"Tangan Naya melayang tepat di depan butik berlian. Satu tamparan untuk Dimas yang berani memukulnya, dan detik itu juga pernikahan mewah itu batal. Tapi nasib punya selera humor yang kejam karena keesokan harinya ia justru berdiri di altar sebagai pengantin pengganti untuk Arga Kusumaatmaja. Konglomerat dingin yang terkurung di kursi roda, pria yang tatapannya saja sanggup membekukan seluruh ruangan, dan perjanjian bisnis yang mengikat mereka lebih erat dari sumpah pernikahan mana pun.
Semula hanya transaksi di atas kertas. Namun ketika keluarga Wiratama mulai menebar fitnah dan mengirim ancaman, Naya dan Arga justru berbalik menjadi tembok bagi satu sama lain. Di tengah rahasia yang berlapis dan kebohongan yang siap meledak kapan saja, mereka menemukan sesuatu yang tidak tertulis dalam kontrak. Bahwa cinta sejati tidak pernah datang sebagai pengganti. Ia datang sebagai pilihan. Dan kali ini, Naya memilih "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11 - Akun Gosip Itu Bergerak
Naya tidak suka membuang waktu untuk orang yang menggonggong dari balik akun palsu.
Tapi dia juga tidak pernah mengabaikan orang yang memegang pisau sambil berpura-pura membawa bunga.
Keesokan paginya, laporan awal dari tim digital forensik masuk. Akun yang mengancamnya memakai jaringan perangkat berbeda, tapi salah satu alamat IP pernah terhubung dengan Wi-Fi rumah keluarga Wiratama. Lebih tepatnya, rumah utama Harun dan Rina Wiratama.
Naya membaca laporan itu sambil sarapan.
Arga duduk di seberangnya, memotong roti panggang kecil-kecil. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk Naya, karena Bu Sri bilang obat antibiotik sebaiknya diminum setelah makan cukup.
Naya menatap piringnya. "Aku bisa memotong roti."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa?"
"Tanganku sedang tidak ada pekerjaan."
"Kamu punya perusahaan sebesar Kusuma Group."
"Aku sedang cuti sebagai suami baru."
Naya menatapnya datar.
Arga meletakkan pisau. "Baik. Aku diam."
Dia benar-benar diam selama dua menit.
Itu lebih menyebalkan.
Naya akhirnya menggeser ponsel ke arahnya. "Akun ancaman terhubung ke rumah Wiratama."
Arga membaca laporan itu. Wajahnya tidak berubah, tapi matanya menjadi dingin.
"Rina?"
"Kemungkinan. Atau orang yang bekerja untuknya."
"Kamu mau melapor?"
"Belum. Ancamannya belum menyebarkan apa pun. Kalau sekarang melapor, dia akan bilang itu cuma pesan iseng."
"UU ITE tetap bisa dipakai kalau ada ancaman penyebaran konten."
Naya mengangkat alis. "Kamu juga membaca hukum?"
"Aku membaca banyak hal setelah menikah dengan perempuan yang suka mengurus semuanya sendiri."
"Itu sindiran?"
"Itu kekaguman yang disampaikan dengan nada lelah."
Naya hampir tersenyum, tapi menahannya.
Arga mendorong piring roti. "Makan dulu."
"Kamu terdengar seperti Bu Sri."
"Bu Sri lebih galak."
"Benar."
Setelah sarapan, Naya berangkat ke kantor Wira Kencana untuk menandatangani dokumen awal pengalihan saham. Pengacara keluarga Adisatria ikut hadir. Pak Surya dan dua investor lain sudah menyepakati harga. Nilainya adil, tidak terlalu tinggi, tidak merugikan Naya.
Semua berjalan lancar sampai Rina Wiratama datang.
Wanita itu masuk ke ruang notaris dengan kacamata hitam besar dan tas mahal. Wajahnya ditata sempurna, tapi matanya merah. Di belakangnya ada dua pria yang Naya kenali sebagai staf lama keluarga Wiratama.
