Indonesia
NovelToon NovelToon
Story Of My Life

Story Of My Life

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: A. Uswatun Nisa

Seorang gadis remaja cantik memulai kehidupan sekolah baru di kota. Dia sendirian dan jauh dari orangtuanya demi menimba ilmu. Memulai hidup baru, dia tinggal di asrama sekolah. Bertemu empat gadis eksentrik yang ramah membuatnya betah tinggal di sana.

Suatu hari dia berkenalan dengan seorang kakak kelas unik di sekolah barunya. Lama kelamaan dia mulai nyaman dengan kakak kelas itu. Namun siapa sangka, salah satu sahabatnya ternyata menyukai kakak kelas itu.

Bimbang antara sabahat dan cinta membuat gadis itu menjadi pendiam. Mampukah dia mempertahankan persahabatannya ? Atau dia memilih cinta?

Inilah kisah remaja polos tentang persahabatan dan cinta. Ikuti cerita manis sang gadis menemukan indahnya masa sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. Uswatun Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. New Friend

Pagi harinya, aku dan Chika bangun dalam keadaan lelah tapi juga lega. Kuperhatikan Chika terlihat sangat santai di wajahnya. Kelihatan sekali dia tidur sangat nyenyak malam kemarin. Harusnya aku menyadari keadaannya yang tidak bisa tidur nyenyak beberapa hari terakhir. Aku jadi merasa bersalah karena tidak memperhatikannya.

Aku juga tidak mempercayai ucapannya tentang penguntit yang dia katakan sebelumnya.

"Chika. Maafkan aku ya" kataku saat melihatnya sudah sepenuhnya membuka mata.

"Maaf untuk apa Ochia?" dia balik bertanya.

"Maaf karena tidak mempercayai kata-katamu dan terus meragukannya" jawabku dengan suara sedikit bergetar.

"Apa maksudmu? Yang penting kan tidak terjadi apapun padamu"

"Tapi tetap saja. Padahal kamu sudah memberitahukan padaku, bahkan kamu sampai mengikutiku kemana-mana karena menghawatirkanku. Tapi aku malah tidak mempercayaimu. Maaf" kataku masih merasa bersalah.

"Sudahlah. Tidak apa-apa. Aku juga kadang tidak bisa langsung mempercayai ucapan orang lain" balas Chika.

"Maaf yaa. Dan terimakasih. Berkatmu aku aman. Juga foto-foto yang diambil tanpa izin itu sudah dihapus"

"Iyaa.."

"Tapi, bicara tentang foto. Bukannya kak Friski mengirimkan beberapa foto itu ya. Katanya sebagai bukti atau apalah" kataku mengingat kejadian kemarin.

"Iyaa. Aku tidak tau untuk apa foto-foto itu. Semoga saja dia langsung menghapusnya"

"Tapi gadis kemarin itu sangat berbeda dengan kesan pertamanya" kata Chika mengganti topik pembicaraan.

Aku menatap Chika, "Memang bagaimana kesan pertama gadis kemarin? Memangnya kita pernah bertemu dengannya?" tanyaku.

"Aku pernah melihatnya di klub drama. Tapi aku tidak yakin, karena saat itu rambutnya masih panjang" jawab Chika.

"Benarkah aku tidak tau"

"Itu pertama kali aku melihatnya. Aku melihat orang itu untuk kedua kalinya adalah kemarin. Sebelumnya aku melihat ada orang asing yang selalu mengikuti dan menatapmu dari jauh. Awalnya aku kira laki-laki, karena tidak terlihat jelas. Ternyata seorang gadis yang aku lihat di ruang klub drama" Chika masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.

"Aku bahkan tidak menyadarinya"

"Itu karena kamu terlalu santai. Padahal aku takut setengah mati ada yang akan terjadi padamu. Tapi kamu bahkan menjalani hidup seperti biasa"

"Hehe. Maafkan aku"

"Oh ngomong-ngomong, aku tidak tau kamu sehebat itu dalam melawan penjahat." kataku kagum mengingat kejadian kemarin malam.

"Apa maksudmu dengan penjahat itu? Memangnya kamu engga tau kalau aku sabuk hitam karate?" balasku bertanya.

"Haa?? Kamu sabuk hitam karate? Yang benar? Aku engga tau" jawab Chika heboh.

"Aku naik tingkat sabuk hitam saat awal masuk kelas 9. Jadi sekarang aku mengikuti klub karate untuk meningkatkan tingkat sabukku" balasku bangga.

"Waah. Hebat. Aku iri. Aku pernah ikut karate tapi baru sampai di sabuk putih sudah menyerah" jawab Chika sedih.

