Indonesia
NovelToon NovelToon
Kaget, Tiba-Tiba Jadi Istri Bos

Kaget, Tiba-Tiba Jadi Istri Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Rizza Khan

Aisha Senjani mahasiswa matematika yang baru menyelesaikan pendidikannya di universitas luar negeri dan mendapatkan pekerjaan di sana. Setelah kurang lebih sebulan ia mengambil cuti untuk pulang ke tanah air, sejak menyelesaikan pendidikannya ia belum pernah sama sekali pulang kampung. Dihari kepulangannya ternyata di rumah sedang ada acara pernikahan sang kakak, ia tidak tahu sama sekali tentang hal itu.

Namun, sang kakak kabur disaat mempelai Pria dan rombongan sudah datang. Pihak pria tidak ingin membatalkan karena akan merusak nama baik keluarganya. Sehingga sang mempelai meminta Aisha jadi penggantinya.

Apakah Aisha akan menerima perkawinan tiba-tiba ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizza Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Cuti Kerja

"Jadi Kamu beneran dapet izin cuti minggu depan, Sha? Padahal kan Kamu baru kerja sebulan, lho." tanya Tari sambil mengaduk kopinya pelan.

Aisha Senjani, lulusan Matematika yang baru meniti karier sebagai analis data di sebuah perusahaan investasi.

"Dapet dua minggu. Mumpung lagi libur musim panas juga di sini. Lumayan kan buat lepas kangen sama orang di rumah?" jawab Aisha santai.

"Gampang banget izinnya? Bos Kamu nggak nahan?"

Aisha tertawa kecil. "Jangankan nahan, sosok bosnya aja Aku belum pernah liat! Dari awal interview sampai kemaren, yang ngurusin semuanya sekretarisnya. Katanya sih bos besarnya orang Indonesia juga, tapi lagi sering di Jakarta. Ya udah, pas Aku minta izin cuti ke sekretarisnya, langsung di-Acc. Nggak pake ribet."

"Enak banget ya dapet bos nggak stay di sini," kekeh Tari.

"Tapi pas banget deh, Sha. Soalnya Aku juga mau pulang ke Indonesia."

Aisha yang baru saja mau menyeruput kopinya langsung menatap Tari heran. "Lho? Tiba-tiba banget? Bukannya bulan depan?"

"Sebenernya... dua hari lalu nyokap telepon. Keluarga di rumah udah nyiapin jodoh buat Aku. Acaranya emang sengaja diset pas musim panas ini."

"Tunggu dulu..." Aisha membelalakkan matanya. "Dijodohin? Tari, ini zaman kapan coba? Kamu lagi S2 di Inggris, masa mau langsung pulang gara-gara dijodohin?"

"Awalnya Aku juga kaget, Sha. Tapi pas dikirim profil cowoknya, terus dikasih liat fotonya... ya lumayan sih. Baik, alim, punya usaha sendiri juga. Ya udah, Aku pikir kenapa nggak dicoba aja?"

"Gampang banget luluh cuma gara-gara foto," cerca Aisha sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Bukan gitu, sha!" Tari membela diri seraya tertawa.

"Pikirin sisi baiknya, Sha. Kalau nanti Aku balik ke sini lagi buat kelarin S2, udah ada suami yang nemanin. Mau jalan-jalan ada yang bantu bawain koper, keluar malem ada mahramnya. Nggak pusing lagi."

"Alasan Kamu ada-ada aja. Lagian mau bawa koper ya tinggal bawa sendiri, atau bayar porter. Kenapa harus repot-repot nikah cuma gara-gara koper?"

"Yee, dibilangin juga!" Tari menepuk lengan Aisha pelan. "Kamu tuh harusnya mikir gitu juga, Sha. Mumpung pulang dua minggu, coba cari calon. Biar pas balik kerja ke sini ada yang ngejagain Kamu. Biar ada mahramnya."

Aisha langsung tertawa terbahak-bahak hingga bahunya berguncang.

"Boro-boro mau nikah, Tar! Pacar aja Aku nggak punya. Belum kepikiran juga mau nikah!" seru Aisha tanpa beban.

"Ya makanya pas pulang nanti buka hati!"

"Kamu pikir nyari suami kayak nyari variabel Y dalam persamaan linear? Tinggal substitusi langsung ketemu? Ya nggak gampang lah!"

"Lagian cowok yang naksir Kamu kan banyak, Sha. Kamu-nya aja yang pilih-pilih."

"Bukan pilih-pilih, tapi standar Aku emang jelas," sahut Aisha santai sambil membetulkan posisi duduknya.

"Lagian yang deketin Aku selama ini banyak anomalinya. Diawal doang keliatan baik. Ada yang ngajak taaruf tapi dia juga jalan sama yang lain, ada juga yang sok gaya tapi pas bayar kopi malah aku yang suruh bayarin. Malas kan? Daripada gitu, mending sendiri aja."

