Sejak kecil Karina terbiasa melihat ibunya bekerja keras ditambah lagi setelah sang Ayah memilih pergi dengan wanita lain, oleh karena itu, Karina berjanji pada dirinya sendiri dimana dia ingin bebas dari kemiskinan, Sampai suatu hari, Karina bertemu dengan Adrian Mahardika pemuda Tampan. Berpendidikan. Pewaris keluarga konglomerat yang memiliki segalanya. Bagi Karina, Adrian bukan sekadar lelaki. Ia adalah jalan keluar dari kehidupan yang selama ini ia inginkan, yaitu kemewahan. Sejak saat itu, Adrian menjadi obsesinya. Akankah Karina mampu memenangkan Obsesinya atau malah membuat Hidupnya hancur dengan Obsesinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Seperti biasa pagi hari yang dilakukan Adrian setelah selesai sarapan adalah dengan menanyakan jadwal kegiatannya kepada Tomy.
"Bagaimana jadwalku hari ini?"
Tomy segera membuka tabletnya.
"Hari ini ada pertemuan dengan para pemegang saham dan tim produksi untuk membahas peluncuran produk terbaru."
Adrian mengangguk.
"Baiklah, untuk model nya aku percayakan padamu, jangan mengecewakan." sahut Adrian kemudian meminta Tomy untuk segera menjalankan mobil nya menuju kantor. Dirinya tidak mengetahui bahwa model yang sudah disiapkan adalah seorang wanita yang tidak dia sukai.
Tepat pukul sepuluh pagi, Adrian sedang sibuk di ruang kerjanya. Matanya fokus pada layar laptop ketika pintu tiba-tiba terbuka, Ia mengangkat wajahnya sekilas, tampak Katrin berdiri di ambang pintu.
"Ada apa kau datang ke sini?" Tanya Adrian yang masih fokus pada leptopnya
Katrin tersenyum, lalu melangkah masuk.
"Aku dengar kau sedang mencari model untuk produk terbaru yang akan segera launcing?"
Adrian kembali menatap laptopnya.
"Ayahmu yang bilang begitu?"
"Iya Adrian, dan Ayah menyarankan agar aku bisa menjadi modelnya, kau pun tidak perlu mengeluarkan biaya mahal untuk model."
Jari Adrian berhenti bergerak di atas keyboard.
"Model?"
"Iya." Katrin tersenyum percaya diri. "Bagaimana menurut mu?"
Adrian hanya mengangguk singkat.
"Urusan itu sudah aku serahkan kepada Tomy."
"Tomy?" Nada suara Katrin berubah meremehkan.
"Memangnya dia mengerti dunia modeling?"
Adrian menutup laptopnya, kemudian berdiri dari kursinya "Aku sedang sibuk, Katrin. Kalau kau memang tertarik, bicarakan langsung dengan Tomy."
"Tapi, Adrian—"
Pria itu sudah berdiri mengambil laptopnya lalu berjalan melewati Katrin tanpa memberikan kesempatan untuk melanjutkan pembicaraan.
Katrin menoleh mengikuti langkahnya.
Wajahnya langsung berubah kesal, Ia tidak suka sikap Adrian yang semakin dingin kepadanya.
Padahal dua tahun lalu, hubungan mereka jauh berbeda, Katrin sangat dekat dengan ibu nya Adrian. Bahkan sang ibu sempat menjodohkan mereka berdua, namun semuanya berubah setelah ibu Adrian meninggalkan Adrian dan sang Ayah demi pria lain, Adrian mulai membenci sang ibu hingga kini, dan katrin yang menutupi perselingkuhan itu malah membuat hubunganya dengan Adrian mulai renggang, Katrin terus berusaha meminta maaf berkali-kali karna kesalahan yang dia lakukan dengan merahasiakan hubungan sang Ibu dengan pria lain, namun seperti nya Adrian tidak pernah benar-benar membuka hatinya seperti dulu, Kali ini Katrin berusaha memperbaiki semua, untuk bisa mendekati kembali Adrian.
