Ditinggal pergi oleh sang ibu pasti akan membuat siapapun merasa hancur.
Begitulah yang dirasakan oleh ALLIA NAURA BATRISYA, gadis cantik yang baru menginjak umur 18 tahun.
Kehilangan sang ibu membuat Allia begitu hancur dan sedih, terlebih saat dia sudah tidak mempunyai siapapun untuk bersandar atau hanya sekedar tempat bercerita berbagi kesedihan.
Merasa hidupnya sudah tidak berguna, membuat Allia mempunyai niatan untuk mengakhiri hidupnya sendiri dan menyusul sang ibu ke alam setelah kematian, namun niatnya itu digagalkan oleh seorang wanita paruh baya yang akan dipanggilnya dengan sebutan Mama Tias.
Karena melihat Sifat Allia yang ceria dan ramah, mama Tias berniat untuk menikahkan Allia dengan putra satu-satunya yang dia ketahui dingin dan cuek dengan sekitarnya.
Apakah Allia akan menerima perjodohan itu?
jika memang ia bagaimana cara Allia untuk mencairkan es batu yang yang akan menjadi suaminya itu?.
penasaran? Langsung baca aja yuk! ;-)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tria Miranda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#INGIN KEMBALI MELANJUTKAN PENDIDIKAN
" Ardiaz?" tanya Allia memastikan
" siapa lagi emang kau punya suami lain"
jawab Rafly menaikan dagunya
Setelah memberikan formulir pendaftaran kuliah dan berbincang-bincang sebentar Rafly pamit meninggalkan Allia untuk kali ke kantor, Allia tidak menyadari bahwa ada orang yang sedang mengawasinya dan menguping pembicaraan nya dan Rafly
"sepertinya aku bisa memanfaatkan Rafly untuk memisahkan Allia dan Ardiaz" gumam orang itu yang tak lain adalah sri yang memang sedang mencari masalah yang bisa menyebabkan Allia dan Ardiaz bertengkar
Allia duduk kembali di sofa di depan TV,
karena penasaran dengan isi amplop yang di berikan oleh Rafly, tanpa berfikir panjang dia membuka amplop dan melihat apa isi dari amplop itu
Saat melihat isi amplop itu adalah formulir pendaftaran kuliah, Allia berteriak senang dan langsung melihat-lihat semua formulir itu
" formulir pendaftaran kuliah? jadi dia mengizinkan ku untuk kuliah?" Allia tersenyum lebar seperti anak kecil yang di berikan permen, tapi saat melihat biaya kuliah yang tercantum di formulir itu Allia menganga terkejut,
" apa dia tidak salah,semua biaya kuliah di kampus ini sangat mahal?" gumam Allia ragu,
" tapi sudahlah aku akan menanyakan saat makan malam nanti" Allia mematikan TV yang tidak ia tonton dan kembali ke kamarnya
" masih jam 11 apa yang harus kulakukan, aku sungguh bosan, mama juga belum pulang" Allia mengeluh bosan, tapi tidak lama Allia terlelap dan masuk ke alam mimpinya
Allia terbangun dari tidurnya dan terkejut saat melihat jam weker yang ada di atas nakasnya
" Ha sudah jam lima? mama pasti sudah pulang, sebaiknya aku mandi dan memasak untuk makan malam" Allia bergegas turun dari tempat tidur nya dan masuk kedalam kamar mandi
Setelah selesai mandi Allia segera masuk ke ruang ganti pakaian " mengapa ruangannya harus terpisah dari kamar mandi sih, harusnya di satuin aja agar aku tidak harus berjalan melewati kamar untuk sampai di ruangan ini" jujur saja Allia merasa tidak nyaman jika harus keluar dari kamar mandi dengan masih menggunakan handuk, jika dia masih tinggal sendiri di kamar lamanya ya tidak masalah baginya tapi sekarang dia sudah tinggal satu kamar dengan Ardiaz, itu membuat Allia sedikit jengkel.
