Bab 05 - Rumah Suami Baru
Rumah pribadi Arga Kusumaatmaja berada di kawasan Pondok Indah, jauh dari jalan utama, tersembunyi di balik gerbang hitam tinggi dan deretan pohon ketapang kencana yang tertata rapi.
Naya datang sendiri dengan mobilnya.
Dia memang menolak bantuan Bima untuk mengambil barang. Bukan karena gengsi, tapi karena barangnya benar-benar tidak banyak. Satu koper ukuran sedang, satu tas laptop, beberapa map dokumen, dan satu kotak kecil berisi barang pribadi dari keluarga Pradipta di Bandung.
Barang yang ia bawa dari keluarga Adisatria bahkan lebih sedikit daripada barang yang biasa dibawa orang untuk liburan tiga hari.
Saat mobilnya berhenti di depan rumah, seorang pria paruh baya dan seorang wanita berkerudung rapi sudah menunggu di teras.
Pria itu membukakan pintu mobil dengan sopan. "Selamat datang, Nyonya Naya. Saya Jaka, pengurus rumah. Ini istri saya, Bu Sri."
Wanita di sampingnya tersenyum hangat. "Kalau Nyonya butuh apa-apa, panggil saya saja."
Naya turun. "Panggil Naya saja."
Keduanya terlihat ragu.
"Kalau di depan orang lain, terserah kalian. Tapi kalau di rumah, saya lebih nyaman dipanggil Naya."
Bu Sri tersenyum lebih lebar. "Baik, Mbak Naya."
Panggilan itu terdengar lebih manusiawi.
Jaka hendak mengambil koper, tapi Naya menahannya. "Saya bisa bawa sendiri."
"Tidak apa-apa, Mbak. Ini tugas saya."
Naya melepaskan pegangan.
Rumah itu luas, tapi tidak terasa berisik. Tidak seperti rumah besar Adisatria yang penuh foto keluarga, ornamen mahal, dan ruangan yang selalu tampak menunggu tamu. Rumah Arga terasa lebih hidup, meski penghuninya sedikit.
Ada lukisan besar di dinding ruang tengah. Bukan lukisan pemandangan mahal yang biasa dibeli untuk menunjukkan selera. Lukisan itu abstrak, penuh warna biru tua, abu-abu, dan garis merah seperti luka.
Naya berhenti di depannya.
"Tuan Arga yang membuatnya," kata Bu Sri.
Naya menatap lukisan itu lebih lama.
Jadi noda cat di bajunya semalam bukan kebetulan.
Dia benar-benar melukis.
"Kamarnya di atas, Mbak. Ada lift di sebelah sana. Tuan Arga biasanya memakai lift."
Naya mengikuti mereka naik ke lantai tiga.
Jaka meletakkan koper di depan pintu kamar utama.
Naya langsung menoleh. "Kamar utama?"
Bu Sri tampak gugup. "Tuan Arga meminta barang Mbak Naya diletakkan di sini. Tapi kalau Mbak ingin kamar terpisah, kamar sebelah sudah disiapkan juga."
Setidaknya pria itu tidak berbohong.
Naya membuka pintu kamar utama.
Ruangannya luas, dengan warna netral dan jendela besar menghadap taman belakang. Di satu sisi ada rak buku, di sisi lain pintu menuju walk-in closet. Tempat tidurnya besar, terlalu besar untuk satu orang.
Naya menatap ranjang itu sebentar.
Tidak ada getaran romantis.
Yang ada hanya pikiran praktis: kalau dia tidur di pinggir, jaraknya dari Arga tetap jauh.
"Barang saya taruh di sini saja," katanya.
Bu Sri tampak lega. "Baik, Mbak."
Setelah Jaka dan Bu Sri keluar, Naya membuka koper. Dia mulai menyusun pakaian ke dalam lemari. Saat membuka pintu walk-in closet, langkahnya berhenti.
Setengah ruangan kosong.
Setengah lainnya berisi pakaian pria yang tertata rapi.
Di bagian kosong, sudah ada beberapa rak baru, gantungan kosong, kotak penyimpanan, bahkan label kecil bertuliskan scarf, kerja, santai, dokumen.
Terlalu siap.
Naya menyentuh salah satu label.
Arga benar-benar menyiapkan tempat untuknya.
Bukan tempat sementara.
Tempat.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari nomor tidak dikenal.
Naya membuka.
Dimas: Kamu menikah dengan Arga? Kamu gila?
Naya menatap pesan itu datar.
Pesan kedua masuk.
