Sonya Dewi adalah seorang mahasiswi semester akhir yang terpaksa mengakhiri pendidikannya, karena suatu tragedi terjadi pada dirinya. Saat di mana Sonya ingin kabur dan mengakhiri hidup, ia justru bertemu dengan seorang pria tampan yang memiliki masa lalu bernama Kenzo Abraham. Karena kesalahpahaman dari dua warga yang melintas dan lantas memergoki, membuat Kenzo terpaksa membawa Sonya.
Tidak hanya sampai di situ saja, kesalahpahaman kedua berlanjut saat orang tua Kenzo tiba-tiba datang bertamu, merasa terkejut setelah bertemu sosok Sonya yang asing. Demi melindungi Sonya, Kenzo terpaksa membuat sebuah kebohongan. Dusta tersebut pada akhirnya melibatkan Kenzo dan Sonya sebagai pasangan suami-istri di pernikahan yang sejatinya tidak mereka inginkan.
Lantas, bagaimana kehidupan rumah tangga Kenzo dan Sonya di dalam pernikahan tanpa cinta tersebut? Bagaimanakah cara Kenzo memperlakukan Sonya yang sebelum ia nikahi merupakan wanita ternoda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhy'dHeavy Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11-Kedatangan Kenzo
"Apa kamu belum mendapatkan informasi mengenai keberadaan Sonya, Sayang?" tanya Gani pada istrinya.
Delima mengaku sedang lelah dan letih pada pekerjaan yang kian menumpuk, sehingga sore ini ia memutuskan untuk pulang lebih cepat. Selain itu, ia memang sedang ingin menyantap masakan buatan Gani—suaminya itu. Kerinduannya pada sang suami juga cenderung lebih besar, daripada rasa kangennya pada sang putri yang masih saja belum bisa ia temukan.
Delima menggeleng sesaat setelah menelan sesuap sosis bumbu pedas manis. "Belum. Semua temannya sudah aku hubungi dan mereka tidak tahu-menahu di mana Sonya. Pihak kampus juga bilang Sonya tidak mengikuti kelas apa pun akhir-akhir ini," jelasnya.
Rahang Gani mengeras dibuatnya. Pun pada perasaannya yang berangsur jengkel. Hilangnya Sonya membuat Gani sangat kesal. Selain tidak bisa memuaskan kerinduan pada tubuh molek anak tirinya tersebut, Gani merasa tertekan. Takut jika Sonya membuat laporan, oh ... atau mungkin bunuh diri?
Entah. Gani pernah berpikir bahwa kedua kemungkinan itu tidak mungkin terjadi. Namun, kini hatinya justru ragu pada prediksinya sendiri.
"Bersabarlah, Istriku. Mungkin Sonya akan pulang sebentar lagi." Gani mengulas senyum palsunya. Lagi-lagi, ia bersandiwara.
Delima tersenyum, lalu menjawab, "Dia memang putriku. Tapi, kupikir dia sudah dewasa sekarang. Dia bisa menjaga diri pastinya."
"Oh!" Gani agak terkejut. "Jadi, kamu sudah ingin menyerah untuk menemukannya?"
"Tentu saja tidak, Sayang. Aku akan terus mencarinya. Aku memiliki nama baik, sudah sering aku katakan tentang hal ini, bukan? Jika Sonya lari bersama seorang pria, aku akan sangat menentangnya. Dia belum lulus kuliah. Dan lagi, kalau kabar kaburnya terkuak, nama baikku dan perusahaanku akan hancur. Tentunya kamu tahu bagaimana aku membangun brand-ku, setelah aku terkungkung dalam aturan ketat almarhum suami pertamaku. Oleh sebab itu, aku tidak akan membiarkan nama perusahaanku tercemar," jelas Delima.
Gani tersenyum lebar. "Tentu saja, aku tahu. Beruntungnya sekarang suami kamu ini sangat baik dan tak banyak aturan, ya?"
"Ah benar. Kamu memang hebat, Sayang." Senyum di wajah Delima mendadak hilang saat ia teringat akan putrinya. "Seharusnya Sonya belajar darimu. Menjadi anggota keluargaku yang sangat pengertian. Dia malah kabur begini. Lihat saja nanti, kalau dia pulang akan aku kurung dia!"
"Jangan terlalu keras, Sayang," kata Gani lembut.
Delima menghela napas. Ia mencoba menuruti ucapan Gani barusan. Ketegangannya meluruh. Tak seharusnya ia memikirkan Sonya. Nanti saja, setelah beberapa anak buahnya dapat memberikan informasi untuknya. Lagi pula, ia sudah terlalu sibuk. Banyak rapat, banyak acara, sekaligus banyak pekerjaan di kantornya. Memikirkan gadis nakal yang kabur, tidak terlalu penting, setidaknya untuk saat ini.
***
Sebisa mungkin Kenzo memberikan candaan-candaan garing pada Sonya di sepanjang perjalanan, agar setidaknya gadis itu tidak terlalu cemas. Namun tetap saja, sesampainya di depan rumah Delima, gemetar dan ketakutan lagi-lagi menyerang tubuh Sonya. Jujur saja, Kenzo merasa tidak tega. Ia tidak mau menyulitkan gadis itu.
