Indonesia
NovelToon NovelToon
Stella Kesayangan Kutub Es

Stella Kesayangan Kutub Es

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintamanis / Tamat
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.

Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.

Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.

Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.

Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Stella Lingga 01.

Suara alarm dari ponsel di atas nakas sudah berbunyi untuk kelima kalinya, tetapi Stella masih meringkuk di balik selimut tebalnya. Ketika matanya melirik jam dinding yang menunjukkan angka 06.40, kesadarannya langsung tersentak.

"Mampus! Gerbang dikunci sepuluh menit lagi!" teriak Stella histrionik, langsung melompat dari tempat tidur hingga kakinya tersangkut ujung sprei.

Gadis 17 tahun itu bergerak secepat badai. Mandi kilat lima menit—yang lebih mirip seperti sekadar membasahi muka dan menyikat gigi—lalu memakai seragam putih abu-abunya dengan asal. Dasi sekolahnya masih menggantung longgar di leher, rambut panjangnya yang agak bergelombang hanya diikat cepol berantakan dengan jepitan badai berwarna merah muda.

Sambil menyambar tas ranselnya yang setengah terbuka, Stella berlari menuruni tangga rumahnya melompati dua anak tangga sekaligus.

"Stella! Sarapan dulu, ini Bunda buatkan roti!" seru ibunya dari arah dapur.

"Nggak sempat, Bun! Stella pinjam motor Ayah ya, naik ojek online kelamaan nunggunya!" sahut Stella tanpa mengerem langkahnya. Dia menyambar kunci motor di dekat TV, mencium tangan ibunya secepat kilat, dan langsung melesat ke garasi. Di atas motor, sepanjang jalan pikiran Stella hanya satu: bagaimana caranya lolos dari Pak Bambang, guru piket paling killer se-SMA Pancasila.

Langkah Stella mendadak gontai saat melihat gerbang besi sekolah sudah tertutup rapat.

Benar saja, Pak Bambang berdiri di sana dengan melipat tangan di dada, lengkap dengan tatapan matanya yang setajam elang.

Setelah melalui drama memohon yang dramatis—termasuk akting pura-pura pusing yang gagal total—Stella akhirnya diizinkan masuk dengan satu syarat mutlak.

"Lari sepuluh kali putaran di lapangan utama. Sekarang, Stella!" perintah Pak Bambang tegas.

Stella mendesah panjang, namun matanya tiba-tiba berbinar saat menoleh ke arah lapangan utama.

Di sana, tim futsal sekolah sedang mengadakan latihan pagi. Dan di tengah-tengah lapangan, ada Gibran. Cowok idola sekolah, kapten tim futsal yang ketampanannya selalu berhasil membuat fungsi otak Stella bergeser.

Melihat kesempatan dalam kesempitan, insting petakilan Stella langsung aktif. Sambil mulai berlari pelan mengelilingi lapangan, dia sengaja mengatur rutenya agar lebih dekat dengan area latihan futsal.

Pada putaran ketiga, napas Stella mulai terengah-engah, tetapi matanya tetap fokus mencari perhatian Gibran. Saat bola futsal bergulir ke arah pinggir lapangan, Stella dengan sengaja mempercepat langkahnya, berpura-pura tidak melihat bola, lalu menyenggolnya sedikit hingga dia kehilangan keseimbangan.

"Aduh! Aduuuh, kaki gue!" Stella memekik dengan nada yang dibuat-buat, terdengar sangat teatrikal. Dia menjatuhkan diri ke rumput pinggir lapangan, memegangi pergelangan kakinya sambil meringis, matanya melirik genit ke arah Gibran yang kebetulan berjalan mendekat untuk mengambil bola. "Aduh, Gibran... kayaknya kaki gue terkilir deh. Sakit banget, aduh..."

Gibran berhenti tepat di depan Stella. Cowok itu bertolak pinggang, tubuhnya yang tegap basah oleh keringat, memancarkan aura atletis yang membuat jantung Stella berdegup dua kali lebih cepat. Stella sudah bersiap menyunggingkan senyum termanisnya, berharap Gibran akan mengulurkan tangan atau minimal bertanya dengan nada khawatir.

Namun, Gibran hanya menatap Stella datar. Tidak ada riak emosi sama sekali di wajah tampannya. Gibran cuek bebek. Dia hanya menunduk, mengambil bola futsal di dekat kaki Stella, lalu memutarnya di ujung jari.

"Kalau mau akting, belajar dulu sama anak teater. Masih kelihatan banget bohongnya," ucap Gibran dingin, tanpa minat.

Sebelum Stella sempat membalas, Gibran sudah berbalik badan dan berteriak ke arah teman-temannya, "Woi, lanjut latihannya!" Dia berlari kembali ke tengah lapangan tanpa menoleh lagi, meninggalkan Stella yang masih terduduk di tanah dengan mulut menganga tak percaya.

"Sialan, cuek banget sih jadi cowok!" gerutu Stella kesal, langsung bangkit berdiri tanpa ada tanda-tengah kesakitan lagi di kakinya. Wajahnya memerah, separuh karena lelah berlari, separuh lagi karena malu setengah mati.