Dimas: Kamu pikir dia mencintaimu? Kamu cuma pengganti Sekar. Jangan merasa menang.
Pesan ketiga.
Dimas: Jawab aku.
Naya memblokir nomor itu.
Tidak sampai satu menit, nomor lain mengirim pesan.
Dimas: Jangan kekanak-kanakan.
Naya memblokir lagi.
Dia belum sempat meletakkan ponsel saat pintu kamar diketuk.
"Masuk."
Arga masuk dengan kursi rodanya. Dia sudah berganti pakaian menjadi kemeja biru gelap dan celana hitam. Wajahnya tampak sedikit lelah, tapi matanya tetap jernih.
"Kamu sudah makan?"
"Belum lapar."
"Itu bukan jawaban."
Naya menatapnya.
Arga mengangkat tangan sedikit. "Baik. Aku ubah. Mau makan sekarang atau nanti setengah jam lagi?"
"Setengah jam lagi."
"Baik."
Dia memutar kursi rodanya hendak keluar.
"Arga."
Dia berhenti.
Naya mengangkat ponsel. "Dimas menghubungiku."
Wajah Arga tidak berubah, tapi udara di ruangan terasa turun beberapa derajat. "Apa katanya?"
"Hal tidak penting."
"Kalau tidak penting, kenapa memberitahuku?"
Pertanyaan itu membuat Naya diam sebentar.
Benar juga.
Kenapa dia memberitahunya?
Mungkin karena semalam Arga bilang kalau dia ingin memukul seseorang, beri tahu dulu.
Mungkin karena sekarang Dimas bukan lagi urusannya sendiri.
Mungkin karena dia tidak ingin Arga mendengar dari orang lain lalu salah paham.
"Supaya jelas," jawab Naya. "Aku tidak punya hubungan apa pun lagi dengannya."
Tatapan Arga melembut.
"Aku tahu."
"Kamu percaya semudah itu?"
"Aku percaya pada caramu memandangnya di kantor polisi."
"Kamu melihat video lain?"
"Banyak."
Naya menghela napas. "Kamu punya hobi mengumpulkan video memalukan istrinya?"
"Istriku hanya punya satu video memalukan. Dan bagiku itu tidak memalukan."
"Aku memukul orang di depan umum."
"Dia menyentuhmu lebih dulu."
Jawaban itu terlalu cepat.
Terlalu tegas.
Naya menatapnya beberapa detik, lalu berkata, "Kalau suatu hari aku salah?"
"Maka aku akan memberitahumu."
"Bukan membelaku buta?"
"Aku akan tetap berdiri di sisimu. Tapi kalau kamu salah, aku akan mengatakannya saat hanya ada kita berdua."
Naya tidak tahu harus menjawab apa.
Di keluarga Adisatria, orang membelanya jika itu menguntungkan. Menegurnya jika itu menjaga nama baik. Mengasihaninya jika merasa bersalah. Tidak ada yang pernah menjelaskan dengan begitu sederhana bahwa berdiri di sisinya tidak berarti menutup mata.
Arga melihat koper yang belum selesai dibongkar. "Butuh bantuan?"
"Kamu mau melipat bajuku?"
"Kalau kamu izinkan."
"Kamu pernah melipat baju?"
"Aku pernah memimpin perusahaan dengan puluhan ribu karyawan. Melipat baju seharusnya tidak lebih sulit."
Naya menatapnya.
"Itu dua hal yang sama sekali tidak berhubungan."
"Aku bisa belajar."
Entah kenapa, jawaban itu membuat sudut bibir Naya bergerak.
Arga menangkapnya. "Kamu hampir tersenyum."
"Tidak."
"Aku melihat."
"Matamu salah."
"Mataku cukup bagus untuk menebak ukuran cincinmu."
Naya melirik cincin di jarinya. "Itu keberuntungan."
"Kalau begitu, semoga keberuntunganku panjang."
Bu Sri mengetuk pintu dan memberi tahu bahwa beberapa staf butik sudah datang membawa pakaian dan keperluan pribadi untuk Naya. Naya turun bersama Arga, kali ini membiarkan Bima mendorong kursi roda dari belakang.
Di ruang tengah, beberapa rak pakaian berjajar. Ada gaun kerja, setelan blazer, sepatu, tas, pakaian santai, bahkan pakaian tidur. Semuanya dalam warna yang biasa dipakai Naya: putih, hitam, abu, navy, hijau gelap, sedikit krem.
Naya menatap Arga. "Ini terlalu banyak."
"Kamu pindah tanpa persiapan."
