Sejak awal, Arini tahu posisinya. Dia bukan pilihan pertama.
Dia hanya "rumah singgah" bagi Rayhan yang hatinya masih tertinggal di masa lalu, di pelukan Sahira.
Bertahun-tahun Arini bertahan, berharap Rayhan akan memilihnya.
Sampai suatu hari Sahira kembali, sakit, dan butuh Rayhan lebih dari siapapun.
Di persimpangan itu Arini dihadapkan dua pilihan: bertarung mempertahankan, atau pergi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu orangtua Rayhan
Keduanya kini berangkat menuju rumah kediaman utama keluarga Baskara, rumah yang dulu serasa penjara untuk Rayhan karena ayahnya selalu mengatur dan mengurusi segala aspek kehidupannya bahkan pada gadis yang dia cintai.
"Bagaimana kabar ibu? ". Sapa Rayhan begitu bertemu dengan ibunya yang duduk diruang tamu sambil bersandar.
Wajahnya sedikit pucat dan badannya seperti nya jauh lebih kurus dibandingkan terakhir kali mereka bertemu.
"Kamu akhirnya pulang nak". cicitnya pelan.
Wanita parubayah bernama Kanaya itu mengelus kepala putranya dengan sayang
"Iya Bu, maafin Rayhan". Jawabnya dengan sendu.
Dia menatap ibunya dengan tidak tega, dia tidak menyangka sejak dirinya menjaga jarak dari keluarganya ibunya bisa seperti ini, apa yang dikatakan oleh Arini benar adanya.
Dia menoleh kepada sang istri yang terlihat biasa saja bahkan tidak meliriknya sama sekali dan tersenyum lembut kepada ibunya.
"Ibu baik-baik saja?". Tanyanya dengan lembut.
Wanita parubayah itu mengelus kepala Arini dengan sayang, dia sudah menganggap menantunya ini sebagai anak kandungnya apalagi Arini wanita yang baik dan sangat perhatian.
Selama anaknya menjaga jarak dari keluarganya, Arini sering datang kerumah ini untuk masak bersama dan bahkan sering membawakannya apapun untuk dirinya.
"Ibu baik nak, bagaimana kabarmu sekarang, apa sudah ada tanda jika ibu bisa punya cucu?". Tanyanya dengan lembut sambil mengelus perut Arini dengan sayang.
Rayhan mematung mendengar perkataan ibunya, sedangkan Arini hanya mengulas senyum dipaksakan karena tahu jika keinginan ibu mertuanya itu tidak akan pernah terwujud.
"Doakan kami saja Bu, jangan terlalu banyak dipikirkan, yang penting ibu sehat". Ucap Arini mengalihkan pembicaraan itu.
Sedangkan Rayhan hanya bisa mengepalkan tangannya karena tidak tahu harus bersikap dan berbuat apa
Bagaimana mereka bisa memiliki seorang anak sedangkan dirinya saja tidak pernah menyentuh dan berhubungan badan dengan Arini, itu tidak mungkin cintanya hanya untuk Sahira saja.
"Ya sudah, ayo kita makan malam, ibu tadi masak makanan kesukaan kalian, tunggu ayah kalian turun yah nak".
Keduanya hanya bisa mengangguk pelan, sedangkan Arini hanya bisa menahan tangis mengingat betapa pahitnya rumah tangganya, Rayhan sang suami bahkan tidak pernah tidur dikamar yang sama dengannya bahkan ketika dia menjalankan perannya sebagai istri Rayhan menolak mentah-mentah .
Pakaian yang dia siapkan selama ini tidak pernah dipakai, makanan yang dia buat tidak pernah Rayhan makan dan itu sudah bertahan selama tiga tahun pernikahan mereka, tapi karena cintanya dia berusaha bertahan dan berharap suatu hari nanti suaminya akan menoleh kepadanya.
"Kalian sudah datang, ayo kita makan bersama, bagaimana kabarmu nak?". Kini ayah Rayhan menepuk pelan kepala Arini dengan sayang.
"Aku baik ayah, kabar ayah bagaimana?, sudah rutin minum vitaminnya?". Tanya Arini dengan lembut
"Iya nak, vitamin yang kamu kirim sangat bagus, hanya saja ibumu jarang meminumnya dia sering memikirkan kalian". Jawabnya sendu tanpa melirik kearah putranya.
Dia bukan tidak tahu kelakuan putranya diluar yang sering keluar bersama Sahira tapi dia sudah malas untuk menegurnya, dan jika seandainya nanti menantunya menyerah maka dia sendiri akan memberikan anak lelakinya itu pelajaran.
