Bab 04 - Akad Tanpa Cinta
Pagi datang terlalu cepat.
Naya hampir tidak tidur. Luka di pelipisnya membuat setiap posisi terasa salah, sementara kepalanya dipenuhi daftar risiko yang tidak habis-habis.
Menikah dengan Arga Kusumaatmaja.
Kemarin siang dia masih calon istri Dimas Wiratama. Kemarin malam dia membatalkan pernikahan itu di kantor polisi. Sekarang, pukul tujuh pagi, dia duduk di dalam mobil keluarga menuju KUA Kebayoran Baru untuk menjadi istri pria lain.
Kalau hidupnya adalah sinetron, penulisnya pasti sedang mabuk.
Ratna duduk di sampingnya, berkali-kali merapikan ujung kerudung putih Naya. "Kamu cantik sekali."
Naya menatap ibunya dari pantulan kaca. "Mama tidak perlu memujiku karena merasa bersalah."
Tangan Ratna berhenti.
"Naya..."
"Aku tidak marah karena Mama diam saja."
Ratna tampak lega, tapi Naya belum selesai.
"Aku marah karena Mama selalu diam di waktu yang salah."
Wajah Ratna memucat.
Prasetyo yang duduk di depan tidak menoleh. Hanya rahangnya yang mengeras.
Naya tidak ingin memulai pertengkaran pagi ini. Tapi dia juga tidak ingin membiarkan semua orang berpura-pura ini adalah pengorbanan kecil.
"Setelah akad selesai, aku tidak tinggal di rumah ini lagi," katanya.
Ratna langsung menggenggam tangannya. "Naya, jangan seperti itu."
"Aku menikah supaya urusan keluarga ini selesai. Jangan minta aku tetap menjadi alat setelah itu."
"Kamu bukan alat."
Naya menatap tangan ibunya.
Tangan itu halus, hangat, dan gemetar.
Dulu, ketika keluarga Adisatria menjemputnya dari Bandung, Ratna memeluknya sambil menangis. Wanita itu mengatakan bahwa darahnya memanggil, bahwa dia kehilangan putri selama delapan belas tahun, bahwa Tuhan akhirnya mengembalikan anaknya.
Naya percaya.
Dia ingin percaya.
Lalu beberapa minggu kemudian, dia diperkenalkan pada Dimas Wiratama sebagai calon tunangan.
Sejak itu dia mengerti, keluarga kandung bisa mencintai sekaligus memakai.
Mobil berhenti di halaman KUA.
Tidak ada dekorasi besar. Tidak ada musik. Tidak ada bunga berlebihan. Hanya beberapa mobil hitam, keluarga inti, pengacara, dan beberapa pria berbadan tegap yang jelas bukan tamu biasa.
Naya turun.
Pagi itu Jakarta masih lembap setelah hujan semalam. Udara berbau tanah basah dan bensin kendaraan. Di ujung halaman, seorang pria duduk di kursi roda.
Arga Kusumaatmaja.
Dia memakai setelan putih gading. Rambutnya rapi, wajahnya tenang. Tidak ada cat di bajunya seperti semalam. Di belakangnya berdiri seorang pria berusia sekitar tiga puluhan dengan map dokumen di tangan.
Arga menatap Naya.
Pandangan itu tidak membuatnya merasa ditelanjangi, tapi diperhatikan.
Perbedaannya tipis, namun Naya merasakannya.
"Selamat pagi," ucap Arga.
"Selamat pagi, Pak Arga."
"Kita akan menikah. Panggil Arga saja."
"Setelah akad."
Sudut bibirnya naik. "Baik. Setelah akad."
Seorang wanita paruh baya mendekat. Wajahnya anggun, matanya merah seperti kurang tidur, tapi senyumnya tulus.
"Naya, Tante Maya," katanya. "Mama Arga."
Naya menyalami tangannya. "Assalamualaikum, Tante."
"Waalaikumsalam." Maya menggenggam tangan Naya lebih lama. "Maaf karena pagi pertamamu sebagai pengantin harus seperti ini."
Naya sedikit terkejut.
Dia mengira ibu Arga akan mengamatinya dari kepala sampai kaki, membandingkannya dengan Sekar, atau menunjukkan kekecewaan karena mendapat pengantin pengganti.
Maya justru tampak bersalah.
"Saya juga bukan pilihan awal," jawab Naya.
