Elena Larasati, tidak pernah menduga jika tiga tahun menikah dengan Angga Mahardika, membawa hidupnya dalam kehancuran.
Cinta yang selama ini ia genggam dan jaga dengan baik, ternyata dibalas pengkhianatan yang menyakitkan.
Elena tidak pernah tahu jika selama ini ada wanita lain yang juga berperan seperti dirinya di sisi Angga.
Hingga sebuah peristiwa membongkar semuanya, dan Elena merasa dunianya hancur seketika.
"Ceraikan aku sekarang juga, Mas. Aku nggak sanggup kalau harus berbagi," desak Elena.
"Tidak. Saya tidak akan pernah menceraikan kamu, Elena!" tolak Angga tegas.
"Aku nggak bisa, Mas! Aku mau kita pisah!"
"Tidak akan, Elena. Saya sangat mencintai kamu. Sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi istri saya!"
Bagaimana Elena melewati kehidupan rumah tangganya dengan kenyataan ada istri lain di sisi suaminya?
Disclaimer hanya untuk yang kuat saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melia Andari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Mogok Makan Lagi
"Kamu tidak boleh mogok makan seperti ini, Cindy. Ingat, kamu sedang hamil," ucap Angga kepada Cindy.
Wanita itu sedang berbaring di atas ranjang, sementara Angga duduk di sisi ranjangnya.
"Sudah satu Minggu mas nggak mengunjungi aku. Mas bilang mas akan segera datang, tapi ternyata tidak. Kalau aku tidak mogok makan, mungkin mas juga nggak akan datang sampai sekarang," sahut Cindy kesal.
"Beberapa hari ini saya tidak bisa, Cindy. Saya sudah mengatakan kepadamu kan untuk menunggu?"
"Ya tapi terlalu lama, mas. Aku kan ingin berada di dekatmu karena dorongan hormon kehamilanku."
"Sabar, saya tidak bisa meninggalkan Elena jika tidak ada siapapun di rumah. Asisten rumah tangga sedang izin. Tapi kalau kamu memerlukan saya, saya pasti akan usahakan untuk menemui kamu. Hanya saja saya tidak bisa menginap."
"Kamu ini mas. Aku lagi hamil anak kamu, tapi kamu nggak takut meninggalkan aku sendiri. Sedangkan Elena yang tidak hamil malah—"
"Cindy...jaga ucapanmu. Saya selalu memberikan yang terbaik untuk kalian berdua, tetapi kamu harus tahu posisinya di antara kita. Dia adalah istri saya yang sah."
Mendengar itu, Cindy pun menangis. "Mas, aku juga istri kamu yang sah meskipun tidak tercatat di mata hukum! Aku bahkan sedang mengandung anak kamu, mas!"
"Meskipun kita menikah secara mendadak, tapi pantaskah kamu memperlakukan aku seperti ini mas?"
"Cindy, kita bisa bicara baik-baik. Tidak perlu emosi seperti ini."
"Kamu memang nggak pernah menginginkan aku, mas. Kamu terpaksa nikah sama aku kan? Biar aku besarkan saja sendiri anak ini," ucap Cindy merajuk.
Ia beranjak dari tidurnya hendak turun dari ranjang, namun Angga menahannya.
"Cindy, jangan begini. Oke maafkan saya. Saya tidak bermaksud menyakiti hati kamu. Saya hanya menjelaskan alasan saya tidak bisa datang. Saya minta pengertian kamu, Cindy."
Cindy pun terdiam. Ia menatap Angga dengan sendu. Ia tahu konsekuensinya menjadi istri kedua yang dirahasiakan akan seperti ini. Tetapi entah mengapa, rasanya tidak rela jika ia harus membagi Angga dengan Elena.
Angga pun menyentuh kedua bahu Cindy seraya menatapnya.
"Meskipun saya tidak bisa mengunjungimu, tapi saya telah memberikan semua keperluanmu dengan lengkap dan tidak kurang sama sekali. Saya juga percayakan kamu kepada kakak kamu, karena saya tahu dia bisa menjaga kamu dengan baik."
Cindy pun mengangguk pelan lalu memeluk tubuh Angga. "Aku mau selalu ada di dekatmu mas. Apalagi aku sedang hamil begini. Aku ingin kamu bisa menemani aku setiap aku periksa kandungan."
