Indonesia
NovelToon NovelToon
Luluh Ditangan Gadis Malam

Luluh Ditangan Gadis Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: daisysy

Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji yang Ditepati

Matahari pagi di Amsterdam baru saja memunculkan bias jingganya di balik jendela kaca raksasa penthouse yang menghadap langsung ke lebatnya lanskap hutan pinus pinggiran kota. Udara terasa dingin, menusuk kulit siapa pun yang berani melangkah keluar tanpa mantel tebal. Namun, di dalam ruangan seluas ratusan meter persegi itu, kehangatan sistem pemanas ruangan berpadu dengan aroma kopi hitam yang baru diseduh, menciptakan atmosfer kontras yang begitu nyata dengan kekalutan batin yang masih menggelayuti pikiran Freya Zivanka.

Freya berdiri termenung di dekat jendela floor-to-ceiling, memandangi kabut tipis yang masih menyelimuti pucuk-pucuk pohon. Hari ini adalah hari pertama resmi kepindahannya ke tempat yang oleh sebagian orang disebut sebagai sangkar emas, dan oleh dirinya sendiri dianggap sebagai satu-satunya benteng pertahanan terakhir demi menyelamatkan keluarganya. Semalam, bayangan pertemuan dramatis di kamar hotel mewah, sentuhan otoriter namun membuai dari Victor Thorne, serta lembaran kontrak hitam di atas putih masih berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak.

Pintu geser otomatis di ruang kerja pribadi yang terhubung dengan kamar utamanya bergeser pelan. Sosok tinggi tegap dengan setelan jas tailored-fit berwarna charcoal melangkah keluar. Victor Thorne. Pria itu tampak begitu sempurna dalam balutan busana formalnya, meski garis wajahnya masih menyiratkan ketegasan dingin yang menjadi ciri khas sang taipan muda Amsterdam. Matanya yang tajam langsung menangkap sosok Freya yang tampak begitu kecil di balik balutan piyama sutra kebesaran miliknya.

"Kau melamun terlalu pagi, Freya," suara bariton Victor memecah kesunyian pagi, terdengar rendah namun penuh wibawa.

Freya sedikit terperanjat, menoleh cepat dengan mata bulatnya yang menyiratkan sisa-sisa kecemasan. "Aku... aku hanya sedang menyesuaikan diri, Tuan Thorne. Tempat ini terlalu... asing bagiku."

Victor mendekat, langkah kakinya mantap dan tidak terburu-buru. Ia berhenti berjarak satu langkah di hadapan Freya, mencium aroma sabun mandi vanila lembut yang menguar dari tubuh gadis itu. Ada sebersit rasa asing di dalam dada Victor—sebuah sensasi hangat yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun hidup dalam kesendirian dan target bisnis yang dingin. Selama ini, hidupnya adalah angka, grafik, dan dominasi mutlak. Kehadiran Freya, betapapun gadis itu datang dari latar belakang yang jauh berbeda dan terpaksa melalui sebuah perjanjian kontroversial, membawa warna baru yang mulai mengikis dinding pertahanan esnya.

"Panggil aku Victor saat kita hanya berdua. Kita sudah membahas ini semalam," ucap Victor datar, meski jemarinya tanpa sadar terulur merapikan sehelai rambut Freya yang jatuh menutupi kening. "Dan mengenai tempat ini, perlakukanlah selayaknya rumahmu sendiri. Segala kebutuhanmu sudah diatur."

Freya menelan ludah, merasakan sengatan kecil di kulitnya saat sentuhan jemari Victor singgah di wajahnya. "Tentang... apa yang kita sepakati semalam, Victor... Apakah benar-benar bisa secepat itu?" tanyanya ragu-ragu, menyembunyikan getar ketakutan di ujung suaranya. Ia teringat akan kondisi ibunya yang terbaring lemah di rumah sakit swasta dengan tagihan pengobatan menumpuk, serta adiknya, Steven, yang hampir di-DO dari universitas akibat tunggakan biaya semester.

Victor menarik tangannya kembali, memasukkannya ke dalam saku celana dengan gestur berwibawa. "Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, Freya. Kontrak kita bukan sekadar formalitas di atas kertas robek. Apa yang menjadi tanggung jawabku, akan diselesaikan detik ini juga."

Pria itu berbalik menuju meja kerjanya, mengambil sebuah gawai khusus, lalu menekan interkom untuk memanggil asisten pribadinya, Markus. Tak lama kemudian, suara Markus terdengar jelas di ruang tengah, melaporkan beberapa agenda harian. Di sela-sela laporan tersebut, Victor memberikan satu instruksi tegas dan mutlak.

"Markus, pastikan transfer pelunasan penuh untuk Rumah Sakit St. Jude atas nama pasien Martha Zivanka diselesaikan pagi ini tanpa ada kendala birokrasi. Serta, urus seluruh administrasi finansial akademik atas nama Steven Zivanka di Universitas Leiden agar posisinya aman sepenuhnya. Gunakan jalur prioritas Thorne Foundation."

"Baik, Tuan Thorne. Segera saya eksekusi dalam waktu sepuluh menit," jawab Markus di seberang sana dengan nada profesional yang terlatih.

Freya yang mendengarkan percakapan itu dari dekat, merasakan pertahanan emosionalnya runtuh seketika. Air mata hangat tanpa diundang menetes membasahi pipinya. Beban berat yang selama berbulan-bulan menghimpit dadanya, meremukkan pundaknya, dan membuatnya hampir gila dalam kecemasan, mendadak sirna begitu saja hanya dalam hitungan detik melalui titah seorang pria yang baru dikenalnya beberapa hari lalu di sebuah klub malam yang bising.

Ia jatuh berlutut lemas di atas karpet bulu tebal, menutup wajahnya dengan kedua tangan, sementara isak tangis tertahan meluncur deras dari bibirnya. Segala rasa takut, hinaan karena harus menyerahkan diri dalam ikatan kontrak rahasia, dan keputusasaan lebur menjadi kelegaan yang teramat sangat.

Victor terkejut melihat reaksi drastis tersebut. Pria itu dengan cepat membungkuk, menyamakan posisinya, lalu menarik tubuh Freya ke dalam dekapan lengannya yang kokoh.

"Hei... kenapa menangis?" bisik Victor di dekat telinganya, suaranya melembut secara drastis—sesuatu yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun, bahkan kepada rekan bisnis paling senior sekalipun. "Bukankah ini yang kau inginkan? Masalah keluargamu sudah selesai."

"Terima kasih... terima kasih banyak, Victor," ucap Freya tersendat di dada bidang pria itu, meremas kain jas Victor dengan erat. "Aku... aku tidak tahu bagaimana harus membalas semua ini. Hidupku, keluargaku... semuanya kini bergantung padamu."

Victor mendekap tubuh mungil itu semakin erat, merasakan detak jantung Freya yang bergemuruh di balik dadanya. Ada rasa kepemilikan yang mendominasi, bercampur dengan keinginan kuat untuk melindungi gadis ini dari dunia luar yang kejam. "Kau tidak perlu membalas apa pun, Freya. Cukup berada di sini, di sisiku, dan jalani peranmu sesuai perjanjian. Itu sudah lebih dari cukup."

Sementara itu, di belahan kota Amsterdam yang sibuk, ribuan kilometer dari ketenangan semu di penthouse hutan, situasi berjalan jauh dari kata damai. Di sebuah kafe bergaya klasik di kawasan Oud-Zuid, Annelise van der Linden duduk dengan gelisah di kursi empuk berbalud velut merah. Di hadapannya, secangkir caffe latte telah mendingin tanpa tersentuh sedikit pun.

Wajah anggun wanita berdarah bangsawan Belanda itu tampak mengeras. Matanya yang tajam menatap nanar layar ponsel pintar di tangannya. Sudah tiga hari berturut-turut panggilannya kepada Victor ditolak mentah-mentah. Bahkan, kunjungan mendadaknya ke kantor pusat Thorne Enterprises kemarin berakhir dengan pengusiran halus namun telak oleh Markus, yang beralasan bahwa sang CEO sedang tidak dapat diganggu oleh urusan pribadi apa pun.

Perjodohan yang diatur oleh Nyonya Valen Thorne—ibu kandung Victor—seharusnya menjadi jalan mulus bagi Annelise untuk mengukuhkan posisinya sebagai nyonya masa depan di dinasti bisnis keluarga Thorne. Namun, kencan pertama yang kaku di restoran bintang lima tempo hari, disusul dengan sikap Victor yang semakin hari semakin menunjukkan ketidak tertarikan mutlak, membuat harga diri Annelise terluka parah. Wanita sekelas dirinya, dengan latar belakang keluarga terpandang dan kecantikan paripurna, tidak pernah dicampakkan begitu saja oleh pria mana pun.

"Pasti ada wanita lain," gumam Annelise tajam pada dirinya sendiri, jemarinya mencengkeram erat ponsel hingga buku-buku jarinya memutih. "Tidak mungkin Victor berubah sedingin itu tanpa ada pemicu eksternal. Selama ini ia memang acuh, tetapi penolakan terakhirnya kemarin sangat berbeda. Ada aura perlindungan yang aneh."

Annelise bukan wanita yang hanya bisa meratap di sudut ruangan. Berbekal koneksi luas keluarganya dan akses terbatas ke lingkaran dalam elit Amsterdam, ia mulai mengerahkan sumber daya yang dimilikinya. Ia menyewa seorang penyelidik swasta amatir namun cerdik untuk memantau gerak-gerik asisten pribadi Victor, Markus, serta melacak aliran transaksi keuangan mencurigakan dari rekening pribadi sang taipan.

Tak lama kemudian, ponsel di atas meja berdering nyaring. Sebuah pesan singkat masuk dari detektif sewaannya, berisi sebuah tautan laporan transaksi perbankan dan alamat sebuah rumah sakit swasta.

Annelise dengan cepat membuka tautan tersebut. Alisnya yang terbentuk sempurna langsung bertaut rapat. Matanya memindai baris demi baris data digital yang terpampang di layar.

Pelunasan biaya medis penuh: Pasien Martha Zivanka sejumlah 45.000 Euro. Sumber dana: Rekening pribadi Victor Thorne melalui yayasan.

"Martha Zivanka..." Annelise mendesis membaca nama tersebut. Ia belum pernah mendengar nama itu di dalam lingkaran sosial elite mereka. Siapa wanita tua ini? Dan apa hubungannya dengan Victor Thorne hingga seorang milyarder dingin bersedia mengeluarkan puluhan ribu Euro secara instan?

Rasa penasaran yang bercampur dengan amarah membara mulai meracuni pikiran Annelise. Ia tahu ia tidak bisa tinggal diam dan membiarkan posisinya direbut oleh seseorang dari kalangan antah berantah. Jika Nyonya Valen mengetahui hal ini, perjodohan mereka pasti akan berada di ujung tanduk—atau sebaliknya, Nyonya Valen akan murka besar dan membantunya menghancurkan wanita misterius tersebut sampai berkeping-keping.

"Bermain-main di belakangku, Victor? Kita lihat seberapa jauh kau bisa menyembunyikan simpananmu itu," bisik Annelise dingin, lalu meneguk sisa minumannya yang sudah dingin sebelum beranjak meninggalkan kafe dengan langkah penuh amarah.