"Kamu mau aku ajarin?" tanyaku melihat Chika sedih.

"Beneran?" Chika balik bertanya dengan mata bersemangat.

Aku mengangguk, "Tentu, tapi cara mengajarku sedikit kejam. Kalau kamu mau kita bisa mulai berlatih saat weekend" kataku menyarankan.

"Tentu. Aku akan mengajak yang lain juga" balas Chika setuju.

"Baiklah. Kamu mau mandi sekarang atau nanti?" tanyaku, aku melihat jam di ponsel menunjukkan pukul 06.00.

"Kamu dulu deh. Aku mau lihat postingan teman grub" jawab Chika.

Aku langsung mengambil alat mandi dan masuk ke kamar mandi.

Lima belas menit kemudian aku keluar, dan berganti Chika yang masuk untuk mandi.

Setelah Aku dan Chika selesai bersiap, kami segera berangkat ke sekolah. Aku bertanya di grub asrama apa mereka sudah sarapan. Lina menjawab belum, Freya menjawab sudah, sedangkan Dhira tidak membalas. Aku mengajak Lina sarapan bersama.

Kami menunggu Lina di depan gerbang asrama. Lima menit kemudian Lina datang.

"Mana Dhira?" tanya Chika melihat Lina sendirian.

"Dhira makan di sekolah. Dia udah berangkat" jawab Lina.

Kami lalu langsung menuju ke kantin asrama dan sarapan.

Selesai sarapan kami lanjut berangkat ke sekolah bersama. Lina dan Chika sibuk membicarakan tentang jaket baru.

Drrrtttt, ponselku bergetar.

Aku melihat ada pesan yang masuk. Dari si senior menyebalkan.

'*Chibi, kau dimana?'

'Jalan*'

Drrrtttt...

'*Sendiri?'

'Sama teman-teman*'

Drrrtttt...

'Oh'

Aku speechless membaca pesan dari orang ini. Apa coba maksudnya. Sangat tidak jelas dan random. Aku mengabaikan dan melanjutkan perjalanan.

Sampai di depan pintu gedung kami bertiga berpisah. Aku menuju ke loker ingin menaruh barang, Chika menuju ke kantin membeli air mineral dan Lina langsung ke kelasnya.

"Sampai nanti. Nanti makan siang barengan yaa" kata Lina.

"Okee, byee" balasku.

"Byebye" balas Chika.

Aku membuka lokerku dan menaruh beberapa buku di sana. Tiba-tiba ada benda kotak kecil ditaruh di atas kepalaku. Aku langsung mengambilnya sebelum jatuh dan melihat siapa yang menaruh kotak itu. Orang ini lagi.

"Apa ini?" tanyaku.

"Susu coklat" jawabnya.

"Jadi?"

"? Apa?" tanya orang itu bingung.

"Untuk apa?" Aku balik bertanya.

"Oh. Untukmu" jawabnya.

"Kenapa?" Aku bertanya lagi.

"Kau suka susu coklat kan, minumlah" kata orang itu, aka Si senior menyebalkan lalu berjalan menjauhiku.

Dasar orang aneh.

"Makasih!" aku berteriak.

Dia hanya membuat gestur oke dengan jarinya dan lanjut berjalan.

Aku meminum susu itu. Manis. Aku tak bisa menahan senyumku. Aku lalu berjalan menuju kelas.

Di depan kelas aku bertemu Hilda. Dia bertanya padaku tentang orang yang kata Chika mengikuti dan menatap aneh kearahku. Aku menjelaskan semua padanya. Dia bersyukur karena masalahnya sudah selesai. Jadi dia tidak perlu melaporkan pada pihak Dewan Siswa atau guru.

Kami lalu duduk di tempat masing-masing. Kulihat Leona sedang mengerjakan buku. Akupun mendekatinya,

"Kamu lagi ngapain Leona?" tanyaku.

"Eh?!" dia kaget melihatku. "Oh. Ochia. Ini lagi ngerjain pr, hehe" jawabnya.

"Pr? Kok baru dikerjain? Kamu sibuk lagi?" tanyaku melotot padanya.

"E-Ee. Itu, kemarin aku udah ngerjain tapi ternyata ada yang soalnya salah tulis. Jadi aku kerjain lagi yang soalnya salah" Leona menjelaskan.

"Kok bisa salah sih? Coba lihat"

Leona menunjukkan bukunya padaku. Ada lima soal yang salah tulis.

"Kemarin aku buru-buru mau pulang. Terus tadi pagi pas lihat punya Azzara baru sadar ada yang salah" kata Leona.

