Indonesia
NovelToon NovelToon
Bukan Duda Biasa

Bukan Duda Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Duda
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Fhatt Trah

Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.

Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.

Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Gengsi dan Pemandangan Sore

Sunyi kembali menguasai ruangan kerja Arka yang luas usai sambungan telepon dengan Andrea terputus. Naya menurunkan ponselnya, menyandarkan punggung ke sofa empuk, lalu melepaskan napas panjang yang melelahkan.

Ia menatap sekeliling. Ruangan bergaya modern-minimalis itu memang sangat megah, tetapi atmosfernya yang dingin dan terlalu luas justru membuat rasa canggung kembali merayap.

“Sepi banget...” gumam Naya pelan pada dirinya sendiri. Suaranya memantul tipis di dinding kaca raksasa.

Ia melirik jam dinding yang berdetik teratur. Waktu seolah berjalan lambat. Rasa lelah yang sempat tertahan oleh adrenalin kini datang menyerbu tanpa ampun.

Ia memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. “Capek banget, ya Tuhan... Padahal cuma duduk, tapi rasanya kayak habis lari maraton.”

Ia mencoba mengalihkan perhatian dengan memandangi pemandangan pencakar langit Jakarta di luar jendela, namun matanya justru makin terasa berat. Efek teh hangat dan keheningan ruangan itu perlahan menagih bayarannya.

“Pak Arka rapatnya masih lama tidak, ya?” bisiknya lagi, suaranya makin parau dan serak karena kantuk.

“Bosan... kalau cuma nunggu begini, bisa-bisa aku ketiduran...”

Naya memeluk bantal sofa, berniat hanya memejamkan mata sebentar untuk memulihkan tenaga.

Namun, begitu kepalanya bersandar di lengan sofa, kesadarannya perlahan melayang. Rasa lelah yang menumpuk akhirnya menang, menarik Naya ke dalam tidur yang lelap.

Setengah jam berlalu. Pintu kayu mahoni yang kokoh bergeser pelan tanpa suara.

Arka melangkah masuk dengan langkah mantap, berniat melonggarkan ikatan dasinya usai memimpin rapat alot bersama tim legal dan para kepala divisi.

Namun, langkah kakinya seketika terhenti tepat di tengah ruangan.

Pandangan Arka terkunci pada sosok yang tengah terlelap di sofa mewahnya. Sinar matahari sore yang menembus jendela kaca raksasa membiaskan cahaya keemasan, menimpa kulit Naya yang halus.

Naya tertidur miring, membuat posisi tubuhnya terbentuk sempurna. Yang membuat napas Arka mendadak tertahan adalah gaun berpotongan elegan yang dikenakan Naya. Akibat posisi tidurnya yang tak teratur, bagian bawah gaun itu tersingkap cukup tinggi hingga ke pertengahan paha.

Paha Naya yang putih mulus dan bersih terekspos tanpa aling-aling di bawah pendar cahaya sore.

Suasana ruangan seketika berubah pekat. Aura dingin dan penuh kendali yang biasa membungkus sang CEO meluruh dalam sekejap, digantikan oleh gelombang panas yang mendadak membakar dadanya.

Arka berdiri bergeming selama beberapa detik, tatapannya menggelap, mengabsen setiap lekuk tubuh istrinya yang tampak begitu polos namun tanpa sadar sangat menggoda. Jantungnya berdegup dengan irama yang jauh dari kata tenang.

Pria itu membasahi bibirnya yang kering. Dengan langkah pelan tanpa suara, Arka berjalan mendekati sofa. Setiap pijakannya terasa berat, menyerap intensitas ketegangan yang mendadak memenuhi udara di antara mereka.

Ia berhenti tepat di samping sofa, menunduk menatap wajah Naya yang tertidur lelap tanpa rasa curiga sedikit pun.

Tatapan Arka kemudian perlahan turun, menyusuri leher jenjang Naya, hingga terhenti pada bagian paha mulus yang terpampang nyata di depan matanya.

Arka menghela napas berat, mencoba menguasai gejolak liar yang mendadak menuntut untuk dilepaskan.

Gemerosok geseran pintu kayu kembali terdengar, memecah keheningan yang serasa hampir meledak itu.

“Bos, ini berkas dari tim legal yang butuh tanda tangan cepat—”

Ucapan Doni terputus seketika di udara. Langkah kaki asisten pribadi sekaligus sahabat Arka itu mendadak terkunci tepat di ambang pintu. Matanya melebar saat menangkap pemandangan di depannya. Arka yang berdiri membatu dengan tatapan sepekat malam, membungkuk sedikit di samping sofa tempat Naya yang sedang tertidur lelap dengan gaun sedikit tersingkap.