Kembali ke penthouse hutan, suasana pagi yang sempat diwarnai air mata kini berangsur-angsur mencair. Freya duduk di meja makan luas berbalud marmer putih, menatap kagum sekaligus canggung pada hidangan sarapan mewah yang disiapkan oleh koki pribadi yang datang khusus pagi tadi. Victor duduk di seberangnya, mengenakan kemeja lengan panjang dengan bagian atas yang sedikit terbuka, tampak sedang membaca laporan keuangan melalui tablet digitalnya sambil sesekali menyeruput kopi.

"Makanlah yang banyak, Freya. Tubuhmu terlalu kurus," titah Victor tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet. "Setelah ini, Markus akan datang mengantarkan beberapa keperluan pakaian dan perangkat komunikasi baru untukmu. Selama aku tidak di tempat, kau bebas menggunakan fasilitas apa pun di sini, kecuali area luar perimeter hutan tanpa pengawalan."

Freya meletakkan garpunya pelan, menatap pria di hadapannya dengan rasa penasaran yang menggunung. "Victor... bolehkah aku bertanya sesuatu?"

Victor akhirnya menurunkan tabletnya, menatap lurus ke arah Freya dengan tatapan mengintimidasi namun tidak menakutkan. "Silakan. Batasan apa yang ingin kau tanyakan?"

"Kenapa kau melakukan semua ini untukku?" Freya memberanikan diri, suaranya terdengar jelas meski sedikit bergetar. "Kita bertemu dalam situasi yang kacau di sebuah klub malam. Aku hanyalah gadis biasa yang terjerat hutang dan keputusasaan. Di luar sana, ada banyak wanita dari kalangan atas yang mengantre untuk mendapatkan perhatianmu, termasuk wanita pilihan Ibumu sendiri. Mengapa harus aku? Mengapa kau begitu peduli pada keluargaku?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, menghantam keheningan ruang makan. Victor terdiam sejenak. Alisnya sedikit terangkat, mencerna setiap kata yang keluar dari bibir mungil gadis di depannya. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kursi, melipat kedua tangan di dada, lalu menatap Freya dengan sorot mata yang sulit diartikan—campuran antara kalkulasi bisnis dan sesuatu yang jauh lebih dalam yang bahkan enggan ia akui pada dirinya sendiri.

"Kau benar, Freya," jawab Victor dengan suara rendah yang menggema di ruangan luas itu. "Di luar sana, ada ribuan wanita dari kalangan bangsawan dan elit bisnis yang siap sujud di hadapanku hanya untuk mendapatkan seulas senyum atau kontrak kerja sama. Mereka cantik, elegan, dan berasal dari latar belakang yang sempurna."

Victor bangkit dari kursinya, melangkah perlahan mengitari meja makan hingga berdiri tepat di samping kursi Freya. Ia mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu hingga Freya bisa merasakan hembusan napas hangatnya.

"Tetapi mereka semua palsu," bisik Victor tajam. "Mereka mendekatiku bukan karena siapa aku di balik jas mahal ini, melainkan karena apa yang bisa kupersembahkan bagi status sosial mereka. Mereka penuh perhitungan, topeng, dan kepura-puraan."

Victor menegakkan tubuhnya sedikit, menatap mata Freya yang terbelalak kaget. "Sedangkan kau... malam itu di klub, kau datang dengan segala kerapuhan, keputusasaan, dan kejujuran yang telanjang. Kau tidak tahu siapa aku, dan kau tidak peduli pada kekayaanku saat kau menangis karena ibumu. Ada sesuatu yang nyata darimu, Freya—sesuatu yang sudah lama hilang dari duniaku yang dingin dan penuh intrik."

Freya terpaku, kehabisan kata-kata. Jantungnya berdegup kencang bukan lagi karena rasa takut, melainkan karena intensitas luar biasa dari pengakuan terselubung yang baru saja dilontarkan oleh pria paling berkuasa di hadapannya.

"Jadi, anggap saja ini sebagai investasi terbaik dalam hidupku," lanjut Victor dengan sedikit smirk di ujung bibirnya, kembali memasang topeng dingin khas sang CEO. "Sekarang, habiskan sarapanmu. Aku harus pergi ke kantor pusat. Markus akan segera tiba."

