Bagi Parrie Rose, dunia adalah medan pertempuran tanpa henti. Setelah kematian ibunya, gadis berusia 20 tahun itu terpaksa tinggal di kediaman keluarga Ford, menghadapi kebencian sang ibu tiri, serta perlakuan dingin keluarga barunya. Label ‘anak haram’ melekat erat di dadanya, menjadikannya sasaran hinaan yang seolah tak pernah usai.
Setitik harapan muncul saat Parrie berhasil masuk ke universitas paling bergengsi di New York melalui jalur beasiswa. Namun, takdir kembali mempermainkannya.
Hari pertamanya di universitas langsung berubah menjadi mimpi buruk saat sosok dari masa lalunya hadir kembali: Dimitriou Kaetos Ashford, putra konglomerat dengan kekuasaan besar, kembali hadir di kehidupannya.
Di antara tekanan keluarga tiri, hierarki kampus elit, dan jeratan obsesi Kaetos,
Akankah Parrie mampu melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya, atau justru tenggelam dalam jerat permainan Kaetos?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
"Parrie...?"
Kaetos menajamkan penglihatannya di dalam temaram malam.
Di balkon lantai dua mansion milik Irysh yang terletak tepat di sebelah timur taman rumahnya, ia baru saja melihat siluet seorang gadis berambut cokelat gelombang mengenakan piyama merah muda. Siluet itu berdiri menatap ke arahnya sebelum akhirnya menarik tirai jendela dengan terburu-buru.
Kaetos memejamkan matanya rapat-rapat, mengusap wajahnya yang terasa dingin dengan telapak tangan yang gemetar.
"Tidak mungkin..." gumamnya liris pada angin malam. "Kau mulai gila, Kaetos. Benar-benar gila."
Setelah pertengkaran hebat dikampus dan hancurnya mentalnya di penthouse mewah tadi sore, Kaetos memutuskan untuk pulang dan bermalam di mansion orang tuanya. Ia merasa jiwanya begitu rapuh dan kosong, sampai-sampai halusinasinya kini mulai menciptakan bayangan Parrie di mana-mana—bahkan di balkon rumah tetangganya sendiri.
Mana mungkin Parrie berada di mansion keluarga Irysh? Gadis itu pasti sedang menangis atau membencinya di suatu tempat yang jauh dari jangkauan dirinya.
Ia menghela napas berat, merasakan kepalanya berdenyut menyakitkan.
Tok, tok, tok.
Bunyi ketukan lembut di pintu kayu mahoni kamarnya memecah keheningan. Pintu itu terdorong sedikit, menampilkan sosok pria bertubuh jangkung dengan senyum hangat yang menenangkan.
"Kaetos? Ayo, makan malam sudah siap. Mommy dan Daddy sudah menunggu di bawah," panggil Leander Ashford, sang kakak yang berusia empat tahun lebih tua darinya.
Leander berpenampilan rapi dengan kemeja kasual yang digulung hingga siku. Berbeda dengan Kaetos yang selalu dipenuhi aura tegang dan dingin, Leander memiliki pembawaan yang sangat hangat, karismatik, dan tenang—sosok putra sulung sempurna yang selalu menjadi panutan.
Kaetos menatap kakaknya sejenak, lalu mengangguk kaku tanpa bersuara. Ia mematikan rokoknya di asbak kaca, membuang sisa asap keluar balkon, lalu melangkah mengekor di belakang Leander menuju lantai dasar.
Suasana ruang makan utama keluarga Ashford terasa sangat megah namun hangat. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya keemasan di atas meja makan panjang berbahan kayu jati murni yang dipenuhi oleh berbagai hidangan lezat kelas atas.
Nyonya Tessa Ashford—seorang wanita paruh baya yang tetap tampak anggun dan cantik luar biasa dalam balutan gaun rumah berbahan sutra—terlihat tersenyum sangat lebar. Matanya berbinar-binar penuh kerinduan saat melihat putra bungsunya berjalan menuju meja makan dan menarik kursi di sebelah Leander.
"Mommy senang sekali kau mau menginap di sini malam ini, Sayang," ujar Tessa lembut seraya menyendokkan hidangan daging panggang ke atas piring Kaetos.
Suaranya penuh dengan kehangatan seorang ibu yang sudah merindukan putranya setelah Kaetos memilih untuk tinggal sendirian di penthouse. "Sudah berapa minggu kau tidak makan masakan rumah? Kau terlihat sedikit lebih kurus, Kaetos. Kau harus makan yang banyak malam ini."
