Mencintai akan di sakiti.
Di cintai akan menyakiti.
Saling mencintai akan tersakiti
Sang anak Athena bersinar bak surya.
Merubah konsonan takdir dunia.
Kekasih takdir yang saling memberontak.
Membuat jurang kebodohan.
Sang anak Athena yang terus merintih sakit.
Yang melihatnya adalah saksi-saksi kekejaman takdir.
Sinopsis: Seorang dara yang masuk ke dalam sebuah novel Dektektif dengan segudang misteri. Namun tidak pernah terpikirkan bahwa dia memiliki peran di bawah pena takdir.
Terbagi menjadi pikiran dan emosi, sang jiwa luntang-luntung mencari jiwa yang asli. Paus yang bertemu putri duyung di pinggir laut lepas, serta sang Dewi yang terus mencari sang dara.
Mengikat janji di bawah lembayung biru bumantara dan berkeliaran di dunia yang menurutnya fiksi. Sang dara yang terus mencari apakah ia pikiran atau emosi, sampai ia mengetahui ekspresinya adalah 'kebohongan'.
—BLUE ROSE—
Tak peduli bahwa ia merubah takdir, takdir tetaplah takdir. Ia tidak akan bisa menebus semua dosanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon olivia junia f., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9: Sang Kekasih Takdir (2).
Homura—Lisa
00:08 ————————————— • ——————01:06
⏭ ▶ ⏮
“**Bagaimana rasanya ketika kau merasa akan gagal?” —Yukijima Athanoe**.
♦♪
Berempat Dektektif sedang menaiki kereta. Semuanya sibuk mendengarkan Akami kecuali Hiro yang sedang makan bento dengan lahap.
Akami membenarkan letak kacamatanya, “Itu dia urutan jalur pelarian nya. Pertama, menjemput tupai lalu pergi ke pelabuhan untuk bergantian dengan Yoriku twins dan Sama-San.” Ucapnya panjang lebar.
Tatapan Akami beralih ke Hiro yang sedang makan, “Oi, kau mendengarku tidak?” tanya Akami kesal.
“Klien kita seorang peretas handal, kan? Namanya tupai? Aku tidak pernah melihatnya, yang ku ketahui adalah dia informan dalam Organisasi.” tanya Hiro dengan mulut penuh makanan. “Mungkin saja dia lelaki kurus dengan kacamata bulatnya?” lanjutnya.
“Kau mengejekku, hah?” tanya Akami dengan tanda kekesalan di pelipisnya. “Lagian kau terlalu banyak nonton film. Peretas tidak hanya orang kurus dengan kacamata, baka.” lanjut Akami.
Noe yang mendengar pertengkaran kecil itu mengalihkan pandangan keluar jendela kereta, “Aku sesekali berkomunikasi dengan tupai untuk mendapatkan informasi namun aku tidak pernah melihatnya langsung.”
“Jadi? Noe-San tidak pernah lihat wajahnya?” tanya Hashira.
Noe menggeleng pelan, “Tidak pernah, namun Tou-San pernah.”
.
.
.
.
.
“Tupai sudah mati?” tanya seorang lelaki dengan topeng di mukanya dan menggunakan kalung dengan liontin burung hantu.
Asistennya mengangguk pelan, “Benar, itu adalah informasi dari situs gelap. Namun, laporan itu sudah muncul tiga kali. Tupai hilang tanpa jejak.”
Sang lelaki memasang pose berpikir, “Jika dia menghilang, maka Organisasi yang harus kita waspadai agar penangkapan ini berhasil ...
... Adalah Organisasi SevenSix.”
Noe, Akami, Hashira, dan Hiro berjalan ke salah satu parkiran pusat perbelanjaan. Dari tadi Hiro terus menjahili Akami dengan menarik rambut milik Akami. Suka bilang, eh— bukan genre BL.
“Ne ... Akami-Kun, setelah kita bertemu tupai, cara kita pergi ke pelabuhan bagaimana?” tanya Hiro, sukses membuat Akami kesal.
“Kau benar-benar tidak mendengarkan, ya?” celetuk Akami. “Yoriku twins dan Sama-San sudah menyiapkan mobil di parkiran.” lanjutnya.
Ketika mendengar kata mobil, mata Noe mulai berbinar, “Benarkah? Yey, yey, yey! Noe yang akan menyetir!”
Setelah mendengar itu, Akami langsung melotot pada Noe, “Kau tidak ingat kejadian beberapa hari lalu, hah!?”
“Eh? Hehe.”
“Noe!? Setir yang benar!? Kalau ingin mati jangan mengajakku, sialan!?”