"Oh gitu. Udah selesai? Mau dibantuin?" tanyaku menawarkan diri.

"Engga. Udah selesai kok. Tingga satu soal aja" jawabnya.

"Eh ada apa? Ada apa?" Chika ikut mendekat dan bertanya.

"Leona salah nulis soal kemarin. Jadi dia ngerjain pr lagi" jawabku.

"Kok bisa sih" tanya Chika penasaran.

"Dia buru-buru kemarin" jawab Azzara yang sejak tadi diam.

"Yaudah semangat yaa" kataku.

Aku lalu duduk di tempat dudukku. Chika mengikutiku sambil menunjukkan novel baru yang dia dapat. Kami membaca novel menunggu guru masuk.

Sepuluh menit kemudian guru bahasa Inggris datang dan memulai pelajaran. Beliau mengingatkan dua minggu lagi akan diadakan tes akademik. Jadi kami diminta belajar lebih serius.

......................

Waktu istirahat makan siang tiba. Aku dan Chika menunggu Lina di depan kelas. Tak lama kemudian Lina datang bersama Dhira. Kami lalu berjalan bersama menuju kantin sekolah.

Tiba di kantin suasananya seperti biasa, ramai. Kami memutuskan menunggu sedikit sepi untuk memesan.

Ada siswi yang menabrak senior dan membuat senior itu marah besar. Senior itu terkenal karena kegalakan dan kenakalannya. Tidak ada yang berani mendekat untuk menolong gadis itu. Saat si senior nakal itu ingin memukul sang gadis, Ketua dewan datang dan menghentikan. Ketua berbisik pada senior itu membuat senior itu lari menjauh.

Melihat kejadian ini, kesanku pada Ketua Dewan semakin baik. Di saat yang lain acuh dan takut dengan senior nakal itu, dia dengan berani maju ke depan. Aku sendiri ingin menolong tapi aku masih ragu.

"Ketua Dewan itu sangat baik ya" kata Lina.

"Iya. Dia juga ramah kan" balas Dhira.

"Benar. Dia sangat hebat. Karena itu aku semakin mengaguminya" balasku.

"Ochia?!" Seru Chika kaget.

"Kenapa?" Aku bertanya heran.

"Hooo~ Jadi tipemu yang seperti itu ya Ochia~" kata Dhira menggodaku.

"Kyaaa.. Aku baru tau Ochia menyukai ketua dewan" lanjut Lina.

"Apa maksudnya. Aku tidak menyukai ketua"

"Cinta itu datang dari rasa kagum~" Dhira mulai melantur.

"Cinta datang tiba-tiba kepada Ochia~" lanjut Lina.

Astaga orang-orang ini. Degh. Aku merasakan tatapan tajam seseorang di belakangku. Aku menoleh mencari darimana tatapan itu berasal, namun tidak ada yang menatapku. Siapa? Aneh.

Aku menatap Chika yang sejak tadi diam saja. Dia bertingkah aneh. Ada apa dengannya? Oh! Dia pasti juga merasakan tatapan itu.

"Chika. Apa kamu merasa ada yang menatap tajam ke arahku?" Aku bertanya pada Chika.

Chika menatapku sekilas lalu mengalihkan pandangan, "E-engga" jawabnya.

"Beneran?" aku memastikan.

"Iyaa. Sudah. Ayo cepat mengantri makanan" kata Chika lalu berdiri.

Aku mengikuti Chika berdiri dan memesan makanan. Menu hari ini adalah iga pedas. Aku lumayan suka menu hari ini. Aku memesan iga pedas dan tumis kubis. Untuk minum, hari ini aku ingin yang dingin-dingin.

Setelah memesan, kami langsung kembali ke tempat duduk. Kulihat pesanan teman-teman tidak ada yang sama. Chika memesan ayam, Lina memesan cumi, dan Dhira memesan mi.

Kami makan dalam diam. Setelah makan kami mengobrol untuk mencerna makanan.

Tiba-tiba seorang gadis datang mendekati kami. Gadis itu tersendat memanggil namaku, "O-ochia."

Aku menoleh melihat siapa yang memanggilku. Ternyata gadis yang kemarin.

"Iya? Oh kamu yang kemarin. Ayo sini duduk!" kataku sedikit bergeser.

"Oh, umm, ma-makasih" jawabnya terbata-bata.

Chika mendengus melihat gadis itu. Sepertinya Chika masih marah.

"A-anu. Se-sekali lagi, sa-saya ingin mi-minta maaf" kata gadis itu.

"Minta maaf untuk apa?" tanya Lina.

