Empat tahun lamanya Arunika mengalah dan hidup sebagai istri pajangan, demi menghormati amanah almarhum ayahnya. Namun, segalanya hancur saat ia mendengar rencana kejam Saka. Pria itu berniat menikah lagi dengan kekasihnya, namun menolak menceraikan Arunika hanya karena butuh statusnya demi warisan keluarga Daniswara. Saka mengira Arunika wanita lemah yang akan pasrah dipoligami.
Kekecewaan mendalam itu justru membangkitkan sisi cerdas yang selama ini Arunika sembunyikan. Tanpa labrakan histeris, Arunika menyusun skenario skakmat dalam senyap. Tepat di hari pernikahan megah Saka, ia melangkah pergi membawa dokumen cerai dan menayangkan video perselingkuhan suaminya di gedung pesta. Sebuah langkah sunyi yang tidak hanya menyelamatkan harga dirinya, tetapi juga menjadi awal runtuhnya seluruh takhta palsu yang Saka banggakan.
Ingin tahu kisah selengkapnya? Yuk ikuti cerita Langkah Sunyi Arunika hanya di NovelToon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Sidang Putusan
Di tengah kekacauan yang kian merontokkan harga diri keluarga Daniswara usai video perselingkuhan Saka tersebar, Lina merasa dirinya tidak boleh tinggal diam. Rasa cemas dan ketakutannya terhadap masa depan keuangannya akibat merosotnya saham perusahaan Daniswara jauh lebih besar daripada rasa malunya akibat skandal video pernikahan Saka dan Valerie yang viral di media sosial. Di dalam benak wanita paruh baya yang gila harta dan hormat itu, Arunika hanyalah parasit, gadis biasa yang sengaja menaruh bom di dalam hidup putranya. Kebenciannya pada Arunika yang sejak dulu sudah ada, kini semakin kuat, bahkan telah mencapai ubun-ubun.
Sore itu, dengan langkah terburu-buru dan kacamata hitam besar yang menyembunyikan wajah sembabnya, Lina mendatangi kantor hukum Pak Baskoro di kawasan elite Jakarta. Tanpa memedulikan sekretaris yang berusaha menahannya, Lina menerobos masuk ke ruang kerja sang pengacara senior.
"Pak Baskoro! Saya tidak bisa menunggu lebih lama lagi, saya ingin secepatnya kamu membacakan wasiat lanjutan Raditya tentang pembagian waris. Ini untuk membantu Saka memulihkan saham perusahaan Daniswara!" tuntut Lina, menghempaskan tas mewah kulitnya ke atas meja kerja Pak Baskoro dengan napas memburu.
Pak Baskoro yang sedang memeriksa beberapa berkas di mejanya perlahan mengangkat kepala. Melalui bingkai kacamatanya, pengacara senior itu menatap Lina dengan pandangan yang sangat dingin, tanpa ada rasa hormat yang tersisa. "Ibu Lina, tolong jaga sopan santun Anda. Ini kantor hukum, bukan rumah pribadi Anda."
Lina mendengus sinis, melipat kedua tangannya di depan dada dengan angkuh. "Sopan santun? Untuk apa saya bersikap sopan di saat anak saya, Saka, sedang frustrasi menghadapi saham perusahaan yang terus menurun karena ulah licik si anak asisten itu?! Pengacara Arunika sepertinya sengaja mengulur waktu di pengadilan agar wasiat tidak bisa dibuka!"
Lina memajukan tubuhnya ke arah meja, matanya memancarkan kilat kebencian yang tajam. "Kalau kamu tidak ingin membacakan wasiat Raditya dalam waktu dekat, kamu bisa beritahu saya isi poin wasiat almarhum suami saya sekarang juga, Pak Baskoro! Kita harus menyelamatkan aset perusahaan sebelum perempuan yatim piatu miskin itu memeras keluarga kami lewat gugatan cerainya! Sejak awal, membawa gadis pembawa sial itu masuk ke rumah Daniswara adalah kesalahan terbesar almarhum suami saya. Dia tidak punya kasta, tidak punya harga diri, dan sekarang dia bertingkah seolah-olah dia korban yang paling tersakiti! Padahal selama ini dia itu sengaja memanfaatkan kekayaan keluarga Daniswara dan wasiat Raditya tentang pernikahannya dengan Saka untuk menaikkan derajat miskinnya!"
"Lalu kenapa bukan Saka saja yang menceraikan Arunika?" Pak Baskoro mengetatkan rahangnya, menatap Lina dengan pandangan muak.