"Tapi kamu tetap manusia, Nak. Bukan barang pengganti."
Kalimat itu membuat dada Naya terasa aneh.
Dia menarik tangannya perlahan. "Terima kasih."
Di dalam ruangan, semuanya berlangsung cepat.
Dokumen sudah disiapkan. Persetujuan tertulis, surat wali, data keluarga, perjanjian pranikah yang semalam disusun pengacara, semuanya ada dalam map. Naya sempat membaca ulang beberapa bagian penting sebelum menandatangani.
Harta pribadi tetap pribadi.
Pekerjaan dan posisi profesional Naya tidak boleh dihentikan tanpa persetujuannya.
Kedua pihak berhak mengajukan perceraian jika terjadi kekerasan, paksaan, atau pelanggaran batas pribadi.
Tidak ada kewajiban melahirkan keturunan dalam periode tertentu.
Naya berhenti di pasal itu.
Arga yang duduk di sisi lain meja bertanya, "Ada yang ingin diubah?"
"Tidak."
"Kalau ragu, kita bisa tunda."
Semua orang di ruangan itu menahan napas.
Naya menatap Arga. "Kamu tahu kalau ditunda, keluargaku bisa terkena masalah besar."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa menawarkan?"
"Karena masalah keluargamu bukan alasan untuk memaksamu."
Naya menunduk lagi pada kertas.
Sulit sekali membenci pria yang menjawab seperti itu.
"Tidak perlu ditunda," katanya.
Proses akad dimulai.
Prasetyo menjadi wali.
Ketika ijab kabul diucapkan, Naya memperhatikan tangan Arga yang menggenggam tangan ayahnya. Jemarinya panjang, kukunya bersih, urat di punggung tangannya terlihat jelas. Suaranya rendah dan stabil saat mengucap kabul.
Tidak ada getaran.
Tidak ada ragu.
Sah.
Kata itu terdengar dari penghulu dan saksi.
Ratna menangis.
Maya mengusap sudut matanya.
Jovan menghela napas seolah baru keluar dari air setelah menahan napas terlalu lama.
Naya menatap buku nikah di hadapannya.
Namanya dan nama Arga tertulis berdampingan.
Naya Adisatria.
Arga Kusumaatmaja.
Suami.
Istri.
Dia tidak merasa bahagia.
Tapi dia juga tidak merasa hancur.
Yang dia rasakan hanya kosong, seperti seseorang baru saja memindahkannya dari satu ruang terkunci ke ruang lain yang belum dia tahu pintunya bisa dibuka atau tidak.
Setelah penandatanganan selesai, Arga mengulurkan kotak kecil.
"Ini bukan cincin yang seharusnya dipakai Sekar," katanya sebelum Naya bertanya. "Aku membelinya semalam."
Naya membuka kotak itu.
Sebuah cincin berlian sederhana berada di dalamnya. Tidak terlalu besar, tidak terlalu mencolok. Desainnya bersih dan elegan. Sangat berbeda dari cincin pertunangan besar yang biasa dipamerkan keluarga konglomerat.
"Ukurannya?"
"Aku menebak dari foto."
"Foto?"
"Berita kemarin. Tanganmu terlihat jelas saat memegang ponsel."
Naya menatapnya.
Arga tampak tidak merasa itu aneh.
"Kalau tidak pas, kita ubah."
Naya mengulurkan tangan.
Arga menyentuh jemarinya dengan hati-hati. Sentuhannya ringan, seolah dia takut menekan terlalu kuat.
Cincin itu masuk dengan pas.
Terlalu pas.
Naya menatap cincin itu lama.
Kemarin dia memilih cincin untuk menikah dengan Dimas.
Hari ini pria lain memakaikan cincin padanya.
Hidup benar-benar tidak punya rasa kasihan.
"Murah dibanding standar keluargaku," kata Arga. "Tapi aku pikir kamu tidak suka sesuatu yang terlalu berisik."
"Aku memang tidak suka."
"Bagus."
Naya menarik tangannya. "Terima kasih."
"Sekarang?"
"Sekarang apa?"
"Kamu boleh memanggilku Arga."
Naya hampir lupa.
Dia menatap pria itu. "Baik, Arga."
Mata Arga berubah sedikit.
Sangat sedikit.
Tapi Naya melihatnya.
