Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Belum sempat Pak Mat membalas ucapan Dayang, sebuah langkah tergesa menepuk lantai pasar yang basah.
Seorang wanita paruh baya bertubuh tambun dengan perhiasan emas berkilau di jemarinya berhenti tepat di depan lapak Dayang, napasnya sedikit terengah-engah.
"Mbak Dayang! Masih ada stok? Saya borong semua udang, cumi, sama ikan barakudanya sekarang!" seru wanita itu tanpa basa-basi, matanya membelalak menatap dagangan Dayang yang berkilat segar.
Dayang sempat mengerutkan alis, terkejut dengan permintaan mendadak itu.
"Walah, Bu! Ini beneran mau diborong semua? Masih ada sekitar sepuluh kilo udang, delapan kilo cumi, sama lima ekor barakuda besar ini, loh."
"Iya, beneran! Buat katering acara nikahan mendadak siang nanti. Tolong ditimbang dan dibungkus cepat ya, Mbak, ini uangnya langsung saya bayar tunai!" wanita itu menepuk-nepuk tas sandangnya yang tampak tebal.
Dengan gerakan cepat dan sigap, Dayang langsung menyambar timbangan dan plastik-plastik besar.
Jemarinya menimbang dengan presisi tinggi, mengemas kilogram demi kilogram hasil laut segar tersebut ke dalam wadah yang disiapkan.
Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit, meja seng yang tadinya dipenuhi tumpukan udang, cumi, dan barakuda kini bersih tak tersisa, hanya menyisakan lelehan es batu yang mengalir pelan.
Setelah menerima seikat lembaran uang dan mengucapkan terima kasih berkali-kali, wanita pembeli itu bergegas pergi dibantu seorang kuli angkut yang membawakan belanjaannya.
Dayang menepuk-nepuk kedua tangannya yang basah, lalu menoleh ke arah Pak Mat yang masih berdiri terpaku di sebelah lapaknya.
Dengan senyum jahil dan mata berbinar, Dayang menyenggol pelan bahu Pak Mat.
"Lihat, Pak Mat, langsung habis, kan?" ucap Dayang penuh kemenangan diselingi tawa kecil.
Pak Mat menatap meja seng Dayang yang kini melompong, lalu beralih menatap gadis di sampingnya itu.
Senyum kagum tak bisa ia sembunyikan lagi dari wajah senjanya.
Pak Mat menganggukkan kepalanya pelan, menyetujui dalam hati bahwa rezeki yang dibagikan dengan ikhlas memang tak pernah tertukar jalannya.
Sementara itu, beberapa kilometer dari riuh rendah Pasar Matahari, ketenangan semu menyelimuti gedung pencakar langit berlantai tiga puluh milik Suryo Group.
Di dalam ruang rapat utama berpendingin udara yang dingin menusuk, suasana justru terasa panas menyengat dan mencekam.
Rimba, CEO muda bernapas dingin bertangan besi, berdiri tegak di ujung meja jati panjang.
Pandangan matanya yang tajam bak elang menusuk jajaran direksi dan manajer yang menunduk dalam-dalam dengan tubuh gemetar.
"Bisa-bisanya kalian memberi alasan sekonyol ini?!" suara berat Rimba menggelegar, memecah hening dan membuat siapapun di ruangan itu menahan napas.
Ia menghempaskan tumpukan berkas laporan keuangan ke atas meja hingga menimbulkan dentuman keras.
"Kelangkaan bahan baku? Pabrik pengalengan sarden kita terancam mati total, jalur produksi olahan seafood membeku, dan kalian baru bicara sekarang?!" Rimba melangkah perlahan, menyusuri ruangan dengan aura intimidasi yang begitu pekat.
Kemeja mewahnya yang terpasang rapi tak mampu menyembunyikan amarah yang siap meledak.
Seorang manajer operasional memberanikan diri mendongak, menyapu keringat dingin di dahinya sebelum bersuara dengan nada bergetar,
"Ma-maaf, Pak Rimba. Supplier utama kita, mereka melarikan diri. Seluruh dana pasokan dari Suryo Group yang sudah kita transfer dibawa kabur oleh mereka. Mereka memutus semua akses komunikasi sejak semalam."
Ruangan itu makin mencekam. Rahang Rimba mengeras, matanya membelalak menatap manajer tersebut.
"Melarikan diri?" repet Rimba dengan nada dingin yang teramat membahayakan.
