Alya menjalani pernikahan perjodohan dengan Arga, pria kaya yang tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai istri. Saat Alya berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, Arga justru masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya dan mengabaikan kesetiaan istrinya.
Diam-diam, Alya menahan penyakit parah dan luka hati yang semakin dalam. Hingga suatu hari, ia memilih pergi tanpa meminta apa pun lagi.
Arga mengira Alya akan kembali. Namun ketika hari berganti dan rumah terasa semakin sunyi, ia mulai menyadari bahwa perempuan yang selalu ia abaikan adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Saat Alya akhirnya ditemukan dalam keadaan kritis, penyesalan Arga telah datang terlalu terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah yang Tidak Pernah Hangat
Hujan turun sejak sore.
Butir-butir air mengetuk jendela besar ruang makan rumah keluarga Mahendra, menciptakan suara pelan yang seharusnya menenangkan. Namun bagi Alya, suara hujan malam itu justru menambah sunyi yang sudah terlalu lama tinggal di dalam dadanya.
Di atas meja makan panjang dari kayu jati, tersaji sup iga hangat, ikan bakar madu, tumis sayur, dan sambal kesukaan suaminya. Semua makanan itu masih mengepulkan uap tipis. Alya memasaknya sendiri sejak pukul lima sore, dibantu Mbok Sari yang beberapa kali menawarkan diri untuk mengambil alih.
Namun Alya menolak.
“Biar saya saja, Mbok,” katanya tadi sambil tersenyum. “Mas Arga suka ikan bakarnya kalau tidak terlalu kering.”
Mbok Sari memandangnya dengan mata sendu, seolah ingin mengatakan sesuatu tetapi memilih menahannya. Perempuan tua itu sudah bekerja di rumah itu jauh sebelum Alya datang sebagai menantu. Ia tahu banyak hal yang tidak pernah dibicarakan secara terang-terangan. Ia tahu Tuan Arga jarang pulang sebelum tengah malam. Ia tahu Nyonya Alya selalu menunggu, bahkan ketika makanan sudah dingin dan hujan telah berhenti.
Jam dinding menunjukkan pukul sembilan lewat dua puluh menit.
Alya menatap layar ponselnya untuk kesekian kali. Tidak ada pesan baru.
Pesan terakhir yang ia kirim satu jam lalu masih hanya diberi tanda terkirim.
*Mas, makan malamnya sudah siap. Pulang, ya.*
Tidak ada jawaban.
Sebenarnya Alya tidak perlu menunggu jawaban itu untuk mengetahui kemungkinan terbesar. Arga mungkin sedang bersama Keisya. Mungkin sedang makan malam di restoran mahal yang lampunya temaram, mungkin tertawa atas sesuatu yang tidak lucu, mungkin menatap perempuan itu dengan cara yang tidak pernah Arga berikan kepadanya.
Pikiran itu datang seperti pisau tipis yang menusuk pelan-pelan. Tidak cukup dalam untuk langsung membunuh, tetapi cukup tajam untuk membuatnya terus merasa sakit.
Alya menarik napas panjang.
Ia benci dirinya sendiri karena masih berharap.
Tiga tahun menikah seharusnya cukup untuk membuatnya mengerti. Cinta tidak bisa dipaksa hanya karena sepasang orang telah diikat oleh akad dan restu dua keluarga. Kehadiran seorang istri di rumah tidak selalu berarti ia memiliki tempat di hati suaminya.
Alya menunduk, merapikan ujung taplak meja yang sebenarnya sudah rapi.
Di hadapannya ada kursi kosong milik Arga.
Kursi itu selalu kosong lebih lama daripada yang seharusnya.
“Non Alya,” suara Mbok Sari membuyarkan lamunannya.
Alya menoleh. Perempuan tua itu berdiri di ambang pintu dapur sambil membawa teko air hangat. “Makanannya mau Mbok tutup dulu? Nanti keburu dingin.”