"Oh benar kami belum menceritakan pada kalian. Sebenarnya beberapa hari terakhir ada yang membuntuti kami" jawab Chika.

"Apa!!! Siapa orang itu??? Mencari masalah!!" teriak Dhira marah.

Si gadis tersangka menunduk ketakutan.

"Dhira.." kataku mencoba menenangkan Dhira.

"Ehem. Itu gadis di samping Ochia" jawab Chika.

"Apa?!" teriak Lina dan Dhira bersamaan.

Si gadis tersangka semakin ketakutan.

"Jangan membuatnya takut!!" aku memperingatkan mereka.

"Eh, maaf. Habisnya kami terkejut" balas Lina.

"Kamu mau ngomong apa?" tanyaku pada gadis itu.

"..." gadis itu hanya diam. Dia masih ketakutan.

"Tidak apa-apa. Katakan saja" Aku mencoba membujuknya.

"Ee. A-anu. Se-sebelumnya.. Se-sekali. Se-sekali lagi. sa-saya. saya mau mi-minta maaf." ucap gadis itu tersendat-sendat ketakutan.

"Sudahlah. Aku juga sudah memaafkanmu" balasku.

"Na-nama saya Alora. Da-dari kelas 10-5. Se-sebelumnya saya sudah bilang. Sa-saya ingin me-mengenal Ochiana. Ta-tapi saya takut. Te-teman-teman yang lain ti-tidak ada yang menyukai saya. Ka-karena cara. cara bi-bicara saya yang se-seperti ini"

Aku, Chika, Leona dan Dhira mendengarkan cerita si gadis Alora itu tanpa memotong pembicaraan.

"Me-mereka juga sering me-mengganggu sa-saya. Dan ka-kadang mengejek saya"

"Sa-saat pertama bertemu O-ochia, sa-saya melihatnya me-menolong orang yang di bully ka-karena berkulit hitam. Sa-saya merasa dia o-orang yang baik. La-lalu saya melihat dia di a-acara pembukaan sekolah. Ha-hari itu, sa-saya merasa Ochia sangat keren dan sa-saya ingin de-dekat dengannya"

"Ta-tapi, orang yang berada di-disekeliling Ochia sa-sangat banyak. Sa-saya jadi tidak berani. Sa-saya mencoba me-melihat dia di pagi hari, saat be-berangkat sekolah. La-lalu suatu hari, sa-saya melihat Ochia berada di klub ya-yang sama dengan sa-saya. Saya sangat se-senang"

"Ta-tapi lagi-lagi saya ti-tidak bisa mendekatinya. Sa-saat saya melihat O-ochia mengalahkan para senior be-bermain game, sa-saya semakin kagum pa-padanya. Lama-kelamaan, sa-saya mulai me-mengikuti dan me-memperhatikan semua yang O-ochia lakukan. Sa-saya sungguh me-menyesal. Ma-maafkan saya!!" kata gadis itu mengakhiri ceritanya.

Kami berempat merenung. Dari apa yang kami dengar di awal, Alora ini tidak punya satu temanpun. Dia juga sepertinya sering dibully. Kasihan.

Kulihat Chika meneteskan air matanya. Sepertinya dia sudah memaafkan gadis itu.

"Huaa, sungguh kasihan dirimu" kata Dhira.

"Yang sabar yaa" lanjut Lina.

"Kalau mau, kamu bisa ikut main sama kami. Aku sudah memaafkanmu. Huaaaa" kata Chika sambil mengusap air matanya.

"Benar. Kalau kamu mau kita bisa makan dan main bersama" kataku.

"Ta-tapi.."

"Tidak apa-apa. Kita kan teman" kata Chika.

"Te-teman? tanya Alora bingung.

"Tentu saja. Kita bisa berteman mulai sekarang. Tidak! Mulai sekarang kita teman. Ah terserahlah" kata Lina lalu memeluk Alora.

"Benar. Kalau kamu butuh bantuan kamu bisa minta tolong pada kami" kata Chika.

"Sayang sekali kita berada di kelas yang berbeda" kataku menyayangkan.

"Benar. Tapi tidak apa-apa. Kalau kamu tidak ingin sendiri atau takut sendirian, kamu bisa menghubungi kami." kata Dhira.

"Mana ponselmu"

Lina mulai bertukar kontak dengan Alora. Kemudian Chika, aku dan Dhira juga menambahkan kontak di ponselnya.

"Lihat. Sekarang kontak kami ada di ponselmu. Hubungi kami jika butuh bantuan" kata Lina.

