Indonesia
NovelToon NovelToon
Badai Kembali Datang

Badai Kembali Datang

Status: tamat
Genre:Teen / Tamat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Hana Fujiwara

Rena baru saja kembali dari Jepang, dia memutuskan untuk kembali tinggal bersama Kakak laki- lakinya di Indonesia. Namun, kepulangannya ternyata membawa beberapa masalah bagi dirinya juga orang disekitarnya. Dia jadi tahu masalah apa yang menimpa sang kakak sampai merubah sikapnya.

Selanjutnya datang pula seseorang yang menurut Rena mengganggu hidupnya, tapi ternyata orang tersebut memiliki filosofi tersendiri dalam hidupnya. Seketika orang tersebut perlahan mengubah kehidupan Rena.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Fujiwara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10

Hari ini adalah hari libur sekolah. Rena memutuskan untuk jalan- jalan seorang diri. Dia sudah cukup berani untuk berkeliling kota ini sendirian. Rena berjalan tanpa tujuan, dia hanya mengikuti kemana kakinya ingin melangkah. Setelah agak siang, Rena sampai di sebuah pemukiman yang belum pernah dikunjunginya. Pemukiman ini terlihat rapi dan bersih, banyak pohon yang tumbuh di pinggir jalan. Suasana jalan juga nampak sepi, tidak banyak orang yang keluar rumah. Tiba- tiba dari belakang ada sebuah motor melaju kencang, orang yang mengendarai motor itu menekan klakson untuk memberitahu agar Rena minggir. Spontan Rena minggir dan kakinya masuk ke selokan. Motor tersebut berhenti tidak jauh dari tempat Rena berada dan berbalik menghampiri Rena. Rena bangun dan membersihkan kakinya yang belepotan lumpur.

“Lo nggak apa- apa?” Tanya orang itu.

“Nggak apa- apa kok.”

“Sorry ya, kaki lo jadi kotor gitu.” Kata orang itu merasa bersalah. “Gimana kalau sebagai permintaan maaf gue, kaki lo dibersihin dulu di rumah gue.” Tawar orang itu. Rena menatap orang itu dengan pandangan curiga, karena dia belum mengenal orang itu.

“Rumah gue deket kok dari sini, udah kelihatan malah. Itu yang pagar warna putih.” Tunjuk orang itu.

Rena menoleh dan melihat sebuah rumah yang paling besar diantara rumah- rumah yang lainnya itu. Tapi, Rena masih belum percaya begitu saja.

“Lo masih curiga? Gue tulus mau nolong lo. Dari pada lo pulang dengan kaki penuh lumpur gini.”

“Hhhh, ya udah deh.” Jawab Rena pada akhirnya.

Rena dan orang itu pun bersama menuju sebuah rumah yang halamannya cukup luas. Di depan garasi rumah itu terparkir sebuah cagiva merah dan yang sedang dikendarai orang ini cagiva berwarna hitam. Rena mengernyitkan dahinya, karena dia merasa mengenal cagiva merah itu. Setelah orang itu memarkir motornya tepat di samping motor merah itu, dia menuntun Rena untuk masuk ke dalam.

“Harus ke dalam ya? Nanti rumah lo tambah kotor lagi.” Tanya Rena.

“Nggak lah, tuh kamar mandinya di situ.” Tunjuk orang itu.

Rena pun berjalan menuju kamar mandi itu, dia langsung masuk dan menutup pintu kamar mandi. Dia merutuk dalam hati, karena sangat ceroboh. Mau saja diajak seseorang yang bahkan tidak dikenal kerumahnya. Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar mandi, padahal Rena baru saja masuk.

‘Belum juga bersih.’ Batin Rena.

Rena mempercepat membersihkan kakinya. Ketukan pintu bertambah keras, sepertinya orang di luar itu sangat tidak sabar. Dengan kesal Rena membuka pintu itu kasar, tapi seketika matanya mmebulat melihat siapa yang sedari tadi mengetuk pintu kamar mandi. Dan orang didepannya juga tak kalah terkejut.

“Tara?” gumam Rena.

“Lo kok bisa disini?” Tanya Tara dingin. Mendengar ucapan Tara yang dingin, Rena menundukkan kepalanya.

“Anu… tadi…”

“Kalian udah saling kenal ya?” Tanya seseorang yang tiba- tiba muncul.

“Rendi.” Desis Tara. “Jadi lo yang bawa dia kesini?”

“Tadi gue nggak sengaja hampir nabrak dia.” Jelas Rendi.

Tara tidak memperdulikan penjelasan Rendi, dia langsung masuk ke kamar mandi. Rendi hanya menggelengkan kepalanya melihat perilaku Tara. Rendi mengajak Rena ke ruang tamu, disana ada seorang wanita yang berumur kurang lebih empat puluh tahunan. Melihat Rena, wanita itu tersenyum padanya.

“Temannya Rendi ya? Siapa namanya?” Tanya wanita itu ramah.

“Iya ya, kita belum kenalan. Kenalin gue Rendi, nama lo siapa?”

“Rena.” Jawab Rena canggung.

“Oh, Rena. Silahkan duduk, tadi Rendi sudah cerita semuanya. Pasti kamu masih kaget. Mau minum apa?”

“Ehm, nggak usah repot- repot Tante. Saya hanya sebentar.”

“Udah nggak apa- apa, sebentar ya?”

Rena hanya menggaruk tengkuknya. Sebenarnya ini apa? Kenapa ada Tara dan Rendi? Ada apa sebenarnya? Semuanya berputar di kepala Rena. Tara keluar dari kamar mandi dengan handuk dilehernya dan tanpa menyapa, dia langsung masuk kekamarnya.

“Sorry ya? Kelakuan Adek gue emang kayak gitu, harap dimaklumi.” Kata Rendi merasa tidak enak.

“Tara Adek lo?” kaget Rena.

“Iya. Lo kenal?”

“Iya. Kita satu sekolah” Jawab Rena.

Rena tidak percaya sekarang berada di rumah Tara. Dunia ini memang sempit. Rena sudah terlalu jauh mencari tahu tentang sosok Tara. Padahal misi utamanya mencari rahasia terbesar Ana, sekarang misi itu seakan bercabang.

“Silahkan di minum dulu.” Kata Tante Hani – nama Mama Tara dan Rendi – dan meletakkan secangkir teh hangat diatas meja

“Terima kasih, Tante. Maaf jadi merepotkan.” Jawab Rena merasa tidak enak. Tante Hani hanya tersenyum, dia duduk di sebelah Rendi.

“Tidak merepotkan kok, Tante malah senang kedatangan tamu.”

“Ternyata Rena ini teman sekolah Tara, Ma.”

“Oh ya? Kamu orang pertama yang datang kesini. Dunia memang sempit ya?”

‘Iya, sempit banget. Setelah ini akan ada apa lagi?’ batin Rena dan dipaksakannya seulas senyum.

Namun, Rena kembali memikirkan bahwa dia orang pertama yang mengetahui rumah Tara. Berarti selama ini Tara memang menyembunyikan identitasnya, sama seperti Ade. Rendi bangkit dari duduknya, dia membiarkan Mamanya mengobrol dengan Rena.

“Ayo di minum, nanti dingin.”

Rena pun menyesap teh hijau itu, seketika badannya kembali pulih. Rena memang sangat menyukai teh, karena membuatnya tenang dan nyaman.

“Sepertinya kamu bukan asli dari Indonesia ya? Gaya bahasa kamu juga sedikit asing?” Tanya Tante Hani.

“Iya, Papa asli Jepang. Memang saya masih belum terlalu terbiasa berbahasa Indonesia.”

Tante Hani membulatkan matanya terlihat sangat terkejut juga takjub.

Akhirnya mereka berdua pun terlibat obrolan yang menarik. Rena banyak mengetahui tentang kehidupan Tara, dia menyimpulkan bahwa antara Tara dan Ade mempunyai sedikit kesamaan. Tadinya Rena memang tidak ingin berlama- lama di rumah Tara, tapi kini dia mulai betah. Dia menyukai karakter keibuan Tante Hani, dia mirip dengan Mamanya.

“Ehm, Tante saya pulang dulu. Sudah siang, takut orang di rumah mencari.” Pamit Rena.

Terlihat raut wajah Tante Hani sedikit kecewa, karena dia sudah menganggap Rena anaknya. Walaupun  baru saja bertemu beberapa jam yang lalu. Tante Hani juga dulu sangat mendambakan mempunyai seorang anak perempuan.

“Sebenarnya Tante masih ingin cerita banyak ke kamu. Tapi membuat orang khawatir juga tidak baik.” Kata Tante Hani menghela nafas. “Kapan- kapan kalau ada waktu main kesini lagi ya?”

“Boleh, Tan?”

“Iya, anggap saja rumah kamu sendiri. Dan anggap Rendi sebagai Kakak kamu.”

“Kamu nggak makan siang dulu? Bibi sudah menyiapkan makan siang di meja.”

“Rena makan di rumah saja.”

Rena hanya tersenyum karena mendapat perlakuan yang istimewa. Namun, Rena melupakan seseorang dan orang itu sudah berdiri di depan tangga. Tara memainkan kunci motornya, sepertinya hendak pergi.

“Tara, tolong antar Rena pulang ya?” pinta Tante Hani. Tara menghentikan langkahnya dan menatap kedua orang didepannya ini. Pandangannya seolah mengatakan. ‘Nggak mau. Pulang aja sendiri.’

“Masa’ kamu tega melihat perempuan pulang seorang diri?”

“Hhh, iya iya.” Kata Tara pada akhirnya. Tara langsung keluar rumah. Rena sekali lagi pamit pada Tante Hani.

🍂🍂🍂

Seperti biasa Tara mengemudikan motornya layaknya di arena balap. Dan Rena sudah kebal dengan kecepatan motor yang akan membuat para polisi gatal. Namun, Rena menemukan sesuatu yang ganjil. Rena tidak mengenal jalan yang dilalui Tara saat ini. Ini bukan jalan menuju ke rumahnya. Benar saja mereka berdua berhenti di sebuah bangunan yang dari luar terlihat sangat sepi. Rena tahu tempat ini, karena beberapa waktu lalu dia selalu menguntit Tara sampai tempat ini.

“Ngapain kesini?” Tanya Rena.

“Turun!” bukannya menjawab, Tara malah memerintah Rena.

Rena memasang wajah tidak suka, tapi dia juga menuruti perintah Tara. Tanpa berkata apapun Tara masuk ke dalam panti tersebut, Rena mengikutinya dari belakang. Mereka berdua di sambut seorang wanita yang waktu itu pernah Rena lihat. Tara menyalami wanita itu. Rena seperti menemukan sisi lain Tara yang berbeda.

“Ini siapa, Tar?” Tanya Bunda.

“Ini temen Tara, namanya Rena. Katanya dia pengen ketemu sama anak- anak.”

Rena membulatkan matanya, karena bahkan dia tidak tahu mengapa dirinya di bawa kesini. Dan sekarang dengan seenaknya Tara mengatakan bahwa Rena ingin bertemu anak- anak.

“Kalau begitu ayo masuk! Anak- anak sedang di ruang makan, mereka makan siang bersama.”

Tara, Rena, dan Bunda pun berjalan bersama menuju ruang makan.

Saat sampai para penghuni ruang makan itu langsung menoleh untuk melihat siapa yang datang. Seketika mata mereka berbinar melihat seseorang diantara tiga orang itu. Mereka pun meninggalkan piring mereka dan segera berlari menghampiri Tara. Pintu pun penuh sesak oleh anak- anak yang menubruk tubuh Tara.

“Kak Tara dia siapa?” Tanya salah seorang anak laki- laki gendut, melihat anak itu bicara rasanya Rena ingin mencubit kedua pipi anak itu.

“Kalian kenalan sendiri aja ya? Tenang aja dia nggak gigit kok.” Jawab Tara terlihat sangat ramah pada mereka, tapi tetap saja membuat Rena naik darah.

“Nama Kakak siapa? Kakak kok cantik? Rumah Kakak dimana?” itulah sebagian pertanyaan yang dilontarkan anak- anak.

“Hari ini masak apa, Bun?” Tanya Tara dan langsung masuk untuk melihat menu apa yang di masak hari ini. Rena menatap Tara sebal, karena dia tidak bertanggung jawab. Bunda hanya tersenyum melihat perlakuan Tara.

“Dilanjutkan makan kalian, setelah ini tidur siang. Ayo, Nak Rena ikut makan juga.” Ajak Bunda super duper ramah. Rena merasa beruntung hidup diantara orang- orang yang ramah.

“Ayo, Kak. Makan bersama, hari ini Bunda masak enak banget.” Ajak anak- anak itu dan menarik- narik tangan Rena. Rena hanya menurut dan tersenyum ramah. Dia sangat menyukai anak kecil.

Selesai makan anak- anak itu tidak mau di suruh tidur siang, karena mereka ingin bermain dengan Rena. Rena pun dengan senang hati menuruti permintaan mereka. Agar mereka tidak hanya bermain sia- sia, Rena sedikit mengajarkan mereka bahasa Jepang. Ekspresi anak- anak itu saat mengucapkan kata- kata dalam bahasa Jepang sangat lucu, membuat tawa Rena meledak seketika.

“Tumben kamu bawa teman kesini?” Tanya Bunda.

Bunda dan Tara sedang berada di kantor. Sedari tadi Tara terus memperhatikan ekspresi anak- anak yang terlihat sangat bahagia, tak sadar Tara juga ikut tersenyum.

