Istriku Tak Bisa Ditaklukkan
Bab 01 - Penghinaan di Depan Toko Berlian
Naya Adisatria berdiri di depan etalase cincin berlian dengan wajah tenang.
Di balik kaca tebal itu, puluhan cincin berkilau terkena cahaya lampu butik. Harganya tidak main-main. Satu cincin bisa membeli rumah kecil di pinggir kota, tapi bagi keluarga Adisatria dan Wiratama, ini hanya bagian dari kebutuhan pernikahan.
Pernikahan yang akan berlangsung tujuh hari lagi.
Seharusnya Dimas Wiratama ada di sampingnya hari ini. Seharusnya pria itu memilih cincin bersamanya, berdebat soal model, lalu mungkin pura-pura manis di depan pelayan butik.
Tapi Dimas sedang ke Surabaya untuk urusan perusahaan.
Setidaknya, itu yang dia katakan semalam.
"Yang ini dan yang di sebelahnya tolong disiapkan. Saya mau lihat ukuran lengkapnya," ucap Naya pada pelayan butik.
Pelayan itu tersenyum sopan. "Baik, Bu Naya."
Panggilan itu membuat beberapa tamu di butik menoleh. Tidak sulit mengenali Naya. Wajahnya beberapa bulan terakhir sering muncul di portal bisnis karena keberhasilan kampanye digital PT Kirana Beauty. Sebagian orang mengenalnya sebagai calon menantu keluarga Wiratama. Sebagian lagi mengenalnya sebagai putri kandung keluarga Adisatria yang baru kembali beberapa tahun lalu.
Naya tidak terlalu peduli.
Dia sudah biasa menjadi bahan bisik-bisik.
Ponselnya bergetar saat pelayan mengeluarkan cincin ketiga.
Nama Dimas muncul di layar.
Naya mengangkat alis. Dimas jarang meneleponnya lebih dulu kalau tidak ada kepentingan.
"Sebentar," kata Naya pada pelayan.
Dia bergeser beberapa langkah dari etalase. "Halo, Mas Dimas. Aku sedang lihat cincin. Kalau kamu ada waktu, aku bisa kirim fotonya--"
"Keluar."
Suara Dimas terdengar dingin.
Naya terdiam sejenak. "Apa?"
"Aku bilang keluar sekarang. Aku di depan."
Naya menoleh ke kaca besar butik. Di luar, sebuah mobil hitam berhenti tepat di area drop off Pacific Place. Pintu pengemudi terbuka, lalu Dimas turun dengan wajah gelap.
Dia benar-benar ada di Jakarta.
Naya mematikan telepon, mengambil tasnya, lalu keluar dari butik.
Angin dari pintu otomatis menyentuh wajahnya. Belum sempat dia bertanya, Dimas sudah berjalan cepat ke arahnya.
"Kamu tidak jadi pulang besok?" tanya Naya.
"Kamu sakit jiwa, ya?"
Pertanyaan Naya terputus begitu saja.
Beberapa orang yang sedang lewat langsung menoleh.
Naya menatap Dimas. "Bicara baik-baik."
"Baik-baik?" Dimas tertawa pendek. "Kamu masuk apartemenku tanpa izin, mengambil barangku, lalu sekarang minta aku bicara baik-baik?"
Naya mengerutkan kening. "Aku tidak masuk apartemenmu."
"Jangan pura-pura bodoh."
Dimas mengulurkan tangan. "Kembalikan albumnya."
"Album apa?"
"Album Citra!"
Nama itu jatuh seperti batu.
Citra.
Naya tahu nama itu. Citra Wicaksana, mantan kekasih Dimas. Wanita yang selalu disebut orang sebagai cinta pertama Dimas. Wanita yang namanya tidak pernah benar-benar hilang dari percakapan keluarga Wiratama.
Naya pernah menganggap itu bukan urusannya. Pertunangan mereka bukan karena cinta, melainkan kerja sama dua keluarga. Selama Dimas tidak membawa masa lalunya ke meja makan mereka, Naya bisa bersikap dewasa.
Tapi sekarang pria itu berdiri di depan butik berlian dan menuduhnya mencuri album perempuan lain.
Lucu sekali.
"Aku tidak mengambil apa pun," kata Naya.
"Kemarin kamu ke apartemenku."
"Aku sampai di lobby, lalu langsung pergi karena ada telepon dari kantor."
"Kamu pikir aku percaya?"
Dimas maju selangkah. Wajahnya merah, napasnya berat. "Kamu tahu Citra kembali ke Jakarta, kan? Karena itu kamu panik. Kamu takut aku bertemu dia lagi."
Naya menatapnya lama.
Ada saat ketika dia bisa saja menjelaskan. Dengan tenang. Dengan sabar. Seperti yang selama empat tahun ini selalu dia lakukan.
Dimas marah, dia diam.
Dimas meremehkannya, dia diam.
Dimas membiarkannya menangani presentasi, rapat, klien, bahkan masalah yang seharusnya menjadi tanggung jawab Dimas, dia tetap diam.
Karena dia tahu pertunangan ini hanya kerja sama.
Karena dia tahu keluarga Adisatria membutuhkan jalur bisnis dengan keluarga Wiratama.
Karena dia berjanji pada dirinya sendiri untuk menyelesaikan empat tahun itu dengan rapi.
Tapi hari ini, di depan toko berlian, Dimas meludah ke wajahnya dengan tuduhan murahan.
"Mas Dimas," ucap Naya pelan. "Kalau barangmu hilang, lapor polisi. Minta CCTV apartemen. Jangan membuat keributan di tempat umum tanpa bukti."
