Ch 1: Presisi dan Kehangatan

Bau kopi hitam pekat bercampur samar dengan aroma antiseptik yang tak pernah sepenuhnya hilang dari koridor Departemen Investigasi Kriminal. Di lantai lima, di antara tumpukan berkas kasus yang menggunung dan layar monitor yang memancarkan cahaya dingin, Karan Jirayu Kittisiri adalah sebuah anomali.

Ia duduk tegak, punggung lurus nyaris tanpa sandaran, jari-jarinya menari di atas keyboard dengan presisi seorang pianis virtuoso, namun ekspresinya datar, seolah setiap data yang ia input adalah bagian dari teka-teki logika yang harus dipecahkan, tanpa emosi.

Pukul setengah delapan pagi, dan seperti biasa, ia sudah tiba di kantor dua jam lebih awal dari kebanyakan rekannya. Lampu neon memantulkan cahaya pada rambut hitamnya yang selalu rapi, dan bingkai kacamata silver bertengger sempurna di hidungnya yang mancung. Sebuah kalung berliontin kunci kecil yang selalu ia kenakan, berkilauan samar di balik kerah kaos hitamnya yang senada dengan trench coat panjang yang tergantung di sandaran kursinya.

Tatapannya tajam, menembus setiap baris laporan, mencari celah, kejanggalan, atau pola yang mungkin terlewatkan oleh mata lain. Dedikasi Karan, atau Jira seperti yang hanya Napath berani memanggilnya, adalah legenda di kepolisian. Sebuah dedikasi yang seringkali mengorbankan waktu tidur, bahkan kadang makan.

Kasus "The Midnight Florist" telah menghantui kota selama delapan bulan terakhir. Tiga korban, tiga TKP berbeda, namun satu kesamaan mengerikan: setiap jasad ditemukan dengan sekuntum bunga langka yang diletakkan secara artistik di atas dada. Tanpa sidik jari, tanpa saksi mata yang kredibel, dan minim bukti fisik. Pelaku adalah hantu, namun jejak kebiadabannya begitu nyata.

"Kopi lagi? Kau akan mati karena serangan jantung sebelum sempat memborgol pelaku itu, Karan."

Suara bariton itu memecah kesunyian. Thara Wattanapasin berdiri di ambang pintu kantor, menyandarkan bahunya yang lebar di kusen kayu. Berbeda dengan Karan yang kaku dan tertutup, Thara memiliki aura karismatik yang lebih santai namun tetap mengintimidasi.

Mereka adalah dua detektif terbaik di angkatan mereka—tumbuh dan meniti karier bersama, bersaing sekaligus saling mengandalkan. Jika Karan adalah otak yang dingin dan kalkulatif, Thara adalah intuisi yang tajam di lapangan.

Karan menghela napas tipis tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Dan kau datang terlambat lagi, Thara. Setidaknya jantungku masih berdetak untuk bekerja, bukan sekadar untuk bergaya dengan jas mahalmu."

Thara terkekeh, melangkah masuk dan duduk di ujung meja Karan tanpa permisi. "Ini bukan terlambat, ini disebut efisiensi waktu. Jadi, apa yang otak jeniusmu temukan semalam? Jangan katakan kau hanya menatap foto TKP sampai matamu berdarah."

"Pola pembelian pupuk tertentu dari toko-toko daring yang menjual benih bunga langka. Ada beberapa akun anonim yang mencurigakan," jawab Karan serius, akhirnya menoleh.

Thara mendengus. "Bagus, tapi itu jutaan akun, Kapten. Kita butuh seseorang yang benar-benar bisa menghubungkan ini ke pelaku, bukan sekadar hobi berkebun yang aneh."

"Justru di situ letaknya," balas Karan, akhirnya menoleh, sepasang matanya menyiratkan kelelahan yang akut namun tersembunyi. "Pelaku ini sangat teliti. Bunga-bunga yang ia gunakan bukan jenis yang bisa ditemukan di sembarang toko bunga. Mereka butuh perawatan khusus, dan itu berarti pelaku punya pengetahuan, bahkan mungkin obsesi, terhadap hortikultura. Pupuk ini mungkin saja jejak satu-satunya."

