Sepuluh tahun yang lalu, Husan dan keluarganya yang merupakan anggota keluarga Kerajaan Cratera, melarikan diri menuju dunia permukaan.
Di dunia permukaan, Husan sekeluarga hidup sebagai orang biasa dan menyembunyikan identitas asli mereka. Hingga suatu saat, militer dunia permukaan menangkap Husan untuk menguasai kekuatan besar yang ada dalam diri Husan. Insiden itu diketahui oleh Kerajaan Cratera, yang kemudian membawa ibu, adik dan paman Husan ke Cratera.
Setelah Husan berhasil melarikan diri dari pangkalan militer, ia kembali ke Cratera untuk membebaskan keluarganya. Bersama sahabatnya, ia bertualang di Cratera yang juga akan mengungkap alasan mengapa Kerajaan Cratera sangat menginginkan Husan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WN. Nirwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemunculan Turan
Meskipun sepuluh tahun sebelumnya Shavkat hanyalah seorang pekerja biasa di tempat asalnya, ia juga tahu cara berkelahi satu lawan satu. Oleh sebab itu, ia berani menyerang Putra dengan berbagai combo yang sangat ia
kuasai karena sudah ia pelajari sejak remaja.
Namun, di sisi lain, Putra juga bukan orang biasa yang gentar menghadapi serangan ala petarung MMA itu. Putra berkelit. Ia berpindah dengan sangat cepat ke sisi kiri Shavkat, lalu menendang kaki pria itu. Hasilnya, Shavkat tersungkur di tanah.
Sebelum Shavkat bangkit, Putra menahan tubuh lawannya hingga wajahnya tetap menghadap tanah. Putra menarik kedua tangan Shavkat ke belakang dan memutarnya hingga Shavkat berteriak kesakitan.
Meski masih menggendong Kaisha di punggungnya, Olesha mendekat untuk membantu adiknya. Namun usahanya
gagal. Sebab, sebuah sepakan keras di dagunya membuat Olesha terjungkal. Kaisha pun terlempar dari gendongan Olesha.
Rahang Olesha terasa sakit dan gigirnya bergemeretak. Kepala ibu Husan itu pusing karena tendangan dari samping tersebut. Selain itu, kepalanya juga berdarah karena terantuk batu. Namun kekerasan hatinya membuat Olesha berusaha melihat penyerangnya.
Meskipun keadaan cukup gelap, Olesha akhirnya dapat melihat penyerangnya tersebut. Sosok yang menendangnya tersebut adalah seseorang dengan tatapan yang tajam laksana elang. Namun, yang membuat Olesha tersentak adalah saat si penyerang berkata pada pria yang mengalahkan Shavkat.
“Sudah cukup main-mainnya. Sekarang, bawa mereka pergi dari sini!”
Suara berat itu adalah suara seorang wanita. Olesha sangat terkejut karena seorang wanita bisa menendang sekuat itu. Ia hanya tidak tahu bahwa wanita yang melumpuhkannya dengan satu kali serangan itu adalah Arma, seorang jenderal militer dunia permukaan.
Namun yang lebih mengejutkan lagi, dari balik semak belukar di tanah kosong tersebut, tiba-tiba muncul manusia-manusia berseragam yang tubuhnya disamarkan dengan ranting-ranting dan dedaunan. Mereka berjumlah enam orang dan masing-masing membawa senapan serta mengenakan night-vision goggle. Entah sejak kapan mereka bersembunyi dan menunggu di sana di dalam kegelapan malam.
Olesha dan Shavkat terbelalak melihat keberadaan orang-orang tersebut. Militer dunia permukaan! Rupanya, setelah berhasil menangkap Husan, mereka kembali untuk menangkap anggota keluarga yang lain.
Setelah membersihkan diri dari samaran, para penembak jitu tersebut memegangi Shavkat dan Olesha yang
sudah diborgol oleh Putra. Kaisha sendiri digendong oleh Putra.
Tak lama kemudian, dua buah mobil menghampiri. Shavkat dan Olesha dipaksa memasuki mobil yang sama.
Sementara Kaisha dibawa dengan menggunakan mobil yang lain.
