"Kukira saudara, malah menjadi bencana," Tatap Rashieka tajam ke arah Evan dan Andini.
Siapa yang menabur maka bersiaplah untuk menuainya. Baik dan buruk itulah yang harus diterima oleh Evan dan Andini akibat keserakahan dan hawa nafsu yang tak terkontrol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shanaya Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Musibah Membawa Celah
Setelah kejadian itu semua bodyguard dan para pekerja di kediaman Edelmiro diminta untuk semakin memperketat pengawasan dan penjagaan. Tuan Handoko pun turut meminta kepada dokter keluarga untuk bekerja sama.
Awalnya dokter keluarga itu bingung. Lalu ia pun bertanya kepada tuan Handoko.
"Sebenarnya ada apa ini tuan? Tuan meminta saya untuk membuat diagnosa bahwa tuan dan istri serta cucu perempuan tuan mengalami sesak nafas dan gangguan halusinasi. Apakah ini ada kaitannya dengan yang dikatakan oleh pengasuh nona muda?"
"Iya Albert, aku meminta tolong kepadamu untuk bekerja sama dalam hal ini. Karena sepertinya ada tikus yang sedang ingin bermain-main. Aku tidak ingin keluargaku terutama cucu perempuanku mengalami hal mengerikan lagi. Aku berharap selama ia tinggal di sini, dia merasa tenang dan aman. Aku membawanya kemari agar ia dapat memulihkan diri dan juga mengatasi traumanya pasca kecelakaan itu." Ucap tuan Handoko tegas.
"Maksud tuan, ini ada kaitannya dengan tragedi yang terjadi beberapa tahun yang lalu? Apakah juga berkaitan dengan masalah salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan tuan?" tanya Albert dengan wajah kaget dan bingung.
Sambil tersenyum tuan Handoko pun menjawab, "Albert instingmu masih tetap tajam seperti dulu. Aku pun meminta kepadamu untuk mencari tahu dalang dibalik penculikan cucu kesayanganku 3 tahun yang lalu."
Sembari berpikir Albert pun mengangguk. Ia setuju untuk membantu tuan Handoko. Karena berkat tuan Handoko ia bisa menjadi seorang dokter yang hebat seperti saat ini. Albert pun juga memiliki sebuah organisasi yang mumpuni dalam hal menyelidiki apapun.
"Apakah tuan masih ingat yang dulu aku katakan? Bahwa aku menduga ini ada kaitannya dengan saudara tiri laki-laki nona Emeliete?" tanya Albert.
"Albert sepertinya pembicaraan ini akan panjang. Sebaiknya kita segera menuju ke ruang kerjaku saja. Arnold, tolong bantu aku duduk di kursi roda. Bukankah akting ini harus sempurna?" tanya tuan Handoko sambil tersenyum.
Arnold pun segera membawa kursi roda yang sudah disiapkan. Tuan Handoko pun duduk di kursi roda itu. Ia juga memerintahkan Arnold untuk mengawasi di luar ruang kerjanya selagi ia dan dokter Albert berbicara.
"Arnold, tolong kau pastikan ketika aku berbicara dengan Albert, Antonio atau para pekerja tidak ada di lantai 3 Dan tolong kau beritahukan pada semua pekerja bahwa lantai 3 dan lantai 4 diawasi dan dibersihkan oleh pelayan lain. Jika ada yang melanggar, bersiaplah dengan konsekuensinya. Katakan juga ini berlaku untuk semuanya tanpa terkecuali."perintah Handoko.
Arnold yang sedikit terkejut pun mengangguk dan menjawab,"Baiklah tuan, akan segera saya laksanakan."
"Satu lagi Arnold, tolong kau atur agar beberapa orang menyamar untuk mengikuti dan mengawasi kemanapun Antonio pergi. Awasi dia baik disini atau di luar mansion sekalipun. Aku yakin, kita akan menemukan celah yang akan membuat dia tidak berkutik sedikit pun dan hal itu bisa kita gunakan sebagai senjata jika ia terbukti berkhianat." tegas Handoko.