“Dia Adik dari orang yang menabrak Melodi.” Jawab Tara tanpa menoleh, pandangannya terus mengarah keluar jendela. Bunda terkejut, dia ikut memperhatikan keluar jendela.

“Kamu belum bisa memaafkan orang itu?”

“Tara belum sepenuhnya memaafkan orang itu.”

“Apa dengan begitu Melodi akan bahagia di alam sana?”

Tara terdiam dan termenung memikirkan perkataan Bunda. Perkataan Bunda itu ada benarnya juga, tapi tetap saja Tara adalah seorang yang keras kepala.

“Jangan bilang kalau kamu ingin membalas dendam lewat Rena.” Ucap Bunda lagi.

Membuat Tara seketika menoleh, Bunda tahu persis apa yang sedang dipikirkannya. Tara kembali memandang keluar jendela, melihat tawa anak- anak, dan juga tawa Rena.

Tara bangkit dari duduknya dan berjalan keluar. Bunda sudah tahu apa yang terjadi, sekarang suasana hati Tara berubah sejak pembicaraan tadi. Bunda sama sekali tidak bermaksud menyinggung tentang Melodi.

“Tara mau nganter Rena pulang dulu.” Kata Tara dan berjalan menghampiri Rena. Bunda hanya melihat dari ruangannya tanpa berniat untuk menghampiri mereka.

“Ayo pulang!” ajak Tara. Serentak mereka menoleh kearah Tara.

“Yah, Kak Tara kita belum selesai mainnya.” Kata seorang anak perempuan.

“Ini sudah sore, besok kan harus sekolah.” Tara mencoba memberi pengertian pada mereka. Mereka menunjukkan wajah kecewanya, Rena menjadi tak enak.

“Kapan- kapan Kakak pasti main kesini lagi.” Ucap Rena.

“Janji?” koor anak- anak dan mengacungkan kelingkingnya.

“Janji.” Jawab Rena juga mengacungkan kelingkingnya. “Kakak pulang dulu ya?”

Rena melambaikan tangannya kearah anak- anak yang masih berdiri di tempat yang sama, walaupun Rena dan Tara sudah keluar dari panti.

“Gue boleh kesini lagi?” Tanya Rena ceria.

“Terserah.” Jawab Tara cuek.

Rena hanya memutar bola matanya, Tara sudah kembali seperti semula.

🍂🍂🍂

Rena meminta Tara untuk menurunkannya di depan pintu komplek. Dia tidak mau terjadi keributan antara Tara dan Ade, jadi dia memutuskan untuk turun di tempat ini. Tara hanya menurut, dia menurunkan Rena sesuai keinginan Rena sendiri. Rena memeriksa keadaan sekitar, karena bisa saja Ade muncul tiba- tiba. Tapi pada kenyataannya suasana disini begitu sepi, Rena menghala nafasnya.

“Thank’s buat hari ini. Thank’s juga udah ijinin gue main lagi sama mereka.” Kata Rena tulus dari hati yang paling dalam.

“Gue juga nggak punya hak ngelarang lo.” Jawab Tara.

Dia segera menggas motornya dan meninggalkan komplek perumahan itu. Rena mendengus sebal, dia sudah mati- matian untuk bersikap seperti malaikat sekarang tekanan darahnya kembali naik dan mengharuskannya bersikap seperti iblis. Rena berjalan menuju rumahnya dan sudah dapat ditebak dia akan dicecar beberapa pertanyaan oleh Ade.

1
🤍
Like dulu 👍
HaFu: terima kasih
total 1 replies
Suesant SW
semangat thor
HaFu: Makasih Akak
total 1 replies
Ftl03
Like dari Little Rainbow.. semangat terus Thor.. jgn lupa mampir dan tinggalkan jejak.. mari saling mendukung...
Nurfajrin fajrin
Like
Nurfajrin fajrin
Sudah mampir
Nurfajrin fajrin
Semangat
W⃠🦃𝖆𝖑𝖒𝖊𝖎𝖗𝖆 Rh's😎
lanjut
W⃠🦃𝖆𝖑𝖒𝖊𝖎𝖗𝖆 Rh's😎
aku pasti like
Erlina Khopiani
semangat
Erlina Khopiani
like.
Erlina Khopiani
like
Erlina Khopiani
next
Erlina Khopiani
semangat hana
HaFu: Semangat Kak Er, kenapa baru muncul? Hana raindu
total 1 replies
Erlina Khopiani
like
Erlina Khopiani
semangat up
Erlina Khopiani
like
Erlina Khopiani
semangat
Erlina Khopiani
next
Erlina Khopiani
like
Erlina Khopiani
like up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!