Arini dan dirinya tahu, dan dia memilih bungkam untuk menjaga perasaan Arini yang telah memintanya untuk diam saja melihat tingkah putranya dan membiarkannya, dia hanya bisa menuruti apapun keinginan menantunya karena dia sudah berjanji padanya.
"Baguslah yah, tolong ibu diperhatikan lagi".
"Iya nak, ayo makan". Ucapnya berjalan pelan menghampiri sang istri untuk membantu Arini memapah sang istri
"Ayo Bu, aku bantu". Ucap Arini pelan.
Sang mertuanya hanya tersenyum sendu kemudian mengangguk dan memegang tangan Arini dan suaminya dengan sayang.
Rayhan mematung melihat keakraban dihadapannya itu, ibu dan ayahnya bukan tipe orang yang bisa akrab dan menyayangi orang seperti itu dan sekarang didepan matanya dirinya tampak seperti orang asing sedangkan arini seperti anak kandung mereka.
Tidak ada yang peduli padanya, dia hanya bisa menghembuskan nafas kasar dan mengikuti mereka dari belakang
Sesampainya dimeja makan, Arini mengambilkan piring ayah mertuanya dan juga lauk pauknya kemudian disusul untuk ibu mertuanya barulah dia mengambilkan Rayhan tanpa mengatakan apapun dan terakhir mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
"Makan yang banyak, ibu dan ayah supaya sehat". Ucapnya dengan senyum lembut.
"Iya nak kamu juga makan yang banyak yah dan kamu juga Ray, makan yang banyak ini adalah makanan kesukaanmu, ibu sengaja memasaknya untuk menyambut kalian".
Arini hanya mengangguk tanpa menjawab sedangkan Rayhan hanya tersenyum sendu.
Dia tidak menyangka jika Arini begitu perhatian pada ibu dan ayahnya tanpa dia ketahui, entah bagaimana cara Arini bisa bertahan hidup selama ini, dia tidak pernah menafkahi wanita itu selama menikah dengannya.
"Bagaimana pekerjaan mu Rin, pesanan desain untuk bulan ini sudah selesai?". Tanya Sang ayah mertua dengan tiba-tiba.
"Sudah ayah, aku akan kirimkan desain jadi itu kepada tim produksi tapi sebelumnya silahkan ayah lihat dulu nanti melalui sekretaris ayah, dan katakan padaku apa yang kurang, kita bisa membahasnya nanti dikantor ayah".
Degh..
Jantung Rayhan nyaris melompat dari sarangnya karena tidak percaya apa yang dia dengar, jadi Arini menjadi desain interior untuk perusahaan ayahnya dan dia tidak tahu sama sekali.
"Baiklah nak kalau begitu nanti kita bahas itu yah".
"Iya yah".
Arini bahkan tidak menatap suaminya itu sejak tadi, dia hanya asyik dengan kedua orangtua suaminya sedangkan Rayhan betul-betul merasa asing dan berjarak pada keduanya padahal dirinya dulu begitu dekat dengan sang ibu.
Setelah makan malam dan berbincang-bincang, keduanya memutuskan untuk pulang, dan sepanjang jalan terjadi keheningan.
"Apa kamu berusaha mencari muka pada keluargaku Arini?". Tanyanya dengan tajam dan dingin.
Arini terkekeh pelan, dia merasa Rayhan sangat keterlaluan dalam menuduhnya mencari perhatian.
"Aku hanya melakukan semua yang dilakukan menantu perempuan kepada kedua mertuanya, toh mereka sejak dulu sangat menyayangiku, tidak ada yang salah dari tindakanku itu, kecuali aku menjelek-jelekkan mu mungkin itu baru sesuai perkataanmu".
Kalimat pelan tapi begitu memukul harga diri Rayhan yang begitu tinggi.
Benar andai Arini mau, dia bisa saja memberitahukan semua kelakuannya kepada orangtuanya dan mereka akan murka kepadanya tapi Arini tidak melakukan hal itu.
"Silahkan lakukan apapun yang kamu inginkan Rayhan, tapi jangan ganggu hubunganku dengan kedua orang tuamu, mereka tidak ada hubungannya dengan sikap mu padaku".
Rayhan menggertakkan giginya menahan emosi, perkataan Arini benar adanya, orangtuanya tidak pernah mencampuri urusannya semenjak dia menikah dengan Arini entah karena apa terutama sang ayah.
"Baguslah kalau begitu, pastikan mulutmu tidak ember kepada mereka".
"Tentu saja, aku masih punya hati untuk tidak menyakiti hati keduanya".
semoga bos nya gk pilih kasih walau rayhan Salah ttp hrs di Pecat.
Cerita ini bagus tidak bertele-tele ,tapi sayang upnya lama , hingga lupa alurnya.