Thara terdiam, ekspresi main-mainnya memudar, digantikan oleh ketajaman seorang pemburu. "Itu masuk akal. Bunga itu bukan sesuatu yang bisa kau beli di pasar bunga. Seseorang dengan kesabaran luar biasa untuk merawat bunga sesulit itu... dia pasti punya kontrol diri yang sangat tinggi."

"Atau obsesi yang sangat dalam," gumam Karan.

"Bicara soal obsesi," Thara menegakkan duduknya, wajahnya berubah serius. "Baru saja masuk laporan. Jenazah keempat ditemukan satu jam yang lalu."

Kata-kata itu bagai pukulan tak terlihat. Gerakan jari Karan terhenti. Mata tajamnya mengerut. "Di mana?"

"Gudang tua di pinggir kota, dekat Sungai Chao Phraya. Jam lima pagi tadi. Saksi adalah seorang pemancing yang lewat. Dia menelepon saat melihat sebuah van hitam mencurigakan pergi dari lokasi. Korban... seorang wanita muda, sekitar dua puluh lima tahun. Dan ya, ada bunganya."

"Bunga apa?" Karan bertanya, suaranya lebih tegang dari biasanya.

"The Ghost Orchid," jawab Thara. "Sesuai dengan nama pembunuhnya, Midnight Florist."

"Pindahkan semua sumber daya ke sana," perintah Karan, sudah berdiri dan meraih trench coat-nya. "Kita berangkat sekarang. Hubungi Napath dan Faiwan. Aku ingin mereka ada di sana secepatnya."

Di lokasi kejadian, suasana pagi yang dingin terasa mencekam. Gudang tua yang terbengkalai itu diselimuti embun, dan aroma basi bercampur dengan bau kematian. Garis polisi berwarna kuning terpasang melingkar, membatasi kerumunan petugas dan beberapa warga penasaran.

Karan melangkah melewati garis, tatapannya menyapu setiap sudut. Ia berhenti di dekat jenazah, yang terbaring di lantai semen dingin, tertutup selimut tipis. Seorang petugas berambut merah terang dan kacamata bulat sudah berjongkok di sana, dengan teliti mengambil sampel dan foto. Itu Faiwan Techawong, ahli forensik termuda di tim.

Di sampingnya, dengan kamera Nikon tuanya yang selalu tergantung di leher, Napath Tawanakul sedang mengambil gambar dari berbagai sudut, sesekali berbicara pelan dengan Faiwan.

Napath terlihat lebih serius dari biasanya. Rambut cokelat madunya sedikit berantakan, dan matanya yang sendu menatap lurus pada korban, namun raut wajahnya menunjukkan kesedihan yang mendalam. Ia mengenakan jaket sweater rajut berwarna krem—pakaian yang sama sekali tidak cocok untuk TKP, namun adalah salah satu pakaian favorit Karan yang sering ia kenakan di rumah.

Aroma khas dari parfum Napath yang lembut, berpadu dengan bau Ghost Orchid yang samar, kini memenuhi udara.

"Faiwan, bagaimana kondisinya?" Karan bertanya tanpa basa-basi.

Faiwan mendongak, matanya sedikit memerah karena kurang tidur. "Sudah pasti bukan perampokan, Karan. Tidak ada tanda-tanda barang berharga hilang. Penyebab kematian... cekikan. Ada bekas memar di leher. Dan, seperti tiga korban sebelumnya, tidak ada tanda-tanda perlawanan yang signifikan. Korban sepertinya tidak melawan, atau tidak punya kesempatan melawan."

"Dan bunganya?"

"Ghost Orchid," jawab Faiwan, menunjuk pada bunga putih pucat yang kontras dengan kulit korban yang membiru. "Sama persis seperti deskripsi di kasus-kasus sebelumnya. Diletakkan dengan sangat hati-hati, seperti sebuah persembahan."

Karan berjongkok, mengamati bunga itu dari dekat. Kelopaknya tipis, putih seperti hantu, dengan bentuk yang unik dan sedikit menyeramkan. "P'Jira," suara Napath terdengar lembut di sampingnya, "aku sudah mengambil semua angle yang diperlukan. Aku juga mengambil foto jarak dekat bunganya. Resolusi tinggi."

