Di hari ketika seluruh mimpinya hancur, Lin Yuan divonis memiliki Akar Roh Rusak Total dan diusir dari Sekte Awan Langit.
Tunangannya meninggalkannya, sahabat menjauhinya, dan musuh-musuhnya memilih membunuhnya agar tak menyisakan ancaman.
Namun di ambang kematian, sebuah sistem kuno terbangun.
**Sistem Pemakan Takdir.**
Selama mampu mengalahkan lawannya, Lin Yuan dapat melahap takdir, bakat, keberuntungan, bahkan kesempatan hidup mereka untuk menjadi miliknya.
Sejak malam itu, seorang "sampah" yang ditertawakan seluruh dunia mulai menapaki jalan yang belum pernah dilalui siapa pun.
Jika langit menolak memberinya takdir...
Maka ia akan memakan takdir langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Takdir Bisa Direbut
Pedang Zhao Feng tinggal beberapa inci dari jantung Lin Yuan ketika dunia di sekelilingnya mendadak terasa melambat.
Tetesan air hujan terlihat begitu jelas hingga Lin Yuan mampu mengikuti arah jatuhnya dengan mata telanjang.
Suara dingin yang sebelumnya muncul kembali bergema di dalam pikirannya, tanpa memberinya kesempatan memahami keadaan.
【Sistem Pemakan Takdir berhasil dibangunkan.】
【Kemampuan awal diperoleh: Naluri Tempur.】
【Mendeteksi ancaman terhadap pengguna.】
【Naluri Tempur aktif.】
Dalam sekejap, sebuah lintasan samar muncul di hadapan Lin Yuan, memperlihatkan arah tusukan pedang Zhao Feng.
Lin Yuan tidak mengetahui apa itu Sistem Pemakan Takdir, tetapi nalurinya mengatakan satu hal dengan sangat jelas.
Ikuti lintasan itu jika ingin hidup.
Ia memiringkan tubuh sekuat tenaga tepat ketika ujung pedang Zhao Feng mencapai dadanya.
SRAAAK!
Bilah tajam merobek jubah dan meninggalkan luka panjang, tetapi gagal menembus jantung seperti yang direncanakan.
Zhao Feng membelalakkan mata karena Lin Yuan seharusnya sudah tidak memiliki tenaga untuk menghindari serangan tersebut.
"Hah? Mana mungkin?"
Lin Yuan sendiri tidak memiliki jawabannya, tetapi suara sistem kembali terdengar sebelum dirinya sempat berpikir lebih jauh.
【Serangan kedua terdeteksi.】
Sebuah lintasan baru muncul ketika Zhao Feng memutar pergelangan tangan dan menebaskan pedangnya menuju leher Lin Yuan.
Kali ini Lin Yuan sudah bersiap dan segera menundukkan kepala hingga bilah tersebut hanya melewati rambutnya.
Ia kemudian menghantamkan gagang pedang besinya ke rusuk Zhao Feng, memaksanya mundur dua langkah karena terkejut.
Para murid yang mengepung mereka langsung terdiam, tidak menyangka Lin Yuan masih mampu memberikan perlawanan dalam kondisi seperti itu.
Lin Yuan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdiri, meskipun rasa sakit terus menjalar dari berbagai luka di tubuhnya.
"Semua ini? Apa yang sebenarnya terjadi?"
Ia tidak mendapatkan jawaban lengkap, tetapi beberapa informasi perlahan muncul langsung di dalam pikirannya.
Naluri Tempur dapat membaca pola serangan dan memperkirakan lintasan yang paling mungkin dilakukan oleh lawannya.
Namun kemampuan itu hanya membantu dirinya melihat serangan, bukan membuat tubuhnya menjadi lebih cepat atau lebih kuat.
Lin Yuan segera memahami kelemahan tersebut ketika tiga pengikut Zhao Feng menyerang secara bersamaan dari arah berbeda.
【Tiga lintasan serangan terdeteksi.】
Lin Yuan melihat semuanya, tetapi tubuhnya yang terluka tidak mungkin menghindari ketiga serangan pada waktu bersamaan.
Ia memilih menghindari pedang yang menuju jantung, lalu menahan serangan kedua menggunakan pedang besinya.
CLAAANG!
Benturan keras membuat telapak tangannya mati rasa, sementara tendangan lawan ketiga menghantam pinggangnya dari samping.
Lin Yuan terhuyung beberapa langkah, tetapi kini dirinya sudah mengetahui dari mana serangan berikutnya akan datang.
Ketika seorang murid menerjang, Lin Yuan sengaja bergeser setengah langkah dan membiarkan serangan tersebut melewati bahu.
Pedang besi di tangannya langsung bergerak, menghantam pergelangan tangan lawan sebelum menyapu kakinya dari bawah.
BRAK!
Murid tersebut jatuh ke tanah, membuat dua orang lainnya refleks menghentikan serangan karena tidak menyangka.