Aura tegang dan panas yang menyelimuti Arka mendadak mengendur, berganti dengan kilatan tajam saat ia menoleh cepat ke arah pintu.

Doni, yang dengan cepat membaca situasi serta arah pandangan bosnya tadi, tidak bisa menahan sunggingan senyum jahil yang perlahan terbit di bibirnya. Hilang sudah wajah formal ala asisten profesional, kini yang tersisa hanyalah raut menggoda tanpa dosa.

Dengan langkah sepelan mungkin agar tidak membangunkan Naya, Doni menyusup masuk, lalu menutup pintu di belakangnya rapat-rapat. Ia berjalan mendekati Arka sambil mengetuk-ngetukkan map berkas ke telapak tangannya.

“Waduh... salah jam masuk banget kayaknya gue ini,” bisik Doni dengan nada jenaka yang ditahan, matanya berkedip menggoda ke arah Arka.

Arka memberikan tatapan membunuh yang sanggup membuat bulu kuduk merinding, lalu dengan gerakan cepat memundurkan posisinya.

Tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari Doni, ia meraih jas miliknya yang tersampir di sandaran kursi kerja, lalu menyelimutkannya dengan lembut ke tubuh Naya, menutup paha mulus sang istri dari pandangan siapapun, termasuk Doni.

“Kenapa nggak ketok pintu dulu, sih?” geram Arka dengan suara yang ditekan serendah mungkin, nyaris seperti geraman sangit.

Doni justru terkekeh pelan tanpa suara, menyilangkan kedua tangan di dada sambil bersandar santai pada tepi meja kerja Arka.

“Gue udah ngetok dua kali ya, Ka. Tapi kayaknya ada yang lagi keganggu parah sama pemandangan sore di sofa,” bisik Doni penuh penekanan. Ia melirik Naya sebentar, lalu kembali menatap Arka dengan alis yang terangkat naik-turun.

“Lagian,” lanjut Doni dengan nada sok prihatin, “kalau mau enjoy the view istri sendiri, pintunya dikunci dong, Pak CEO. Beruntung yang masuk gue. Coba kalau anak sekretariat depan yang masuk bawa kopi? Bisa heboh satu kantor ngeliat bosnya mendadak salting.”

Muka Arka menggelap, meski rasa hangat sisa gejolak tadi masih menyisakan sedikit kemerahan samar di lehernya. Ia membetulkan posisi lengannya, berusaha mengembalikan wibawa dinginnya yang sempat runtuh.

“Ngebacot sekali lagi, bonus akhir tahun lu hangus, Don,” ancam Arka dingin.

Doni justru tertawa kecil tanpa nada takut sedikit pun. Ia menepuk pelan berkas di tangannya lalu meletakkannya di atas meja.

“Siap, Bosku. Mulut gue rapat. Tapi jujur aja... jantung lu aman, kan? Muka lu agak merah tuh.” Doni mengedipkan mata sebelum melangkah mundur menuju pintu, tahu betul kapan harus kabur sebelum amukan Arka benar-benar meledak.

“Tanda tangani berkasnya kalau udah cooling down, Pak Arka. Gue tunggu di luar,” goda Doni terakhir kali sebelum menyelinap keluar pintu dengan senyum kemenangan.

Namun kemudian, Doni membuka pintu sedikit, menyisakan celah sempit hanya untuk memunculkan kepalanya kembali ke dalam ruangan. Senyum jahilnya masih terpajang utuh, siap melayangkan godaan pamungkas.

“Oh iya, Ka... sekedar mengingatkan, napas lu tadi kedengeran sampai ambang pintu, lho. Mau gue ambilkan air es buat menurunkan suhu tubuh?” goda Doni dengan nada jenaka yang dibuat-buat.

Arka yang baru saja hendak menyentuh pena di atas mejanya langsung mendelik tajam. Ia menghembuskan napas kasar, melemparkan tatapan jengkel yang siap menerkam sang asisten.

“Gue nggak tertarik sama bocah, Don. Inget, beda umur gue sama dia tuh sembilan tahun,” sahut Arka dingin, berusaha terdengar rasional meskipun nada suaranya sedikit tertahan.

“Dia masih terlalu polos, lagian gue juga bukan cowok gampangan yang langsung goyah cuma gara-gara pemandangan kayak gitu.”

Doni malah terkekeh geli menanggapi pembelaan diri sahabatnya itu. Ia menyandarkan bahunya di kusen pintu dengan santai.