Namun, di sisi lain, nanti malam Abraham dan Rose akan datang ke rumah itu. Melamarkan Sonya untuk Kenzo yang sudah menciptakan sebuah kebohongan konyol, hingga ia terpaksa akan menjadikan si gadis ternoda menjadi calon istrinya. Takdir gila macam apa, coba? Parahnya lagi, lambat-laun Kenzo semakin dibuat iba pada Sonya, hingga menganggap gadis itu seperti adik, bahkan keponakannya sendiri.
Konyol, sungguh sangat konyol!
Kenzo menghela napas, lalu tersenyum kecut. Ia pun menatap Sonya, lalu berkata, "Masih setakut ini, Putriku?"
Sonya menelan saliva. Tak lagi ia pedulikan candaan tak lucu dari Kenzo, ia hanya mengangguk pelan.
"Tunggulah di sini, aku akan masuk sendiri." Kenzo berubah pikiran. "Di sini kosong dan kaca mobil ini tidak transparan. Jadi tidak akan ada orang yang tahu bahwa kamu ada di sini."
Dengan susah payah karena tengkuknya sangat kaku, Sonya menatap Kenzo. "Tapi, apakah akan berhasil, Tuan Kenzo?"
"Ya, setidaknya 80% aku bisa membujuk ibumu untuk menerima lamaranku. Aku ini Kenzo Abraham. Semua kalangan pengusaha pasti tahu aku ini siapa. Dan lagi, semua pengusaha berlomba-lomba menjodohkan anak mereka denganku. Keluargaku konglomerat yang memiliki kekuasaan cukup besar, bahkan mungkin Pak Presiden pun akan sangat senang bertemu kami." Tanpa ekspresi berlebihan, bahkan cenderung biasa saja, Kenzo berucap dengan kata-kata narsis dan seolah mengagungkan nama keluarganya yang memang sudah melejit.
Sonya dibuat ingin tertawa. Namun sayangnya, kecemasan di dalam hatinya masih sangat besar, hingga sulit dikalahkan oleh perasaan positif lainnya.
"Ah! Bukan, bukan maksudku ingin sombong, tapi aku hanya mengungkapkan fakta saja. Dan yah, selain karena dukungan keluarga, aku ini pengusaha muda yang sangat hebat, Sonya." Kenzo memberikan klarifikasi dengan malu, pasalnya ini pertama kalinya ia mengatakan kalimat senarsis itu. Kalau saja tidak demi meredam kecemasan Sonya, ia tidak akan mau berkata demikian, apalagi sampai membawa-bawa kebesaran keluarganya. Sungguh, bukan gaya Kenzo.
"Aku ini ... juga tampan, jadi tak mungkin orang tua seorang gadis menolakku menjadi calon menantu mereka. Jadi, yakin saja, kita pasti berhasil. Dan pernikahan itu akan terlaksana, di mana kamu bisa membuatku menghindari perjodohan. Dan aku bisa membantumu hidup serta membalas dendam," tambah Kenzo lagi yang tambah narsis dengan cara memuji paras rupawannya sendiri, tetapi langsung diiringi keseriusannya. Ah tidak, sejak tadi Kenzo memang sudah serius.
"Jadi, kalau kamu takut, tunggulah di sini. Setidaknya sampai aku menjemputmu, atau ayah dan ibuku sudah datang nanti. Aku akan membujuk ibumu untuk menerimaku menjadi calon menantunya dan akan aku hadapi pria tua sialan itu untukmu, Putri Paman!"
"Putri paman?" Reflek, Sonya bergumam mempertanyakan sebutan Kenzo untuknya. "Memangnya ada putrinya paman, yang ada ayah!"
Tersenyum, Kenzo tak lagi menjawab. Mendengar Sonya yang sudah kembali mengeluarkan kata-kata, ia pikir Sonya sudah jauh lebih baik. Tanpa persetujuan dari Sonya, Kenzo membuka pintu. Ia keluar dari mobil hitam mengkilap dengan merek mahal miliknya itu.
Kenzo menatap gagahnya rumah seorang pengusaha bernama Delima alias calon mertuanya sendiri. Rumah tersebut tak lebih besar dari rumah milik kedua orang tuanya. Nama Delima pun belum se-terkenal itu, tetapi sudah bisa dicari di laman internet. Setidaknya Delima memiliki usaha yang sukses, dan sampai bisa membeli barang-barang branded untuk dirinya serta Sonya Dewi.
Kenzo telah duduk dengan tenang di ruang tamu rumah itu, sesaat setelah salah seorang pelayan menyambutnya dan mempersilakan dirinya masuk. Cukup lama bagi Kenzo untuk menunggu sang tuan rumah, hingga akhirnya ia melihat seorang wanita dengan penampilan elegan menuruni para anak tangga. Di belakang wanita itu, tampak seorang paruh baya yang membuntuti layaknya pengawal pribadi.
Lantas, apa yang akan terjadi ketika sang Tuan Muda tiba-tiba datang dan memberikan lamaran secara dadakan? Sementara Delima sudah bertekat untuk mengurung Sonya, jika putrinya itu pulang?
***