Bel istirahat berbunyi, menandakan seluruh kegiatan belajar mengajar diistirahatkan. Nora dan Stacey berjalan melintasi Lorong sekolahnya untuk pergi ke kantin. Saat melewati ruangan kelas Athena, Nora berhenti sejenak, melihat kearah kelas adiknya. Sejauh mata memandang, ia tidak melihat batang hidung adiknya. Nora memutuskan untuk melanjutkan pergi ke kantin. Setibanya disana, ia melihat adiknya sedang bersama teman seangkatannya, Malvin; ia nakal terkenal dan sering mengikuti tawuran antar sekolah.
"Ra, adik kamu lagi sama Malvin kan? Kamu lihat 'kan Ra?" Stacey menunjuk kearah dimana Athena sedang duduk bersama teman-teman Malvin.
“Yaudah Cey, matiin aja.” Nora menghiraukan hal tersebut. Mulai saat ini, ia memilih untuk hanya memedulikan dirinya sendiri, egois untuk kepentingan dirinya sendiri wajar bukan?
Seusai mengalami hari yang bisa dibilang cukup baik, Nora kembali pulang ke rumah pada sore hari setelah berbelanja beberapa hal yang ia butuhkan. Sesampainya di rumah Nora melihat sang Ibu Tiri menunggu tepat di depan pintu sambil menyilangkan tangan, beberapa hal buruk yang mungkin terjadi sudah ada di dalamnya, “apakah aku akan di siksa kali ini?” “apakah aku melakukan sebuah kesalahan?” “apakah aku akan diusir dari sini?” Beberapa pertanyaan bodoh mulai menghantui pikiran.
Dengan pikiran kacau dan tangan bergetar, ia memasuki halaman rumah sambil menunduk. Nyonya Lenny hanya melihat Nora sinis, tidak memberikan pertanyaan bodoh yang sudah dipikirkan Nora. Baru saja beberapa Langkah memasuki rumah, Nora diberikan pertanyaan oleh Nyonya Lenny.
“Mana Athena?” tanyanya. Nora berhenti, membalikan badannya, "Loh? Bukannya ibumu? Harusnya tau dong." Jawabnya ketus.
“Dasar anak tidak tau diuntung.Athena belum pulang.” Balas Nyonya Lenny sambil mendekati Nora, berharap Nora mengetahui sesuatu mengenai anak kandungnya.
“Tungguin aja, nanti juga pulang.” Ia langsung pergi ke dalam ruangan, cuek, satu hal yang hanya bisa dilakukan Nora sekarang.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Nyonya Lenny masih berdiam diri di ruang tengah, berharap anaknya akan pulang dengan selamat. Tak lama kemudian, suara dering bel rumah berbunyi, Nyonya Lenny juga membuka pintu, ia terkejut karena Athena pulang dengan keadaan yang sedikit kacau, ia mencium bau rokok.
“MAMAAA AKU PULAAANGG HAHAHA.” Lanturnya. Nyonya Lenny juga geram, satu memutuskan mendarat dipipi Athena,
"Aduh! sakit tau mah." Teriaknya, Athena juga berjalan ke arah dalamnya sambil menahan amarahnya.
Tidak disangka olehnya bahwa sang Ibunda akan menamparnya untuk pertama kalinya. Kecewa, dia merasa sang ibu sudah tidak menyayanginya. Diam-diam Nora melihat kejadian tersebut dari atas, ia tertawa menyaksikan kekacauan yang ada di keluarga ini. Tiba-tiba ponsel Nora berdering, membuat Nyonya Lenny melihatnya, ia buru-buru kembali ke kamar lalu mengunci pintu. Terlihat dari pop-up notifikasinya dimuat,
“Hai, Nora Ashfold.” Ia merasa sedikit heran, "bagaimana orang asing bisa mendapat nomor pribadi milikku? Ah, sudahlah, aku tidak mau ambil pusing." Nora membalas pesan tersebut dengan mengirimkan,
“Hai, orang asing.” Ia menunggu jawaban dari pesan singkat tersebut. Satu jam berlalu, sudah tengah malam Nora masih menunggu balasan. Tanpa disadari, ia tertidur dengan lelap sambil menunggu atas balasan.
Hari telah berganti, Nora terlambat berangkat ke sekolahnya, Ia melihat kearah jam, waktu sudah menunjukkan pukul 7.10, “AKU TELAT.” Nora menatap sinis ke ara Nyonya Lenny, ia berlari keluar rumah.
Saat sampai di depan rumahnya, di dapatinya seorang pria dengan kaos Polo berwarna biru navy dengan paduan celana berwarna beige.
“Nora!” menelponnya. Nora menunjuk dirinya sendiri, menunjuk pada pria yang tingginya lebih tiga puluh sentimeter bahwa dia benar memanggil namanya.
“Ayo masuk, telat.” Tanpa basa-basi Nora langsung masuk ke dalam mobil berwarna hitam yang mengkilap.
Saat dalam perjalanan menuju sekolahnya, Nora hanya diam sambil memandangi gedung-gedung yang sudah biasa ia lewati jika memakai bus.
“Maaf kalo tiba-tiba, aku yang semalam kirimi kamu pesan, Ra.” Kata pria di dekatnya, "Saya Damethier, salah satu pegawai ayah kamu. Sejujurnya saya sedikit terkejut ketika mendengar jikalau Pak Ash sudah berpulang, waktu itu saya masih ada tugas dinas di luar Kota." Lanjutnya. Nora masih ingat, tapi di satu sisi ia terkejut bahwa pria tampan di dekatnya adalah salah satu bawahan ayahnya.
“Oh, ayah orangnya bagaimana, Kak?” Tanyanya dengan penuh rasa penasaran.
“Nanti aja ya, Ra.Nanti pulang sekolah saya jemput, saya yakin tentang beliau.” Nora mengangguk, ia kembali melihat ke arah luar.
Sedangkan Damethier tersenyum, dia tidak menyangka bahwa Nora kini ada di dalam mobilnya. Tak selang berapa lama, akhirnya mereka sampai di sekolah. Nora terlambat satu jam pelajaran, alhasil ia mendapatkan perintah untuk membersihkan toilet sampai jam istirahat.
Stacey melihat Nora sedang memegang pangkuan yang sudah kotor, Nora benar-benar melakukan pelaut, sungguh anak yang baik. Setelah membersihkan seluruh toilet wanita Nora memilih untuk beristirahat di sekitar kantin, karena jika bel berbunyi ia akan langsung membeli sebuah makanan untuk mengisi perut. Untungnya, tak lama setelah ia duduk di meja kantin, bel sekolah langsung berbunyi, ia memutuskan untuk membeli roti kesukaannya dan kembali ke mejanya. Stacey datang ke meja Nora sambil membawa semangkok bakso kesukaannya. Saat hendak bermaksud, tiba-tiba saja Athena datang menghampiri Nora dan Stacey.
“Aku bakalan pulang telat lagi, jangan bilang ke mama.” Ia langsung pergi, kembali ke meja Malvin yang ramai dengan anak lelaki yang banyak masalah.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 14 Episodes
Comments