Alya melirik jam lagi.
“Sebentar lagi saja, Mbok. Mungkin Mas Arga di jalan.”
Kalimat itu keluar dengan begitu mudah, seolah ia sendiri percaya pada kebohongan kecil yang baru saja diucapkannya.
Mbok Sari tidak segera menjawab. Ia meletakkan teko di meja perlahan, lalu menghela napas.
“Non sudah makan?”
“Nanti saja.”
“Dari siang Non cuma makan sedikit. Jangan tunggu Tuan Arga terus.”
Alya tersenyum, walaupun senyumnya terasa berat. “Saya belum lapar.”
Padahal sejak sore tadi perutnya terasa perih. Bukan hanya karena belum makan. Ada rasa mual yang beberapa minggu terakhir sering datang tanpa alasan jelas. Kadang tubuhnya lemas sampai ia harus berpegangan pada meja dapur. Kadang kepalanya terasa berputar ketika ia baru berdiri dari sofa.
Ia sudah beberapa kali berniat pergi ke dokter.
Namun setiap kali ia ingin membuat janji, ada saja hal yang membuatnya mengurungkan niat. Arga sedang sibuk. Arga sedang menghadiri rapat. Arga sedang ke luar kota. Arga sedang tidak ingin diganggu.
Alya tidak tahu kapan tepatnya ia mulai merasa bahwa sakitnya sendiri tidak cukup penting untuk dibicarakan.
Mungkin sejak pertama kali Arga berkata, “Jangan selalu bikin masalah kecil jadi besar, Alya. Aku capek.”
Saat itu Alya hanya ingin mengatakan bahwa ia demam dan ingin ditemani ke klinik.
Namun Arga baru pulang pukul dua dini hari.
Dengan aroma parfum perempuan yang bukan miliknya.
Lampu luar rumah menyala bersamaan dengan suara mobil memasuki halaman. Jantung Alya langsung berdebar. Gerakannya spontan; ia berdiri, merapikan rambut, lalu menegakkan punggungnya.
Seperti seorang istri yang sedang menunggu suaminya pulang dengan bahagia.
Seperti seorang perempuan yang belum pernah dikecewakan.
Pintu depan terbuka beberapa saat kemudian.
Suara langkah Arga terdengar dari arah foyer. Tegas, cepat, dan dingin. Alya bisa membedakan langkah itu dari langkah siapa pun. Selama tiga tahun, ia telah terlalu sering mendengarkan suara sepatu suaminya masuk ke rumah tanpa pernah benar-benar masuk ke dalam hidupnya.
Arga muncul di pintu ruang makan dengan kemeja putih yang lengan bajunya digulung sampai siku. Dasi hitamnya sudah longgar. Wajahnya terlihat lelah, tetapi bukan lelah yang membuat seseorang ingin pulang dan beristirahat. Lelaki itu justru tampak seperti orang yang dipaksa datang ke tempat yang tidak ingin ia datangi.
Tatapan Arga jatuh pada meja makan.
Kemudian pada Alya.
“Kamu belum tidur?” tanyanya datar.
Alya menggenggam jemarinya agar tidak terlihat gemetar. “Aku nungguin Mas makan malam.”
“Aku sudah makan.”
Jawaban itu singkat, dingin, dan cukup untuk meruntuhkan sesuatu dalam dada Alya.
Namun ia sudah terlatih untuk tidak menunjukkannya.
“Oh.” Alya mengangguk kecil. “Aku masak ikan bakar. Mas biasanya suka.”
“Alya.” Nada suara Arga berubah sedikit, terdengar seperti peringatan. “Aku sudah bilang, kamu tidak perlu repot-repot begini.”
“Aku nggak merasa repot.”
“Ya, tapi aku merasa tidak nyaman.”
Alya terdiam.