Sementara itu, di sebuah studio pemotretan, Tomy sedang sibuk mengawasi sesi pemotretan produk bersama tim, tampak Karina berdiri di depan kamera.
Namun sejak awal, ia terlihat sangat tegang.
"Baik, Mbak Karina. Kita ulang."
Kamera kembali mengambil gambar. Karina mencoba tersenyum, tetapi ekspresinya masih terlihat kaku. Tomy segera menghampirinya dan berusaha menenangkan nya,
"Begini Mbak Karina, ikuti saja apa arahan fotografer, dan fokus ke depan."
"Iya ya, saya akan mencoba lagi."
Satu jepretan.
Dua jepretan.
Tiga jepretan. Perlahan, ekspresinya mulai berubah, senyumnya terlihat lebih alami. Di tengah pemotretan, ponsel Tomy berdering.
Ia melihat layar tertera panggilan masuk dari katrin, pikiran nya mulai melayang
"Kenapa tiba - tiba dia menelpon?" tanya nya dalam hati, Tomy menghela napas panjang sebelum menjawab panggilan nya
"Halo, iy Mbak Katrin."
"Tomy, apa kau sudah mendapatkan model untuk produk terbaru yang akan diluncurkan?" terdengar suara katrin di sambungan telpon
Tomy melirik Karina yang masih dalam sesi pemotretan, Ia berpikir sejenak, kemudian dia berlari keluar berusaha mencari tempat ramai agar berpura pura tidak mendengar suara katrin
"Halo? Mbak Katrin?"
"Tomy, aku bertanya padamu."
"Maaf, Mbak. Suaranya tidak terdengar jelas. Saya lagi diluar."
"Kau di mana?, Tomy...?
"Hallo....hallo." sahut tomy yang sengaja mengulang ulang dan kemudian langsung mematikan ponsel nya
Katrin terdiam, Beberapa detik kemudian, wajahnya memerah karena kesal. Katrin pun keluar dari kantor Adrian sambil berguman dalam hati nya
"Lihat saja kau Tomy, berani mempermainkan Aku."sambil beedecik kesal
Sampai sore menjelang malam Pemotretan hari pertama pun akhirnya selesai, mereka tak menyangka hasilnya jauh lebih baik dari perkiraan.
Tomy bahkan merasa yakin produk terbaru Mahardika Group akan terlihat menarik dengan Karina sebagai modelnya.
Hari kedua pemotretan berlangsung jauh lebih berbeda. Karina mengenakan gaun mewah dengan riasan glamor. Penampilannya benar-benar berubah.
Jika biasanya ia terlihat sederhana dengan pakaian seadanya, hari ini Karina tampak seperti perempuan dari kalangan sosialita.
Bahkan dirinya sendiri hampir tidak percaya ketika melihat pantulan wajahnya di cermin.
Namun bukan hanya penampilannya yang berubah.
Kepercayaan dirinya juga mulai tumbuh.
"Bagus, Mbak Karina! Tatap kameranya!"
Karina tersenyum.
"Sedikit miring..."
Karina mengikuti arahan.
"Bagus!"
Kamera kembali berbunyi. Kali ini tidak ada lagi kegugupan. Karina mulai menikmati setiap detik pemotretan. Di dalam hatinya, muncul harapan baru. Mungkin inilah kesempatan yang selama ini ia tunggu. Kesempatan untuk mengubah hidupnya.
Sementara itu, Pak Hasto mengantar Karina ke studio. Setelah memastikan Karina masuk, Hasto segera meninggalkan tempat itu karena harus menjemput Pak Surya. Hari itu, Pak Surya memang ingin melihat sendiri perkembangan pemotretan Karina. Namun di tengah kesibukannya, Adrian tiba-tiba memiliki waktu luang dan berniat akan pergi juga le lokasi pemotretan.Tomy langsung terkejut dibuat nya, dan berusaha mencegah nya, namun apalah daya, keputusan untuk pergi tidak bisa dihindari. Sepanjang perjalanan, perasaan Tomy semakin tidak tenang. Begitu Adrian memasuki studio, suara kamera terdengar bersahutan.
