Indonesia
NovelToon NovelToon
Lux In Winter

Lux In Winter

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:380
Nilai: 5
Nama Author: Ryn Takumi

Kinan harus memilih antara dua pilihan yang ada. Apakah dia akan terus bersembunyi dalam musim dingin yang damai atau berani melangkah menghadapi kenyataan yang sempat ia sangkal dan merasakan sesuatu yang baru. Karena terkadang, kita harus kehilangan segalanya agar kita bisa benar-benar menemukan jati diri.

Lux in Winter yang akan berisi 40 chapter ini, bukan hanya sekedar kisah tentangnya semata. Ini adalah sebuah perjalanan panjang melepaskan, mencintai dan menemukan cahaya di tempat yang paling tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Takumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1 - Kastil Kaca

Dibawah langit sore yang mendung, gerimis masih menetes membasahi baju serta sekujur badan Kinan dan Eca sedari tadi. Di halaman depan sebuah rumah kosong yang tak jauh dari lapangan tempat mereka bermain hujan, Eca duduk bersila beralaskan rumput yang tetap terpotong rapi setelah mereka merasa bosan bermain lumpur.

Kinan terlihat berdiri di depan Eca sembari memegang sebuah ranting kayu dan menggunakannya untuk mengetuk dinding rumah yang kusam dan sedikit berlumut yang dianggapnya sebagai papan tulis.

"Sekarang, apa yang kamu tahu tentang majas?"

"Gak tahu sama sekali, Bu," jawab Eca dengan semangat.

Kinan hanya menggelengkan kepalanya. "Jadi, majas itu singkatnya adalah sebuah bahasa kiasan. Contohnya ada banyak sekali. Ada metafora, ada hiperbola dan masih banyak lainnya."

Eca mengusap rambutnya yang masih lepek dengan senyuman di wajahnya yang menyiratkan dengan jelas maksudnya. Ia menatap ke dinding seolah ada banyak kalimat yang tertulis. "Masih gak paham, Bu," gumamnya lemas.

"Aduh," gerutu Kinan.

Ia kemudian mengacungkan ranting kayu ke dinding serta menarik napas dalam-dalam. "Gini ya muridku. Kita anggap aja kalimat itu kayak masakan, lalu majas itu fungsinya sebagai bumbu di dalamnya. Bayangkan kamu sedang makan selembar roti tawar. Gimana rasanya?"

Eca mengerutkan kening sambil mengelus tangannya semakin terasa dingin "Yaaa... seperti roti, Bu. Namanya juga roti," jawabnya polos

"Sekarang bandingkan rasanya roti tawar itu dengan roti yang pakai selai stroberi. Enakan mana?"

"Eca gak suka selai stroberi, Bu. Gimana kalo pakai selai coklat aja? Terus dikasih keju parut yang banyak."

"Terserah kamu deh. Jadi, lebih enakan mana roti tawar yang gak dikasih apa-apa, sama roti tawar yang diolesi selai coklat dan ditambah keju parut yang banyak?"

"Tentu saja yang pakai selai coklat dan keju, Bu."

"Nah."

Eca langsung menelan ludah. "Hhmm... Enaknya. Aku mau, Nanan." Matanya berbinar memikirkan makanan manis di tengah hawa dingin.

Kinan seketika memukul pelan kepala Eca dengan ranting yang ada di tangannya. "Makanan aja pikirannya. Jadi, gunanya majas itu sama kayak selai coklat dan keju parut tadi. Cara kita untuk memilih kata biar kalimat yang kita buat jadi semakin indah, semakin menarik dan tentunya tidak membosankan saat dibaca."

"Ohh... paham, paham," ucap Eca sembari mengangguk pelan.

"Namun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat..."

"Teeeeeeeet! Teeeeeeeet!" Tiba-tiba, Eca berteriak memotong kalimat Kinan sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. "Bel sudah bunyi, Bu! Waktunya pulang."

"Kamu ini. Kalau begitu, ada tugas buat minggu depan."

"Yaaah."

"Yaitu membuat puisi atau pantun bebas tentang apa aja asal menggunakan salah satu majas. Dan, kalo tidak mengerjakan bakal menerima hukuman berat dari Ibu," sambung Kinan.

Kemudian Kinan menurunkan ranting kayunya, mengakhiri perannya sebagai guru, lalu ikut duduk di samping Eca yang memberikan tepuk tangan begitu meriah.

"Yey, Nanan kereeeeeen."

Kinan hanya tersenyum bangga.

"Sekarang giliran aku yang jadi gurunya, lalu Nanan yang jadi muridnya. Aku juga bisa kalo cuman begitu doang."

Eca melompat berdiri, mengambil ranting kayu yang tadi Kinan pegang lalu berdahak lantang layaknya seorang guru sungguhan.

"Baik, semuanya. Hari ini Ibu akan mengajar kalian matematika soal perkalian dan pembagian."

Kinan mencibir, langsung memotong dengan tatapan yang meremehkan. "Emang bisa? Orang perkalian dan pembagian aja kamu gak hafal."

Eca spontan menggelengkan kepalanya "Ish... Ish. Nanan ini sok tau deh."

"Coba, kalau gitu empat dikali lima berapa?"

"Delapan belas lah."

Kinan tampak seperti berusaha menahan tawa. Lalu ia lanjut dengan pertanyaan selanjutnya.

"Kalo dua puluh empat dibagi empat? Berapa?"

"Hmm... Dua puluh empat dibagi empat yaaa. Hmm... sebentar. Gampang banget itu. Jawabannya adalah lima. Benar, kan? Ya kan? Nanan jangan meremehkan aku," ucap Eca dengan nada super yakin, lengkap dengan senyuman tanpa dosa di wajahnya.

Akhirnya Kinan pun tak mampu lagi untuk menahan tawanya yang sedari tadi.

"Sejak kapan empat dikali lima hasilnya delapan belas dan dua puluh empat dibagi empat jawabannya lima? Pantas saja ulangan kemarin nilaimu cuman enam puluh."

"Ahh nyebelin. Nanan kalo ntar pas gede jadi guru beneran, pasti jadi guru yang super galak. Kasian sekali murid-murid Nanan," gerutu Eca sembari memasang raut cemberut, melipat kedua tangannya di dada sambil membuang muka.

"Iya, kalau muridnya kayak kamu semua."

Mereka berdua kemudian tertawa terbahak-bahak bersama, terlihat begitu menikmati apa yang sedang mereka lakukan meskipun bibir mereka semakin memucat. Hingga akhirnya dari kejauhan terdengar seseorang memanggil nama Kinan dengan begitu lantang.

"KINAAAAAN."

Tawa mereka seketika itu juga terhenti. Raut muka Kinan langsung berubah sepenuhnya saat mendengar suara itu. Suasana langsung senyap dan hawa di sekitar mereka jadi terasa makin dingin. Kinan sangat mengetahui siapa sosok yang memanggil dirinya.

"PULANG SEKARANG!!"

Eca menatap wajah Kinan yang tampak cukup tertegun dan menjadi tak bersemangat. "Waaaah, ada Kepala Sekolah galak datang. Takuuut... kalau gitu aku pulang aja deh. Besok kita main lagi ya, Nanan. Dadaaaaa"

Eca melambaikan tangannya sambil melangkah sedikit lebih cepat dari biasanya, lalu sosok tersebut mendekati Kinan dan berbicara dengan nada yang keras. Kinan tak berani menatapnya dan hanya memalingkan wajah.

"Sudah jam berapa ini? Apa kamu tak tahu waktu?"

Kinan mencoba berdiri tanpa menjawab sepatah kata pun dan masih memalingkan pandangannya.

"Denger kalo ayah ngomong?" 

Kinan menatap ke arah ayahnya, lalu menjawab pelan. "Kan masih sore, Yah. Kenapa Kinan harus pulang sekarang? Tadi Kinan juga udah bilang mau main sama ibu dan ibu bilang boleh, asal tidak sampe lebih dari jam setengah lima."

"Tak usah banyak omong, cepet pulang," bentak ayahnya dengan nada tinggi.

"Tapi, Yah?"

"Pulang sekarang. Sudah berani sekarang kamu ngelawan Ayah?" 

Ayah Kinan menarik lengannya untuk menyeretnya pulang. Nada bicaranya semakin meninggi. Namun, alih-alih Kinan hanya diam, ia malah terus menjawab perkataan ayahnya dengan nada polos anak kecil.

"Kinan tidak ngelawan Ayah. Tapi...."

Ayah Kinan tampak raut mukanya semakin memerah. Sembari mengepalkan kedua tangannya, ia akhirnya menjewer telinga kiri Kinan.