Seolah satu kata itu menyentuh tempat yang jauh lebih dalam daripada seharusnya.
Setelah akad, keluarga ingin mengambil foto sederhana. Naya berdiri di samping kursi roda Arga. Beberapa kali fotografer meminta mereka mendekat. Naya menuruti, tapi tetap menjaga jarak tipis.
Arga tidak memaksanya.
Ketika keluarga sibuk mengatur posisi, Naya menunduk dan berbisik, "Kamu tidak keberatan menikah dengan perempuan yang baru tadi malam memukul mantan calon suaminya?"
Arga menjawab tanpa menoleh, "Aku lebih keberatan menikah dengan perempuan yang tidak bisa membela dirinya sendiri."
"Seleramu memang aneh."
"Mungkin."
"Atau kamu suka masalah."
"Kalau masalahnya kamu, mungkin aku bisa belajar suka."
Naya menoleh cepat.
Arga menatap kamera seolah tidak baru saja mengatakan sesuatu yang membuat jantungnya tersentak.
Fotografer berkata, "Senyum sedikit, Bu Naya."
Naya tidak tersenyum.
Arga juga tidak.
Tapi saat hasil foto terlihat di layar kamera, keduanya tampak anehnya serasi. Naya dengan wajah dingin dan perban kecil di pelipis. Arga dengan tatapan tenang dan cincin baru di jarinya.
Mereka terlihat bukan seperti pasangan baru menikah.
Mereka terlihat seperti dua orang yang baru menandatangani perjanjian perang.
Setelah semua selesai, Arga meminta bicara berdua.
Mereka berada di teras samping KUA. Pria bernama Bima, asisten Arga, berdiri cukup jauh. Jovan beberapa kali melirik dari pintu, tapi tidak mendekat.
Arga berkata, "Aku tidak tinggal di rumah utama Kusumaatmaja."
"Aku tahu. Keluargaku menyebut kamu tinggal di rumah pribadi."
"Mulai hari ini kamu pindah ke sana."
Naya menegang.
Arga melihat reaksinya dan segera menambahkan, "Kamarmu bisa terpisah kalau kamu mau."
"Bukankah kita baru menikah?"
"Menikah tidak membuatku berhak atas tubuhmu."
Naya diam.
Pria ini terlalu berbahaya.
Bukan karena dia kasar. Justru karena dia tahu kalimat apa yang bisa meruntuhkan tembok pertahanan orang.
"Aku akan pindah," kata Naya. "Tapi aku perlu mengambil barang."
"Bima bisa membantu."
"Tidak perlu. Barangku tidak banyak."
"Baik. Kalau butuh apa pun, bilang padaku."
"Aku terbiasa mengurus diri sendiri."
"Aku tahu."
"Kamu tidak tahu apa-apa tentang aku."
Arga menatapnya.
Ada jeda kecil sebelum dia berkata, "Mungkin lebih banyak daripada yang kamu kira."
Naya mengerutkan kening.
Belum sempat dia bertanya, ponsel Arga berbunyi. Bima mendekat, wajahnya berubah serius setelah melihat layar.
"Tuan Arga," kata Bima pelan. "Video akad sudah bocor. Akun gosip mulai naikkan berita."
Naya mengeluarkan ponselnya.
Benar.
Belum satu jam menikah, wajahnya dan Arga sudah tersebar.
Judulnya bahkan lebih tajam dari semalam.
Calon pengantin Dimas Wiratama menikah dengan pewaris Kusumaatmaja setelah sepupunya kabur.
Naya menatap layar.
Di bawah berita itu, komentar mulai bermunculan.
Pengganti.
Ambisius.
Tidak tahu malu.
Baru batal nikah langsung menikah lagi.
Naya mematikan layar.
Arga mengulurkan tangan. "Berikan padaku."
"Untuk apa?"
"Aku bisa urus."
"Tidak perlu."
"Naya."
Dia menatap suaminya yang baru.
Suaminya.
Kata itu masih terasa asing.
"Aku sudah biasa orang bicara," ucap Naya. "Selama mereka tidak menyentuhku, aku tidak peduli."
Arga menatap perban di pelipisnya.
"Kalau mereka menyentuhmu?"
Naya memasukkan ponsel ke tas.
"Baru aku peduli."
Arga tersenyum tipis.
"Kalau begitu, aku akan menunggu sampai kamu peduli."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments