Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PIJATAN PENAKLUK RATU IBLIS

SISTEM PIJATAN PENAKLUK RATU IBLIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Penyelamat / Romansa Fantasi
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Setelah dipecat secara tidak hormat dari istana akibat fitnah keji, Arya harus menghadapi kenyataan pahit sebagai tukang pijit yang kehilangan mata pencaharian utamanya. Namun, nasibnya berputar drastis saat ia tak sengaja menemukan seorang wanita dengan luka parah di tengah hutan gelap yang ternyata adalah Vanya, sang Ratu Iblis paling ditakuti. Sentuhan pijatan pertamanya pada tubuh wanita itu bukan hanya menahan pendarahan, melainkan memicu aktifnya Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis yang mengubah hubungan mereka dari mangsa dan predator menjadi ikatan absurd penuh intrik di tengah kejaran pasukan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Sinar matahari sore menerobos masuk melalui celah-celah dinding kayu rumah reyot yang sudah lapuk.

Arya menghembuskan napas panjang sambil meregangkan otot-otot lengannya yang pegal setelah seharian membersihkan debu.

"Duh, capek juga beresin kandang kambing ini sendirian," keluh Arya sambil menyeka keringat di dahinya.

Vanya duduk menyandar di kursi tua reyot dengan wajah tertekuk masam.

"Kenapa kamu terus mengeluh, bukannya tempat ini pilihanmu sendiri?" sindir Vanya dingin.

Arya menoleh sekilas ke arah wanita berambut perak itu dengan tatapan jengkel.

"Makanya bantu bersih-bersih, jangan cuma bisa duduk manis kayak ratu yang lagi ngambek," balas Arya ketus.

Vanya mendengus keras, melipat kedua tangannya di dada dengan angkuh.

"Aku adalah Ratu Iblis, bukan pesuruh rendahan yang harus membersihkan rumah kayu reot," elak Vanya gengsi setengah mati.

Arya menggelengkan kepalanya pelan sambil membereskan sapu ijuk di sudut ruangan.

"Terserah deh, yang penting sekarang kita sudah aman dari kejaran pasukan istana," kata Arya pasrah.

Vanya melirik ke luar jendela melihat jalanan sepi di daerah pinggiran kota barat.

"Aman katamu? Tempat kumuh seperti ini justru sangat mudah dilacak oleh pengintai istana," komentar Vanya tajam.

Arya menghentikan gerakannya, memikirkan kebenaran dari ucapan sang Ratu Iblis.

"Mau bagaimana lagi, uang kita tinggal beberapa keping perak saja," keluh Arya lesu.

Vanya menaikkan sebelah alisnya mendengar masalah keuangan yang dihadapi manusia di depannya.

"Uang? Bukankah kamu bisa memijit orang-orang di sekitar sini untuk mendapatkan koin?" tanya Vanya heran.

Arya mendengus pelan sambil duduk di lantai beralas tikar tipis.

"Daerah barat ini isinya kebanyakan buruh kasar dan pengemis, mana ada yang punya uang buat bayar tukang pijit," jelas Arya realistis.

Vanya terdiam sejenak, mencerna situasi sulit yang sedang melanda mereka berdua.

"Kalau begitu cari mangsa orang kaya di kota pusat secara diam-diam," usul Vanya dingin.

Arya menatap Vanya dengan tatapan tidak percaya.

"Cari mati namanya kalau aku masuk kota pusat lagi dalam keadaan dicari-cari pasukan istana," bantah Arya cepat.

Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar dari pintu depan rumah reyot mereka.

Tok... tok... tok...

Suara ketukan itu bergemuruh pelan diiringi suara rintihan seseorang.

Arya dan Vanya langsung saling bertukar pandangan tajam di ruangan sempit itu.

"Siapa lagi yang datang sore-sore begini ke tempat terpencil ini?" batin Arya bingung.

Vanya menyipitkan mata merahnya, bersiap mengeluarkan aura dingin dari tangannya.

"Biar kuhabisi kalau dia pengintai istana," desis Vanya berbahaya.

"Tunggu dulu, jangan main bunuh sebelum tahu siapa orangnya," larang Arya cepat.

Arya berjalan perlahan mendekati pintu kayu reyot yang sudah usang.

Ia memegang gagang pintu lalu menariknya pelan ke samping.

Kriet...

Bunyi engsel pintu berderit nyaring memecah kesepian sore.

Di depan pintu berdiri seorang kakek tua bertubuh bungkuk dengan tongkat kayu di tangannya.

"Permisi, anak muda... apa benar ini rumah tukang pijit keliling?" tanya kakek itu dengan suara bergetar lemah.

Arya tertegun sejenak, mengerjap-ngerjapkan matanya karena tidak menyangka ada warga lokal yang mencarinya.

"Ah, benar, Pak Tua. Saya sendiri tukang pijitnya, tapi tempat ini sedang berantakan," jawab Arya canggung.

Kakek tua itu meringis kesakitan sambil memegang punggung bawahnya yang bungkuk parah.

"Duh, puji tuhan saya ketemu... punggung saya sakit luar biasa gara-gara jatuh dari gerobak kayu," keluh kakek itu memelas.

Vanya mengamati kakek tua di depan pintu dengan ekspresi jijik bercampur heran.

"Manusia tua renta itu bahkan mau mati rasanya masih saja mencari tukang pijit," batin Vanya mencibir.

Arya merasa iba melihat kondisi kakek tua yang tampak kesakitan di senja hari.