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Victor berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan, meninggalkan Freya dalam pusaran emosi yang semakin kompleks.

Menjelang siang hari, sesuai instruksi Victor, Markus tiba di penthouse dengan membawa beberapa tas belanja besar dari rumah mode ternama di Amsterdam, serta sebuah kotak kecil berisi gawai terbaru. Sambutan Markus terhadap Freya sangat sopan, profesional, namun tetap menjaga jarak hormat layaknya seorang asisten eksekutif kepada nyonya rahasia bosnya.

"Selamat siang, Nona Zivanka. Ini adalah titipan dari Tuan Thorne untuk keperluan sehari-hari Anda selama berada di sini," ucap Markus sambil meletakkan tas-tas tersebut di atas sofa ruang keluarga.

Freya berdiri di dekatnya, meremas jemarinya canggung. "Terima kasih banyak, Markus. Aku... aku benar-benar tidak enak merepotkan kalian semua."

"Anda tidak merepotkan sama sekali, Nona. Tuan Thorne jarang sekali menunjukkan perhatian khusus pada hal-hal personal seperti ini kepada siapa pun. Kehadiran Anda membawa perubahan besar pada suasana hatinya di kantor," balas Markus dengan senyum tipis profesional. "Gawai di dalam kotak itu sudah disinkronkan dengan sistem keamanan penthouse dan nomor darurat langsung ke ponsel saya serta Tuan Thorne. Jika ada hal yang Anda butuhkan, jangan ragu untuk menghubungi kami."

Setelah Markus pamit undur diri karena urusan pekerjaan kantor yang mendesak, Freya kembali sendirian di dalam keheningan penthouse yang megah. Ia membuka satu per satu tas belanja tersebut. Isinya adalah pakaian-pakaian kasual berkelas tinggi, gaun-gaun elegan berpotongan sederhana namun mewah, serta beberapa buku bacaan tebal tentang arsitektur dan seni—seolah-olah Victor tahu persis apa yang disukai olehnya, atau pria itu sengaja meminta Markus untuk membelikannya secara acak dengan standar tertinggi.

Freya berjalan menuju balkon luar, membiarkan angin dingin menyapu wajahnya. Ponsel baru di tangannya bergetar pelan. Sebuah pesan teks singkat muncul di layar:

Dari: Steven

"Kak! Kabar luar biasa! Pihak kampus baru saja mengirimkan email konfirmasi bahwa seluruh tunggakan kuliahku lunas, dan aku mendapatkan beasiswa penuh dari Thorne Foundation untuk sisa semesterku! Ibu juga baru saja meneleponku dari rumah sakit, dokter bilang perawatannya dialihkan ke ruang VIP dengan penanganan medis terbaik tanpa batas biaya! Kak, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa orang baik yang menolong kita?"

Melihat pesan dari adiknya itu, air mata kebahagiaan kembali menetes di pipi Freya. Ia mengetik balasan dengan jemari yang sedikit gemetar:

Kepada: Steven

"Semua baik-baik saja, Steven. Fokuslah pada kuliahmu. Kakak ada di tempat yang aman sekarang. Berdoalah yang terbaik untuk Ibu."

Freya menghela napas panjang, menatap luruh ke arah hutan pinus yang luas di hadapannya. Hari ini, di balik bayang-bayang sangkar emas yang megah ini, hidupnya telah berubah total. Janji Victor Thorne bukan lagi sekadar isapan jempol belaka; pria itu telah membuktikan kata-katanya dengan kekuasaan mutlak yang dimilikinya. Namun, jauh di lubuk hatinya, Freya juga menyadari bahwa setiap kenyamanan dan perlindungan ini harus dibayar dengan harga yang setimpal—terikat dalam sangkar rahasia bersama seorang pria dingin yang perlahan-lahan mulai merangsek masuk dan menguasai seluruh jalan pikirannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!