Begitu hukuman selesai, Stella berjalan gontai menuju kelasnya.

Napasnya tersengal, dan bajunya agak lembap oleh keringat. Dia mengetok pintu kelas yang untungnya sedang diisi oleh guru Geografi yang paruh baya dan agak santai, Bu Retno.

Setelah meminta maaf dengan gaya teatrikalnya yang biasa, Stella diperbolehkan masuk.

Suasana kelas yang tadinya tenang langsung sedikit riuh begitu Stella melangkah masuk. Dia melempar senyum ke beberapa temannya, bersiap menuju bangkunya di barisan ketiga.

Namun, saat melangkah melewati barisan paling belakang di pojok kelas dekat jendela, atmosfer di sekitarnya mendadak berubah. Suhu udara seolah turun beberapa derajat.

Di sana, duduk seorang cowok yang jarang sekali bersuara. Lingga. Lingga adalah anomali di kelas mereka. Dia selalu memakai jaket hoodie hitam di luar seragamnya, dengan tudung yang sering kali menutupi sebagian wajahnya.

Dia jarang berinteraksi, tidak punya lingkaran pertemanan yang jelas, dan selalu menatap dunia dengan sinisme yang kental.

Saat Stella berjalan melewatinya, Lingga yang sejak tadi menatap ke luar jendela perlahan memutar kepalanya. Mata mereka berbenturan.

Tatapan Lingga sangat berbeda dengan tatapan cuek Gibran. Jika Gibran mengabaikan Stella, Lingga justru melihatnya dengan tajam dan dingin. Ada intensitas yang pekat di dalam manik mata hitam cowok itu.

Tatapan itu seolah menguliti kepura-puraan Stella, menembus topeng keceriaan dan sikap petakilan yang selalu Stella agungkan di depan semua orang. Lingga menatap Stella seakan dia tahu sesuatu yang tidak diketahui orang lain tentang cewek itu.

Stella menghentikan langkahnya sejenak. Senyum jenaka yang baru saja melekat di bibirnya perlahan memudar. Ada getaran aneh yang menjalar di tengkuknya. Untuk pertama kalinya hari ini, Stella kehilangan kata-kata. Keberaniannya yang meledak-ledak di lapangan tadi mendadak menciut hanya karena satu tatapan mata dari pojok kelas yang gelap.

Lingga tidak memutuskan kontak mata itu. Dia membiarkan keheningan tegang itu menggantung di antara mereka selama beberapa detik, sebelum akhirnya kembali memalingkan wajahnya ke luar jendela, mengabaikan eksistensi Stella sepenuhnya.

Stella menelan ludah. Dia merapatkan pegangan pada tali tas ranselnya dan bergegas duduk di bangkunya dengan jantung yang berdegup, kali ini bukan karena habis berlari, melainkan karena rasa penasaran yang mendalam dan sedikit rasa terancam yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

......................

...****************...

Tbc,

1
Luna
bintang 5 buat Stella dan lingga,
falea sezi
lanjut
falea sezi
cwek pick me hajar lingga 🤣 cwek lu jgnlemah lawan lah
falea sezi
lagian emank bner lemah🤣 dikit nangis alah trauma prett
Luna
hajar aja lingga cewek tikus itu,,,, jangan lihat dia perempuan,,,kalo GK pake kekerasan dia makin ngelunjak
Luna
ayo Stella jangan terpuruk, langsung tampar valora didepan mata semua anak anak hujat dia kalo sama jahatnya dengan kakaknya kalo perlu bongkar aibnya dengan cara dia sudah merayu lingga , ngadepin orang seperti itu harus licik kalo perlu memakai fitnah kecil tapi ampuh,bukan berarti jahat itu pelajaran, jangan semakin terpuruk strong lady
falea sezi
awas aja ampe tergoda ulet bulu lingga lu pasti nyesel🤣
Luna
jangan sampai lah Thor hubungan mereka hancur🙏, jangan sampai rencana Gibran terlaksana ,
falea sezi
🤣🤣🤣 sukurin
falea sezi
🤣🤣 cwek oon
falea sezi
tuh lingga restu camer uda di dapet🤭
falea sezi
🤣🤣 cwek ngemis udan kayak murahan
falea sezi
move on stel masih banyak. cogan. lain😓
falea sezi
jd inget cegil satunya 🤣
Rina ratnasari
lanjut tour makin seru cerita nya..
Luna
bangke,,,nih cowok.astaga aku pengen nonjok mukanya😠😠😠😠😤😤😤
Luna
telat lu bran🤣🤣🤣
Luna
yg ada GK ada rasa kasian sama Stella sudah tahu ditolak Mulu masih aja nekat , ibaratnya GK salah kalo orang menilai kamu goblok banget,ingat jangan pernah menomorsatukan cinta,ketika tidak sejalan lagi cinta itu GK ada manisnya
Rina ratnasari
lanjut tour🙏
Alex
lnjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!