Sehari sebelum pernikahan, Selena Anderson ditinggalkan tunangannya. Ethan Carter pergi ke luar negeri tanpa berpamitan hanya meninggalkan pesan bahwa ia belum siap menikah.
Ketika kepergian Ethan mengancam nama baik dua keluarga besar, Jason Carter, kakak Ethan datang dengan sebuah tawaran yang tak pernah Selena bayangkan. Ia bersedia menggantikan Ethan di altar.
Selena akhirnya menikah dengan pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Namun kehidupan bersama Jason perlahan mengubah segalanya. Di balik sikap dinginnya, Selena menemukan perhatian yang tidak pernah ia dapatkan dari Ethan.
Sampai Ethan kembali. Dan ingin mendapatkan Selena kembali. Sayangnya, perempuan yang dulu ia tinggalkan kini telah menjadi istri kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
"Nona Selena, riasan mata sebelah kirinya mau saya perbaiki sedikit..."
"Nanti saja." Selena tidak menoleh dari cermin. Matanya terpaku pada ponsel di pangkuannya, pada nama Ethan yang sudah tiga kali ia hubungi sejak tadi tanpa satu pun jawaban.
Di luar ruang rias, ia bisa mendengar gemerisik kain, langkah-langkah tergesa panitia pernikahan, dan tawa kecil kerabat yang mulai berdatangan. Semuanya terdengar terlalu normal untuk sebuah pagi yang, sejak dua jam lalu, sudah terasa aneh bagi Selena. Ethan tidak membalas pesan selamat paginya, dan juga ponselnya langsung masuk ke pesan suara setiap kali dihubungi.
Pintu ruang rias terbuka tanpa ketukan. Ibunya masuk dengan wajah yang membuat Selena berdiri sebelum sempat berpikir.
"Bu?"
"Selena." Suara ibunya nyaris tidak keluar. "Ethan tidak ada di kamar pengantin pria."
"Mungkin dia sedang..."
"Dia tidak ada di hotel." Ibunya mendekat, meraih kedua tangan Selena yang mendadak dingin. "Sopirnya bilang dia diantar ke bandara pukul lima pagi."
Ruangan itu, dengan segala bunga dan cermin besarnya, terasa tiba-tiba terlalu sempit untuk memuat kalimat yang baru saja Selena dengar.
"Bandara," ulang Selena, seolah kata itu perlu diucapkan ulang agar menjadi nyata. "Kenapa Ethan ke bandara di hari pernikahannya sendiri?"
Ibunya tidak menjawab. Tidak perlu menjawab. Ekspresi di wajahnya sudah cukup untuk membuat Selena mengerti sesuatu yang tidak ingin ia mengerti.
Ponsel Selena akhirnya berbunyi lima menit kemudian, sebuah pesan masuk dan tangannya gemetar cukup keras hingga ia hampir menjatuhkan ponsel itu saat membukanya.
Selena. Maafkan aku. Aku tahu ini pengecut, tapi aku nggak sanggup berdiri di depan altar itu hari ini. Kita masih terlalu muda untuk ini semua, aku masih terlalu muda. Aku butuh waktu untuk berpikir, untuk benar-benar tahu apa yang aku mau. Aku tahu aku nggak berhak minta maaf lewat pesan pengecut kayak gini. Tapi aku nggak sanggup menatap wajahmu dan mengatakan aku ragu, di hari yang seharusnya jadi hari paling bahagia buat kita berdua.
Selena membaca pesan itu sekali lagi. Pada bacaan ketiga, hurufnya mulai kabur, dan ia baru sadar matanya sudah basah tanpa sempat ia rasakan air matanya jatuh.
Di luar, suara riuh tamu undangan semakin ramai. Seratus lebih pasang mata yang datang untuk menyaksikan pernikahannya, tidak satu pun tahu bahwa mempelai pria yang mereka tunggu sedang berada puluhan ribu kaki di udara.
"Kita batalkan," kata ayahnya, yang baru masuk ke ruangan bersama ibunya, wajahnya merah padam menahan amarah yang tidak sepenuhnya untuk Selena. "Aku akan umumkan sendiri. Persetan dengan malu..."
"Ayah." Suara Selena keluar lebih tenang dari yang ia sendiri kira sanggup, meski dadanya masih berdegup terlalu keras untuk terasa nyata. "Beri aku waktu sebentar."
Ia butuh waktu barang hanya sebentar untuk berdiri di depan cermin itu, memandangi dirinya sendiri dalam balutan gaun putih yang tiba-tiba terasa seperti kostum dari drama yang salah, sebelum ia sanggup menghadapi apa pun yang menunggunya di luar pintu itu.
Ketukan di pintu datang tidak lama setelah itu sangat tegas dan terkendali, jauh berbeda dari kepanikan yang memenuhi seluruh area belakang gedung resepsi.
"Masuk," kata ibunya, mengira itu salah satu panitia.
Yang membuka pintu ternyata bukanlah panitia. Jason Carter berdiri di ambang pintu, mengenakan setelan jas gelap yang sama seperti yang seharusnya di kenakan mempelai pria itu sendiri. Wajahnya, seperti biasa, nyaris tidak menunjukkan apa pun, meski Selena bisa melihat rahangnya sedikit lebih tegang dari yang pernah ia lihat sepanjang mengenalnya tiga tahun terakhir.
"Aku sudah dengar," kata Jason, tanpa basa-basi, tanpa permintaan maaf. "Orang tuaku sedang menahan pendeta di ruang depan. Kita punya waktu kira-kira dua puluh menit sebelum semua tamu di luar sana mulai bertanya-tanya kenapa acara belum dimulai."