Lin Yuan tidak mengejar mereka karena dirinya memahami kemenangan kecil itu tidak mengubah perbedaan kekuatan sebenarnya.
Zhao Feng bahkan belum menggunakan seluruh kemampuannya, sedangkan Lin Yuan sudah hampir mencapai batas tubuhnya.
"Kalian mundur."
Zhao Feng berjalan maju sambil menggenggam pedang, sementara aura yang jauh lebih kuat mulai menyelimuti tubuhnya.
"Sepertinya ada sesuatu misteri yang kau sembunyikan."
Lin Yuan tidak menjawab dan hanya mengangkat pedang besinya, mencoba mengatur napas yang semakin tidak beraturan.
Zhao Feng menghilang dari tempatnya berdiri dan muncul di hadapan Lin Yuan dengan kecepatan yang mengejutkan.
【Lintasan serangan terdeteksi.】
Lin Yuan melihatnya.
Ia bahkan mengetahui ke mana harus menghindar.
Namun tubuhnya terlambat.
BOOM!
Sebuah tendangan menghantam dadanya dan melemparkannya beberapa meter hingga hampir mencapai ujung tebing.
Lin Yuan memuntahkan darah ketika bangkit kembali, tetapi tatapannya masih terkunci pada Zhao Feng.
Saat itulah cahaya keemasan di atas kepala Zhao Feng kembali muncul dan terlihat jauh lebih jelas.
Sesuatu seperti benang tipis memanjang dari tubuhnya menuju kejauhan, menembus hujan dan menghilang di balik pegunungan.
【Peluang Takdir target terdeteksi.】
Lin Yuan menahan rasa sakit sambil membaca informasi yang muncul di dalam pikirannya.
【Target: Zhao Feng.】
【Dalam tujuh hari kedepan, target akan memperoleh kesempatan besar di Hutan Kabut Hitam.】
【Peluang Takdir dapat diubah.】
Mata Lin Yuan perlahan menyipit.
Ia mulai memahami mengapa kekuatan yang bangkit dalam tubuhnya disebut Sistem Pemakan Takdir.
Sistem itu tidak langsung memberinya kekuatan, harta, ataupun teknik yang membuatnya menjadi tak terkalahkan.
Sebaliknya, ia dapat melihat kesempatan yang seharusnya menjadi milik seseorang sebelum kesempatan tersebut benar-benar terjadi.
Sebuah pemikiran nekat segera muncul di benak Lin Yuan ketika kembali menatap Zhao Feng yang berjalan mendekat.
Kalau Takdir seseorang dapat dilihat sebelum terjadi, berarti kesempatan tersebut mungkin juga bisa direbut.
Dan jika malam ini Lin Yuan berhasil bertahan hidup, dia sudah tahu Takdir pertama yang ingin direbutnya.
Zhao Feng terus berjalan mendekat, sementara hujan membasahi pedang panjang yang tergenggam di tangan kanannya.
Lin Yuan menyimpan informasi tentang Hutan Kabut Hitam dalam ingatan dan kembali memusatkan perhatian pada keadaannya sekarang.
Mengetahui peluang tujuh hari mendatang tidak akan berarti apa pun jika dirinya mati di tempat itu.
"Matamu berubah," ujar Zhao Feng sambil mempersempit tatapan. "Apa yang sebenarnya terjadi padamu?"
Lin Yuan tersenyum tipis meskipun darah masih mengalir dari luka di dada dan bahunya.
"Kenapa? Apa kau mulai takut pada seseorang yang Akar Rohnya sudah rusak?"
Wajah Zhao Feng mengeras, kemudian tubuhnya melesat maju dengan pedang mengarah lurus menuju leher Lin Yuan.
【Naluri Tempur aktif.】
Lintasan serangan kembali terlihat, tetapi Lin Yuan tidak mencoba menghadapi Zhao Feng secara langsung.
Ia bergerak mengikuti jalur yang ditunjukkan sistem, kemudian menggunakan momentum serangan lawan untuk mundur mendekati tebing.
Zhao Feng segera menyadari maksudnya dan menghentikan langkah sebelum mengejar terlalu jauh.
"Jangan berharap kau bisa melarikan diri."
Lin Yuan melirik jurang gelap di belakangnya, kemudian kembali memandang para murid yang mulai menutup jalan keluar.
Tidak ada celah.
Tubuhnya juga semakin lemah akibat kehilangan banyak darah akibat pertempuran yang berlangsung tadi.
Sistem dapat memperlihatkan lintasan serangan, tetapi tidak mampu menciptakan jalan keluar yang memang tidak tersedia.
Seorang murid menyerang dari kiri, sedangkan dua lainnya bergerak bersamaan dari arah depan dan kanan.
Lin Yuan menangkis pedang pertama, kemudian memutar tubuh untuk menghindari tusukan yang mengarah menuju perutnya.
Serangan terakhir tetap menghantam punggungnya dan membuat tubuh Lin Yuan terhuyung hingga hanya beberapa langkah dari jurang.