Angga pun membalas pelukan Cindy. Ia membelai punggung Cindy dengan lembut. "Saya pasti akan menemani kamu, Cindy. Kamu tidak perlu khawatir."
"Makasi ya mas?"
"Sama-sama. Itu sudah menjadi kewajiban saya."
Cindy pun memejamkan mata seraya menghirup dalam-dalam aroma tubuh Angga. Ia sangat menyukai aroma maskulin khas yang ada di tubuh pria itu, dan membuatnya tergila-gila.
"Terus sekarang kenapa kamu bisa datang sepagi ini? Kamu nggak kerja? Dan Elena juga, bisa kamu tinggal?"
Angga pun melepas pelukannya dan menatap Cindy. "Saya khawatir mendengar kabar kamu mogok makan. Saya sudah menitipkan pekerjaan saya pada Rei dan mengenai Elena, saya telah mengubungi asisten rumah tangga lama saya agar bisa kembali bekerja."
"Oh begitu. Terima kasih ya, demi aku mas sampai meninggalkan pekerjaan di kantor," sahut Cindy.
"Iya, sekarang makan lagi. Saya akan suapi kamu," ucap Angga seraya menyendok kan nasi ke mulut Cindy.
"Ingat, jangan pernah mogok makan lagi, kamu membahayakan dirimu sendiri dan anak kita."
"Mas khawatir kepadaku?"
"Tentu saja. Kamu sedang mengandung. Ibu hamil harus banyak makan agar janinnya sehat."
Cindy mengangguk. "Asal selalu ditemani Mas Angga begini, aku akan makan banyak, Mas."
Angga hanya tersenyum mendengar ucapan Cindy, dan melanjutkan menyuapi wanita itu makan, hingga makanan yang ada di piringnya habis.
"Kapan jadwal kontrol lagi?" tanya Angga.
"Besok mas. Kamu bisa temani aku kan?"
"Iya, saya akan mengosongkan jadwal saya dan menemani kamu."
Cindy pun tersenyum senang lalu memeluk lengan Angga dengan erat. "Makasih ya mas."
Angga hanya mengangguk singkat. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Ia segera melihat layar ponsel dan mengangkatnya.
"Halo?"
"Tuan?" sahut wanita di seberang sana.
"Iroh. Ada apa?"
"Maaf Tuan, saya sudah sampai di rumah Tuan. Tapi hanya ada penjaga saja."
"Maksud kamu?"
"Nyonya Elena tidak ada di rumah, Tuan. Saya tanya penjaga, katanya mereka juga tidak tahu nyonya kemana."
"Apa?"
Angga tercekat. Ia beranjak dari duduknya dan segera mematikan sambungan telepon itu.
"Ada apa sih Mas?" tanya Cindy heran.
"Elena tidak ada di rumah. Saya harus memeriksanya."
"Tapi, mas—"
"Saya hanya memastikan saja Cindy, setelah itu saya akan kembali lagi kesini. Saya sudah meninggalkan pekerjaan saya hari ini untuk kamu."
"Baiklah mas, aku menunggumu."
Angga hanya mengangguk, lalu segera pergi dari rumah Cindy. Ia harus menemukan Elena, sebab selama menikah, Elena tidak pernah pergi sendiri tanpa dirinya kecuali untuk hal-hal mendesak. Apalagi tanpa kabar seperti ini.
Sementara itu, Elena sedang dalam perjalanan menuju alamat yang diberikan Ridwan pada ponsel Angga tadi malam.
Beberapa saat kemudian, ia menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah di Perumahan Green Cempaka.
Setelah tiba di tempat, Elena pun berjalan ke salah satu rumah yang nomornya sesuai. Tanpa berlama-lama, ia segera mengetuk pintu itu.
Beberapa detik kemudian, pintu rumah terbuka. Seorang wanita berdiri di baliknya.
"Cindy..." Mata Elena membelalak.
Di sisi lain, Cindy pun tampak sama terkejutnya.
"Elena?"
Elena terdiam. Seketika nafas Elena tercekat.
Jadi... Alamat yang dikirim seseorang bernama Ridwan semalam adalah rumah Cindy?