"Uang perusahaan melayang, stok ikan kosong, dan produksi nasional kita terancam lumpuh hanya karena satu supplier brengsek?!"
Ia mengepalkan tangannya di atas meja, menatap seluruh jajaran petingginya dengan tatapan murka.
"Saya tidak mau tahu! Cari supplier baru atau borong seluruh pasokan ikan di pasar-pasar lokal sekarang juga! Jika sampai besok pabrik berhenti beroperasi, kalian semua yang akan saya pecat!"
Semua direksi dan manajer di ruangan itu hanya berdiri diam mematung.
Tak satu pun berani berkutik, apalagi membalas tatapan tajam sang CEO.
Napas mereka seolah tertahan oleh aura amarah Rimba yang makin membakar udara di ruang rapat mewah tersebut.
"Tunggu apa lagi?! Keluar dan cari pemasok ikan sekarang juga!" bentak Rimba dengan nada rendah yang penuh penekanan.
Seketika itu juga, para petinggi perusahaan saling sikut dan berhamburan keluar ruangan.
Mereka berlari tunggang-langgang menembus pintu kaca, tak ingin menjadi sasaran amuk sang CEO lebih lama lagi, langsung menyebar demi menemukan pasokan ikan dari sumber mana pun yang tersisa.
Sepeninggal anak buahnya, suasana ruangan mendadak hening.
Rimba berdiri sendirian di dekat jendela kaca raksasa yang menyorotkan pemandangan kota dari ketinggian.
Rimba mencengkeram erat tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Urat-urat di rahangnya menegang menahan malu dan amarah yang bergejolak di dada.
"Sial!! Bagaimana bisa aku ditipu seperti ini?!" umpat Rimba seraya menggeprak meja kerja jatinya dengan telapak tangan.
Sebagai pemimpin Suryo Group yang selalu disegani dan tak pernah gagal dalam negosiasi bisnis, dikelabui oleh Supplier adalah pukulan telak bagi harga dirinya.
Ia tak akan biarkan nama besarnya hancur hanya karena urusan pasokan ikan.
Rimba tak bisa lagi menahan sabarnya. Menunggu jajaran manajernya yang lamban bekerja hanya akan membuat pabriknya benar-benar gulung tikar dalam hitungan jam.
Dengan gerakan kasar, Rimba menyambar jas mewahnya yang tergantung di sandaran kursi utama.
Ia mengancingkan jasnya cepat-cepat sembari melangkah lebar menembus pintu ruang rapat yang membisu.
Ia tidak akan tinggal diam melihat anak buahnya yang lelet dan tak becus bekerja dalam situasi kritis seperti ini.
"Dio, kamu ikut aku!" perintah Rimba penuh penekanan saat melintasi meja sekretarisnya.
Dio, sang asisten pribadi yang sigap dan selalu siap dalam kondisi darurat apa pun, langsung berdiri tegak.
Tanpa bertanya atau membuang waktu satu detik pun, Dio sang asisten menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Baik, Pak Rimba. Mobil sudah siap di depan," sahut Dio cekatan seraya menyambar tablet dan kunci mobil, mengekor ketat di belakang langkah lebar sang CEO yang diselimuti aura amarah.
Semuanya sudah menuju ke pasar dan tidak ada pemasok ikan untuk pabrik mereka.
Beberapa pasar induk yang mereka datangi sudah bersih, kehabisan stok akibat kelangkaan nasional yang melanda sejak dini hari.
Hanya tinggal Pasar Matahari yang belum mereka periksa—satu-satunya harapan terakhir untuk menyelamatkan pabrik dari kehancuran.
Mobil mewah milik Rimba berhenti persis di pinggir jalan pasar yang becek.
Dari dalam mobil yang sejuk, Rimba menatap kumalnya suasana luar dengan tatapan enggan.
"Dio, kamu turun dan cari penjual ikan!" perintah Rimba dingin, tanpa mau mengotori sepatu kulit mahalnya.
"Baik, Pak." Dio segera turun dari mobil dan bergegas menerobos kerumunan pedagang.
Ia melangkah cepat menyusuri lorong yang licin, bertanya pada beberapa penjual yang sedang merapikan dagangan.
Setiap kali Dio menyebutkan butuh stok ikan segar dalam jumlah besar, mereka menggeleng, lalu mengarahkan telunjuk ke arah sudut terujung lorong.
"Ke tempat Dayang saja, Mas. Cuma dia yang punya koneksi ke nelayan langsung. Tapi, sepertinya sudah mau tutup."