Batu-batu kecil di bawah kakinya terlepas dan jatuh ke kegelapan tanpa terdengar menyentuh dasar.
Zhao Feng mengangkat tangan, membuat para pengikutnya berhenti menyerang dan membentuk pengepungan setengah lingkaran.
"Sudah selesai, Lin Yuan. Bahkan kemampuan anehmu tidak akan mengubah hasil akhirnya."
Lin Yuan tidak menjawab karena pandangannya justru tertuju pada liontin kayu yang terjatuh dari pakaiannya.
Liontin pemberian Mu Qingxue itu tergeletak di tanah berlumpur, tepat di antara dirinya dan Zhao Feng.
Zhao Feng juga melihatnya.
"Masih menyimpannya?"
Senyum mengejek kembali muncul di wajahnya ketika ujung pedangnya menyentuh liontin tersebut.
"Qingxue sudah memilih orang yang seharusnya dia pilih sejak awal. Kau memang tidak layak berdiri di sampingnya."
Lin Yuan menatap liontin itu beberapa saat, tetapi tidak ada kemarahan seperti yang diharapkan Zhao Feng.
Semua yang terjadi hari ini justru membuatnya memahami, betapa lama dirinya hidup demi pengakuan semu orang lain.
Ia ingin sekte mengakui kerja kerasnya dan berharap Mu Qingxue tetap menunggu sampai dirinya berhasil.
Sekarang semua harapan itu telah hilang, tetapi untuk pertama kalinya Lin Yuan justru merasa hidupnya benar-benar menjadi miliknya sendiri.
Lin Yuan menginjak liontin tersebut hingga terdengar suara retakan kecil dari bawah telapak kakinya.
KRAK!
Zhao Feng sedikit mengernyit.
Lin Yuan menggeser kakinya dan membiarkan dua pecahan liontin terbawa air hujan menuju tepi jurang.
"Kalau begitu, jaga baik-baik wanita pilihanmu itu."
Tatapan Lin Yuan kembali dingin.
"Suatu hari nanti aku akan datang untuk mengambil sesuatu yang jauh lebih penting dari semua itu."
Zhao Feng tidak mengetahui bahwa Lin Yuan sedang memikirkan peluang di Hutan Kabut Hitam.
Namun nada suaranya cukup membuat Zhao Feng kehilangan kesabaran dan kembali mengangkat pedangnya.
"Kau tidak akan memiliki hari itu."
Zhao Feng melesat maju dengan kecepatan penuh, sementara Naluri Tempur kembali menunjukkan lintasan serangannya.
Kali ini Lin Yuan tidak bergerak ke kiri ataupun kanan, meskipun sistem menunjukkan dua kemungkinan untuk bertahan.
Ia justru mundur satu langkah.
Separuh telapak kakinya sudah berada di luar tebing.
Zhao Feng tiba-tiba menyadari sesuatu.
"Kau—"
"Kau ingin menentukan bagaimana aku mati?"
Lin Yuan menatapnya sambil tersenyum tipis, kemudian membiarkan tubuhnya jatuh ke belakang.
"Sayangnya, aku tidak akan memberimu hak itu."
Zhao Feng menerjang dan mencoba menangkapnya, tetapi jemarinya hanya menyentuh ujung jubah Lin Yuan.
Tubuh Lin Yuan jatuh menembus kabut tebal, sementara tebing dan wajah Zhao Feng semakin mengecil di atasnya.
Angin menghantam tubuhnya dengan keras, tetapi tidak ada penyesalan dalam mata Lin Yuan ketika menengok kegelapan di bawah.
Lebih baik mempertaruhkan hidup pada jurang daripada menyerahkan nyawanya kepada orang yang ingin menentukan Takdirnya.
Suara sistem tiba-tiba terdengar di tengah jatuhnya tubuh Lin Yuan.
【Pengguna telah mengubah lintasan Takdir pribadi.】
【Fungsi Pemakan Takdir terbuka sebagian.】
Sebelum Lin Yuan sempat memeriksa informasi tersebut, suara gemuruh air terdengar dari dasar jurang.
Matanya membesar ketika melihat sungai deras membentang di antara dinding batu jauh di bawahnya.
BOOOM!
Tubuh Lin Yuan menghantam permukaan air dan langsung terseret arus menuju kegelapan di antara bebatuan.
Kesadarannya mulai menghilang, tetapi Mata Takdir tiba-tiba bereaksi tanpa diperintah olehnya.
Di kejauhan, sebuah garis keemasan muncul dari bagian hilir sungai dan menembus kegelapan seperti cahaya penuntun.
【Peluang Takdir tanpa pemilik terdeteksi.】
【Tingkat peluang: Tidak diketahui.】
Sebelum kehilangan kesadaran sepenuhnya, Lin Yuan hanya sempat melihat cahaya itu semakin dekat.
Arus sungai terus membawanya menuju Takdir yang seharusnya tidak pernah ditemukan oleh siapa pun.
...----------------...
Bersambung...