Karan menoleh ke Napath, tatapan mata mereka bertemu. Dalam kerumitan TKP yang mengerikan ini, sentuhan hangat dari kehadiran Napath seolah menjadi satu-satunya jangkar bagi Karan. Napath selalu bisa membaca ekspresinya, bahkan saat Karan mencoba menyembunyikannya.

Matanya seolah bertanya, "Apakah kau baik-baik saja, P'Jira?" Karan hanya mengangguk tipis, sebuah bahasa non-verbal yang hanya mereka berdua pahami.

Thara menghampiri mereka. "Karan, ada sesuatu yang aneh. Van yang dilihat saksi, warnanya hitam. Dan di rekaman CCTV jalanan sekitar sini, ada beberapa van hitam yang lewat. Tapi salah satunya... van itu tidak memiliki plat nomor yang jelas. Terlalu buram untuk diidentifikasi."

"Artinya pelaku sengaja mempersiapkannya," ujar Karan, berdiri tegak. "Ini bukan kejahatan spontan. Ini direncanakan dengan matang. Pelaku tidak meninggalkan sidik jari, tidak ada jejak kaki, dan sekarang bahkan kendaraan pun diupayakan tanpa identitas."

"Aku setuju," kata Thara. "Seseorang yang tahu betul bagaimana caranya menghindari penangkapan. Mungkin seseorang dari... dalam."

Ekspresi Karan menegang. Ia sudah memikirkan kemungkinan itu sejak lama, namun menolaknya. "Itu terlalu berisiko. Setiap orang di departemen kita sudah melewati pemeriksaan latar belakang yang ketat."

"Tidak ada yang tidak mungkin," balas Thara, matanya yang berpengalaman menatap tajam. "Bagaimanapun juga, kita harus mempertimbangkan semua kemungkinan."

Napath mendengarkan percakapan itu, jemarinya memegang erat kamera di lehernya.

Senyum tipisnya yang biasa kini menghilang, digantikan oleh kerutan khawatir di dahinya. Ia melirik Karan, sebuah kilatan keraguan muncul di matanya sebelum ia berhasil menyembunyikannya.

Sore harinya, kantor kembali sunyi, namun ketegangannya jauh lebih kental. Karan mengunci diri di ruangannya, dikelilingi peta kota yang ditandai, data-data korban, dan informasi tentang Ghost Orchid. Ia merasa seperti ada benang merah yang ia lewatkan, sebuah potongan teka-teki yang tersembunyi di balik semua kejelasan ini.

"P'Jira, kau sudah makan?"

Suara Napath yang lembut mengejutkan Karan. Ia tidak menyadari Napath sudah masuk ke dalam. Di tangan Napath ada sebuah mangkuk kecil berisi bubur beras hangat dan segelas air putih. Aroma bubur itu langsung mengisi ruangan, jauh lebih menyenangkan daripada bau kantor.

"Belum," jawab Karan jujur, matanya masih terpaku pada sebuah artikel tentang legenda Ghost Orchid—bunga yang dipercaya tumbuh di tempat-tempat sunyi, terkadang dekat dengan tempat bersemayamnya arwah yang gentayangan.

Napath meletakkan mangkuk itu di meja, mendorong beberapa berkas agar ada tempat. "Aku tahu kau tidak akan ingat makan lagi jika tidak kubawakan." Ia tersenyum tipis, senyum yang selalu berhasil meluluhkan kekakuan Karan. Napath kemudian duduk di kursi kosong di samping Karan, jemarinya bergerak lembut mengurut pelipis P’Jira.

Sentuhan Napath bagaikan obat penenang. Otot-otot tegang di wajah Karan sedikit mengendur. "Terima kasih, Napath."

"Bagaimana kasusnya?" tanya Napath, suaranya dipenuhi empati. "Aku melihatmu begitu tegang hari ini."

"Sulit," Karan mengaku, bersandar di sandaran kursi untuk pertama kalinya hari itu. Ia memejamkan mata sesaat, menikmati sentuhan Napath. "Pelaku ini sangat bersih. Tidak ada jejak. Hanya bunga. Dan pola yang terlalu sempurna."

"Mungkin memang itu petunjuknya," Napath berbisik, terus memijat. "Kesempurnaan itu sendiri. Siapa yang akan terlalu peduli pada detail seperti itu?"