Arga melepas jam tangannya, lalu meletakkannya di atas meja konsol dekat pintu. “Setiap pulang, aku merasa seperti harus menjelaskan kenapa aku terlambat. Harus merasa bersalah karena kamu menunggu. Padahal dari awal kita sama-sama tahu pernikahan ini bukan pilihan aku.”
Kata-kata itu sebenarnya bukan sesuatu yang baru.
Namun malam itu, entah karena hujan, karena tubuhnya yang lemah, atau karena ia sudah terlalu lama menahan semuanya sendiri, Alya merasa kalimat tersebut jauh lebih tajam dari biasanya.
“Aku nggak minta Mas jelasin apa-apa,” ucapnya perlahan.
“Kalau begitu jangan menunggu aku seperti ini.”
“Aku cuma mau makan malam sama suami aku.”
Arga tertawa pendek tanpa humor. “Suami?” Ia mengulang kata itu seolah kata tersebut terdengar asing. “Alya, jangan mulai.”
“Aku nggak mulai apa-apa.”
“Kamu selalu bilang tidak mulai apa-apa, tapi wajah kamu itu sudah cukup membuat aku merasa jadi orang jahat.”
Wajah Alya memucat.
Ia ingin membela diri. Ingin berkata bahwa ia tidak pernah meminta Arga menikahinya. Bahwa ia pun tidak memilih menjadi perempuan yang dinikahkan demi menyatukan kerja sama bisnis keluarga. Bahwa sebelum pernikahan itu terjadi, ia pernah menangis di kamar dan meminta ayahnya membatalkan semuanya.
Namun pada akhirnya, ia menerima.
Ia menerima karena ayahnya sakit-sakitan dan percaya Arga adalah lelaki baik dari keluarga terhormat. Ia menerima karena ibunya menggenggam tangannya sambil berkata bahwa cinta bisa tumbuh setelah pernikahan. Ia menerima karena, jauh sebelum perjodohan itu diumumkan, Alya sudah mengenal Arga sebagai lelaki yang selalu terlihat tenang dan bertanggung jawab.
Ia tidak tahu bahwa hati Arga sudah diberikan kepada orang lain.
“Kamu pulang dari Keisya?” Pertanyaan itu meluncur sebelum Alya sempat menahannya.
Ruangan mendadak terasa lebih dingin.
Arga menatapnya tajam.
“Apa?”
Alya menelan ludah. “Aku cuma tanya.”
“Dan itu bukan urusan kamu.”
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada yang Alya duga.
Bibirnya bergetar tipis, tetapi ia segera menunduk agar Arga tidak melihatnya. “Aku istri Mas.”
“Di atas kertas.”
“Mas.”
“Jangan panggil aku seperti itu kalau kamu mau membahas Keisya.”
Alya mengangkat wajah perlahan. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia tidak menangis. Ia sudah terlalu sering menangis sendirian untuk memberi Arga kesempatan melihat kelemahannya.
“Kalau memang Mas masih mencintai dia,” katanya lirih, “kenapa Mas menikah sama aku?”
Arga membuang pandangan ke arah jendela. Hujan memantulkan bayangan mereka di kaca: seorang perempuan berdiri dengan wajah terluka, dan seorang lelaki yang tampak ingin pergi bahkan sebelum percakapan itu selesai.
“Karena ayahku,” jawab Arga akhirnya. “Karena keluarga kita. Karena bisnis. Kamu tahu semua itu.”
“Aku tahu.” Suara Alya pecah sedikit. “Tapi aku pikir… setelah menikah, Mas setidaknya mau mencoba.”
“Mencoba apa?”
“Mencoba menghargai aku.”
Arga menatapnya kembali. Ada sesuatu yang bergerak samar di wajah lelaki itu—mungkin rasa bersalah, mungkin hanya kelelahan. Namun ekspresi itu hilang terlalu cepat.
“Aku tidak pernah menjanjikan kamu apa-apa, Alya.”
Ia mengatakan kalimat itu pelan.
Justru karena pelan, kalimat itu terasa semakin kejam.