"Dengarkan apa kata Ayah. Kalau Ayah bilang pulang ya pulang. Jangan banyak alasan. Sejak kapan kamu jadi pintar membantah seperti ini? Apa ini hasilnya kalau kamu bergaul sama anak tidak jelas itu?"

"Sa-sakit, Yah. Telinga Kinan sakit. Tolong lepasin, Yah."

"Tak akan ayah lepaskan. Biar kamu tahu rasa. Jangan banyak alasan kalau dinasehati orang tua."

"Ta-tapi, Yah." Kinan terus menjawab perkataan ayahnya sambil meringis kesakitan.

"Tidak ada tapi-tapian. Sekarang pulang. Dan, kamu tak usah bermain dengan anak itu lagi. Awas kalau sampai Ayah tahu kamu masih main dengan dia."

"Apa alasan Kinan gak boleh main sama Eca, Yah?

"Tak usah banyak tanya." Ayah Kinan semakin keras menjewer telinga Kinan. "Cukup kamu dengarkan dan ikuti apa kata ayah. Ngerti kamu?"

"Tapi, dia kan temanku, Yah. Dia baik, dia gak nakal. Dia juga..."

Langkah mereka berdua berhenti. Ayah Kinan kembali membentaknya, lalu kali ini ia melepaskan jewerannya dari telinga Kinan. "Apa cuma dia temanmu? Apa kamu tak punya teman lain selain dia?"

"Tapi dia sangat baik sama Kinan. Waktu di sekolah, dia selalu nemenin Kinan dan membela Kinan kalau ada yang jahat sama Kinan, Yah. Rumahnya juga deket dari rumah kita dan Ibu bilang kalau Kinan gak boleh jauh-jauh kalau main."

Raut wajah ayah Kinan makin memerah, emosinya makin memuncak karena setiap perkataannya selalu dijawab oleh Kinan.

"Halah, dasar anak tak tahu diri. Kamu itu sama saja seperti ibumu."

Seketika wajah Kinan begitu terkejut, tubuhnya bergetar hebat mendengarkan perkataan dari ayahnya. Kinan memang cukup sering dimarahi oleh ayahnya. Namun kali ini, satu kalimat ini barusan terasa berbeda.

"Bisa tidak kalian sekali saja tidak buat Ayah marah? Hidupku tak pernah tenang karena adanya kalian."

Napas ayah Kinan terengah-engah setelah meluapkan semua amarahnya. Suasana sesaat hening meskipun mereka sedang di pinggir jalan.

Kinan diam membatu. Pandangannya menunduk ke tanah, bahkan tangan dan sekujur tubuhnya menggigil bukan karena dingin, melain sebab kemarahan ayahnya. Kinan benar-benar tak ingin mendengar kata-kata kasar itu terucap dari orang tuanya sendiri.

Namun sesaat kemudian, ia kembali mengangkat wajahnya. Pandangannya lurus menatap serius ke arah ayahnya tanpa memalingkannya sama sekali. Kinan bukanlah anak yang cengeng, manja ataupun lemah seperti kebanyakan anak seusianya. Ia selalu mempertanyakan apapun hal yang tidak ia mengerti serta yang tidak ia ketahui.

Kesabaran ayahnya tampak sudah habis, benar-benar sudah tak mampu mengendalikan amarahnya.

"Dasar anak sialan."

Kinan melihat ayahnya mengayunkan tangan kanannya ke arah pipi kirinya dan ia hanya bisa memejamkan mata, bersiap menelan rasa sakit itu. Tapi rasa sakit itu tak pernah datang. Yang ada hanya deru klakson memekakkan telinga.

"Kin, awas mobil." Edo dengan sigap menarik tangan Kinan ke pinggir jalan. "Kamu lagi mikirin apa sih? Bahaya banget ngelamun sambil jalan ke tengah gitu."

Meskipun cukup kaget, Kinan hanya terdiam sambil terus berjalan tanpa melirik Edo sedikit pun. 

"Lagi mikirin apa sih, Kin? Lagi ada masalah? Coba aja cerita ke..."

"Gak ada," jawab singkat Kinan yang cukup dingin memotong perkataan Edo.

Langkah kaki Edo seketika terhenti. Ia sesaat berpikir apakah ada kata-kata yang salah yang ia ucapkan. Ia tahu sifat Kinan memang sering serius dan jarang bercanda saat ngobrol dengannya. Namun, kali ini terasa berbeda.