Alora menangis terharu, "Ma-makasih ka-kalian. A-aku tidak pe-pernah punya teman. Ber-beruntungnya aku bi-bisa ber-berteman dengan kalian" kata Alora.

"Tentu saja. Tapi Alora, kulihat-lihat wajahmu itu manis. Kalau di permak sedikit pasti sangat berbeda" kata Dhira melihat-lihat wajah Alora.

"Benar. Kalau kamu mau kamu bisa ikut dengan kami. Kami akan membuatmu menjadi berbeda" lanjut Lina.

"Oh benar! Freya sangat ahli dalam berdandan dan bersikap. Kita bisa menghubunginya untuk meminta bantuan" lanjut Chika.

"Benar benar"

Aku menepuk Alora, "Lihat. Kamu hanya perlu lebih berani. Kami semua bukan orang jahat. Dan kami semua adalah orang yang terbuka untuk orang baru. Jika kamu ingin berteman, kamu hanya perlu mengatakan apa yang kamu inginkan" kataku.

"I-iya. Te-terimakasih Ochiana. A-aku sangat senang" balas Alora.

"Kamu tinggal di asrama atau rumah?" tanya Chika pada Alora.

"Ru-rumahku dekat da-dari sekolah"

"Bagus pulang nanti kamu ikut kami ke asrama" kata Dhira.

"Eh sore hari ada kegiatan Klub" kataku mengingatkan.

"Benar juga. Emm. Besok?" tanya Dhira.

"Ada juga" jawab Lina.

"Bagaiman dong?"

"Kalian tentukan saja hari dimana kalian bebas. Kalian bisa bertemu saat itu" Aku menyarankan.

"Aku bebas hari rabu" kata Chika.

"Aku kamis" balas Lina.

"Aku senin dan Freya selasa" balas Dhira.

"Kamu?"

"A-aku hanya ikut klub ha-hari senin da-dan jum'at" jawab Alora.

"Fiks. Kalian ngga bisa ketemu" kataku pasrah.

"Tidaaakkk!!!" teriak Chika, Dhira dan Lina bersamaan.

"Ugh berisik! Weekend saja" Aku kembali menyarankan.

"Aku mau pulang" kata Lina.

"Kalau gitu kamu ngga usah ikut" kataku enteng.

"Jahat"

"Aku juga tidak ikut kok. Kita impas" balasku.

"Loh, Kamu mau kemana weekend ini? Pulang?" tanya Chika

"Engga sih" jawabku.

Ding. ding.. ding. ding.. ding.. ding... Ding.. ding.. Bel pelajaran berbunyi.

"Baiklah, sabtu kamu datang ke asrama. Kebetulan Freya engga pulang" kata Dhira.

"Ba-baiklah"

Kami lalu membubarkan diri menuju kelas masing-masing. Hari ini kami mendapatkan teman baru. Teman yang sangat pemalu.

......................

Malam hari setelah belajar malam ada telepon masuk di ponselku.

"Ya Hallo.. "

"Chibi.. kau sedang apa?"

"Selesai belajar"

"Kau sangat rajin"

"Ya tentu"

"drrkkk, bruak, bruuk, prang..."

Aku melihat kembali apa panggilan ini masih berlangsung,

"Apa yang sedang kau lakukan?"

"Aku dan Nata sedang nonton anime"

"Oh. anime apa? Aku juga lumayan suka anime"

Aku membaringkan diri di ranjang. Kulihat Chika sedang sibuk dengan ponsel miliknya.

"Aku nonton anime lama, tentang anak yang ingin menjadi pemburu"

"Oh aku tau anime itu. Aku juga nonton"

"Benarkah? Siapa karakter favoritmu?"

"Aku paling suka K"

"Bagusan H lah"

"Apaan H itu kan jahat"

"Tapi kekuatannya keren"

Tanpa sadar aku tertidur mendengar suaranya.

...****************...

1
Arwet Bach
lucu,bikin gemes ceritanya😄
Arwet Bach
akhirnya...cibi...
Arwet Bach
lnjut ya
matcha
next thor semangat
Arwet Bach
Akhirnya...😄
AUN: Makasih ya udah ngedukung karya amatiran ku
total 1 replies
Arwet Bach
cibi yg sabar ya
Arwet Bach
selamat ya cibi
Arwet Bach
cibi...oh cibi bikin gemes
Arwet Bach
happy bgt cibi
Arwet Bach
semangat ya...
Arwet Bach
kereeeeeen
Arwet Bach
lucu,tp menyentuh
C S Rio
Ngakak banget!
LaConstieConsti
Bawa pergi dalam imajinasi. ✨
Akira
Gak sabar nunggu lanjutannya!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!