Arnold pun mengangguk kemudian ia keluar dari kamar tuan Handoko. Ketika ia akan menuruni tangga, ia melihat Antonio yang bolak balik dan terlihat sedikit cemas. Arnold pun mengamati dan mendekatinya.
"Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah tugasmu hanya di lantai 1 saja? Kenapa kau bisa berada di lantai 3?" selidik Arnold.
"Aku hanya ingin meminta izin kepada tuan besar untuk mengambil cutiku selama satu minggu," ucapnya.
"Kenapa kau tiba-tiba ingin meminta cuti? Bukankah kau tahu aturannya Antonio, kau harusnya mengajukan cuti 2 hari sebelumnya. Kalau kau mendadak begini, siapa yang akan menggantikan tugasmu?" tanya Arnold bertubi-tubi.
"Aku mendapat telepon dari kedua orang tuaku kalau adikku masuk rumah sakit. Saat ini ia membutuhkan darah tambahan akibat luka yang dideritanya. Sayangnya stok di rumah sakit tidak cukup. Jadi, kedua orang tuaku menghubungi apakah aku bisa kesana sekarang juga. Dan juga dari hasil pemeriksaan pun, dokter mengatakan adikku terkena penyakit leukimia," terang Antonio.
Arnold pun mengangguk dan memerintahkan agar ia menunggu di lantai 1.
"Baiklah akan aku sampaikan kepada tuan Handoko dan kau ikut aku ke lantai 1." ajak Arnold.
Antonio pun mengikuti Arnold. Sesampainya di lantai 1, Arnold meminta ia untuk menunggu. Jika sudah diizinkan maka ia bisa langsung membereskan barang-barangnya dan segera pulang.
Arnold kembali ke lantai 3 dan ia pun kembali mengetuk pintu kamar tuan Handoko.
Tok
Tok
Tok
"Siapa?" tanya Handoko.
"Arnold,tuan. Ada yang ingin saya sampaikan," jawabnya.
"Masuklah Arnold." ucap Handoko.
Arnold pun masuk dan ia mendekati tuannya.
"Ada apa Arnold? Bukankah aku sudah menjelaskan yang harus kau lakukan?" tanya Handoko sembari membaca dokumen yang diberikan oleh dokter Albert.
"Begini tuan, ketika saya akan turun saya bertemu dengan Antonio. Dia ingin meminta cuti selama satu minggu untuk pulang ke kampung halamannya. Karena ia mendapatkan kabar dari kedua orang tuanya bahwa adiknya mengalami kecelakaan dan membutuhkan darah karena adiknya kehilangan darah cukup banyak akibat kecelakaan itu. Lalu, dari hasil pemeriksaan, diketahui adiknya mengidap leukimia. Ia diminta pulang sekarang juga tuan," ucap Arnold.
Handoko pun diam. Lalu ia berpikir, kalau seperti ini, ia bisa meminta agar ada orang yang mengawasi Antonio selama ia cuti. Mungkin saja ada keterlibatan Antonio di semua kejadian ini.
"Baiklah, kau berikan saja cuti itu tapi ingat minta pada orang-orang kita untuk selalu mengawasi gerak-gerik Antonio. Jangan sampai lengah, kalian tahu konsekuensinya, bukan?" ujar Handoko.
"Baiklah tuan, akan saya sampaikan kepadanya. Kalau begitu saya permisi," tutur Arnold seraya membalikkan badan.
"Tunggu, Berikan uang ini kepadanya. Katakan saja semoga ini bisa membantunya," ucap tuan Handoko seraya menyerahkan amplop coklat yang lumayan tebal.
Arnold pun bergegas turun ke lantai 1 dan ia mengatakan bahwa tuan Handoko memberikan Antonio izin selma 1 minggu. Ia juga menyerahkan amplop tadi kepada Antonio.
"Tolong sampaikan terima kasih saya kepada tuan Handoko. Saya akan segera kembali," ucap Antonio.
Setelah Antonio membereskan barangnya, ia pun berpamitan. Bertepatan dengan pamitnya Antonio, Arnold menyuruh beberapa bodyguard dan anak buah dokter Albert untuk mengikuti dan mengawasi Antonio.