Tuan Giovanni Ashford, sang kepala keluarga yang duduk di ujung meja, meletakkan koran bisnisnya dan menatap Kaetos dari balik kacamata bacanya. Auranya tegas dan berwibawa khas pengusaha sukses dunia, namun tatapan matanya pada sang anak menyiratkan rasa peduli yang mendalam.
"Bagaimana dengan perkuliahan semester barumu, Kaetos?" tanya Giovanni dengan suara beratnya yang tenang. "Daddy dengar kau mengambil beberapa mata kuliah manajemen tingkat atas bersamaan dengan jurusan utamamu. Jangan terlalu menekan dirimu sendiri jika merasa lelah."
"Semuanya berjalan lancar, Dad. Tidak ada kendala," jawab Kaetos singkat dan datar, mulai mengunyah makanannya secara formal.
Makan malam itu awalnya berlangsung sangat harmonis. Suara dentingan pisau dan garpu beradu lembut dengan obrolan ringan antara Leander dan Giovanni mengenai perkembangan saham perusahaan keluarga.
Tessa sesekali menimpali dengan cerita lucu tentang kegiatannya di butik busana. Untuk beberapa saat, suasana kehangatan keluarga itu sempat membuat dada Kaetos yang terimpit rasa sesak menjadi sedikit lebih rileks.
Namun, kehangatan itu runtuh seketika saat Tessa meletakkan pisaunya dan menatap Kaetos dengan raut wajah yang berubah menjadi sangat serius.
"Kaetos... Mommy mau menanyakan sesuatu padamu," ujar Tessa pelan, matanya dipenuhi kecemasan yang terpancar jelas. "Kenapa kau berhenti mengonsumsi obat-obatan dari Dokter? Suster pribadi di penthouse-mu melapor pada Mommy kalau botol obat penenang dan penstabil emosimu masih utuh sejak bulan lalu."
Gerakan tangan Kaetos yang sedang memotong daging mendadak terhenti. Garpu di tangan kirinya mencengkeram kuat permukaan meja.
"Aku tidak membutuhkannya, Mom," jawab Kaetos dengan suara tegang dan rendah. "Aku tidak sakit."
Tessa menghela napas panjang, mengangguk-angguk kecil mencoba memahami keras kepalanya sang putra. "Mommy tahu kau merasa sudah lebih baik, Son. Tapi terapi dan obat itu penting untuk menjaga kestabilan pikiranmu..."
Tessa jeda sejenak, lalu melanjutkan dengan nada penuh kehati-hatian, "Lagipula... Mommy baru saja mendengar kabar tentang Parrie dari orang-orang di butik..."
Mendengar nama itu disebut di meja makan keluarga, tubuh Kaetos seketika membeku total.
Leander yang sedang meminum air putihnya menghentikan gerakannya, menoleh pada sang ibu dengan kening berkerut penasaran. "Tunggu dulu... siapa Parrie, Mom?"
Giovanni yang duduk di ujung meja menjawab pertanyaan putra sulungnya dengan tenang sebelum sang istri sempat bersuara. "Kekasih adikmu."
"Dia bukan kekasihku, Dad!" potong Kaetos cepat dengan nada suara yang mendadak meninggi dan tajam.
TAK!
Giovanni meletakkan garpunya ke atas piring porselen hingga menimbulkan bunyi nyaring. Pria paruh baya itu menatap Kaetos lurus-lurus dengan tatapan mata yang sangat tegas dan tidak suka.
"Aku tidak pernah mengajarimu untuk menjadi pria brengsek yang tidak bertanggung jawab seperti itu, Dimitriou," ujar Giovanni penuh penekanan. "Jika kau membawa seorang wanita masuk ke dalam hidupmu, membayari seluruh fasilitasnya, dan membuatnya bergantung padamu, maka hormati dia secara terhormat. Jangan menyangkal hubungan hanya demi gengsimu."
Emosi yang menyala-nyala di dalam dada Kaetos seketika meledak. Ia tidak sanggup lagi berada di ruangan itu, tidak sanggup mendengar penghakiman dari ayahnya, dan tidak sanggup mendengar nama Parrie diperdebatkan di sini.
Kaetos langsung berdiri secara mendadak hingga kursinya terdorong ke belakang dan menimbulkan suara berderit kasar di atas lantai marmer. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan meja makan, mengabaikan panggilan lembut ibunya yang cemas.
Ia berjalan cepat menyusuri tangga, menuju kamarnya di lantai atas, lalu...
BRAKK!!
Pintu kamar dihentakkan dengan sangat keras hingga guncangannya terasa ke seluruh bingkai kayu.
Di balik pintu yang terkunci rapat, Kaetos berdiri mematung di dalam kegelapan kamar. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, dadanya naik turun terengah-engah menghirup oksigen yang terasa sangat tipis.