Sesaat kemudian, Edo tak ingin terlena dengan pikirannya sendiri. Ia kembali berjalan di sebelah Kinan.

"Sepertinya, enak ya jadi dirimu, Kin. Salah satu anak paling pintar di kelas yang aku kenal. Bayangin aja, dulu dari kelas satu sampai sekarang udah naik kelas enam, dirimu selalu dapat peringkat satu di kelas. Hebat bukan main deh." Edo kembali dengan obrolannya yang begitu antusias untuk memancing Kinan bicara. "Ayah dan ibumu pasti bangga banget punya anak kayak dirimu, Kin."

Kinan masih tak bergeming. Hingga kemudian, ia hanya melirik ke arah Edo tanpa mengucap sepatah kata pun.

"Kapan ya, aku bisa jadi sepintar dirimu, Kin? Mau banget aku bisa ngerjain semua soal lalu disanjung sama guru-guru. Wah, ngebayangin aja udah seneng banget."

"Kapan-kapan, kalo kamu rajin belajar dan gak tidur terus di kelas."

Edo tersenyum melihat Kinan yang tak diam lagi meskipun kata-katanya cukup menusuk langsung ke relung hatinya.

"Yaaah. Males aku kalo disuruh belajar. Tapi, aku mau pinter kayak dirimu. Apa gak ada cara lainnya?"

"Mau pintar tapi malas belajar. Mimpi aja terus."

"Besok-besok deh, aku mulai rajin belajar. Eh, tapi besok ada pertandingan sepakbola yang seru. Besoknya aja lagi deh. Kalo gak, mungkin besoknya lagi." Edo tertawa sendiri dengar omongannya.

"Ya gitu aja terus. Sampe gede gak bakal berubah."

Tak lama mereka mengobrol, akhirnya tak terasa Edo sudah sampai di depan rumahnya.

"Hati-hati di jalan, Kin. Awas jangan ngelamun lagi. Soalnya gak ada aku di sebelahmu."

Lagi-lagi Kinan hanya melirik ke arah Edo tanpa mengucapkan apa pun. Kinan mempercepat langkahnya karena hari semakin panas. Setiap harinya Kinan memang jalan kaki, baik berangkat mau pun pulang sekolah.

Sesampainya di depan pintu rumahnya, dengan wajah sumringah Kinan membuka pintu dan terlihat ibunya yang sedang menjahit baju menyambutnya dengan hangat.

"Assalamualaikum, Bu."

"Waalaikumsalam, Nak. Sudah pulang anak ibu," jawab Ibunya sembari tersenyum.

Kinan langsung menaruh tasnya di atas meja, lalu membukanya secepat kilat dan mengeluarkan buku rapornya.

"Kinan dapat peringkat berapa? Coba ibu tebak," tanyanya dengan antusias, lalu Kinan menyodorkan buku rapornya ke ibunya. Raut bahagia terpampang jelas di wajahnya.

"Sini coba Ibu lihat dulu."

Tak henti-hentinya ekspresi bahagia di wajah Kinan sembari menunggu ibunya melihat isi buku rapornya.

"Wah, hebat anak ibu. Dapat peringkat satu lagi. Kasihan teman-temen sekelasmu selalu tak kebagian peringkat satunya dari dulu."

"Hehe...," tawa Kinan. "Soalnya Kinan kan selalu rajin belajar dan selalu fokus kalo di kelas, Bu."

Kemudian Kinan teringat ada sesuatu yang hampir kelupaan, satu hal lagi yang mau ia sampaikan kepada ibunya.

"Oh iya, ada satu lagi, Bu."

"Apa itu, Nak?"

"Kinan juga terpilih jadi siswa yang mewakili sekolah Kinan untuk lomba pidato di tingkat kota, Bu. Dan lombanya dilaksanakan dua minggu lagi," jelasnya.

"Inilah hasilnya kalau Kinan rajin belajar setiap hari," ucap Ibu Kinan yang kemudian memeluknya dengan erat. "Ibu sangat bangga dengan Kinan. Memang anak terbaik Ibu."

Kinan melepaskan pelukan itu dan bertanya pada ibunya dengan nada penasaran.

"Oh iya, Bu. Ayah mana? Kinan juga mau kasih tau ayah soal ini."

"Ohh, Ayahmu. sepertinya sedang duduk di teras belakang."