Diruang kerja, Handoko dan Albert tengah membicarakan masalah yang terjadi 3 tahun lalu. Dokter Albert pun membeberkan semua bukti yang ia punya.
Handoko pun marah dan menggebrak meja.
"Kurang ajar, siapa yang sudah berani bermain-main denganku? Albert, apakah kau yakin dengan hal ini?" ucap tuan Handoko dengan penuh amarah.
"Ia tuan. Hal ini sudah dipastikan dengan beberapa bukti transaksi yang dilakukan oleh perusahaan itu kepada tuan Hans." jelas Albert.
Sedangkan ditempat lain, Antonio tengah bersiul senang. Ia mendapatkan durian runtuh. Tentu saja, ia bisa leluasa menyusun rencana selanjutnya. Katena ketika berada di mansion, ia tidak terlalu leluasa untuk sekedar mengamati dan mengawasi. Akibat kejadian malam itu, pengawasan di mansion di perketat. Ia merutuki kebodohannya, karena seharusnya ia lakukan hal itu untuk rencana cadangan saja.
"Argghhh, akibat keteledoranku, pengawasan jadi semakin diperketat. Belum lagi sepertinya bodyguard di mansion juga ditambah. Dan banyak wajah baru yang bekerja di mansion, " gumamnya sembari menghisap rokok.
Arnold mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah berkendara kurang lebih 4 jam, ia pun tiba di rumahnya. Ia pun membereskan barang bawaannya, kemudian ia segera bergegas ke rumah sakit menyusul kedua orang tuanya.
Setibanya di rumah sakit, ia pun segera menghampiri ayah dan ibunya yang berada di ruang UGD.
"Ayah, Ibu, bagaimana keadaan Cecil?" tanyanya.
"Adikmu sedang di tangani oleh dokter. Sebentar lagi adikmu akan menjalani operasi." tutur ibunya sembari terisak.
Antonio hanya bisa terduduk lemas. Walau bagaimanapun, Cecil adalah adik perempuan yang sangat ia sayangi.
"Baiklah bu, tenang saja. Cecil akan baik-baik saja. Kita berdoa semoga ia bisa melewati ini semua." ucapnya seraya memeluk ibunya.
Tak terasa sudah 4 hari Antonio hanya bolak balik rumah dan rumah sakit. Belum ada pergerakan mencurigakan darinya.
Orang-orang yang ditugaskan mengawasi pun, tetap fokus dan berusaha untuk tidak lengah. Ditunggu begitu lama, akhirnya Antonio keluar rumah dan mengendarai mobilnya ke arah yang berlawanan dari rumah sakit.
Sepertinya ia akan menemui seseorang. Karena mobil yang dikendarai olehnya mengarah ke wilayah yang cukup sepi.
Tak lame mobil Antonio berhenti tepat di sebuah rumah berwarna cream. Walau tidak begitu besar, namun rumah itu teelihat lumayan untuk dihuni.
Antonio mengetul pintu rumah itu dan bertepatan itu pula muncullah sosok lelaki dengan perawakan lumayan menyeramkan.
Arnold yang kebetulan ikut mengintai hari itu pun sangat terkejut ketika melihat sosok yang membukakan pintu rumah itu.
"Aha, ternyata kamu bersembunyi disini. Kau tidak akan bisa lolos Andrew." ujarnya.
Siapakah Andrew?
Kenapa Arnold terlihat sepeti mendapatkan harta karun di tengah gurun pasir?
Apakah Andrew ini adalah kunci dari semua kejadian atau justru Andrew ini juga "dimanfaatkan" oleh berbagai pihak?
Nantikan di bab selanjutnya teman-teman.
Bila ada saran silahkan kirim di kolom komentar ya. Insya Allah akan saya baca dan kalau memungkinkan akan saya balas satu persatu.
Selamat membaca😍
aku mampir nih🤭
mampir kembali dan ikuti"sepotong sayap patah" dan mari saling mendukung🤗