Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.
Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.
Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.
"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"
Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.
Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demi Ibu
BAB 1 Istri Polos Tuan Anggara
Elisa berdiri di depan sebuah gerbang besi berwarna hitam dengan cat yang sudah mengelupas. Tangannya memegang erat sebuah plastik bening berisi berkas-berkas rumah sakit. Di dalamnya, ada surat keterangan diagnosis, resep obat yang belum ditebus, dan kuitansi tunggakan biaya rawat inap atas nama Utami, ibunya.
Gadis itu baru berusia 20 tahun. Tubuhnya kecil, wajahnya polos tanpa riasan. Rambutnya yang panjang ia ikat seadanya. Ia adalah mahasiswi semester enam yang hidup dari beasiswa. Satu-satunya keluarga yang ia miliki adalah ibunya.
Ibunya, Utami. Usia 50 tahun. Seorang janda yang telah membesarkannya sendirian sejak Elisa kecil.
Dua minggu terakhir, tubuh ibunya melemah. Dokter berkata ada komplikasi pada jantung dan ginjalnya. Butuh perawatan intensif. Butuh biaya yang angkanya bahkan tidak berani Elisa baca dua kali.
Tiga hari ini Elisa tidak tidur nyenyak. Di tengah kebingungannya, ia teringat pada seseorang.
Tante Rita. Adik kandung ibunya. Sudah lama mereka tidak bertemu. Tapi itu adalah kesempatan satu-satunya Elisa mendapatkan bantuan.
"Tante Rita, aku harus bertemu dengannya ... aku harus mencobanya."
Meskipun lama tak bertemu, Elisa berniat menemui adik ibunya tersebut. Walaupun alamat rumahnya hanya ingat samar-samar dari ingatannya waktu kecil. Sebuah rumah di ujung gang, dengan pohon mangga di depannya.
Dan hari ini, dengan sisa uang ongkos yang ia punya, ia memutuskan untuk datang.
Dengan napas yang sedikit gemetar, Elisa mengetuk gerbang itu.
"Assalamualaikum... Tante Rita?"
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi, sedikit lebih keras.
Pintu rumah akhirnya terbuka. Seorang wanita berusia 47 tahun keluar. Daster bermotif bunga, rambutnya diwarnai pirang kemerahan, bibirnya merah menyala.
Wanita itu adalah Rita.
Matanya menyipit melihat Elisa yang basah kuyup berdiri di depan gerbangnya.
"Siapa?" tanya Rita dengan nada ketus.
Elisa mencoba tersenyum, meski bibirnya gemetar karena kedinginan.
"Tante... ini Lisa. Anaknya Ibu Utami. Kakaknya Tante..."
Rita terdiam sejenak, lalu tertawa pendek. Bukan tawa ramah.
"Oh. Kamu. Anaknya Utami. Ngapain kamu ke sini?" nadanya sedikit ketus.
Terakhir ketemu, Lisa memang masih kecil. Dan memang hubungan Rita dan kakaknya tidak baik. Makanya lama putus kontak. Rita juga memilih menjauh dari keluarganya, hidup dengan pilihannya. Sampai kini, ketemu ponakan malah hampir tak mengenalinya.
Sementara itu, Lisa menunduk. Tangannya menyodorkan plastik berisi berkas rumah sakit itu melalui celah gerbang.
"Tante, Ibu sakit. Komplikasi, kata dokter. Biayanya banyak. Lisa bingung, Tante. Beasiswa Lisa belum cair bulan ini. Lisa... Lisa cuma mau pinjam dulu. Nanti kalau sudah ada uang, Lisa cicil. Lisa janji."
Rita tidak mengambil plastik itu. Ia justru melipat tangan di depan dada.
"Pinjam? Kamu pikir Tante kamu ini bank?" ucapnya ketus.
Lisa semakin menunduk. Air matanya sudah bercampur dengan air hujan di pipinya.
"Enak sekali ya! Begitu butuh uang baru ingat punya tante. Ibu kamu itu memang begitu dari dulu. Sok paling suci, tidak mau dibantu. Sekarang giliran sakit, anaknya yang disuruh ngemis ke sini."
Kata-kata itu menghantam Elisa lebih keras daripada hujan.
"Ibu tidak pernah menyuruh Lisa ke sini, Tante. Ini inisiatif Lisa sendiri. Ibu bahkan tidak tahu Lisa ke sini..." suara Elisa bergetar. Ada kecewa, ada perasaan sesak yang memenuhi dadanya atas ucapan sang Tante. Padahal mereka keluarga, tapi ia malah dapat hinaan.
