Kisah seorang pastor yang berteman baik dengan vampir wanita.
Yohanes adalah seorang pastor yang masih tergolong muda namun prestasinya dalam menjalankan misi pada penanganan eksorsisme, tidak dapat diragukan. Perjalanannya dari Vatikan menuju ke sebuah daerah yang terletak di bagian utara Semenanjung Balkan dan berbatasan dengan Laut Hitam, guna menaklukkan iblis yang diramalkan akan turun dari singgasananya untuk mengganggu umat manusia.
Di tengah perjalanannya, Yohanes tak sengaja menemukan sebuah peti tua yang sangat usang telah termakan usia, di dalam sebuah kastel tempatnya meneduh dari hujan badai. Rasa penasaran yang begitu besar, menuntunnya membuka peti tersebut. Betapa dibuat terkejut, dengan apa yang telah dilihatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madame Aynun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11: Vampir Wanita
Bulan tampak sangat terang dan menunjukkan wujudnya yang sempurna. Ini adalah waktu yang sangat dinantikan oleh Yohanes. Dirinya berpatroli keliling desa hanya untuk menemukan keberadaan si vampir wanita.
Sang pastor bersembunyi di balik kandang. Bertaruh, apakah vampir itu akan datang.
Sebentar setelahnya, sang pastor mendapati sesosok yang sedang berjalan sambil mengendap – endap memasuki area kandang. Yohanes tidak diam. Dengan berbekal penerangan seadanya, dirinya berjalan mengikuti vampir wanita itu memasuki kandang.
Dari jaraknya yang tidak cukup dekat, Yohanes sedang memperhatikan vampir wanita itu melahap habis seekor domba dengan menghisap darahnya.
Sang pastor mengarahkan penerangannya, setelah dirinya cukup dekat dengan vampir wanita itu. Vampir wanita itu langsung menyadari adanya kilau cahaya. Sontak dirinya langsung berlari, kabur melewati Yohanes.
Awalnya Yohanes tidak menunjukkan reaksi. Sampai akhirnya, dirinya mengejar vampir wanita itu dan berusaha menyamai cepat langkah kakinya.
“Berhenti!!” Teriak sang pastor dan berseru atas nama Tuhan. “Kuperintahkan kau untuk berhenti!!!” Sambungnya.
Vampir wanita itu berlari dengan sangat cepat. Seakan tidak memiliki rasa lelah. Sang pastor yang mengetahui jika vampir wanita itu sedang berlari menuju kastel tua tempatnya bersemayam, langsung menaiki kuda yang sedang terikat di luar.
Tidak peduli harus kehilangan jejaknya, yang terpenting sang pastor sudah mengetahui ke mana si vampir wanita itu pergi. Yohanes memerintahkan kuda jantannya agar berlari lebih cepat lagi.
Sesampainya di sana, sang pastor tidak menemukan keberadaan vampir wanita itu. Apakah dirinya tidak kembali ke kastel. Peti matinya pun kosong.
Sorot mata sang pastor yang mengintai seisi ruang kastel tua itu. Tiba – tiba saja ada yang menyerangnya dari atas. Untung Yohanes segera menyadarinya, sehingga dapat menghindari serangan vampir wanita itu.
Vampir wanita itu mengerang dan meringis menunjukkan gigi taringnya.
Dari belakang tubuhnya, Yohanes mengeluarkan potongan bagian tubuh dari domba yang sempat menjadi mangsa si vampir. Dengan cerdiknya, sang pastor mempergunakan potongan kaki domba yang masih berlumuran darah sebagai alat untuk memancingnya.
Langsung, vampir wanita itu gelap mata tatkala melihat darah itu menetes. Sorot matanya hanya melihat ke mana arah potongan daging itu berada. Yohanes sukses mengalihkan perhatiannya.
Yohanes melempar potongan kaki domba tersebut yang langsung di buru oleh si vampir. Mereka selayaknya seekor singa dengan pawangnya. Hewan buas seketika melunak dan dapat dijinakkan ketika sang pawang memberinya makanan kesukaannya.
Yohanes mendekati si vampir wanita yang tengah sibuk menjilat dan mengoyak potongan kaki domba tersebut.
“Apakah kau sangat lapar?” Tanya sang pastor. Vampir wanita itu seketika berhenti sejenak tanpa menoleh kemudian melanjutkan aktivitas makannya.
Tanpa disadari, telapak tangan Yohanes menjamah puncak kepala vampir wanita itu dan membelainya lembut. Tak disangkanya, ternyata menjinakkan makhluk ini tidaklah sulit. Cukup memancingnya dengan daging hewan ternak, langsung patuh.
“Di kandang ternakku terdapat banyak domba. Aku bisa memberimu lebih, jika kau patuh denganku,” tukasnya.
Aktivitas makannya benar – benar terhenti. Vampir wanita itu menoleh menatap Yohanes dengan tatapannya yang datar. Sepertinya vampir itu dapat memahami dengan jelas perkataan Yohanes. Apakah dirinya dapat mengenali bahasa yang diucapkan?
Si vampir wanita yang mengambil langkangnya maju, mendekati Yohanes. Sang pastor yang langsung mengerjapkan kedua matanya dan mengambil langkahnya ke belakang.
“Sepertinya kau dapat memahami ucapanku…” Pungkasnya. “Kau dapat berbicara?!” Lanjutnya, bertanya.
