Ch 2: Spektrum Ketidakpastian

Suasana ruang otopsi Departemen Forensik terasa jauh lebih dingin daripada koridor kantor kepolisian. Dindingnya yang dilapisi ubin porselen putih memantulkan cahaya lampu fluoresen yang terlalu terang, menciptakan bayangan tajam di setiap sudut.

Bau formalin yang menyengat, bercampur dengan aroma logam dari meja diseksi berbahan stainless steel, adalah udara sehari-hari bagi mereka yang bekerja di sini.

Faiwan sudah mengenakan baju pelindung lengkap (hazmat suit sekali pakai), masker bedah, dan face shield. Tangannya yang terbungkus sarung tangan lateks ganda bergerak lincah menata instrumen: skalpel, tang pemotong tulang, dan botol-botol sampel. Di sampingnya, Napath berdiri dengan kamera yang sudah terlindungi plastik transparan agar tidak terkontaminasi cairan tubuh.

"Siap, Napath? Kita mulai dengan pemeriksaan luar secara makroskopis," ujar Faiwan, suaranya teredam masker.

Napath mengangguk, mengatur fokus lensa makronya. "Siap, Fai."

Di atas meja logam itu terbaring korban keempat. Kulitnya pucat pasi, hampir sewarna dengan Ghost Orchid yang kini sudah dipindahkan ke wadah steril. Faiwan mulai mendiktekan temuannya ke alat perekam suara yang tergantung di lehernya.

"Korban wanita, estimasi usia 24-27 tahun. Berat badan 52 kilogram, tinggi 162 centimeter. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan seksual pada pemeriksaan awal swab eksternal. Namun, perhatikan ini, Napath... ambil foto di area leher."

Napath mendekat, lensa kameranya menangkap detail mengerikan di leher korban. Ada pola memar melingkar yang berwarna ungu gelap.

"Ini adalah ligature mark," jelas Faiwan sambil menunjuk memar tersebut.

Catatan Forensik:

* Ligature Mark: Bekas luka tekan pada leher yang disebabkan oleh jeratan benda (tali, kabel, atau kain).

* Ecchymosis: Istilah medis untuk memar, yaitu rembesan darah di bawah kulit akibat pecahnya pembuluh kapiler.

"Jeratannya sangat halus, hampir tidak merobek kulit epidermis. Pelaku menggunakan sesuatu yang lembut namun kuat. Mungkin kain sutra atau syal berkualitas tinggi," lanjut Faiwan. "Dan lihat matanya."

Faiwan membuka kelopak mata korban dengan hati-hati. Napath menahan napas saat melihat bintik-bintik merah kecil di bagian putih mata korban.

"Ini disebut Petechiae," Faiwan menjelaskan tanpa diminta. "Bintik merah ini muncul karena pecahnya pembuluh darah kapiler akibat tekanan besar di leher yang menghentikan aliran balik vena. Ini bukti kuat kematian akibat asfiksia atau kekurangan oksigen secara paksa."

Napath terus memotret, namun tangannya sedikit gemetar. Pikirannya melayang pada kejadian tiga malam lalu. Saat itu, ia terbangun pukul dua pagi karena mendengar suara langkah kaki di lorong rumah mereka. Ia menemukan Karan—P’Jira-nya—berdiri di depan jendela ruang tamu, menatap kegelapan dengan tatapan kosong.

Saat Napath menyentuh bahunya, Karan tersentak hebat, napasnya memburu seolah habis berlari maraton, namun ia mengaku hanya mimpi buruk.

"Fai," panggil Napath pelan sambil tetap membidikkan kamera. "Apa mungkin pembunuhnya memiliki pengetahuan medis? Maksudku, cara dia meletakkan bunga itu... sangat presisi."

Faiwan berhenti sejenak, memegang skalpelnya di udara. "Bukan cuma medis, Napath. Ini lebih ke arah ritualistik. Pembunuh ini tidak membenci korbannya. Dia seolah-olah 'merawat' mereka setelah mati. Lihat bagaimana rambut korban disisir rapi? Tidak ada tanda-tanda perlawanan (defense wounds) di lengan bawah atau telapak tangan. Biasanya, orang yang dicekik akan mencakar pelaku atau mencoba melepaskan jeratan."

"Jadi, korban tidak melawan?" tanya Napath, suaranya bergetar.

"Kemungkinan besar korban dalam keadaan tidak sadar atau di bawah pengaruh sedatif saat eksekusi dimulai. Kita menunggu hasil Toksikologi untuk memastikannya," jawab Faiwan.

Catatan Forensik:

* Toksikologi: Analisis kimia untuk mendeteksi adanya obat-obatan, racun, atau zat kimia dalam cairan tubuh jasad.

* Defense Wounds: Luka tangkis yang biasanya ditemukan pada tangan atau lengan korban saat mencoba melindungi diri dari serangan senjata tajam atau tumpul.

Napath terdiam. Spekulasi di kepalanya mulai terasa seperti duri. Ia teringat betapa P'Jira sering mengeluh tentang "waktu yang hilang". Kadang P'Jira bertanya apakah mereka sudah makan malam, padahal mereka baru saja menyelesaikannya satu jam yang lalu. Tidak, itu pasti karena tekanan kerja, batin Napath mencoba menepis. P'Jira adalah seorang Kapten. Dia pahlawan kota ini. Tidak mungkin dia ada hubungannya dengan kegilaan ini.

"Napath? Kau melamun?" tegur Faiwan.

"Ah, maaf. Aku hanya berpikir betapa kejamnya pelaku ini," dusta Napath.

"Kejam? Mungkin. Tapi dia juga sangat rapi. Bahkan terlalu rapi untuk seorang manusia biasa. Dia seperti bayangan," gumam Faiwan sambil mulai melakukan insisi Y pada dada korban untuk pemeriksaan organ dalam.

Sementara itu, di lantai atas, suasana tidak kalah tegang. Karan sedang berdiri di depan papan tulis kaca yang penuh dengan coretan spidol merah. Thara masuk membawa tumpukan dokumen baru.

"Kapten," panggil Thara, menggunakan sebutan formalnya untuk menunjukkan bahwa situasi sedang serius. "Hasil penelusuran plat nomor van hitam itu nihil. Platnya palsu, terdaftar pada mobil rongsokan di gudang besi tua dua tahun lalu."

Karan memijat pangkal hidungnya di balik kacamata. "Dia tahu celah kita, Thara. Dia tahu kamera mana yang aktif dan mana yang hanya pajangan di rute menuju gudang itu."

Thara bersandar pada meja Karan. "Karan, kita sudah berteman sejak akademi. Aku tahu kau ambisius, tapi kasus ini membuatmu terlihat... tidak fokus. Kau terlihat pucat sekali."

"Aku baik-baik saja, Thara. Hanya kurang tidur," jawab Karan tegas. "Lalu bagaimana dengan daftar pemilik Ghost Orchid?"

"Masih dalam proses. Masalahnya, bunga itu dilindungi secara hukum. Orang tidak membelinya di pasar bunga biasa. Mereka membelinya lewat dark web atau kolektor pribadi. Faiwan bilang bunga di TKP tadi masih sangat segar, seperti baru dipetik kurang dari satu jam sebelum ditemukan."

Karan terdiam. Kurang dari satu jam. Jam lima pagi jasad ditemukan, berarti bunga dipetik sekitar jam empat. Pukul empat pagi itu... ia ingat terbangun di sofa ruang tamu dengan baju lengkap, merasa kedinginan, dan Napath sedang menyelimutinya dengan wajah khawatir.

"Kapten? Kau mendengarku?" Thara melambai-lambaikan tangan di depan wajah Karan.

"Ya. Maaf. Lanjutkan," ujar Karan cepat.

"Aku akan membagi tim menjadi dua. Aku akan menyisir kolektor bunga di wilayah Utara, kau fokus pada analisis data CCTV yang baru masuk dari gerbang tol. Dan Karan... tolong, pulanglah lebih awal malam ini. Napath menghubungiku tadi pagi, dia mengkhawatirkanmu."

Karan mendengus pelan, namun ada seulas senyum tipis yang muncul karena perhatian kekasihnya. "Dia selalu berlebihan. Tapi baiklah, aku akan mencoba pulang sebelum tengah malam."

Kembali ke ruang forensik, proses otopsi hampir selesai. Faiwan sedang menjahit kembali tubuh korban dengan rapi. Napath sedang membersihkan lensa kameranya saat ia melihat sesuatu di sudut meja bedah—plastik bening berisi bunga Ghost Orchid yang tadi dipindahkan.

Napath mendekat, memperhatikan detail bunga itu tanpa kamera. Bunga itu indah, namun mematikan dalam konteks ini. Ia teringat hobi baru P'Jira di kebun kecil belakang rumah mereka. P'Jira bilang dia sedang mencoba menanam beberapa tanaman hias untuk menghilangkan stres.

Apakah P'Jira menanam anggrek? Napath mencoba mengingat-ingat. Sejauh yang ia tahu, P'Jira hanya menanam tanaman hijau biasa. Ia belum pernah melihat bunga putih seperti ini di rumah mereka.

"Fai, apa bunga ini sulit dirawat?" tanya Napath tiba-tiba.

Faiwan menoleh. "Sangat sulit. Bunga ini tidak punya daun, jadi dia tidak bisa berfotosintesis sendiri. Dia butuh jamur spesifik untuk hidup. Secara teknis, dia adalah parasit yang elegan. Hanya orang dengan kesabaran luar biasa dan lingkungan terkontrol yang bisa membuatnya mekar sesempurna ini."

"Kesabaran luar biasa..." gumam Napath. Itu adalah deskripsi sempurna untuk Karan Jirayu. Kapten detektif yang bisa duduk berjam-jam mengamati rekaman video tanpa berkedip.

Napath menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Berhenti, Napath. Jangan mencurigai orang yang mencintaimu.

"Sudah selesai, Napath. Kau bisa kirimkan hasil fotonya ke meja Kapten Karan sekarang?" tanya Faiwan sambil melepas sarung tangannya.

"Tentu. Aku akan segera memprosesnya di ruang gelap," jawab Napath.

Saat Napath berjalan keluar dari ruang forensik, ia berpapasan dengan Thara di koridor.

"Oh, Napath! Bagaimana hasilnya?" tanya Thara ramah.

"Sama seperti sebelumnya, Khun Thara. Asfiksia karena jeratan. Faiwan sedang menyusun laporan lengkapnya."

Thara mengangguk, lalu merangkul bahu Napath dengan akrab. "Jaga Kaptenmu, ya. Dia bekerja seperti mesin akhir-akhir ini. Aku takut bautnya lepas."

Napath tertawa kecil, meski hatinya terasa berat. "Aku akan berusaha, Khun Thara. Dia memang keras kepala."

"Bukan cuma keras kepala," Thara berbisik dengan nada lebih serius. "Dia seolah-olah sedang memburu dirinya sendiri. Kau tahu kan bagaimana dia jika sudah terobsesi pada sesuatu? Dia tidak akan berhenti sampai dia menghancurkan segalanya, termasuk dirinya sendiri."

Kalimat Thara terngiang-ngiang di telinga Napath sepanjang jalan menuju ruang kerjanya. Memburu dirinya sendiri.

Sesampainya di ruang kerja fotografer forensik, Napath mulai memindahkan file foto dari kartu memori ke komputer. Satu per satu gambar muncul di layar besar. Jasad, leher yang memar, bintik merah di mata, dan... bunga itu.

Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. Malam itu, saat P'Jira terbangun dari tidurnya yang gelisah, ada bau aneh yang tertinggal di bantalnya. Bukan bau parfum, bukan bau keringat. Itu adalah bau tanah yang lembap dan aroma manis yang sangat tipis. Aroma yang sekarang ia sadari... identik dengan aroma bunga yang ada di meja otopsi Faiwan.

Tangan Napath membeku di atas mouse. Ia menatap foto makro Ghost Orchid di layarnya. Pikirannya berperang antara logika seorang penyidik dan perasaan seorang kekasih.

Tidak mungkin. Ini hanya kebetulan. P'Jira sering berada di luar, mungkin dia tidak sengaja menginjak tanah lembap saat memeriksa lokasi kejadian sebelumnya, pikir Napath mencoba rasional.

Namun, bagian kecil dari jiwanya mulai merasa takut. Bukan takut pada sang pembunuh berantai, melainkan takut pada kenyataan bahwa "rumah" tempat ia pulang selama ini mungkin memiliki pintu rahasia yang tidak pernah ia ketahui keberadaannya.

Di luar, hujan mulai turun membasahi kota, mengaburkan pandangan, persis seperti keraguan yang mulai tumbuh subur di hati Napath Tawanakul.

***

To be continued

👣👣

Jangan lupa Vote dan comment nya krubb 😄🙏🏻

Episodes

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play