“Kuharap dengan membawa keluarganya, anak nakal itu akan patuh sepenuhnya pada kita,” gumam Putra sambil meletakkan tubuh Kaisha di jok.
“Mereka bertiga lebih berguna daripada sebagai alat untuk menekan anak itu,” sahut Arma seraya mendudukkan diri di jok penumpang.
“Ibu punya rencana lain?” tanya Putra, menempatkan dirinya di belakang kemudi. Ia menoleh ke belakang, memastikan gadis remaja yang diculiknya masih tak sadarkan diri.
“Rencana apa? Apa yang kalian rencanakan pada Putri Kaisha?” sela seorang pria dari luar mobil mereka.
Baik Arma mau pun Putra terkejut dan menoleh ke asal suara tersebut. Sebagai tentara terlatih, mereka tidak mendengar langkah kaki mau pun merasakan keberadaan pemilik suara itu sebelumnya.
Namun kini, Arma dan Putra melihat seorang pemuda berambut hitam dan panjang sedang berdiri di depan mobil. Pemuda sebaya Putra itu menatap tajam dan tampak memegang senjata yang terlihat lebih besar dan lebih kompleks daripada senjata asing yang mereka sita.
Putra bergegas turun dengan membawa senjata yang mereka sita. Ia mencoba menembakkannya pada pemuda
asing yang tampak berbahaya tersebut, namun gagal. Senjata itu tidak mengeluarkan sinar apapun.
“Primitif! Kau bukan pemilik qillich itu, jadi kau tidak akan bisa menggunakannya,” ejek pemuda asing tersebut.
Putra tersentak. Ternyata senjata itu memiliki pengamanan yang sangat canggih. Namun, sekarang bukan saatnya untuk mengagumi kehebatan teknologi asing. Putra harus menggunakan cara lain. Ia pun mengeluarkan pistolnya.
Putra menodongkan pistolnya dan berkata, “terima kasih untuk informasinya. Kau pun menggunakan senjata yang mirip. Itu artinya, kau juga lemah dan tidak kebal peluru, bukan?”
“Sebelum kau menembakku dengan senjata primitif itu, lebih baik kau perhatikan sekelilingmu dulu,” balas pemuda asing tersebut, masih dengan nada mengejek.
Putra tetap memusatkan perhatian pada lawan yang tampaknya berbahaya tersebut. Namun Arma menoleh ke tempat dua mobil lainnya terparkir. Bukan karena ia hendak memastikan bahwa para anak buahnya baik-baik saja, melainkan karena ia menyadari bahwa sesuatu yang menakjubkan sekaligus membahayakan, tengah terjadi.
Pendar kebiruan yang mirip sekali dengan pendar dari tubuh remaja yang mereka tangkap tiga hari sebelumnya, kini hadir di tanah kosong tersebut. Pendar tersebut berasal dari seorang pria berperawakan tinggi dan gagah, yang tengah diincar oleh pasukan penembak jitu yang tengah menanti perintah Putra.
“Tembak!” perintah Putra yang tak mengira bahwa masih ada orang dengan kekuatan super lagi yang harus mereka hadapi. Ia pun menembakkan pelurunya pada pemuda berambut panjang di depannya.
Desing peluru-peluru yang dimuntahkan mengarah ke tubuh pria dengan mata dan seluruh urat tubuh berpendar
kebiruan tersebut, masih terdengar meskipun sudah diredam. Namun sebelum peluru-peluru tersebut menembus tubuhnya, sesuatu yang aneh terjadi.
***
Pangkalan militer dunia permukaan, pada saat yang bersamaan dengan insiden di tanah kosong dekat rumah Anvar.
Bangunan unit penelitian dan pengembangan di pangkalan tersebut bukanlah bangunan terbesar. Bahkan, hingga minggu lalu, tidak dipandang sebagai fasilitas yang penting karena ‘hanya’ meneliti, mengembangkan dan menguji prototipe senjata standar seperti senapan, granat dan lain-lain. Mereka yang bekerja di bawah unit tersebut konon
dilanda kebosanan karena menguji pistol di laboratorium balistik sensasinya berbeda dengan menembakkannya dalam aksi di lapangan.