Sang pastor yang sudah terpojokkan langsung mengeluarkan rosarionya yang diarahkan kepada vampir wanita itu. Langsung, vampir wanita itu mengambil langkahnya mundur, menjauh.
“Jangan takut! Aku tidak akan menyakitimu,” pasalnya.
“Jika kau bisa berbicara, katakan… Siapa namamu?” Tanya Yohanes dengan nada suaranya yang lembut.
Vampir wanita itu memalingkan pandangan matanya dari Yohanes. Sang pastor berjalan mendekat, justru membuat si vampir wanita takut dan berjalan semakin menjauh.
“Tenang… Aku tidak berniat menyerangmu!” Pungkasnya. “Aku hanya ingin berkenalan denganmu,” sambungnya langsung kepada inti pembahasan.
Melihat Yohanes yang sama sekali tidak berusaha melakukan perlawanan, vampir wanita itu semakin jinak dan patuh. Sepertinya, vampir wanita itu bukanlah sesosok yang jahat.
Sang pastor menghela napasnya dan mereka saling bertukar pandang.
“Sekarang kau percaya padaku?” Tanya sang pastor, memastikan apakah vampir wanita itu sudah berada di pihaknya. Vampir wanita itu mengangguk pelan.
“Jadi… Bolehkah aku mengetahui siapa namamu?” Tanya sang pastor lagi. Memancing si vampir wanita apakah dirinya bisu atau sengaja tidak ingin berbicara.
“Li-Lily…” Ucap sang vampir wanita. Akhirnya sang pastor dapat mendengar suara aslinya, walau masih terdengar lirih.
Sang Pastor tersenyum setelahnya memperkenalkan dirinya, “Yohanes. Aku Yohanes. Kau bisa memanggil hanya dengan namaku,” vampir wanita itu tidak lagi menatap tajam penuh dendam terhadap sang pastor. Justru mereka selayaknya seseorang yang baru saja bertemu teman baru.
##########
“Kau sudah mencarinya dengan benar?” Tanya Eugenius kepada Ares.
“Aku sudah berkeliling menelusuri kandang. Jika dia berjaga di sini, seharusnya posisinya tidak jauh dari area ini,” pungkas Ares.
“Kau sudah berkeliling desa untuk mencarinya?” Eugenius mencemaskan keberadaan Yohanes.
Ares menghela napasnya setelahnya berkata, “Sudah, namun nihil.”
Hari sudah hampir menjelang pagi, tapi Yohanes masih belum kembali. Terlebih, Ares kehilangan kuda jantannya yang entah ke mana.
“Sebaiknya kita cari keberadaannya sampai ke desa seberang,” saran Eugenius.
Ares menggeleng seraya berkata, “Aku kehilangan kudaku. Hanya tersisa kereta tanpa kuda.”
“Bagaimana kau bisa kehilangannya?!”
“Seharusnya aku tidak lalai dengan mengikatnya di luar kandang.”
Setelah kejadian yang menimpa Yohanes, beberapa hari ini dirinya harus menginap di kediaman Eugenius yang lokasinya berada tepat di belakang biara. Hanya beberapa meter dari kediaman Ares.
Kehadiran Yohanes menjadi hal yang dinantikan. Ketika tidak mendapatkan kepulangannya, rasa cemas yang selalu menyerang Eugenius dan Ares yang ditugaskan untuk menjaganya.
“Seharusnya aku tidak membiarkanmu berjaga sendirian…” Monolog Ares dalam sesalnya.
Dari kejauhan, Ares yang dengan sangat jelas mengenali suara kuda jantannya meringkik dan melenting. Tidak salah lagi, sesosok yang tengah menunggangi kuda jantannya itu adalah Yohanes.
“Pater… Dia di sana!” Seru Ares. Langsung, Eugenius melihat ke arah sosok yang di tunjuk oleh Ares.
Semakin lama kuda itu terus berlari mendekat dan kemudian berhenti tepat di hadapan Ares dan Eugenius.
“Dari mana saja kau... Sejak tadi kami mencarimu…” Tutur Eugenius.
“Bukankah aku sudah bilang jika aku akan berjaga. Berjaga tidak hanya berdiam diri, tetapi aku juga harus berkeliling desa, untuk memastikan kandang mereka semua aman,” jelas Yohanes.
“Hanya berkeliling desa, tidak harus menunggangi kuda. Apakah kau sampai menuju ke perbatasan?” Tanya Eugenius.
“Ya,” balasnya langsung. Yohanes tidak ingin berbohong.
“Aku segera mencarimu setelah menemukan salah satu domba mati. Persis seperti kejadian beberapa waktu lalu,” kata Ares.
“Aku yang lebih dulu mengetahuinya. Dan… Aku melihat langsung pelakunya.”
“Kau menangkap binatang buas yang sudah memangsa domba kita, kak?!” Tanya Ares penasaran.
Yohanes mengangguk, “Bahkan aku sudah menjinakkannya. Mulai sekarang, sudah tidak ada lagi musibah yang akan mengorbankan kandang para peternak.”
Yohanes meyakinkan Ares dan Eugenius, bahwa dirinya telah berhasil menyelesaikan satu permasalahan di desa ini. Padahal, masalah ini tidak sepenuhnya selesai. Mungkin telah ada kesepakatan antara Yohanes dengan si vampir wanita itu.