Indonesia
NovelToon NovelToon
IBU TIRI LUAR BIASA

IBU TIRI LUAR BIASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Tiri / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Duda / Cinta Murni
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: YoshuaSatrio

Karena tak tahan dengan desakan keluarga dan masalah yang bertubi menghimpit keluarganya, Sutami(28tahun) menerima pinangan Juragan Waluyo(45tahun), seorang duda kaya yang memiliki seorang putra dan dua putri yang berbeda watak.

Menjadi ibu tiri bukan impian Sutami, tapi demi menyelamatkan kehormatan keluarga dari stigma 'perawan tua pembawa sial', maka pernikahan pun dilangsungkan.

Mampukah Sutami menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu tiri?
Bagaimana cara Sutami menghapus stigma masyarakat tentang 'ibu tiri jahat?’

Mari berimajinasi bersama. Semua tokoh dan kejadian dalam cerita hanya sebuah karangan. Jika ada kebetulan yang dibetulkan, silahkan disalahkan kebetulannya yang disama-samakan.
Semoga semua berbahagia. —yosh—

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAH SEBAGAI NYONYA

"Sah," jawab Pak RT dan salah seorang warga serentak.

"Alhamdulillah. Sah." seru Penghulu. "Mudah-mudahan menjadi keluarga sakinah, mawadah, warahmah."

Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorak. Hanya hela napas lega dari Mak Mia dan anggukan pelan dari Pak Sukimin di brankar.

Sutami menunduk. Jari-jarinya menggenggam ujung kerudung. Akad selesai dalam waktu kurang dari lima menit. Singkat, khidmat, tapi terasa hampa.

Begitu selesai, Waluyo langsung berbalik. Wibawanya kembali sebagai seorang juragan.

Ia memanggil dua anak buahnya yang berdiri di dekat pintu. “Booking restoran terenak di daerah ini, siapkan juga armada untuk mengantar para saksi dan warga yang hadir ini, agar menikmati hidangan sebagai rasa syukur hari baik ini,” perintahnya tanpa basa-basi.

“Siap, Juragan!”

“Wah, terimakasih banyak Juragan, kita pesta hari ini, selamat ya mbak Tami!” seru Bu RT mewakili yang hadir.

Waluyo mengangguk kecil dengan senyum tipis lalu kembali memberi perintah pada anak buahnya. "Pak Sukimin mulai hari ini dipindah ke bangsal Kelas 1. Kamar pojok yang ada jendelanya. Urus administrasinya sekarang juga. Kamar harus paling nyaman. Perawatnya minta yang terbaik."

"Siap, Pak," jawab salah satu anak buahnya cepat. Ia langsung berlari ke meja perawat.

Mak Mia terkejut. "Lho, Pak... tidak usah repot-repot..."

Waluyo menoleh dan tersenyum tipis. "Anggap saja ini kewajiban saya, Bu. Mulai hari ini Bapak adalah mertua saya. Beliau harus dirawat dengan layak."

Pak Sukimin hanya bisa mengangguk lemah. Matanya berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya dalam seminggu, ia merasa tenang.

Warga saling pandang. Ada yang mengangguk kagum, ada yang berbisik "Juragan memang beda."

Di pojok ruangan, Kuswara masih duduk diam dengan wajah pucat, keringat dingin mengalir.

Ia melirik ke arah Sutami yang kini duduk di samping brankar, lalu melirik ke arah Waluyo yang sedang memberi perintah.

"Sial," gumamnya pelan, hanya untuk dirinya sendiri. "Kenapa perempuan sialan itu malah nikah sama bosku. Bisa mati aku nanti. Pasti disuruh ini-itu terus sama dia."

Ia menggigit bibir. Dadanya sesak oleh amarah dan takut. Ia belum tahu bahwa mulai hari ini, namanya sudah dicoret dari daftar karyawan. Ia belum tahu bahwa hutangnya sudah lunas karena tanda tangan kakaknya sendiri.

Yang ia tahu hanya satu, hidupnya baru saja berbalik arah. Dan orang yang paling ia benci, kini menjadi nyonya besar di rumah juragan.

Pintu bangsal kembali terbuka. Dua petugas rumah sakit masuk bersama brankar baru.

"Pak Sukimin, kita pindah ke atas ya, Pak," kata salah satu perawat ramah.

Waluyo berjalan paling depan, membuka jalan. Di belakangnya, Sutami mengikuti dengan langkah pelan. Di belakangnya lagi, Mak Mia menuntun brankar sambil terisak.

Kuswara tetap di tempatnya. Ia menatap punggung kakaknya yang menjauh, ia merasa kalah telak. "Aku tidak akan membiarkan perempuan sialan itu bahagia sendirian!"

..........

Sah.

Satu kalimat itu mengubah statusnya. Dari Nona Sutami, Guru TK, menjadi Nyonya Waluyo. Siapa atau tidak Sutami harus berhadapan dengan anak Waluyo, dan mendapat julukan sebagai ibu tiri.

Selesai makan bersama pagi itu, Waluyo langsung menoleh ke pengawalnya. “Bawa Nyonya ke rumah.”

Itu saja. Tidak ada kata “istriku” ataupun genggaman tangan.

Sutami masuk ke dalam mobil hitam itu sendirian. Waluyo duduk di kursi depan, bersebelahan dengan sopir. Punggungnya tegap, menatap lurus ke depan. Seolah perempuan di kursi belakang itu tidak ada.

Mobil berhenti di depan pintu rumah, lalu mbak Rini membukanya.