Karan membuka mata, menatap Napath. "Kau benar. Itu yang sedang kupikirkan. Pelaku ini... obsesif. Bukan hanya pada pembunuhannya, tapi pada estetika kematiannya." Ia meraih mangkuk bubur itu, mulai menyuapnya. Rasa gurih dan hangat bubur itu adalah hal terbaik yang ia rasakan sepanjang hari.

"Mungkin dia ingin diakui," Napath melanjutkan, pandangannya menerawang. "Atau mungkin dia ingin mengatakan sesuatu. Bunga seringkali menjadi simbol, bukan?"

Karan mengangguk, terdiam. Pikiran Napath seringkali memiliki perspektif unik yang membantu Karan melihat dari sudut pandang lain. Mereka berdua berdiam diri untuk beberapa saat, hanya suara sendok yang beradu dengan mangkuk yang terdengar.

"Aku merindukanmu," Napath berbisik, suaranya lebih pelan dan intim. "Kau jarang pulang akhir-akhir ini, P'Jira. Aku khawatir."

Karan menghentikan suapannya. Ia meraih tangan Napath yang masih di pelipisnya, menggenggamnya erat. "Maaf, Napath. Kasus ini... begitu rumit. Tapi aku akan segera menyelesaikannya. Aku janji."

Ada sesuatu di tatapan Napath, sebuah keraguan yang nyaris tak terlihat. Seperti bayangan awan yang melintas di permukaan danau. Sebuah ketidakpastian yang tersembunyi di balik senyum sendunya.

Namun Karan terlalu lelah, terlalu fokus pada kasusnya, untuk menyadarinya. Ia hanya merasakan kehangatan dari sentuhan tangan Napath, sebuah oase di tengah gurun kekejaman yang harus ia hadapi setiap hari.

"Pulanglah malam ini," pinta Napath. "Aku akan menunggumu."

Karan mengangguk. "Aku akan berusaha. Ada beberapa data lagi yang harus kuselesaikan sebelum bisa pulang dengan tenang."

Napath tersenyum, senyum yang sedikit dipaksakan. "Baiklah. Jangan terlalu memaksakan diri, P'Jira. Kau tahu aku selalu ada untukmu." Ia berdiri, membereskan mangkuk kosong. Sebelum pergi, ia membungkuk, mencium kening Karan dengan lembut. "Aku mencintaimu."

"Aku juga mencintaimu, Napath," balas Karan, suaranya lebih tulus dari yang ia sadari.

Namun, begitu Napath pergi, senyum tipis di wajah Karan menghilang. Ia kembali menatap peta, pada lingkaran-lingkaran merah yang menandai lokasi TKP. Sebuah benang merah mulai terbentuk, bukan hanya secara geografis, tetapi juga secara simbolis. Sebuah pola yang samar, namun terasa begitu akrab.

Ia meraih ponselnya, mencari informasi lebih lanjut tentang Ghost Orchid.

Dendrophylax lindenii, sebuah anggrek langka tanpa daun, nyaris tembus pandang, yang seluruh hidupnya bergantung pada hubungan simbiotik dengan jamur tertentu. Ia tumbuh di rawa-rawa gelap, tersembunyi dari pandangan, mekar hanya di malam hari. Bunga hantu.

Karan merasa kepalanya berdenyut, sensasi aneh yang sering ia alami akhir-akhir ini. Seperti ada bagian dari ingatannya yang kabur, kosong, seolah ada potongan waktu yang terhapus. Ia mengusap pelipisnya. Ini hanya kelelahan, ia meyakinkan dirinya sendiri.

Di kejauhan, di sudut gelap gudang tua yang menjadi TKP, di bawah lantai semen yang dingin, sebuah akar tipis Ghost Orchid yang tak terlihat, diam-diam menjalar, mencari nutrisi di kegelapan. Sebuah simbiotik, sebuah ketergantungan. Dan di dalam diri Karan, di antara bayangan presisi dan kehangatan, sesuatu yang tak terlihat sedang tumbuh.

****

To be continued

Haloo bagaimana kelanjutan dari kisah Jira dan Napath yukk follow Lvnathi biar phi phi semua dapat notif dari aku 🙏🏻😍

Selamat membaca 🥰

Jangan lupa mango dan comment nya krubb 😄🙏🏻

Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play