"Dua puluh menit untuk apa?" Ayah Selena bersuara, nada suaranya masih tajam oleh amarah. "Adikmu sudah kabur, Jason. Tidak ada yang bisa diperbaiki dalam dua puluh menit."
Jason tidak menjawab ayah Selena. Matanya tetap pada Selena, seolah kalimat berikutnya memang seharusnya hanya ditujukan padanya, terlepas dari siapa pun yang berdiri di ruangan itu.
"Ada satu cara," katanya, "kalau kamu bersedia."
Selena menatapnya, tidak sepenuhnya mengerti, meski sesuatu di nada suara Jason membuat tubuhnya kembali dingin.
"Cara apa?"
Jason melangkah masuk sepenuhnya, menutup pintu di belakangnya, seolah apa yang akan ia katakan berikutnya tidak boleh terdengar oleh siapa pun di luar ruangan itu.
"Aku yang akan menikahimu. Hari ini. Di altar yang sama, dalam dua puluh menit ke depan."
Untuk beberapa detik, tidak ada suara sama sekali di ruangan itu bahkan gemerisik tamu di luar seperti meredup, kalah oleh dengung di telinga Selena sendiri.
"Kau bercanda," kata Selena akhirnya, suaranya nyaris berbisik.
"Aku tidak pernah bercanda soal hal seperti ini." Jason berdiri tegak, tangannya di dalam saku jasnya, sikapnya setenang orang yang sedang membahas rapat kerja, bukan pernikahan yang tiba-tiba berpindah tangan. "Nama keluargamu akan hancur jika pernikahan ini dibatalkan di hari-H, di depan seratus tamu, tanpa penjelasan yang masuk akal. Begitu juga nama keluargaku. Aku menawarkan solusi yang menyelamatkan keduanya."
"Dengan menikahiku?" Suara Selena mulai pecah, antara tidak percaya dan sesuatu yang lebih dekat dengan kemarahan. "Aku bukan properti yang bisa dipindahtangankan dari satu Carter ke Carter lain, Jason."
Sesuatu berkelebat di mata Jason sangat cepat, nyaris tidak terlihat, tapi cukup untuk membuat Selena berhenti sejenak.
"Aku tahu itu," katanya, lebih pelan dari sebelumnya. "Dan aku tidak memintamu memutuskan ini karena terpaksa. Aku bertanya karena aku pikir, di antara semua pilihan buruk yang kau punya pagi ini, ini mungkin satu-satunya yang tidak akan menghancurkanmu di depan seratus orang yang datang untuk menyaksikan hari bahagiamu."
Ibu Selena, yang sejak tadi diam menahan napas, akhirnya bersuara, lebih kepada putrinya daripada kepada Jason.
"Sayang..."
Selena menatap ibunya, lalu ayahnya, lalu kembali ke Jason, pria yang selama tiga tahun ini hanya ia kenal sebagai sosok di ujung meja makan keluarga, sosok yang jarang bicara jika tidak di perlukan, kini berdiri di hadapannya menawarkan sesuatu yang seharusnya mustahil untuk dipertimbangkan.
Dan yang paling mengejutkan Selena bukanlah tawaran itu sendiri. Yang mengejutkannya adalah betapa seriusnya Jason mengucapkannya seolah ia sudah memikirkan ini bukan dalam dua puluh menit terakhir, melainkan jauh lebih lama dari itu.
"Aku butuh alasan yang lebih baik dari sekadar 'menyelamatkan nama keluarga', Jason." Suara Selena akhirnya menemukan kembali ketegasannya. "Kalau aku harus berjalan ke altar itu dalam dua puluh menit, aku ingin tahu kenapa kamu, dari semua orang, yang bersedia melakukan ini."
Jason menatapnya lama, cukup lama hingga Selena mulai bertanya-tanya apakah ia baru saja meminta sesuatu yang tidak bisa dijawab pria itu.
"Karena," kata Jason akhirnya, suaranya turun satu oktaf, seolah kalimat berikutnya membutuhkan usaha lebih besar dari yang ingin ia tunjukkan, "aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri kalau aku membiarkanmu berjalan keluar dari gedung ini sebagai perempuan yang ditinggalkan, padahal aku punya cara untuk mencegahnya."
Itu bukan jawaban yang lengkap. Selena tahu itu. Tapi entah kenapa, di tengah kekacauan pagi yang sudah merenggut satu kebahagiaan darinya, jawaban setengah itu terasa lebih jujur daripada permintaan maaf panjang lebar yang mungkin akan diberikan orang lain.
Di luar pintu, musik pembuka mulai terdengar samar, tanda bahwa waktu mereka benar-benar hampir habis.
Selena menutup mata sebentar, menarik napas panjang, dan ketika ia membukanya kembali, sesuatu di wajahnya telah berubah bukan lagi perempuan yang baru saja ditinggalkan, melainkan perempuan yang baru saja memutuskan untuk berhenti menjadi korban dari keputusan orang lain.
"Baik," katanya. "Tapi ingat, Jason... ini kesepakatan. Bukan awal dari apa pun yang lebih dari itu."
Untuk pertama kalinya sejak masuk ke ruangan itu, sesuatu yang nyaris menyerupai kelegaan lewat di wajah Jason, terlalu singkat untuk dipastikan, terlalu cepat hilang untuk ditanyakan.
"Kesepakatan," ia mengulang, lalu mengulurkan tangannya. "Kalau begitu, mari kita mulai."
Selena menatap tangan itu sejenak sebelum akhirnya meraihnya dan tidak menyadari, saat jemari mereka bertaut untuk pertama kalinya, bahwa hari yang seharusnya menjadi akhir dari satu kisah, baru saja menjadi awal dari kisah yang jauh lebih rumit dari yang bisa ia bayangkan.
Jason Carter