Alya memejamkan mata sesaat.
Benar. Arga tidak pernah menjanjikan apa-apa. Tidak pernah menjanjikan akan mencintainya. Tidak pernah menjanjikan kesetiaan. Tidak pernah menjanjikan rumah tangga yang hangat.
Namun bukankah dalam pernikahan, beberapa hal seharusnya tidak perlu dijanjikan untuk tetap dilakukan?
Saling menghormati.
Saling menjaga.
Tidak membiarkan pasangan merasa sendirian di rumahnya sendiri.
“Aku minta maaf,” kata Alya akhirnya.
Arga mengernyit. “Untuk apa?”
“Karena aku bikin Mas nggak nyaman.”
Hening.
Alya tersenyum tipis. Senyum yang lebih menyerupai luka daripada kebahagiaan. “Mas istirahat saja. Aku simpan makanannya.”
Ia berjalan menuju meja, mulai menutup satu per satu hidangan dengan tudung saji. Tangannya bergerak pelan, seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal dadanya terasa sesak. Begitu sesak sampai ia sulit menarik napas dengan benar.
Saat mengangkat mangkuk sup, pandangannya mendadak berkunang-kunang.
Tubuhnya limbung.
Mangkuk itu hampir terlepas dari tangannya.
“Alya.”
Suara Arga terdengar untuk pertama kalinya malam itu dengan nada yang berbeda.
Alya berhasil meletakkan mangkuk di atas meja sebelum pecah. Ia memegang tepi kursi, mencoba menstabilkan diri.
“Aku nggak apa-apa,” katanya cepat.
Arga berdiri beberapa langkah darinya. “Kamu sakit?”
“Cuma pusing sedikit.”
“Sudah periksa?”
Alya menatap suaminya. Dalam pertanyaan sederhana itu, ada sesuatu yang hampir membuat air matanya jatuh. Perhatian kecil. Kekhawatiran sesaat. Hal yang seharusnya biasa, tetapi baginya terasa seperti sesuatu yang langka.
“Nanti saja,” jawabnya pelan.
Arga hendak mengatakan sesuatu, tetapi ponselnya berdering.
Nama yang muncul di layar itu cukup untuk membuat wajah Alya kembali menunduk.
Keisya.
Arga memandang layar ponselnya beberapa detik. Lalu ia menatap Alya yang masih berdiri di samping meja makan.
“Aku angkat dulu,” ucapnya.
Bukan permintaan izin.
Bukan penjelasan.
Hanya pemberitahuan sederhana bahwa ada seseorang yang lebih penting daripada perempuan di hadapannya.
Arga berbalik dan berjalan keluar dari ruang makan sambil menerima panggilan itu.
“Ya, Sayang,” suara lelaki itu terdengar samar dari lorong.
Satu kata.
Satu panggilan.
Cukup untuk menghancurkan sisa kekuatan Alya malam itu.
Ia berdiri diam di hadapan meja penuh makanan yang tak tersentuh. Uap dari sup sudah hilang. Ikan bakar yang ia buat dengan sepenuh hati mulai dingin. Di luar, hujan masih turun, seolah langit pun tidak tahu bagaimana cara berhenti menangis.
Alya memegang dadanya.
Rasa nyeri itu datang lagi.
Lebih kuat dari biasanya.
Ia memejamkan mata, menahan napas, lalu perlahan duduk di kursi yang sejak tadi disiapkan untuk Arga.
Kursi itu dingin.
Sama dinginnya dengan rumah ini.
Sama dinginnya dengan pernikahan yang selama tiga tahun berusaha ia hangatkan seorang diri.
Di dalam kesunyian, Alya menatap kursi kosong di seberangnya.
Lalu, tanpa suara, setetes air mata jatuh ke atas meja makan.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Alya mulai bertanya pada dirinya sendiri—
Sampai kapan ia harus bertahan di rumah yang tidak pernah menganggapnya sebagai rumah?