"Transaksi ini tidak boleh dilanjutkan," kata Rina tanpa salam.
Notaris mengangkat wajah. "Bu Rina, pertemuan ini tertutup."
"Saya ibu dari direktur utama Wira Kencana."
Naya menutup map perlahan. "Dan bukan pemilik saham saya."
Rina melepas kacamata. "Naya, jangan kekanak-kanakan. Kamu sedang menghancurkan perusahaan yang membesarkan namamu."
"Perusahaan ini tidak membesarkan namaku. Aku yang berkali-kali menolongnya berdiri."
"Sombong sekali setelah menikah dengan Arga."
"Saya sombong sebelum itu. Ibu kurang memperhatikan."
Pak Surya menunduk, bahunya bergetar.
Rina menahan marah. "Kamu pikir keluarga Kusumaatmaja akan melindungimu selamanya? Kamu hanya pengantin pengganti. Begitu Arga bosan, kamu akan dibuang."
Naya menatapnya tanpa ekspresi.
Kalimat itu seharusnya melukai.
Anehnya tidak.
Mungkin karena yang mengatakannya adalah Rina.
Atau mungkin karena semalam Arga menunggu di mobil hanya untuk memberinya makan malam.
"Bu Rina datang hanya untuk meramal rumah tangga saya?"
"Saya datang untuk menawarkan jalan baik-baik."
Rina memberi isyarat. Salah satu staf meletakkan amplop cokelat besar di meja.
"Batalkan transaksi saham. Cabut laporan terhadap Dimas. Keluarga Wiratama akan menganggap semua selesai."
Pengacara Naya langsung menegang.
Naya tidak menyentuh amplop itu. "Apa isinya?"
"Dokumen yang sebaiknya tidak keluar."
"Tentang saya?"
"Tentang kamu, Nadira, dan beberapa foto yang bisa membuat orang salah paham."
Jadi benar.
Rina tidak hanya menggonggong.
Dia membawa gigi.
Naya mengambil ponsel, menekan tombol rekam suara di bawah meja.
"Ibu mengancam saya?"
Rina tersenyum dingin. "Saya memberi kesempatan."
"Dengan foto dan akun gosip?"
Mata Rina bergerak sedikit.
Kecil.
Tapi cukup.
"Saya tidak tahu soal akun gosip."
"Tapi tahu soal foto."
"Naya, jangan bermain kata. Kamu perempuan pintar. Dimas masih menyayangimu. Dia hanya marah karena kamu mempermalukannya."
Naya hampir tertawa.
"Dimas menyayangiku?"
"Dia tidak akan datang ke kantor membawa bunga kalau tidak peduli."
"Dia datang karena egonya terluka."
"Kamu tidak tahu laki-laki."
"Saya tahu laki-laki yang baik tidak menarik tangan perempuan sampai kepalanya berdarah."
Rina terdiam.
Notaris terlihat semakin tidak nyaman. Pengacara Naya sudah membuka laptop, jelas bersiap mencatat semua.
Rina menggertakkan gigi. "Kalau kamu keras kepala, jangan salahkan kami."
"Bu Rina."
Suara Naya turun, tapi justru membuat semua orang lebih memperhatikan.
"Anak Ibu hampir menikahi saya. Ibu tahu saya bukan perempuan yang suka menggertak kosong. Kalau foto itu keluar, saya lapor. Kalau akun itu menyebarkan fitnah, saya lapor. Kalau Dimas datang mendekat lagi, saya minta perlindungan hukum."
"Kamu berani melawan Wiratama?"
"Saya sudah memukul putra Ibu di depan butik berlian. Seharusnya Ibu tidak perlu bertanya."
Rina berdiri dengan wajah pucat karena marah.
"Kamu akan menyesal."
"Silakan ambil nomor antrean. Banyak yang sudah mengatakan itu."
Rina menyambar amplop dan pergi.
Pintu tertutup keras.
Ruangan hening beberapa detik.
Pak Surya akhirnya berkata pelan, "Bu Naya, saya semakin yakin membeli saham ini adalah keputusan benar."
Naya menatapnya.
Pak Surya tersenyum canggung. "Maksud saya, perusahaan ini jelas membutuhkan pemilik baru yang tidak berisik."
Naya mengangguk. "Lanjutkan."
Dokumen ditandatangani.
Transaksi berjalan.
Saat keluar dari kantor notaris, Naya baru mengirim rekaman suara pada pengacaranya dan pada Arga.
Arga menelepon kurang dari sepuluh detik.
"Kamu baik-baik saja?"
"Aku baik."
"Rina membawa dokumen?"
"Amplop. Tidak dibuka."
"Aku bisa membuatnya berhenti hari ini."
"Jangan."
"Naya."
"Dia belum menyebarkan. Kalau kamu bergerak sekarang, dia akan menangis di media dan bilang aku memakai kekuasaan suami."
Arga diam.
"Aku tahu kamu tidak suka," lanjut Naya. "Tapi ini masih bisa kutangani."
"Aku tidak suka karena dia mengancammu."
"Aku juga tidak suka. Tapi tidak suka bukan berarti harus terburu-buru."
Di ujung telepon, Arga menghela napas.
"Kamu membuatku belajar sabar dengan cara yang tidak menyenangkan."
"Aku juga sedang belajar punya suami yang bisa menelepon dalam sepuluh detik."
"Aku bisa lebih cepat."
"Jangan bangga."
Ada jeda kecil.
Lalu Arga berkata, "Pulanglah setelah selesai. Bu Sri membuat sup ayam kampung."
"Kamu menyuruh Bu Sri memasak?"
"Dia yang menyuruhku menyuruhmu pulang."
"Pembohong."
"Sedikit."
Naya menutup telepon dengan dada yang anehnya lebih ringan.
Namun sebelum dia masuk mobil, ponselnya kembali bergetar.
Sebuah notifikasi dari akun gosip muncul.
Foto dirinya dan Nadira di coffee shop sudah diunggah.
Judulnya:
Istri baru Arga bertemu mantan kekasih Dimas. Ada apa dengan lingkaran cinta konglomerat ini?
Komentar mulai naik.
Naya menatap layar selama tiga detik.
Lalu dia mengirim tautan itu pada Arga.
Naya: Sepertinya anjingnya mulai menggigit.
Balasan Arga datang cepat.
Arga: Kalau begitu, izinkan aku memegang tali lehernya.
Naya membaca balasan itu dua kali. Di masa lalu, kalimat seperti itu akan membuatnya waspada. Terlalu banyak pria memakai kata melindungi untuk mengambil kendali. Tapi Arga tidak pernah bergerak tanpa bertanya. Bahkan saat marah, dia masih menunggu izin. Itu yang membuat Naya lebih bingung daripada ancaman Rina.
Dia mengetik pelan.
Naya: Pegang talinya. Jangan tarik dulu.
Arga: Baik. Tapi kalau dia menerjangmu?
Naya: Baru kita patahkan kandangnya.
Arga: Aku suka kata "kita".
Naya berhenti mengetik. Laras yang duduk di sebelahnya pura-pura melihat dokumen, tapi senyum kecilnya gagal disembunyikan.
"Jangan komentar," kata Naya.
"Saya belum bicara, Bu."
"Wajahmu bicara."
Laras akhirnya tertawa pelan, lalu kembali serius. "Bu, apa pun yang terjadi setelah ini, kita sudah punya cukup bahan awal."
"Belum cukup untuk menyerang."
"Tapi cukup untuk bertahan."
Naya menatap layar ponselnya lagi. "Aku tidak mau hanya bertahan terlalu lama."
Di luar mobil, Jakarta mulai macet seperti biasa. Namun bagi Naya, sore itu terasa seperti awal perang kecil yang akhirnya punya peta.
Dan kali ini, dia tidak memegang peta itu sendirian.
Perasaan itu berbahaya, tapi tidak buruk.
Untuk saat ini, cukup.
Benar-benar cukup.
setiap pemeran memiliki karakternya kuat .
authornya the best