Tari menyemburkan tawa. "Ya ampun, Sha... mana ada cowok yang sempurna seratus persen?"

"Ya memang nggak ada, Tar. Tapi setidaknya yang benar gitu. Karna belum ada yang pas, ya mending Aku fokus kerja dulu, Tar."

"Terserah Kamu deh. Tapi beneran Kamu cuma dua minggu di Indonesia?"

"Iya, Tar. Minta cuti lebih nanti disuruh resign lagi biar bisa cuti terus." Jelas Aisha sambil tertawa.

"Udah kasih tahu orang tua, kalau mau pulang minggu depan?"

"Nggak, Tar. Aku mau kasih mereka kejutan."

"Niatnya ngasih kejutan, ntar malah Kamu yang dapet kejutan disuruh nikah duluan baru tau rasa," goda Tari.

"Nggak mungkin," balas Aisha percaya diri. "Di rumah kan masih ada Kakak Aku. Nunggu dia dulu...baru aku."

Tari hanya bisa menggeleng melihat kelakuan sahabatnya.

"Ya udah terserah Kamu," ujar Tari pasrah. "Tapi inget omongan Aku ya, Sha. Kadang takdir tuh suka bercanda. Niat Kamu mau ngasih kejutan ke orang rumah, siapa tahu pas sampai malah ada kejadian luar biasa."

Aisha terkekeh santai. "Ngaco Kamu. Takdir boleh bercanda, tapi tidak sebercanda itu juga. Mana ada ceritanya orang pulang buat mudik syantik, tiba-tiba mendadak nikah di rumah? Nggak masuk akal banget, Tari. Emang bisa calonnya main comot aja?"

"Ya kan namanya kemungkinan..."

"Kemungkinannya kecil banget, hampir nol persen!" sahut Aisha.

"Iya...iya deh, Aisha..."

**

Di tempat lain, seorang laki-laki berpakaian rapi tengah berdiri menanti di depan gerbang sebuah sekolah. Tatapannya tertuju pada kerumunan anak-anak yang mulai berhamburan keluar.

"Pa...!" panggil seorang anak laki-laki sambil berlari kecil menghampirinya.

Pria itu tersenyum lembut, lalu berlutut merapikan tas punggung sang anak. "Gimana sekolahnya hari ini, aman?"

"A..man... Pa," sahut anak itu polos.

"Oke, pintar. Sekarang kita langsung pulang, ya. Kakek sudah menunggu di rumah."

Anak itu mengangguk patuh. Pria itu membukakan pintu mobil, memastikan sang anak duduk dengan nyaman sebelum melaju membelah jalanan kota.

Tak lama kemudian, mobil hitam itu memasuki kawasan perumahan mewah dan berhenti tepat di halaman sebuah rumah megah. Setelah mematikan mesin, pria itu menggandeng tangan sang anak melangkah masuk.

"Assalamualaikum, Pa," sapanya pada seorang pria paruh baya yang sedang membaca majalah di sofa ruang tamu.

"Wa'alaikumsalam..." jawab pria paruh baya itu hangat.

"Kek...!"

"Devan..." Pria paruh baya itu merentangkan tangan, menyambut cucunya dalam pelukan lalu mengecup puncak kepalanya gemas.

"Gimana sekolahnya tadi, Nak?"

"A..man... Kek. De...van... se...nang," jawab Devan terbata-bata.

"Alhamdulillah... Kakek ikut senang mendengarnya," bisik sang kakek lembut.

"Oke..., sekarang tukar baju dulu. Nanti kita makan siang sama-sama."

Devan mengangguk cepat. Berjalan ke kamarnya.

"Hari pertama di sekolah baru kelihatan berjalan lancar, Pa. Devan nggak rewel sama sekali." Ucap Zavran sambil berjalan mendekati pria paruh baya itu.

"Syukurlah. Papa sempat khawatir dia belum bisa beradaptasi. Tapi melihat senyumnya tadi, rasanya semua kekhawatiran Papa langsung hilang."

"Iya, Pa. Dokter juga bilang interaksi dengan teman sebayanya bakal sangat membantu perkembangan bicara Devan,"

Sang kakek memajukan duduknya, menatap putranya dengan raut wajah yang mendadak serius.

"Lalu... bagaimana dengan urusanmu, Zav? Apakah Bella bersedia melanjutkan ke jenjang lebih serius"

Pria itu menghentikan langkahnya menuju tangga, terdiam sejenak sebelum menoleh kembali ke arah ayahnya.

"Nanti aku akan cerita, Pa. Aku istirahat dulu, ya" Ucap Zavran dengan wajah lesu. Ia melanjutkan langkahnya menuju kamar di lantai atas.

1
Rian Moontero
mampiir👍
Rizza: Makasih udh mampir Kak🙏 semoga suka ceritanya😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!