“Ah, kurang cepat, ya?”
“Tidak!? Noe!? Turunkan aku!?”
“Tapi waktu itu menyenangkan, kan?” tanya Noe dengan alis yang naik turun, menjahili Akami.
Akami menatap Noe kesal, “Aku yang akan menyetir.”
Setelah pertengkaran singkat itu, mereka berjalan ke lingkungan parkiran. Mata Noe menangkap mobil merah keren yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Bagaikan sebuah cahaya ilahi, mata Noe berbinar cerah, “Bukankah itu Supercar!? Sugoii!? Keren sekali!?” teriak Noe heboh sambil menggoyangkan pagar pembatas parkiran.
“Aku saja yang menyetir!?” lanjut Noe histeris.
Namun, teriakan nya berhenti ketika sebuah mobil biasa melaju ke arah mereka dengan aesthetic. Membuat semuanya cengo.
Kaca mobil bagian pengemudi terbuka, menampilkan seseorang memakai kostum tupai. Sang tupai melambaikan tangan ke arah mereka.
“Nani!?” teriak mereka kecuali Akami.
“Tupai paswordnya apa?” tanya tupai itu.
Dengan tenang sambil membenarkan kacamatanya, Akami menjawab, “Makan kacang di atas pohon sambil kayang.”
Tupai itu tertawa khas suara robot, “Baiklah, naik. Mereka sedang mengejar.”
“Tunggu! Itu kode rahasia! Kenapa aku tidak tahu! Hei!” kaget Noe dramatis.
Mereka semua masuk ke dalam mobil, kecuali Noe yang di tarik (baca: di seret) ke dalam mobil. Noe terus meronta-ronta, ini di luar ekspetasinya!
“Tunggu— Supercar nya!? Aku mau Supercar!?” pekik Noe.
.
.
.
.
.
“Kenapa seorang klien menyetir dengan keren? Ayolah, kembalikan Supercar ku!” ucap Noe sambil menggoyangkan Akami.
Hashira hanya bisa tersenyum kikuk, ah, lihatlah seniornya yang satu ini. Akami yang sudah kesal mengikat Noe dengan sabuk pengaman, akhirnya, Noe diam.
“Mobil itu terlalu mencolok, bisa saja kita langsung ketahuan.” ucap tupai yang sedang menyetir. “Maaf jika tidak sesuai perjanjian, aku Tupai.” Lanjutnya.
“Aku sudah tahu dan kau pasti sudah tahu aku. Ku perkenalkan lagi, namaku Yukijima Athanoe, panggil saja Noe. Lalu di sebelahku Akami, itu Hashira, dan si surai pink Hiro.” ucap Noe.
Hiro bersedekap dada, “Kau tidak seperti peretas yang aku bayangkan.”
Tupai terkekeh pelan, “Kau pasti membayangkan aku lelaki kurus dan memakai kacamata.”
Hiro mendengus pelan, ia tidak menyangka bisa di tebak. Lalu Akami menarik lengan nya dan berbisik.
“Sudah ku bilang, kan?” bisik Akami.
Hiro mendengus kesal, “Tapi, kenapa harus kostum boneka? Tidak normal.”
“Justru orang dengan kemampuan itu yang tidak normal.” celetuk tupai membuat semuanya sweatdrop. Mereka semua tidak normal, anggap saja begitu.
.
.
.
.
.
Sebuah ruangan dengan nuansa komputer menyala, duduklah seseorang dengan kostum robot. Suara tawanya menggelegar di ruangan.
“Ada empat Dektektif yang berada di mobil. Kalau menghalangi, bunuh saja.” ucap sang robot kepada penelepon.
“Baik.”
Sambungan telepon di matikan. Robot itu fokus kembali ke arah layar milik drone nya yang terbang mengikuti sebuah mobil yang berisi seseorang berkostum tupai dan empat Dektektif.
“Nah, ayo kita bermain.” gumam robot itu dengan smirk nya.
.
.
.
.
.
Sang tupai terus fokus menyetir mobil, sedang di bangku penumpang Noe terus mengawasi belakangnya. Takut ada yang mengejar, namun di sana kosong.
“Tidak ada yang mengejar,” ucap Noe.
Hashira sedikit gugup, “Tapi, firasatku buruk.”
Setelah Hashira mengatakan itu, mobil sedikit bergetar lalu tupai melepaskan genggaman tangannya dari setir mobil. Semuanya kaget ketika setir mobil itu bergerak sendiri.
“Ini pasti ulang pengguna Bleid.” ucap Akami.