“Selamat datang, Bu Nyonya,” ucapnya dengan sopan, namun kaku.

Sutami turun dengan koper kecil berisi pakaiannya. Hanya itu yang ia bawa.

“Silakan masuk, Bu,” ujar mbak Rini menunjukkan jalan untuk Sutami.

Sutami mengangguk. “Terima kasih, Mbak." Ia melangkah masuk. Dan hawa dingin langsung menyergapnya. Bukan karena AC, tapi karena suasana.

Rumah itu luas, besar dan mewah, tapi sangat sunyi. Tak ada foto keluarga di dinding, tak ada suara televisi, tak ada aroma masakan. Hanya ada bau kayu jati dan aroma parfum mahal yang samar.

"Kemarin aku terlalu takjub, dan fokus sama Dara, aku tak menyadari suasana menyeramkan ini," gumamnya lirih.

“Pak Juragan langsung ke ruang kerja,” lapor salah satu ajudan. “Beliau berpesan, Nyonya langsung beristirahat saja di kamar utama di lantai dua.”

Sebelum Sutami sempat bertanya apa pun, sebuah suara terdengar dari arah tangga.

“Siapa itu?”

Sutami mendongak.

Seorang lelaki muda, mungkin sekitar dua puluh dua tahun, berdiri di anak tangga paling atas. Tingginya sekitar seratus delapan puluh sentimeter. Rambutnya sedikit acak-acakan, mengenakan kaos hitam dan celana pendek. Di tangannya ponsel digenggam.

Sutami menundukkan kepala sedikit. “Selamat siang. Saya… Sutami. Istri Bapak.” perkenalan yang canggung. Apalagi Sutami tak tahu menahu siapa pria muda yang berdiri angkuh menatap penuh sedilik ke arahnya itu.

Pria muda itu tidak menjawab. Ia hanya menyipitkan mata, mengamati Sutami dari atas sampai bawah. Seperti sedang menilai barang yang baru saja dibeli ayahnya.

“Jadi kamu perempuan yang dinikahi Bapak dua jam yang lalu?” ucapnya akhirnya. Nadanya datar, namun mengandung ejekan.

Mbak Rini justru tampak gugup. “Mas Arka…”

Arka mengabaikannya. Ia menuruni dua anak tangga. “Kamu guru TK, ya? Umur dua puluh delapan? Tidak punya siapa-siapa?”

Setiap pertanyaan itu dilontarkan seperti peluru.

Sutami mengepalkan tangannya di sisi tubuh. “Saya… saya di sini untuk…”

“Untuk apa?” potong Arka. Ia kini berdiri hanya tiga anak tangga di atas Sutami. “Untuk uang Bapak? Untuk status ‘Nyonya Juragan’? Atau kamu kasihan sama kami?”

“Mas Arka, cukup!” bentak sebuah suara yang muncul dari belakang Sutami.

Seorang perempuan muncul dari balik pintu ruang makan di lantai bawah. Usianya sekitar sembilan belas tahun. Rambutnya panjang, diwarnai cokelat. Ia mengenakan crop top dan celana jeans robek. Wajahnya cantik, namun sorot matanya sinis.

“Itu mbak Kirana, anak kedua pak Waluyo. Dan Mas Arka adalah anak pertama." Mbak Rini berusaha memberitahu Sutami.

“Kak, biarkan saja,” jawab Kirana sambil menapaki anak tangga. Matanya terpaku pada Sutami. Kirana menyilangkan tangan di dada lalu berhenti di dua anak tangga tepat di atas Sutami. “Wah… jadi ini ‘Ibu’ baru kita?”

Kata 'Ibu' itu ia tekan dengan nada paling meremehkan.

“Kamu bahkan tampak lebih muda dari beberapa teman kuliahku, Tante,” lanjut Kirana. “Panggil aku Kirana saja. Jangan berani-berani panggil aku ‘Nak’.”

Sutami menarik napas. Ia berusaha tersenyum. Senyum yang biasa ia gunakan untuk menenangkan anak didiknya yang rewel. “Baik, Kirana. Senang bertemu denganmu.”

Sutami mengulurkan tangan, jika saja gadis angkuh itu menyambutnya. Tapi Kirana justru mendengus lalu menoleh ke atas. “Kak Arka, dia bilang senang ketemu kita. Lucu ya?”

Arka tidak tertawa. Ia hanya menatap Sutami semakin tajam. “Kamu boleh tinggal di sini. Tapi jangan berharap kami akan memanggilmu Ibu. Dan jangan pernah ikut campur urusan kami.”

Sebelum Sutami bisa menjawab, sebuah suara kecil terdengar marah. "Kak… jangan begitu!"

...****************...

Bersambung.....

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh 😣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sabar Tami,jgn sampai kau jadi stres 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ga bisalah,
rasain tuh 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
pengen ku lempar pk sendal tuh mulutnya 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
berpindah duduk
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Enak aja, kamu hrs berusaha dari bawah
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
itu kan salahmu sendiri, kenapa korupsi 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
jangan bikin gara" 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
mau apalagi kamu 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dara biasa makan cake 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
sembarangan 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
ga sakit tuh tenggorokan Bu 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
semua itu bukan salahmu Tami 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
apa ini jalan terbaik 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
bicarakan dengan kepala dingin 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dara dong 🤣
yosh—: 😮‍💨apesnya jadi author nggk ada yg dukung😁
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Waduh jgn berantem diluar, malu sama tetangga 🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!