"Jangan ajari aku."
"Aku tidak mengajari. Aku memberitahu cara manusia normal menyelesaikan masalah."
Mata Dimas membelalak. "Kamu mulai berani sekarang?"
"Aku selalu berani. Kamu saja yang terlalu sibuk merasa tinggi."
Seseorang di belakang mereka menahan napas. Ada yang mulai mengangkat ponsel.
Dimas menyadarinya. Harga dirinya seperti tersentuh api.
"Naya, jangan buat aku malu."
"Kamu yang datang berteriak di depan umum."
"Kembalikan album itu!"
"Aku tidak mengambilnya."
Dimas mencengkeram pergelangan tangan Naya.
Rasanya sakit.
Naya menurunkan pandangan ke tangan itu, lalu kembali menatap wajah Dimas. "Lepaskan."
"Tidak sebelum kamu mengaku."
"Lepaskan, Dimas."
"Aku bisa membatalkan pernikahan ini sekarang juga."
Kalimat itu terdengar seperti ancaman yang seharusnya membuatnya gemetar.
Naya justru tertawa pelan.
Dimas tertegun.
"Apa lucunya?"
"Kamu masih mengira pernikahan ini hadiah untukku?"
Wajah Dimas mengeras.
"Kalau mau batal, batalkan saja," lanjut Naya. "Siapa yang mundur lebih dulu, dia yang menjelaskan pada keluarga besar dan media."
"Kamu pikir keluarga Adisatria akan membelamu? Kamu baru kembali empat tahun. Sebelum itu kamu hanya anak kampung yang dibesarkan orang lain."
Kalimat itu membuat udara di antara mereka membeku.
Naya merasakan sesuatu yang tajam menusuk dadanya, tapi wajahnya tetap datar.
Anak kampung.
Tidak tahu aturan.
Tidak punya darah bangsawan.
Kalimat seperti itu bukan pertama kali dia dengar. Hanya saja, biasanya orang mengatakannya di belakang. Dimas cukup bodoh untuk mengatakannya tepat di hadapannya.
"Kamu selesai?" tanya Naya.
"Belum."
Dimas menarik tangannya lebih keras. "Aku akan periksa tasmu."
"Coba saja."
Naya menarik tangannya, tapi Dimas tidak melepaskan. Tarikan itu membuat tubuhnya oleng. Hak sepatunya tersangkut celah kecil di lantai. Dalam satu detik, tubuhnya jatuh ke samping.
"Ah!"
Kening Naya membentur pinggiran pot tanaman besar di depan butik.
Rasa sakit meledak di kepalanya.
Beberapa orang berteriak.
Dimas melepaskan tangan seolah baru sadar apa yang terjadi. Tapi bukan rasa bersalah yang muncul di wajahnya.
Dia justru berkata, "Jangan drama."
Naya menunduk. Darah hangat mengalir dari pelipisnya, turun melewati alis.
Pelayan butik keluar dengan wajah panik. "Bu Naya!"
Satpam mendekat. "Pak, Bu, ada apa ini?"
Naya perlahan meletakkan telapak tangan di lantai, lalu bangkit.
Dunia sedikit berputar.
Tapi kemarahannya lebih kuat daripada pusing itu.
Dimas masih berdiri di depannya, napas memburu, seolah dialah korban.
"Aku tanya sekali lagi," katanya. "Mana album itu?"
Naya menatapnya.
Lalu dia bergerak.
Tangan kirinya mencengkeram kerah jas Dimas. Tangan kanannya terkepal dan menghantam rahang pria itu.
Dimas terhuyung.
Orang-orang memekik.
Naya tidak berhenti. Dia menarik Dimas ke bawah, lututnya menghantam perut pria itu. Dimas mengumpat, mencoba mendorongnya, tapi Naya sudah kehilangan sisa kesabaran.
"Kamu mau bukti?" Naya menggeram. "Ini bukti kalau aku masih bisa berdiri setelah kamu dorong."
"Naya, kamu gila!"
"Belum. Kalau aku gila, kamu sudah tidak bisa bicara."
Selama beberapa detik, Naya seperti tidak mendengar suara orang-orang. Yang ada hanya napasnya sendiri dan rasa panas di dada. Dia tidak memikirkan nama keluarga Adisatria, tidak memikirkan undangan pernikahan, tidak memikirkan citra perempuan baik-baik yang selalu diminta orang darinya. Untuk pertama kali setelah bertahun-tahun, dia hanya memikirkan dirinya sendiri.
Satpam berusaha memisahkan mereka. Pelayan butik menangis ketakutan. Beberapa orang masih merekam.
Naya melepaskan Dimas setelah satu pukulan terakhir mengenai bahunya.
Dimas jatuh terduduk, jas mahalnya kusut, wajahnya pucat antara marah dan malu.
Naya mengambil ponsel dari lantai. Tangannya bergetar, tapi suaranya stabil saat menelepon.
"Halo, polisi?"
Dimas mendongak.
Naya menatapnya tanpa berkedip.
"Saya ingin membuat laporan. Ada kekerasan di depan butik Pacific Place. Tolong cepat datang."
Dia berhenti sebentar, menyeka darah yang hampir masuk ke matanya.
"Saya takut kalau terlalu lama, saya benar-benar tidak tahan untuk memukulnya lagi."
Dan kali ini, dia tidak bercanda.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
santosowife
gokillllll...Naya...AQ padamuuu😍😍
2026-06-26
0
mery harwati
Gahar pisan euy Naya 💪👍
2026-06-25
0
Ade Chubi
hebat euy
cewek pemberani
2026-06-06
1