Indonesia
NovelToon NovelToon
KONTRAK LIMA MILIAR

KONTRAK LIMA MILIAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: mbu'na Banafsha

"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"

"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"

"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."

"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"

"Itu hakmu untuk menyimpulkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2. JARAK DI BAWAH ATAP

BAB 2. Jarak di Bawah Atap

Suasana di ruang VIP rumah sakit perlahan kembali lengang usai diadakan sebuah akad nikah. Penghulu telah lebih dulu berpamitan bersama wali hakim dan kedua saksi. Pengacara keluarga Arshaka sibuk merapikan beberapa berkas resmi yang baru saja ditandatangani, sementara Haris memastikan seluruh dokumen dimasukkan ke dalam map khusus sebelum dibawa keluar ruangan.

Semuanya berlangsung begitu cepat. Bahkan terlalu cepat. Hagia masih berdiri di tempatnya, seolah belum benar-benar memahami apa yang baru saja terjadi. Beberapa jam lalu ia masih datang ke Arshaka Group sebagai seorang perempuan yang hampir kehilangan studio peninggalan ibunya. Kini, sebuah cincin sederhana telah melingkar di jari manis tangan kirinya. 

Statusnya berubah tiba-tiba. Ia telah menjadi istri sah Kalandra Arshaka. Tanpa pesta. Tanpa gaun pengantin. Tanpa keluarga yang mengiringi. Semua terasa seperti mimpi yang dipaksa menjadi nyata.

Di atas ranjang perawatan, Kakek Arshaka memandang mereka bergantian. Wajah pria tua itu masih tampak pucat, tetapi sorot matanya jauh lebih tenang dibanding saat Hagia pertama kali melihatnya beberapa jam sebelumnya. Beliau mengangkat tangan pelan, memberi isyarat agar keduanya mendekat.

Kalandra melangkah lebih dulu. Lalu, Hagia mengikuti di sampingnya. Jemari Kakek Arshaka yang mulai dipenuhi keriput menggenggam tangan Kalandra beberapa detik, lalu berpindah menggenggam tangan Hagia.

"Kalian... harus selalu bersama."

Suara itu begitu lirih hingga nyaris tidak terdengar. Hagia sempat menoleh kepada Kalandra. Namun, pria itu tetap berdiri tegak dengan wajah setenang biasanya.

"Saya mengerti, Kek."

Jawabannya singkat. Tidak ada janji panjang. Tidak pula kata-kata yang dibuat berlebihan. Namun, entah mengapa, kalimat sederhana itu membuat Kakek Arshaka kembali tersenyum.

Dokter yang sejak tadi menunggu di luar ruangan akhirnya masuk bersama dua orang perawat.

"Maaf, waktu kunjungnya sudah selesai. Pasien perlu beristirahat."

Kalandra menganggukkan kepalanya. "Terima kasih, dok."

Ia menoleh kepada Hagia.

"Ayo."

Hagia membungkukkan badan sebentar sebagai bentuk penghormatan kepada pria tua itu sebelum mengikuti langkah Kalandra keluar dari ruang perawatan.

Koridor rumah sakit terasa jauh lebih sepi dibanding beberapa jam sebelumnya. Mereka berjalan berdampingan tanpa percakapan. Hagia beberapa kali mencuri pandang ke arah pria di sebelahnya. Tidak ada sedikit pun perubahan pada wajah Kalandra. Seolah pernikahan yang baru saja berlangsung hanyalah satu agenda lain yang harus segera diselesaikan sebelum berpindah ke pekerjaan berikutnya.

Begitu tiba di area parkir, Kalandra langsung membuka pintu mobil.

"Masuk," ucapnya pelan.

Hagia menurut. Mesin mobil menyala pelan sebelum perlahan meninggalkan halaman rumah sakit. Beberapa menit pertama perjalanan dipenuhi keheningan. Kalandra fokus mengemudi. Sementara Hagia memilih menatap keluar jendela, memperhatikan lalu lintas Jakarta yang mulai padat menjelang sore.

"Tinggal di mana?"

Pertanyaan itu akhirnya memecah keheningan.

Hagia menoleh. "Di rumah kontrakan dekat studio."

"Jauh?"

"Tidak terlalu."

Kalandra hanya mengangguk. Mobil kemudian berbelok menuju kawasan yang disebutkan Hagia. Sekitar dua puluh menit kemudian mereka berhenti di depan sebuah rumah kontrakan sederhana yang berada tidak jauh dari studio arsitektur milik ibunya Hagia.

"Kamu akan pindah ke panthouse mulai sekarang. Kemasi barang-barangmu."

Hagia mengangguk. "Saya tidak lama," ucapnya sebelum turun.

