh Alice, Alice tak sengaja melihat Steven yang setia diikuti wakilnya itu, yang awalnya Alice yang tidak tertarik sama sekali dengan Steven, tiba-tiba saja ia merasa begitu terppukau dengan pesona Steven. Alice baru paham mengapa psiswi sekolah mereka sangat tertarik dan terpesona dengannya. Tapi kekagumannya terhadap Steven dipecah oleh Reva yang menampar lembut pipi Alice karena tiba-tiba saja penjelasan Alice terhenti. Alice langsung menggeleng cepat, dan melanjutkan penjelasannya walaupun pikirannya masih terbayang-bayang oleh pesona seorang Steven Tristanta. Didalam hati Alice, ia telah jatuh hati pada Steven, walau keraguannya bahwa Steven akan menyukainya kembali itu mungkin kecil peluangnya, jadi untuk sementara, perasaannya ini dia pendam dulu, karena keraguannya lebih kuat daripada perasaannya. “ mungkin lain kali saja aku confess nya, sampai aku benar-benar siap.” Pikir Alice. Dia berharap bahwa apa yang dia pikirkan betulan terjadi. Karena bila ituu terjadi maka, namanya akan melegenda, karena hampir tak ada satupun siswi – siswi disekolah itu yang benar – benar disukai oleh Steven. Riwayat dia pernah pacaran atau gak nya tak seorang pun tahu. Alice berharap bahwa dialah yang akan terpilih.
-------------------------------------oOo--------------------------------------
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 3 Episodes
Comments