Sambil membawa buku rapornya, Kinan bergegas ke belakang rumah masih dengan wajah antusiasnya. Tampak ayahnya sedang duduk santai sambil meminum secangkir kopi.

"Ayah, Kinan dapat peringkat satu lagi di kelas," ucap Kinan sembari menyodorkan buku rapornya ke ayahnya.

Ayahnya hanya melirik Kinan tanpa menjawab sepatah kata pun.

"Dan dua minggu lagi, Kinan juga akan ikut lomba pidato sebagai perwakilan sekolah, Yah," lanjutnya.

Kinan tampak punya ekspektasi tinggi bahwa reaksi ayahnya akan persis seperti ibunya. Namun, kenyataannya sungguh berbeda dengan apa yang Kinan harapkan. Ayahnya mengabaikan buku rapor yang Kinan sodorkan, lalu tetap fokus pada kopinya seakan Kinan hanyalah lalat yang sedang lewat.

"Yah?"

Ayahnya hanya diam membisu. Ia menganggap semua pencapaian Kinan sampai sekarabag hanyalah sesuatu yang biasa serta tak patut untuk dibanggakan.

"Terus, apa yang kamu banggakan dengan itu semua?" tanya ayahnya dengan nada yang dingin dan cukup keras. Bahkan, sampai terdengar oleh ibunya di dalam.

Kinan hanya terdiam. Raut wajahnya langsung tampak lesu dan tak bersemangat.

"Apa gunanya kamu memberitahu ayah semua ini? Apa kamu tidak mikir kalau semua bocah juga bisa seperti kamu. Jangan merasa hebat dan pintar."

Ayahnya beranjak dari tempat duduknya, melemparkan tatapan tajam di depan Kinan.

"Asal kamu tahu. Bahkan, sejak kamu lahir sampai sekarang, masih saja tak ada bedanya." Ayah Kinan berjalan masuk ke dalam rumah melewati Kinan begitu saja. "Dasar tidak berguna."

Kinan mencoba menguatkan diri untuk tak meneteskan air mata. Ibunya datang mencoba menenangkan Kinan yang tampak begitu sedih sambil mengelus kepala Kinan.

"Nak, tak perlu Kinan dengarkan semua kata-kata ayahmu, ya. Mungkin ayahmu sedang banyak pikiran saja atau mungkin lagi ada masalah. Jadinya, ya gitu. Kinan tetap anak ibu yang paling hebat."

Kinan tak bergeming dan masih menunduk lemas, tak mengucapkan sepatah kata pun. Ia melepaskan pegangan tangannya pada buku rapornya lalu bergegas menuju ke kamarnya tanpa melihat ibunya.

Ibu Kinan mengambil buku rapor yang terjatuh dan segera mengikuti Kinan. Ia mencoba membuka pintu kamar Kinan, namun Kinan sudah menguncinya dari dalam.

"Kinan... Kinan..."

Tak ada jawaban dari Kinan.

"Kinan! Kinan ganti baju dulu ya. Lalu makan siang dulu," bujuk Ibunya sembari mengetuk pintu. Namun, masih tak ada jawaban dari Kinan.

"Hari ini ibu masak opor ayam kesukaanmu, lho. Ayo makan dulu, Nak."

Masih tak ada jawaban dari Kinan. Kini ibunya tampak semakin gusar.

"Kinaaan. Ayo makan bareng Ibu."

Ibu Kinan mencoba kembali mengetuk pintu kamar Kinan. Namun, lagi-lagi tak ada suara sedikit pun terdengar. Tak lama berselang, suara isak tangis keluar dari dalam kamar. Ibunya begitu terkejut mengetahui anaknya yang ia kenal sebagai anak yang sangat jarang meneteskan air mata, bahkan terdengar lebih keras dari tangisannya saat Kinan terserempet mobil dulu.

"Naaak..."

Di balik pintu yang terkunci itu, Kinan merasakan hancurnya hati oleh orang yang dianggapnya sebagai sosok ayah. Semua hal yang Kinan capai ternyata masih tak cukup bahkan untuk mendapatkan sebuah senyuman dari ayahnya.

1
Rey
Panjang bener chapter kali ini 😄
Ryn Takumi: Kebablasan 🤣
total 1 replies
Crestfall
Mika favoritku sih
Crestfall
👍👍👍
Rey
Cukup menarik. sepertinya aku bakal stay ngikutin ini
Ryn Takumi: Makasih, Kak.
Jangan bosen bacanya 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!