Lina diam, tidak bisa menjawab pertanyaan Pak Baskoro yang cukup menohok. Saka mempertahankan Arunika demi jabatannya di Daniswara Group, seperti wasiat suaminya.
Pak Baskoro tersenyum miring. "Tidak berani, bukan? Takut kehilangan jabatan CEO di Daniswara? Karena itu nekat poligami."
Lina kembali diam. Pak Baskoro kembali tersenyum miring. "Ibu Lina, saya sudah mengatakannya berulang kali. Saya memiliki sumpah jabatan dan perintah mutlak tertulis dari mendiang Tuan Raditya Daniswara. Wasiat akhir dan seluruh lampirannya hanya akan dibacakan setelah status pernikahan Saka dan Arunika resmi berakhir di mata hukum secara mutlak."
"Pernikahan mereka sudah dapat dipastikan berakhir, Pak Baskoro! Perempuan udik itu sendiri yang menggugat cerai!" seru Lina histeris, emosinya mulai tidak terkontrol. "Untuk apa menunda-nunda hal formalitas demi membela anak pembantu seperti dia?!"
"Persidangannya belum selesai, Ibu Lina," potong Pak Baskoro dengan suara baritonnya yang tegas dan menggelegar, berdiri dari kursi kebesarannya hingga membuat Lina tersentak mundur. "Keputusan saya mutlak. Saya tidak akan membocorkan satu kata pun sebelum hakim yang menangani perceraian Saka dan Arunika mengetok palu. Silakan Anda keluar dari ruangan saya sekarang juga sebelum saya memanggil petugas keamanan gedung."
Lina menggeram frustrasi, wajahnya merah padam karena perpaduan antara kecewa, marah, dan harga diri yang terluka. Dengan penuh kebencian, wanita paruh baya itu menyambar tas mewahnya dan melangkah keluar, membanting pintu ruangan Pak Baskoro dengan sangat keras.
Setelah kepergian Lina, suasana ruang kerja itu kembali sunyi. Pak Baskoro menghela napas panjang yang sarat akan kekecewaan yang mendalam. Beliau berjalan mendekati lemari besi berlapis baja di sudut ruangan, memasukkan kode kombinasi rahasia, dan mengeluarkan sebuah map hitam tebal yang disegel khusus. Sebuah dokumen rahasia wasiat Raditya Daniswara yang memuat kebenaran paling mematikan bagi eksistensi kesombongan keluarga tersebut.
Pak Baskoro mengusap permukaan map tersebut, lalu pandangannya beralih menatap pemandangan gedung-gedung pencakar langit Jakarta di luar jendela. Pikirannya melayang pada sosok Saka yang tumbuh dalam didikan Lina yang penuh kesombongan materi, mengabaikan ketulusan Arunika demi keserakahan.
"Seharusnya kamu tidak membiarkan kesombongan membutakan matamu untuk mengkhianati Arunika, Saka," gumam Pak Baskoro lirih pada sunyinya ruangan. "Andai saja kamu memperlakukannya dengan hormat sebagai istrimu dan menjaga pernikahan ini dengan baik, surat wasiat dari papamu ini akan tersimpan rapi sampai kapan pun. Namun, karena kamu memilih untuk mencampakkan Arunika demi wanita lain, lembaran di dalam map ini akan menjadi eksekusi mati bagi seluruh kesombongan yang selama ini kamu banggakan. Kamu sendiri yang sudah menggali jurang kehancuranmu, jadi bersiaplah untuk masuk ke dalam kehancuran."
Di tempat lain, Saka terus berusaha untuk menstabilkan saham perusahaan. Tekanan yang menghimpitnya datang dari segala arah. Setiap pagi, asisten pribadinya selalu menyodorkan laporan grafik keuangan yang memerah. Saham Daniswara Group terus merosot tajam akibat skandal moralnya yang menjadi konsumsi publik nasional.
Investor-investor besar mulai menyuarakan keraguan atas kepemimpinannya. Satu-satunya cara untuk memulihkan kepercayaan pasar dan menyelamatkan posisinya dari ancaman wasiat mendiang papanya adalah dengan menemukan Arunika.
Saka berkeyakinan penuh bahwa jika dia bisa membawa Arunika kembali berdiri di sampingnya, atau setidaknya mencabut gugatan cerai tersebut, maka segalanya bisa diperbaiki. Rumah tangga mereka bisa terlihat baik-baik saja di depan publik demi meredam isu miring dan menstabilkan saham perusahaan.