Dio segera menuju ke lapak Dayang. Dari kejauhan, terlihat seorang gadis berparas cantik dengan celemek hitam sedang menyiram meja seng dan menyapu sisa-sisa es batu.
Lapaknya sudah bersih, tanda ia siap-siap akan pulang.
"Nona, apa di sini ada ikan sarden, cumi, kepiting, dan udang?" tanya Dio terengah-engah begitu tiba di depan lapak.
Dayang menghentikan sikatnya, menyapu pandang ke arah pria berkemeja rapi yang tampak asing di lingkungan pasar ini.
"Ada, tapi besok pagi. Sekarang sudah habis."
"Saya membutuhkan sebanyak-banyaknya," ucap Dio cepat dengan wajah panik.
Dayang mengerutkan kening, menatap Dio dari atas ke bawah.
"Sebanyak-banyaknya? Untuk apa? Anda mau pesta ikan?"
"Bukan, ini untuk pabrik."
Dahi Dayang makin berlipat mendengar jawaban itu.
"Pabrik? Bukankah biasanya ada supplier sendiri?"
Dio menganggukkan kepalanya, mengusap keringat di dahi.
"Ada masalah dengan supplier kami, Nona. Kami butuh pasokan darurat sekarang."
Raut wajah Dayang seketika berubah dingin. Ia menyandarkan gagang sikatnya ke dinding kayu dan bersedekap dada.
"Maaf, saya hanya menjual skala kecil untuk rakyat biasa yang mau makan. Tidak untuk pabrik atau bisnis besar."
"Tapi Nona, kami berani bayar mahal!" bujuk Dio memohon.
Dayang menggelengkan kepalanya tegas, tak memberi ruang untuk tawar-menawar.
"Prinsip saya cuma satu: ikan di sini buat perut warga yang butuh, bukan buat dikeruk sama bos-bos kaya."
Dayang meraih tas pinggangnya, lalu menarik terpal tebal untuk menutupi meja seng tempatnya berjualan.
Setelah memastikan semuanya terkunci rapat, ia berjalan santai meninggalkan lorong pasar yang mulai sepi menuju area parkiran belakang.
Di sana, terparkir sebuah motor sport gagah berwarna hitam legam.
Tanpa ragu, Dayang naik ke atas jok tinggi itu, menyunggingkan helm full-face dengan gerakan luwes, lalu menyalakan mesin yang seketika meraungkan suara bass bertenaga.
Dalam hitungan detik, motor itu melesat cepat keluar dari pelataran pasar yang becek.
Dari balik kaca mobil mewahnya yang gelap, Rimba memperhatikan setiap gerak-gerik perempuan itu.
Matanya memicing, tak bisa mengalihkan pandangan dari sosok penunggang motor yang begitu tangguh.
"Unik sekali," gumam Rimba pelan di dalam hati, terpesona sekaligus heran melihat ada penjual ikan dengan gaya sekeren itu.
Pintu mobil tiba-tiba terbuka. Dio masuk dengan napas terengah-engah dan raut wajah penuh penyesalan.
Ia menoleh ke arah bosnya yang masih menatap ke jalan raya.
"Bagaimana?" tanya Rimba pendek, nadanya menuntut.
Dio menghela napas berat sebelum menceritakan semuanya.
"Maafkan saya, Pak Rimba. Penjual ikan di pasar ini menolak mentah-mentah penawaran kita. Dia bilang dagangannya sudah habis untuk hari ini. Tapi yang lebih mengejutkan, saat saya bilang kita butuh pasokan dalam jumlah besar untuk pabrik, dia langsung menolak tegas. Katanya, dia punya prinsip hanya menjual ikan untuk rakyat kecil dan kebutuhan rumah tangga, sama sekali tidak sudi melayani pabrik atau pengusaha besar."
Rimba membelalakkan mata, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Apa? Dia menolak uang dari Suryo Group?!"
"Benar, Pak. Bahkan saya belum sempat menawarkan harga tinggi, dia sudah memotong pembicaraan dan langsung menutup lapaknya," lanjut Dio ragu-ragu.
"Dan, penjual ikan yang saya maksud itu adalah perempuan yang baru saja naik motor tadi."
Rimba tertegun seketika. "J-jadi, wanita tomboy yang barusan lewat dengan motor sport-nya?"
Dio menganggukkan kepalanya dengan mantap. "Benar, Pak Rimba. Dialah penjual ikan bernama Dayang, yang dijuluki preman di pasar ini."
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