Namun situasi tersebut berubah dengan cepat saat Jenderal Arma dan orang-orangnya membawa ‘senjata biologis’ untuk diteliti. Seorang pria belasan tahun yang telah mengalahkan para pria yang lebih tua dengan menggunakan sinar serupa laser yang keluar dari jari-jarinya. Dia adalah Husan, namun orang-orang dunia permukaan mengenalnya sebagai Hasan.
Sebagai obyek penelitian yang sangat berbahaya, Husan diperlakukan dengan sangat hati-hati sekaligus kejam.
Setelah para peneliti dibuat terkejut dengan proses penyembuhan diri dan regenerasi dari luka-luka tembak yang dideritanya, Husan kini hanya bisa terbaring dengan tangan dan kaki terbelenggu pada meja operasi.
Selama dua puluh empat jam, remaja itu terus-menerus dibius untuk melemahkannya. Meskipun pembiusan yang diterimanya cukup untuk melumpuhkan seekor gajah, Husan yang sangat kuat tidak kehilangan kesadaran sepenuhnya. Ia masih membuka mata dan mengamati apapun yang dilakukan oleh para peneliti. Mulutnya terkatup rapat, tak mengeluarkan kata sepatahpun meskipun ia diajak bicara.
Pengambilan berbagai sampel yang menyakitkan dan uji coba ketahanan fisik yang menyiksa adalah bagian dari keseharian Husan selama ditahan di pangkalan militer tersebut. Beberapa kali ia nyaris mengaktifkan kekuatannya, namun dapat dicegah dengan meningkatkan dosis obat-obatan yang dimasukkan ke dalam tubuhnya. Para peneliti
sendiri tengah mencari cara mengaktifkan kekuatan Husan tanpa kehilangan kendali atas tubuh remaja korban ambisi orang-orang militer tersebut.
Malam itu Husan lagi-lagi kelelahan usai menjalani berbagai tes yang menyakitkan. Ia memejamkan mata, menyerah pada kekuatan pembiusan terhadap tubuh mudanya. Husan ingin beristirahat sebelum bertempur melawan perlakuan terhadapnya besok.
Melihat Husan yang hendak tidur, para peneliti dan pengawas yang mengamatinya selama dua puluh empat jam,
sedikit mengendurkan kewaspadaannya. Mereka mengira bahwa mereka bisa sedikit lega dan beristirahat sejenak sebelum kembali menyiksa monster belia tersebut. Sayangnya, pemikiran mereka adalah kekeliruan besar.
Bayangan keluarganya tiba-tiba melintas di pelupuk mata Husan. Sensasi aneh pun menjalar di tubuhnya. Aliran energi yang tak asing mengalir perlahan dalam setiap nadinya, memantik energinya yang dipaksa tidur selama ia dijadikan kelinci percobaan.
Husan membuka kedua matanya yang ternyata telah berpendar kebiruan, tanda bahwa ia sudah mengaktifkan kekuatannya lagi.
“Ibu! Kaisha! Paman!” serunya memanggil tiga orang anggota keluarganya.
Husan bangkit dari tidurnya, memutuskan borgol-borgol baja yang membelenggunya. Ia melompat ke lantai dengan tubuh yang sudah berpendar biru di seluruh uratnya.
Cahaya yang dipancarkan oleh Husan kali ini jauh lebih kuat daripada saat Husan menolong Hanif dan ibunya. Para peneliti dan pengawas sadar, monster belia itu sudah bangkit karena alasan yang belum bisa mereka pastikan.
Alarm tanda bahaya berbunyi. Pasukan dikerahkan untuk mengatasi Husan yang kemungkinan akan mengamuk. Persenjataan berat pun disiapkan, karena Husan akan sulit ditaklukkan saat sedang mengaktifkan kekuatannya.
Namun Husan tidak mengamuk. Ia hanya melubangi dinding-dinding bangunan dengan kekuatannya, kemudian berjalan melalui lubang tersebut. Giginya bergemeretak, tangannya mengepal dan otot-otot di sekujur tubuhnya menegang.
“Turan!” seru Husan dengan nada marah di hadapan artileri yang siap menembaknya.