"Aku bisa membeli sendiri."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa?"
"Karena hari pertama kamu menjadi istriku tidak harus terasa seperti hukuman."
Kalimat itu membuat Naya menahan napas.
Salah satu staf butik membuka kotak sepatu. Sepasang heels dengan tinggi sedang terlihat di dalamnya.
Arga menunjuk. "Yang itu sepertinya cocok untuk kerja. Haknya tidak terlalu tinggi. Kemarin kamu jatuh memakai heels tipis."
Naya mengernyit. "Kamu memperhatikan sepatuku?"
"Aku memperhatikan banyak hal."
"Itu terdengar menyeramkan."
"Aku akan membuatnya terdengar lebih manis lain kali."
Naya memalingkan wajah.
Bu Sri yang berdiri di belakang tampak menahan senyum.
Naya memilih beberapa pakaian yang memang sesuai kebutuhannya, lalu menolak sebagian besar sisanya. Arga tidak memaksa. Hanya sesekali memberi pendapat praktis, bahkan terlalu praktis sampai Naya beberapa kali menatapnya heran.
Ketika sampai pada rak pakaian dalam, Naya berhenti.
Arga ikut berhenti.
Staf butik tampak profesional, tapi wajah Bima langsung memerah dan pura-pura mengecek ponsel.
Naya berkata, "Bagian ini aku pilih sendiri."
"Tentu."
Arga memutar kursi rodanya sedikit menjauh.
Namun setelah beberapa detik, dia berkata, "Warna putih dan nude lebih aman untuk kemeja kerjamu yang tipis."
Naya menoleh perlahan.
Arga mengangkat ponselnya. Di layar terlihat pencarian: warna pakaian dalam yang aman untuk baju putih wanita.
"Aku baru cari," katanya dengan wajah serius. "Bukan pengalaman pribadi."
Naya menutup mata sebentar.
Lalu dia tertawa.
Tidak keras, tapi cukup jelas.
Semua orang di ruangan itu terdiam.
Arga menatapnya seolah baru melihat sesuatu yang langka.
Naya menyadari dirinya tertawa dan langsung menahan ekspresi. "Jangan lihat seperti itu."
"Aku hanya sedang mencatat."
"Mencatat apa?"
"Pencarian bodoh bisa membuatmu tertawa."
"Itu bukan strategi yang baik."
"Aku tidak bilang akan berhenti."
Makan siang berlangsung lebih tenang daripada yang Naya bayangkan. Arga tidak banyak bertanya tentang Dimas, Sekar, atau keluarganya. Dia hanya menjelaskan kebiasaan rumah, ruang kerja yang bisa Naya pakai, dan jadwal terapi kakinya.
"Kamu masih terapi?"
"Ya."
"Orang bilang kamu tidak bisa berjalan lagi."
"Orang suka bicara."
"Jadi?"
Arga menatapnya. "Aku bisa berdiri sebentar. Berjalan beberapa langkah dengan bantuan. Belum cukup stabil."
Naya mengangguk. Dia tidak bertanya lebih jauh.
Arga tampak menghargai itu.
Setelah makan, Naya kembali ke kamar untuk melanjutkan membongkar koper. Ponselnya kembali bergetar. Kali ini pesan dari akun anonim di media sosial.
Isinya foto dirinya dan Arga di KUA.
Di bawah foto itu tertulis:
Pengantin pengganti harus sadar diri. Jangan merasa jadi nyonya besar.
Naya baru hendak menghapus pesan ketika ponsel Arga berbunyi di meja.
Dia melihat layar.
Nama Bima.
Arga mengangkat.
Wajahnya tidak berubah saat mendengar laporan. Tapi jemarinya yang memegang gelas mengetat.
"Cari sumbernya," katanya. "Kalau akun itu menyebarkan fitnah, laporkan. Kalau hanya menghina, simpan dulu."
Naya menatapnya.
Arga menutup telepon, lalu berkata, "Maaf. Seharusnya hari pertamamu di rumah ini lebih tenang."
Naya menatap pesan di ponselnya, lalu menekan hapus.
"Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa."
Arga menggeleng pelan.
"Di rumah ini, jangan terbiasa disakiti."
Naya diam.
Untuk pertama kali sejak akad, ruang besar itu terasa sedikit lebih hangat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Nana Colen
aku suka alur ceritanya... singkat padat dan jelas tidak bertele tele dan muter muter
mudah mudahan terus menarik💗❤❤❤❤
2026-05-28
5
Erna Ladi Yanti
semangat thor
2026-05-28
0