Namun, pencarian itu buntu. Saka mengerahkan seluruh sisa dana dan detektif swasta terbaik, tetapi Arunika seolah menghilang tanpa jejak. Frustrasi itu membuat temperamen Saka semakin tidak terkontrol, memicu pertengkaran demi pertengkaran dengan Valerie yang terus menuntut banyak hal. Saka merasa seperti sedang berkejaran dengan waktu yang kian menipis, didera rasa bersalah dan ketakutan kehilangan yang mulai merobek kewarasannya.
Tidak terasa dua minggu berlalu, dua minggu yang penuh siksaan mental bagi Saka. Hari ini, pada akhirnya berujung di ruang sidang utama Pengadilan Agama Jakarta Pusat. Hari yang paling ditakuti Saka namun paling dinantikan oleh Arunika.
Ruang sidang utama Pengadilan Agama Jakarta Pusat dipenuhi oleh atmosfer yang sangat berat dan mencekam. Saka duduk di kursi tergugat dengan pakaian yang tampak longgar efek dari berat badannya yang turun drastis selama beberapa minggu terakhir karena didera stres dan kurang tidur akibat mencari keberadaan Arunika, serta menghadapi tuntutan dari dewan direksi untuk memulihkan saham perusahaan. Di sampingnya, tim pengacara Daniswara Group hanya bisa menunduk pasrah setelah semua berkas pembelaan mereka dipatahkan di sidang sebelumnya.
Di barisan kursi belakang, Lina duduk dengan pandangan mata yang dipenuhi racun kebencian, terus-menerus menatap tajam ke arah kursi penggugat yang kosong. Di matanya, ketidakhadiran Arunika hari ini adalah bukti bahwa wanita itu pengecut, padahal Arunika sengaja tetap berada di Yogyakarta demi menjaga keselamatan kandungannya, agar tidak diketahui oleh Saka dan ibu mertuanya. Kursi penggugat itu hanya diisi oleh kuasa hukum pribadi Arunika yang duduk dengan ketenangan seorang pemenang.
Hakim ketua mengetuk palu sidang tiga kali, memecah keheningan yang menegangkan di dalam ruangan kedap suara itu.
"Menimbang seluruh bukti-bukti digital, rekaman audio, serta manifes perjalanan yang sah mengenai adanya pengkhianatan dan perselingkuhan yang dilakukan oleh pihak tergugat selama masa pernikahan yang sah..." Hakim ketua menjeda kalimatnya sejenak, menatap Saka yang kini menahan napas dengan wajah yang sepucat kain kafan.
"Maka dengan ini, Majelis Hakim memutuskan untuk mengabulkan seluruh gugatan penggugat secara mutlak. Menyatakan pernikahan antara Saka dan Arunika... PUTUS KARENA PERCERAIAN."
TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan palu hakim itu bergema keras di dalam ruangan, terasa seperti vonis mati bagi ego dan harga diri lelakinya. Statusnya sebagai suami Arunika resmi berakhir hari itu juga di mata hukum negara.
Di barisan belakang, Lina langsung berdiri dengan wajah tegang dan napas memburu, menggertakkan giginya menahan amarah yang meluap karena menyadari benteng perlindungan pernikahan putranya telah hancur. Sementara pengacara Arunika hanya tersenyum puas, membereskan berkas-berkasnya, dan bersiap memberikan kabar kemenangan mutlak ini kepada Arunika, sang Ratu yang berada di Yogyakarta.
Saka hanya bisa menyandarkan punggungnya pada kursi sidang dengan pandangan mata yang sepenuhnya kosong. Dia mengira kehilangan Arunika dan runtuhnya status pernikahan ini adalah puncak penderitaannya untuk mempertahankan posisi di perusahaan. Saka dan ibunya sama sekali tidak menyadari, bahwa dengan ketok palu persidangan hari ini, pintu gerbang menuju neraka finansial dan pembongkaran rahasia besar yang sesungguhnya baru saja dibuka lebar oleh Pak Baskoro yang akan menunggu mereka di rumah utama Daniswara dalam waktu dekat.
yang pastinya mau balikan agar bisa jadi orang kaya lagi 🤣🤣🤣🤣
d kira gmpng gt buat ktmu sm nika.....🙄🙄🙄
stlh mnyesal krna udh mnykti arunika,sbntr lg bkln d ksih kjutan yg lain dr istri trcnta.....🙄🙄🙄
senengnya kalo arunika tetap di kelilingi org2 baik ,,
gx perlu km ketemu lgi dg saka ,, biar laa dy hdup yg telah di pilih ny ,,
slain kluarga,ada jg mas mahen yg diam2 prhtian....mnimal yg onoh ga bkln brani ngusik lg....
Lanjut thor👍👍