"Masuklah dulu, Pak Tua, jangan di luar anginnya sedang dingin," ajak Arya ramah.

Kakek tua itu berjalan terpincang-pincang masuk ke dalam rumah reyot.

Ia duduk di atas kursi kayu tua yang ditawarkannya dengan napas tersengal-sengal.

"Aduh... pelan-pelan ya, badan saya sudah tua dan rapuh," rintih kakek itu kesal.

Arya mengambil botol minyak pijit herbal dari dalam tas usang miliknya.

Ia menuangkan sedikit minyak ke telapak tangannya lalu menggosokkannya hingga hangat.

"Tahan sebentar ya, Pak, ini bakal sedikit kerasa ngilu di awal," ujar Arya memperingatkan.

Arya mulai menekan titik-titik akupuntur di punggung kakek tua tersebut dengan hati-hati.

Krek...

Suara sendi punggung bergeser pelan terdengar di ruangan kecil itu.

"Ugh... aduh sakit tapi rasanya hangat!" pekik kakek tua itu kaget.

Arya terus melanjutkan pijatannya dengan telaten tanpa terburu-buru.

[Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis mendeteksi sesi pemijatan warga lokal.]

[Mendapatkan koin sistem: +10 koin emas kecil dan poin kepercayaan meningkat!]

Suara dengungan khas sistem itu berputar di kepala Arya tanpa suara luar.

Vanya hanya duduk diam memperhatikan ketelatenan Arya dari sudut ruangan.

"Manusia ini benar-benar tidak bisa diam, bahkan di tempat kumuh pun dia masih sempat memijit orang lain," batin Vanya heran.

Lima menit kemudian, Arya menarik kedua tangannya dari punggung kakek tua itu.

"Sudah selesai, Pak Tua, coba berdiri pelan-pelan," kata Arya tersenyum ramah.

Kakek tua itu berdiri dengan ragu-ragu sambil meluruskan punggungnya yang tadinya bungkuk.

"Eh? Punggung saya... kok sudah tidak sakit lagi?!" seru kakek itu takjub bukan main.

Ia melompat-lompat kecil di tempat, merasa tubuhnya kembali muda belia.

"Hebat sekali tanganmu, anak muda! Kamu penyelamat kakek tua ini!" puji kakek itu sumringah.

Kakek tua itu merogoh kantong kain usangnya dan mengeluarkan beberapa keping tembaga lalu menyerahkannya.

"Ambil ini, meskipun sedikit tapi ini hasil kerja keras kakek hari ini," ucap kakek itu tulus.

Arya menerima kepingan tembaga itu dengan senyuman lebar di wajahnya.

"Terima kasih banyak, Pak Tua, hati-hati di jalan pulangnya," kata Arya mengantar kakek itu sampai depan pintu.

Setelah kakek itu pergi, Arya menutup pintu kembali dan menatap koin di tangannya dengan senang.

"Meskipun cuma keping tembaga, setidaknya kita bisa beli roti buat makan malam," ucap Arya bersyukur.

Vanya mendengus pelan melihat ekspresi bahagia Arya mendapatkan uang kecil.

"Puas hanya dengan beberapa keping uang murahan begitu?" sindir Vanya dingin.

"Bagi orang kaya sepertimu mungkin tidak ada apa-apanya, tapi buat aku ini berharga," balas Arya santai.

Vanya terdiam seribu bahasa, merenungkan perbedaan hidup antara manusia rendahan dan penguasa iblis.

[Peringatan Sistem: Hubungan emosional Host dan Target semakin stabil.]

Suara dengungan sistem kembali berputar singkat di kepala Arya.

Arya membereskan botol minyaknya lalu menoleh ke arah Vanya.

"Sudah sore, ayo kita bagi tugas buat cari makan malam di sekitar sini," ajak Arya.

Vanya membelalakkan matanya tidak terima mendengar ajakan tersebut.

"Apa kamu menyuruhku keluar mencari makanan di tempat kumuh ini?!" murka Vanya geram.

"Iya, makanya jangan cuma ngedumel mulu, sekali-kali turun tangan bantu aku," balas Arya meledek.

Vanya mengepalkan tangannya kuat-kuat, ingin sekali memukul wajah Arya dengan kesal.

Namun ikatan sistem kembali menahannya, membuat sang Ratu Iblis hanya bisa mendengus marah.

"Awas saja kamu, Arya!" ancam Vanya dengan wajah memerah menahan malu.

Arya tertawa kecil melihat tingkah arogan Vanya yang mulai mencair setiap hari.

Malam pun mulai turun menyelimuti rumah reyot di pinggiran kota barat yang sunyi.

1
gofur
mantap kaka karya kamu🥰
Anton barly
💟💟💟💟
Shinta geol
🥰🥰🥰🥰🥰
nurul khusna
😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘
Antoni gergio
💞💓💗💖💝
samuel df
😍🤩🤩🤩🤩
Jangkar pion
iblis yg cantik😘
yudi permana
🌟🌟🌟🌟🌟🌟
nabila
🤩🌹😘😍🥰
putri andini
😍🥰
asyifa fauziah
🌹😘🥰😘
setiawan
pijatan yang mematikan sang ratu
yani
keren kaka semangat berkarya🥰
sasa
💞💕💞💞💞💞💞
fitri
🥰😘🥰😘🥰🤩🤩
pricilia
🌹🌹🌹🌹🌹
Angel
🌟🥳🤠
clara
hebatkaka
Yono Haryono
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!