"Silakan."

Hagia turun sambil membawa tas kecilnya. Kalandra tetap berada di balik kemudi sambil melirik jam tangan. Masih ada tiga rapat yang terpaksa dibatalkan hari itu. Belasan dokumen juga menunggu tanda tangannya. Ponselnya bahkan telah bergetar beberapa kali sejak keluar dari rumah sakit. Namun, tak satu pun panggilan itu ia angkat.

Sekitar lima belas menit kemudian, Hagia kembali. Di tangan kirinya terdapat sebuah koper berukuran sedang. Sementara tangan kanannya membawa sebuah kotak kayu yang tampak sudah cukup lama digunakan. Kalandra segera turun membantu memasukkan koper ke bagasi.

"Masih ada lagi?"

Hagia menggeleng. "Cukup."

Tatapan Kalandra sempat berhenti pada kotak kayu yang masih dipeluk Hagia.

"Isinya?"

"Peralatan gambar ibu saya."

Jawaban itu membuat Kalandra tidak bertanya lagi. Bagasi pun ditutup. Mereka kembali masuk ke dalam mobil, tidak ada lagi percakapan sepanjang perjalanan berikutnya. Di antara keduanya, hanya suara mesin mobil dan hiruk-pikuk kendaraan yang sesekali mengisi keheningan.

Hagia menyadari sesuatu. Sejak tadi, Kalandra sama sekali tidak mencoba mengajaknya berbicara layaknya pasangan yang baru saja menikah. Tidak ada pertanyaan mengenai dirinya, tidak ada usaha mencairkan suasana. Dan anehnya, hal itu justru membuatnya sedikit lebih tenang. Karena ia pun belum tahu harus memulai percakapan dari mana dengan pria yang kini sah menjadi suaminya.

Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil memasuki area parkir bawah tanah sebuah gedung apartemen mewah di kawasan Jakarta. Kalandra mematikan mesin, lalu mengambil koper Hagia dari bagasi.

Hagia mengikuti langkahnya menuju lift pribadi. Ketika pintu lift terbuka, angka 42 menyala di panel. Beberapa detik kemudian, pintu kembali terbuka memperlihatkan sebuah penthouse yang begitu luas hingga membuat Hagia tanpa sadar menghentikan langkahnya.

Ia sempat berpikir, sekali saja melangkah masuk ke tempat itu, hidupnya mungkin tidak akan pernah kembali seperti sebelumnya. Sementara, Kalandra berjalan masuk lebih dulu seolah semua kemewahan itu hanyalah bagian biasa dari kesehariannya.

Kalandra meletakkan koper Hagia di dekat sofa, lalu melepaskan jas yang sejak pagi melekat di tubuhnya. Jas itu disandarkan begitu saja pada sandaran kursi sebelum ia berjalan mengitari ruang tengah.

"Silakan lihat-lihat."

Hagia melangkah pelan menyusuri ruangan. Langit-langit yang tinggi, dinding kaca yang menghadap hamparan gedung-gedung Jakarta, serta furnitur bernuansa abu-abu dan hitam membuat penthouse itu tampak elegan, tetapi juga terasa begitu sunyi. Tidak ada foto keluarga. Tidak ada hiasan yang menunjukkan seseorang benar-benar tinggal di sana. Ruang itu lebih menyerupai hotel mewah daripada sebuah rumah.

"Kamarmu di sebelah sana."

Kalandra menunjuk sebuah pintu di sisi kanan koridor. Hagia mengangguk pelan.

"Lalu kamar Anda?"

"Di ujung."

Jawaban itu singkat.

Belum sempat Hagia bertanya lagi, ponsel Kalandra kembali bergetar. Nama Haris kembali muncul di layar.

"Ya."

Suara di seberang terdengar cukup jelas karena ruangan sedang benar-benar sunyi.

"Pak, seluruh direksi sudah menunggu. Dokumen yang harus Bapak tanda tangani juga sudah kami siapkan."

"Saya berangkat sekarang."

"Baik, Pak."

Sambungan berakhir. Kalandra memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.

"Saya harus kembali ke kantor."

Hagia sedikit terkejut. "Sekarang?"

"Seharian ini terlalu banyak pekerjaan yang saya tinggalkan."

Ia melirik jam tangannya. "Hampir semua rapat hari ini saya tunda."

Hagia mengangguk mengerti. Baru kali ini ia menyadari bahwa sejak obrolan mereka tadi pagi, hingga pernikahan mereka selesai, Kalandra benar-benar meninggalkan seluruh pekerjaannya. Kalandra mengambil kembali jasnya.

"Saya mungkin pulang malam."

"Baik."

Pria itu melangkah menuju pintu, tetapi kembali berhenti sebelum benar-benar keluar.

"Satu hal lagi."

Hagia mengangkat kepala.

"Besok ikut saya ke kantor."

Hagia menoleh. "Ke kantor?"

"Kakek yang menginginkannya."

"Untuk apa?"

"Bekerja sebagai asisten pribadi saya."

Hagia sedikit mengernyitkan dahinya. Belum sempat ia bertanya, Kalandra sudah melanjutkan ucapannya.

"Jam tujuh pagi kita berangkat."

Kalimat itu membuat Hagia sedikit terpaku.

"Tapi saya..."

Tidak ada penjelasan lebih panjang, tidak ada pula kesempatan bagi Hagia untuk menolak.

"Kalau ada yang kamu butuhkan, hubungi Haris saja."

Setelah memastikan Hagia mengangguk, ia benar-benar meninggalkan penthouse. Suara pintu yang menutup perlahan diikuti keheningan yang kembali menguasai ruangan. Hagia masih berdiri beberapa saat di tempatnya. Apartemen seluas ini kini hanya dihuni dirinya seorang diri. 

Ia berjalan menuju kamar yang tadi ditunjuk Kalandra. Ruangan itu jauh lebih besar dibanding seluruh kontrakan yang baru saja ditinggalkannya. Sebuah tempat tidur berukuran besar berada di tengah ruangan, sementara meja kerja menghadap langsung ke jendela kaca yang memperlihatkan langit Jakarta mulai berubah jingga.

Hagia meletakkan koper di lantai. Ia mengeluarkan beberapa pakaian seperlunya, lalu menata kotak kayu peninggalan ibunya di atas meja. Tangannya kemudian berhenti pada sebuah laptop hitam yang sejak tadi berada di dasar koper. Laptop itu berbeda. Tidak ada identitas juga tak ada logo perusahaan. Ia membawanya keluar dengan hati-hati sebelum meletakkannya di atas meja kerja. 

Beberapa detik kemudian, layar laptop menyala. Setelah melewati beberapa lapis kata sandi, sebuah kotak surat elektronik akhirnya terbuka. Puluhan surel yang masuk selama beberapa hari terakhir, langsung memenuhi layar. Sebagian besar berasal dari firma arsitektur luar negeri yang sejak lama bekerja sama dengan satu nama yang nyaris tidak pernah muncul di hadapan publik.

Xavier.

Nama itu bukan milik Hagia. Itu adalah identitas yang diwariskan mendiang ibunya. Sebuah nama yang sempat menghilang dari dunia arsitektur setelah studio mereka runtuh akibat pengkhianatan orang kepercayaan sendiri. Selama beberapa bulan terakhir, Hagia kembali menghidupkan nama itu. Bukan demi ketenaran, melainkan demi satu kesempatan terakhir menyelamatkan studio peninggalan ibunya.

Jemarinya berhenti pada sebuah surel dari Nika.

Next--->

1
alfian Agel
bagus
🍾⃝ sͩᴀᷞᴍͧsᷡʏͣ ⏤͟͟͞R
baru sempet mampir Mbu🙏
semoga bukunya sukses
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ternyata pernah ngalamin kekurung diruangan juga Kalandra, tapi dia terkurung apa di kurung mamanya ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
apakah yang terjadi dengan Hagia disengaja 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
syukurlah Hagia gak kenapa napa
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semoga saja Hagia selamat 🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
cepat tolongin Hagia Kalandra 😔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Hagia terkurung dia ruang arsip 🤔
semoga saja ada yang menolong 😔🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
makan pun yang dibahas soal kerjaan dan harga diri, apa orang kaya kalau makan selalu begitu ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
kan kan benar Kalandra dah curiga 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
sepertinya Kalandra mulai curiga 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ini apa maksudnya ya , apa sebenarnya dia sudah tau siapa Hagia 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semangat Hagia, semoga berhasil mengerjakan tantangan itu💪
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gimana ya rasanya jadi Hagia,
pada penasaran dengan sosoknya, tapi dia ada didepan orang² yang penasaran padanya 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
wah gimana reaksi mereka kalau tau orang yang mereka cari berada dalam ruangan yang sama mereka 🤔🤭
sunshine wings
bagus ceritanya.. 👍👍👍👍👍
enak dibaca.. ❤️❤️❤️❤️❤️
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
Angga Gati
ah dgantung....lanjut kal👍
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gak papa terlambat Hagia🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
studio itu ternyata peninggalan mendiang ibunya Hagia, kirain ibunya masih ada 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Kalandra sama Hagia sama² terdesak 🤭🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!