"Ya sama saja!" potong Rita. "Kalian itu kalau datang cuma bawa sial. Dulu waktu ayahmu meninggal, siapa yang repot? Sekarang ibumu sakit ... datang cuma butuh saja!!!!"
Lisa menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak terisak. Ia ingin berbalik dan pergi. Tapi wajah ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan selang infus membuatnya tetap berdiri di sana. Menahan malu.
"Maafkan Lisa, Tante. Lisa salah. Lisa pulang saja..."
Elisa berbalik. Langkahnya gontai.
Namun baru dua langkah, suara Rita kembali terdengar dari belakang.
"Eh, tunggu."
Lisa berhenti.
Rita menatap Elisa dari atas sampai bawah. Menatap wajahnya yang polos, kulitnya yang bersih, matanya yang masih lugu meski sembab karena menangis. Ada tatapan lain yang muncul di mata Rita. Bukan iba. Melainkan kalkulasi.
"Kamu bilang butuh uang banyak, kan?"
Lisa mengangguk pelan.
"Kuliah kamu masih beasiswa?"
"Iya, Tante."
Rita tersenyum. Kali ini senyumnya berbeda. Lebih tipis, lebih dingin.
"Masuk dulu. Jangan berdiri di luar. Nanti tetangga lihat dikira pengemis." Kalimatnya selalu menusuk.
Lisa ragu, namun akhirnya masuk.
Rita duduk di sofa, menyilangkan kaki.
"Tante bisa kasih kamu uang. Bahkan biaya rumah sakit ibumu bisa Tante lunasi hari ini juga."
Mata Lisa membulat. Ada secercah harapan yang menyala.
"Beneran, Tante?"
"Beneran. Tapi di dunia ini tidak ada yang gratis, Lisa. Kamu cantik. Masih muda. Polos. Banyak om-om di luar sana yang suka dengan gadis seperti kamu. Yang sopan, yang lugu."
Lisa terdiam. Ia belum sepenuhnya mengerti.
"Maksud Tante..."
"Kamu kerja sama Tante," lanjut Rita dengan suara pelan. "Gampang saja. Kamu hanya perlu menemani. Makan malam, karaoke. Tidak usah macam-macam kalau kamu tidak mau. Satu kali menemani, kamu bisa dapat satu juta, dua juta. Cukup untuk obat ibumu seminggu."
Wajah Lisa yang tadinya pucat kini menjadi lebih pucat.
"Tante... kerja apa?"
Rita mendekat. Tangannya mengelus pipi Lisa yang dingin.
"Kerja yang bisa menyelamatkan nyawa ibumu. Kamu mau ibumu mati karena kamu terlalu jual mahal?"
Plastik berisi berkas rumah sakit di tangan Lisa jatuh ke lantai.
Di luar, hujan masih turun dengan derasnya. Dan di dalam rumah yang salah itu, seorang gadis berusia 20 tahun baru saja dihadapkan pada pilihan yang tidak pernah ia bayangkan seumur hidupnya.
Antara menjaga kepolosannya, atau menyelamatkan satu-satunya orang yang ia miliki di dunia.
Bersambung
***Jangan lupa untuk menulis komentar 😁
Bukan nya minta maaf ini koq malah semakin semena mena yak
tenin ki loe,,,,jangan di hina kan Loe tau lagi hamil muda hormon ambur adul jangan selalu nya menyamakan wanita di masa lalu nya yang lihat duit loe ijo mirip
kolor ijo,,, Anissa beda paham salah haduhhh mumet mumet,, bolak balik di kandani ga mudeng mudeng,,😇😇😇😇lope yuuuuuu sekebon bunga' buat,,, BESTie. Sept iki wis Oktober 🤣🤣
di kurung emang manuk Podang aiiiss,,,MBG parah Mas Bro Gara ga ngenai odol usus bukan Pepsodent,,,Mas Bro pisan kolo bikin ketawa Elisa jangan cuma di takuti 😂 ya emang fasilitas dan segala di penuhi Mergo GEMBOL Anaknya saja ,,,
cuma coba yen ga Gung karuan,,,Elisa dah
gadis gini saja di suruh tanda tangan dan Kamu juga usul kalau yang tidak sesuai,,,loh ko enak sing karep sopo Yo ga Elisa,,, jangan mau ya siap perang tak ewangi wis GE endang,,,jaluk rujak jingur
apel malang sing lagi metik tapi kudu moro kapok koen Mas Bro Gara,,