“Halah, pret. Beda sembilan tahun tapi tadi mata lu hampir nggak kedip, Ka. Mulut bilang bocah, tapi kelakuan lu pas nutupin pahanya pake jas udah kayak suami posesif tingkat akut,” balas Doni sambil tertawa kecil. “Nggak usah sok gengsi lah, ngaku aja kalau lu emang sempet terpesona.”

“Don, mau gue potong gaji lu bulan ini, atau mau keluar sendiri sekarang?” ancam Arka dengan suara pelan namun sarat penekanan.

“Iya, iya, ini keluar! Galak banget, Pak CEO. Awas entar kepikiran terus pas rapat selanjutnya!” goda Doni seraya mengedipkan mata, lalu secepat kilat menarik kepalanya mundur dan menutup pintu rapat-rapat sebelum amukan Arka benar-benar pecah.

Ruangan kembali hening. Arka memijat pangkal hidungnya, lalu melirik ke arah sofa tempat Naya masih tertidur lelap, sama sekali tak terganggu oleh pertengkaran kecil tadi.

Tatapan Arka tertuju pada jasnya yang kini membungkus tubuh Naya, meninggalkan helaan napas panjang dan rasa hangat yang masih enggan beranjak dari dadanya.

–tbc–

1
sunaryati jarum
Tak usah gengsi permintaan Oma Soraya,memberi jalan untukmu memiliki Naya seutuhnya dan selamanya sampai maut memisahkan kalian
Maseni Maseni: yeah betul itu kak
peribahasa pucuk dicinta ulam pun tiba....sebenarnya arka mau bilang cinta ke naya tapi gengsi sekarang dibukakan jalan tuh sama permintaan oma soraya

sekarang saatnya saling mengungkapkan rasa... ga usah buru buru nikmati saja alurnya biar muncul kemistry di antara kalian

lanjut kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Nah ,Arka mengikuti nprovokasi Deni, semoga kalian jadi suami istri beneran, karena Arka mulai jatuh hati dan selalu kepikiran Naya.
sunaryati jarum
Mulai mengkhawatirkan istri dan memberi.perhatian
sunaryati jarum
Bener Naya kamu tak perlu itu, karena ada guling yang lebih hangat,yaitu suami kontrakmu yang hampir runtuh mempertahankan komitmen tentang pernikahan kalian😂😂🥰🥰
sunaryati jarum
Jika Naya bekerja ada celah bagi Redy dan kroninya untuk mengulik pernikahan Arka dan Naya
sunaryati jarum
Terus provokator Rendy , pernikahan yang awalnya kontrak jadi permanen, yang awalnya sandiwara jadi sesungguhnya,Arka yang tadinya gengsi jadi biasa
sunaryati jarum
Makin bucin ,ya
sunaryati jarum
Mulai posesif ,Nak Arka
Maseni Maseni
sepertinya makin seru kalau naya bekerja bareng andrea.... arka protes ga? cemburu ga saat istrinya sukses ditempat kerjanya?
semoga saja jangan sampai memicu trauma arka yg sdh lama ditutup rapat

lanjut double up ya kak🙏😍
sunaryati jarum
Di tempat tidur ada yang sah saja tidak disentuh apalagi ondel+ ondel mungkin jadi toilet umum
sunaryati jarum
Perasaan yang hadir di hati kamu tidak salah,Nak Arka.Hanya kamu berusaha menolak dan menyangkalnya
sunaryati jarum
, Jantungmu berdiscon hanya bersentuhan tangan dan mencium wangi.harum sabun mandi di tubuh Naya.Itu tanda kamu telah tertarik pada Naya.
Maseni Maseni
berawal dari hinaan dan ancaman rendy.....arka mengajak naya untuk benar benar melakukan peran suami istri sungguhan

lanjut kak
Wien Ibunya Fathur
inget paha lagi 🤣
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): emang paha merusak otak ya kak🤭🤭
total 1 replies
Maseni Maseni
asyik mulai saling jatuh cintrong nih mereka..... tinggal nunggu arka bucin kak

lanjut
sunaryati jarum
Ia kamu sudah jatuh hati pada Naya, apalagi hanya bersentuhan saja senjatamu langsung mode on
sunaryati jarum
Selalu.terbayang Naya,Nak Arka
sunaryati jarum
Bersentuhan saja bikin berdiri tegak ototnya,apalagi ko pijit🤣🤣🥰
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): dikira mijit otot lengan kali ya😆😆😆
total 1 replies
sunaryati jarum
Tersiksa sendiri dengan komitmen yang kau buat Nak Arka 🤣🤣🤣 yang dikontrak hidup enjoy yang mengontrak kepanasan .
sunaryati jarum
Itu ular anaconda Naya,kamu polos banget sih.Padahal anak SMP sekarang sudah pada tahu
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): ular yg berbisa😂😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!