Hujan yang turun sejak sore tadi kini berubah menjadi gerimis halus yang menyelimuti kota dengan kabut tipis. Cahaya lampu jalanan berpendar buram di permukaan aspal yang basah. Di sebuah apartemen yang terletak di lantai dua belas, suasana kontras dengan dinginnya dunia luar.
Ruang tamu itu remang-remang, hanya diterangi oleh lampu sudut berwarna kuning hangat yang memberikan kesan nyaman dan tenang.
Karan, atau P’Jira, baru saja melangkah masuk. Bahunya yang lebar terlihat sedikit merosot, beban kasus "The Midnight Florist" seolah menjadi beban fisik yang nyata di atas pundaknya. Ia melepaskan kacamata peraknya, memijat pangkal hidung yang terasa nyeri akibat terlalu lama menatap layar monitor. Keheningan apartemen itu adalah kemewahan yang ia dambakan sepanjang hari.
"P'Jira? Kau sudah pulang?"
Suara lembut Napath muncul dari arah dapur, diikuti oleh aroma masakan yang menenangkan—sup jahe hangat dan nasi melati. Napath muncul dengan kaos oversized putih dan celana pendek, penampilannya sangat kontras dengan Karan yang masih mengenakan kemeja hitam formal yang sedikit kusut.
Karan memaksakan seulas senyum. "Iya, aku pulang. Maaf terlambat lagi, Napath."
Napath mendekat, matanya memindai wajah kekasihnya dengan penuh kasih. Tanpa berkata-kata, ia meraih tas kerja Karan dan meletakkannya di kursi, lalu menuntun pria yang lebih tua itu menuju sofa besar di tengah ruangan. "Jangan minta maaf. P'Jira sudah bekerja keras hari ini. Sekarang, duduklah. Aku akan ambilkan air hangat."
Karan menurut, menjatuhkan tubuhnya ke sofa kulit yang empuk. Ia menyandarkan kepala, menatap langit-langit apartemen mereka. Pikirannya masih berputar pada foto-foto TKP, jeratan di leher korban, dan misteri van hitam itu. Namun, setiap kali bayangan kematian itu muncul, aroma parfum vanila dan cedarwood dari tubuh Napath perlahan mengusirnya.
Beberapa saat kemudian, Napath kembali membawa baskom kecil berisi air hangat dan handuk kecil. Ia berlutut di lantai di depan kaki Karan, sebuah tindakan pengabdian yang selalu membuat Karan merasa dicintai sekaligus tidak enak hati.
"Napath, tidak perlu sampai seperti ini," gumam Karan, tangannya bergerak mengusap rambut cokelat madu Napath.
"Diamlah, Kapten," canda Napath sambil mendongak, matanya berbinar jenaka. "Di kantor kau boleh memerintah semua orang, tapi di sini, aku yang memegang kendali. Biarkan aku merawatmu sebentar."
Napath mulai membasuh tangan Karan dengan handuk hangat, membersihkan sisa-sisa debu dan ketegangan dari jari-jari panjang detektif itu. Setiap gerakan Napath sangat hati-hati, seolah ia sedang menyentuh barang pecah belah yang paling berharga di dunia. Karan memejamkan mata, merasakan kehangatan itu merambat ke dalam dadanya.
"Thara bilang kau hampir tidak berkedip hari ini," ucap Napath pelan sambil tetap fokus pada tugasnya. "Fai juga bilang kau terlihat seperti sedang mengejar hantu."
Karan menghela napas panjang. "Hantu yang sangat pintar, Napath. Dia tidak meninggalkan apapun. Kadang aku merasa dia sedang mempermainkan kita. Dia ingin kita melihat keindahannya, tapi dia menyembunyikan tangannya."
Napath berhenti sejenak, lalu meletakkan tangannya di atas lutut Karan. "P'Jira, kau adalah detektif terbaik yang aku kenal. Jika ada orang yang bisa menangkapnya, itu adalah kau. Tapi jangan biarkan hantu itu mengambil jiwamu juga. Kau butuh istirahat."
Napath berdiri dan berpindah ke belakang sofa. Ia mulai memijat bahu Karan yang sekeras batu. Jemarinya yang terbiasa memegang kamera ternyata memiliki kekuatan yang pas untuk mengurai otot-otot yang tegang. Karan mengerang pelan, kepalanya terkulai ke belakang, bersandar pada perut Napath.
"Bagaimana di forensik tadi?" tanya Karan, mencoba mengalihkan pembicaraan dari rasa lelahnya sendiri.
"Melelahkan," jawab Napath jujur. "Melihat korban semuda itu... selalu menyedihkan. Tapi Faiwan sangat hebat. Dia sangat detail. Kami menyelesaikan dokumentasi eksternal dan internal tepat waktu."
Napath sengaja tidak menceritakan spekulasi aneh yang sempat mampir di kepalanya tadi sore. Melihat P'Jira yang rapuh dan kelelahan seperti ini, kecurigaan itu terasa seperti pengkhianatan. Bagaimana mungkin pria yang selalu memeluknya erat saat badai, yang selalu memastikan Napath sudah makan, dan yang memiliki tatapan selembut ini bisa menjadi monster?
"Kau tahu, P'Jira," suara Napath melunak, "tadi di lab, aku memotret bunga itu dari jarak dekat. Sangat dekat. Dan aku menyadari satu hal. Bunga itu hanya bisa mekar sempurna jika ada seseorang yang sangat mencintainya. Seseorang yang memberikan seluruh perhatiannya hanya untuk bunga itu."
Karan membuka mata, menatap Napath dari posisi terbalik. "Maksudmu?"
"Maksudku, pembunuh ini... dia tidak hanya jahat. Dia kesepian. Dia menciptakan dunianya sendiri karena dunia ini tidak memberinya apa yang dia butuhkan." Napath menghela napas. "Tapi sudahlah, jangan bahas itu lagi. Aku tidak mau kau membawa pekerjaan ke tempat tidur kita."
Napath membungkuk, mencium kening Karan dengan lembut. Ciuman itu berlangsung lama, penuh dengan doa-doa tanpa kata agar kekasihnya diberikan ketenangan. Karan meraih tengkuk Napath, menariknya lebih dekat hingga bibir mereka bertemu.
Ciuman itu awalnya lembut, sebuah pertukaran kehangatan yang manis, namun perlahan berubah menjadi dalam dan penuh kerinduan. Di dalam ciuman itu, Karan mencoba mencari perlindungan dari kegelapan yang selalu menghantuinya, sementara Napath mencoba memberikan seluruh kekuatannya untuk menopang Karan.
"Ayo makan, supnya akan dingin," bisik Napath saat mereka melepaskan pagutan.
Mereka makan malam bersama dalam suasana yang jauh lebih ringan. Thara dan Faiwan menjadi topik pembicaraan. Karan tertawa kecil saat Napath menceritakan bagaimana Faiwan hampir menjatuhkan tabung sampel karena terkejut melihat seekor laba-laba kecil di ruang forensik.
"Faiwan memang unik," kata Karan sambil tersenyum. "Dia punya kecerdasan yang luar biasa, tapi kadang akal sehatnya hilang jika berhadapan dengan serangga."
"Sama seperti Khun Thara," tambah Napath. "Dia terlihat sangat sangar dengan jasnya, tapi tadi dia hampir tersedak kopi karena mencoba melawak di depan Fai."
Malam itu, di bawah cahaya lampu yang temaram, mereka hanyalah dua orang yang saling mencintai. Tidak ada detektif elit, tidak ada fotografer forensik, dan tidak ada pembunuh berantai. Hanya Karan dan Napath.
Setelah makan, mereka berbaring di tempat tidur. Karan memeluk Napath dari belakang, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher kekasihnya. Napath mengusap-usap lengan Karan yang melingkar di pinggangnya.
"P'Jira?"
"Hmm?"
"Berjanjilah padaku satu hal."
Karan mengeratkan pelukannya. "Apa itu?"
"Jika suatu saat kau merasa dunia ini terlalu berat, atau jika kau merasa tersesat... kembalilah padaku. Aku akan selalu menjadi rumahmu. Aku akan selalu mencintaimu, apa pun yang terjadi."
Karan terdiam sejenak. Kalimat Napath terasa sangat dalam, seolah-olah Napath sedang merasakan sesuatu yang tidak bisa ia katakan. "Aku janji, Napath. Aku tidak akan pergi ke mana-mana. Kau adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa nyata."
Perlahan, napas Karan menjadi teratur. Kelelahan yang luar biasa akhirnya mengalahkannya. Ia tertidur dalam pelukan Napath, masuk ke dalam dunia mimpi yang gelap namun tenang.
Napath tetap terjaga sejenak, menatap wajah tidur Karan. Dalam tidurnya, wajah Karan terlihat sangat damai, jauh dari ekspresi tajam dan dingin yang ia tunjukkan di kantor. Napath mengusap pipi Karan dengan ibu jarinya.
Kau bukan monster, P'Jira. Kau hanya terlalu peduli, batin Napath meyakinkan dirinya sendiri sekali lagi.
Namun, di tengah keheningan malam, jauh di dalam alam bawah sadar Karan, sebuah pintu yang biasanya terkunci rapat mulai bergetar.
Bayangan bunga putih yang pucat menari-nari di balik kelopak matanya yang terpejam. Sebuah kepribadian lain, yang selama ini bersembunyi di balik dinding trauma, mulai merayap keluar, menunggu saat yang tepat ketika sang detektif benar-benar kehilangan kewaspadaannya.
Di luar, hujan sudah berhenti, meninggalkan udara yang sangat dingin dan senyap. Di atas meja kerja di ruang tamu, kunci kecil yang menjadi liontin kalung Karan berkilauan terkena cahaya bulan yang mengintip dari balik awan. Kunci itu seolah menjadi simbol dari rahasia yang bahkan pemiliknya sendiri belum siap untuk membukanya.
Malam itu berakhir dengan kehangatan yang semu, di mana cinta menjadi selimut yang menutupi kebenaran yang mulai retak.
***
To be continued
Lovely night 💐✨
Jangan lupa Vote dan comment nya krubb 😄 🙏🏻
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 4 Episodes
Comments