"Arghh!" Kaetos meremas rambut hitamnya dengan kedua tangan secara kasar, memutar tubuhnya dan menyandarkan punggungnya pada pintu kayu yang dingin.
Kenapa? Kenapa ibunya selalu bertindak seolah-olah mengingatkan dirinya bahwa dia adalah seorang pasien mental yang cacat? Kenapa semua orang di rumah ini harus selalu menekankan bahwa dia wajib mengonsumsi obat-obatan gila itu agar bisa berfungsi sebagai manusia normal? Dia tidak sakit! Dia hanya... rusak secara emosional!
Dan pernyataan Daddy nya tentang Parrie... itu merekah menjadi rasa sakit yang membakar otaknya.
Kaetos Ashford bukanlah tipe pria yang suka berfokus pada hubungan main-main atau sekadar mencari kesenangan sesaat.
Wataknya yang serius, kaku, dan perfeksionis membuat setiap hal yang ia lakukan harus memiliki tujuan yang jelas.
Di lingkaran pertemanannya di kampus atau klub elit, ia sering kali mendengar kawan-kawannya dengan bangga menceritakan bagaimana mereka bergonta-ganti kekasih setiap bulan hanya karena alasan kekanak-kanakan: bosan.
Kaetos sangat membenci hal itu. Namun yang paling ia takuti bukanlah rasa bosan pada dirinya sendiri. Yang paling membuat jiwanya berada di ambang ketakutan tertinggi adalah... kondisi mentalnya yang buruk dan sering kali membayangkan hal-hal gila yang mengerikan.
Bagaimana jika rasa kagumnya pada Parrie berubah menjadi obsesi gelap yang menghancurkan? Bagaimana jika saat mereka berpacaran, pikiran-pikiran distorsi di kepalanya benar-benar mencelakai wanita itu?
Lebih-lebih saat ia mengingat... hubungan mereka berdua dimulai dengan cara yang sangat salah dan kotor sejak awal. Sebuah kontrak transaksional! Sebuah transaksi uang demi tubuh dan perawatan medis!
Setiap kali Kaetos memeluk Parrie di malam hari, sebuah pertanyaan beracun selalu berbisik di dalam pikirannya:
Apa benar Parrie mencintaiku? Atau dia hanya berpura-pura mencintaiku demi uangku? Demi rasa aman yang diberikan oleh nama besar keluarga Ashford?
Kaetos tidak mau menjalani hubungan pacaran yang hanya berprinsip 'mencoba-coba'.
Bagi pria seperti dirinya, jika sebuah komitmen-komitmen asmara sudah dimulai, maka itu artinya mereka harus melangkah lurus menuju arah yang sangat serius: pernikahan.
Namun komitmen pernikahan berarti kesiapan untuk saling memiliki selamanya, membangun keluarga, dan memiliki anak-anak yang lahir dari darah daging mereka.
Dan untuk semua hal besar itu... Kaetos membutuhkan kesiapan mental yang jauh lebih besar dan kuat daripada sekadar aktivitas fisik bercinta dan melampiaskan gairah di atas ranjang!
Bagaimana bisa seorang pria berusia dua puluh satu tahun yang bahkan belum sanggup mengendalikan dorongan psikologis di dalam otaknya sendiri, dituntut untuk menjadi seorang suami dan ayah?
Bukankah membahas masa depan dan pernikahan di usia awal dua puluhan ini terasa terlalu cepat dan membunuh ruang bernapasnya?
"Arggghh!" Kaetos kembali meremas rambutnya semakin kasar, merosot jatuh hingga duduk bersandar di pintu kamar.
Pikirannya melayang jauh ke masa lalu. Ke sebuah benang hitam yang menjadi akar dari seluruh kegelapan jiwanya.
Jika saja... jika saja hal mengerikan itu tidak pernah terjadi padanya di masa lalu... jika saja trauma kelam yang merenggut masa itu tidak pernah ada...
Mungkin hari ini dia bisa tumbuh menjadi pria yang normal. Pria yang sehat seperti kakaknya, Leander. Dia tidak perlu menghabiskan masa remajanya di dalam ruang terapi yang dingin, tidak perlu bolak-balik menemui psikiater dan psikolog berlisensi hanya demi belajar cara mentoleransi sentuhan manusia tanpa rasa mual, dan dia tidak perlu menjadi pria gila yang harus menampar dan mengusir wanita yang paling ia cintai hanya demi menyelamatkan wanita itu dari kegilaan otaknya sendiri.
Kaetos menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya yang tertekuk.
Di dalam kegelapan kamar Ashford yang luas dan sepi itu, sang pangeran kaya raya kembali menangis dalam hening, terperangkap dalam penjara pikiran yang ia buat sendiri.
...----------------...