Hiro bersiul pelan, “Aduhai, bagaimana ini?”
Noe menatap ke arah belakang, lalu ia melihat sebuah drone terbang di belakang sana. Noe menajamkan penglihatan matanya, walau dia bukan Tarasama, jangan ragukan penglihatan matanya.
“Kita di ikuti.” celetuk Noe. “Dan sepertinya kita menuju ke arah laut. Aku akan menghancurkan drone itu, kalian semua fokus pada jalan.” lanjutnya.
Semua mengangguk setuju. Noe mengambil pistol di pinggangnya. Ia memecahkan kaca mobil di sebelahnya lalu mencoba membidik drone itu.
Tatapan matanya kembali menajam drastis. Menusuk bagaikan belati yang sudah di asah. Dalam hitungan detik, sekali pelatuk telah di tekan, drone itu terkena peluru pistol dan jatuh. Membuat sang robot di ruangan nya memekik kesal.
“Huh, drone terbang? Bukan apa-apa bagiku.” gumam Noe bangga.
Namun mobil itu berguncang hebat karena melewati batu-batuan. Rem mobil di injak oleh tupai membuat suara decitan keras pada ban. Sampai akhirnya berhenti tepat di hadapan pembatas laut.
Semuanya menghela nafas lega, semua orang turun dari mobil. Noe yang sudah keluar dari mobil, menatap sekeliling dan melihat drone yang sudah terkapar karena ia menembak drone itu.
.
.
.
.
.
Noe dan yang lain bersembunyi di supermarket terbengkalai. Noe dan Akami sedikit mengintip melihat keluar. Ada sekelompok orang membawa senjata yang sepertinya mencari mereka.
Hiro mengabari Yukijima tentang situasi yang mereka hadapi. Syukurlah mereka tidak terlambat untuk bersembunyi. Jika tidak, mereka akan kehilangan tupai.
“Ayo, ikuti aku. Oh, ya, nomor satukan keselamatan.” ucap Noe final.
Noe berjalan lebih dulu menuju ke tangga dan naik ke atas, rute pelarian mereka selanjutnya adalah atap supermarket. Insting Noe semuanya mulai bekerja secara bergantian.
Sampai di tangga ia bertemu dua orang musuh dengan senapan, “Ara~ tepat sekali waktunya.”
Dua musuh itu menembakkan senapan. Hiro, Akami, Hashira, dan Tupai berlindung di balik rak supermarket. Noe berlindung di balik koper besar yang ada di sana.
“Ayo, bermain!” pekik Noe.
Lalu ia keluar dari persembunyian nya. Peluru dan senapan melesat ke arahnya, namun dengan insting kuat, peluru tidak ada yang berhasil mengenainya. Ia terus menghindar sambil melangkah maju ke arah musuh dan membidik menggunakan pistol.
Kesempatan telah tiba, Noe menembakkan dua peluru pistol ke salah satu musuh. Tembakan nya tak meleset. Satu musuh lagi, musuh itu menghentikan aksi tembakan membabi butanya, bersembunyi di salah satu rak juga sambil menyiapkan bom.
Hashira yang melihat aksi Noe terkagum, sedangkan Akami dan Hiro smirk. Musuh telah kembali menampakkan diri, namun sambil melempar bom yang siap meledak ke arah Noe.
Detik itu juga, Noe menangkap bom itu dan melemparnya ke ruangan di sampingnya. Mengunci pintu ruangan itu dan bom itu meledak di dalam ruangan.
Noe berlari dan bergerak maju dengan cepat ke arah musuh. Membantingnya dan tak lupa mematahkan tangannya.
“Tanganmu terlalu banyak, untukku satu tidak apa-apa, kan?” ucap Noe pada musuh sambil menyeringai tipis.
Sayangnya musuh itu sudah tidak sadarkan diri. Tanpa sepengetahuan Noe, ada tiga musuh di belakangnya siap menembak. Beruntung, Hiro menembaki tiga orang itu menggunakan pistol nya.
“Nice Hiro!?” teriak Noe senang.
Hiro hanya mengacungkan jempol, “Aku ini hebat!”
Hashira tampak terkagum dengan kerja sama seniornya. Namun lamunannya buyar karena harus kembali berjalan ke atap. Tinggal satu langkah lagi mencapai atap, Tupai maju terlebih dahulu. Tapi insting Noe bekerja, akan ada bahaya.
Namun terlambat, tupai tergeletak dengan pisau tertancap di tubuhnya. Cairan merah keluar dari sana. Semuanya terkejut, apalagi Noe. Ia gagal lagi, Kekasih sang takdir.
.
.
.
.
.