Awalnya ia hanya berniat melihat proses pemotretan.
Namun langkahnya mendadak terhenti. Matanya tertuju pada seorang perempuan yang sedang berdiri di depan kamera. Gaun mewah membalut tubuhnya.
Rambutnya ditata dengan elegan. Wajahnya terlihat begitu berbeda, untuk sesaat Adrian terpaku. Ada sesuatu dari perempuan itu yang membuat pandangannya sulit dialihkan. Namun ketika perempuan itu menoleh, Adrian langsung tersentak.
"Bukan kah itu Karina...?"
Raut kagum di wajahnya seketika berubah menjadi kemarahan, dengan langkah cepat, Adrian berjalan menuju lokasi pemotretan.
"Siapa yang memberi izin, wanita ini untuk menjadi model?" Suara Adrian menggema di seluruh ruangan.
Semua orang seketika berhenti bekerja. Karina hanya membeku, Wajahnya seketika pucat. Ia tidak menyangka akan berhadapan dengan Adrian di tempat itu. Sementara Tomy hanya bisa menelan ludah, Ia tahu, inilah saat yang paling ingin dihindarinya. Adrian menatap seluruh kru.
"Aku bertanya, siapa yang memilihnya?"
Tidak ada yang berani menjawab.
Sampai tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu.
"Aku."
Semua orang menoleh.
Pak Surya berjalan masuk dengan tenang.
Adrian langsung menatap ayahnya.
"Ayah?"
Pak Surya berdiri di hadapannya.
"Aku yang meminta Karina menjadi model."
"Kenapa semua berhenti? Ayo...lanjutkan pemotretannya."
Fotografer segera mengangkat kamera kembali, sementara Adrian masih berdiri dengan wajah penuh kemarahan. Ia menatap Karina sekali lagi, Lalu pergi.
Tomy segera menyusul, tanpa sepatah kata pun mereka kembali ke kantor, begitu sampai di ruang kerja, Adrian langsung melampiaskan kekesalan nya.
"Jelaskan!"
Tomy terlihat pucat sambil berdiri kaku
"Kenapa wanita itu bisa menjadi model produk yang akan launcing? "Apa kau lagi yang menyarankan pada Ayah?"
"Bukan pak Adrian, tapi dia kebetulan cocok dengan topik produk yang akan kita pasarkan pak."
"Apa kau yakin?, " Atau kau memang sengaja menjadikan nya model, agar produk ku ditertawakan banyak orang? Adrian menatap asisten nya dengan tatapan tajam.
"Aku tidak mau tau, kau harus mencari ganti sekarang!"
Tomy terdiam kaku namun berusaha menjelaskan
"Lusa produk itu akan diluncurkan pak, kita tidak punya waktu, untuk merubah nya sekarang."
"lalu kenapa kau memilih dia?"
"Saya akan menunjukkan hasil pemotretannya, dan ini sudah sangat bagus pak, lihatlah topik nya sangat sesuai dengan karakter mba Karina."
Adrian terdiam sambil memperhatikan hasil pemotretan kemarin, ia menarik nafas panjang berusaha menurunkan emosinya, kemudian berjalan menuju jendela kantor, Pikirannya kacau
"Kenapa aku sangat membencinya." guman nya dalam hati, untuk sesaat, ia benar-benar terpukau, Adrian mengerutkan kening, seolah marah kepada dirinya sendiri, ia merasa dirinya terlalu berlebihan dengan terhadap Karina, atau kali ini ia harus terpaksa menerima kenyataan bahwa hatinya sendiri mulai terusik oleh kehadiran Karina.