setelah berganti pakaian Allia segera keluar dari kamarnya dan turun menuju dapur,
Saat Allia sedang bersiap-siap memasak mama Tias menghampirinya
" Lia kamu udah bangun?" tanya mama tersenyum
" eh ia ma, sekarang Lia baru mau masak untuk makan malam nanti " jawab Allia melanjutkan aktivitasnya
" Lia kamu nggak usah masak, tadi mama udah beli makanan buat makan malam, sekarang kamu temenin mama ngobrol aja yah" mama langsung menarik tangan Allia untuk mengikutinya
Mama Tias mengajak Allia duduk di sofa ruang keluarga dan menceritakan semua hal saat dia sedang berkumpul dengan teman-teman nya, Saat selesai bercerita mama menyampaikan hal mengapa dia mengajak Allia untuk berbicara
" Lia.. sekarang kamu dan Ardiaz kan sudah menikah, jadi kapan kalian akan memberikan mama cucu" tanya mama Tias tidak sabar mendengar jawaban Allia
" tapi ma, lia mau melanjutkan pendidikan Lia dulu sampai selesai kalau lia hamil lia tidak bisa kuliah " jawab Allia pelan sambil memegang tangan mama Tias,
" Lia mama tidak pernah melarang mu untuk kuliah, walau kamu hamil kamu masih bisa tetap melanjutkan kuliahmu kok" ucapan mama Tias memberikan pengertian, setelah mendengar kata-kata mama Tias Allia tidak bisa lagi mengelak dan hanya bisa mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan mama Tias
melihat anggukan Allia mama Tias tersenyum sumringah " Lia makasih ya, kamu udah mau nurutin kemauan mama" ucap mama Tias lalu beranjak meninggalkan Allia
" bagaimana caranya bisa punya anak, membayangkan kalau aku akan melakukan hal semacam itu saja sudah membuatku merasa takut" gumam Allia bingung
Saat hampir waktunya makan malam Ardiaz sudah pulang dari kantornya,
Saat keluar dari kamar mandi Ardiaz langsung menuju ke ruang ganti.
" apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ardiaz saat melihat Allia berda dalam ruangan itu
" a..aku hanya ingin menyiapkan pakaian rumahan mu" jawab Allia berusaha tidak melihat Ardiaz yang hanya memakai handuk di pinggangnya
melihat Allia yang tidak merasa nyaman Ardiaz menyuruhnya keluar "kau tidak perlu melakukannya, sekarang kau keluar aku ingin memakai pakaianku" perintah Ardiaz pada Allia dan Allia pun keluar dari ruangan itu
" huh dasar om-om, kalau bukan karena dia sudah mengabulkan permintaan ku untuk kuliah, aku tidak akan pernah mau menyiapkan pakaiannya" gumam Allia kesal
Saat Ardiaz sudah keluar dari ruang ganti, Allia berjalan mendekati Ardiaz yang sedang mengeringkan rambutnya menggunakan handuk
" dia seperti perempuan saja, mengeringkan rambut membutuhkan waktu yang sangat lama" gumam Allia dalam hati
" apa yang kau inginkan" tanya Ardiaz dingin, Allia yang sedang mengejek Ardiaz dalam hatinya itu segera membuang apa yang sedari tadi ia katakan dalam hatinya
" eee... om, eh maksudku kakak, ee bukan maksudku abang " ucap Allia bingung harus memanggil Ardiaz dengan sebutan apa, karena selama ini dia selalu memanggil Ardiaz dengan sebutan om-om
" kau hanya perlu memanggil namaku"
ucap Ardiaz berlalu meninggalkan Allia
" dasar om-om pemarah, jutek, monster, dan.." gumam Allia kecil tapi masih bisa di dengar Ardiaz karena dia baru berjalan beberapa langkah dari tempat Allia berdiri
" apa yang barusan kau katakan? tanya Ardiaz membalikkan badannya
" hah tidak ada om, maksud ku Ardiaz,
aku hanya memuji ketampanan mu yang sangat -sangat tampan" ucap Allia mengerjap-ngerjapkan matanya
Ardiaz hanya diam dan berlalu meninggalkan Allia " untung saja aku bisa mengelak dari pertanyaannya, jika tidak bisa di makannya aku" Allia mengelus pelan dadanya
" tapi ada apa dengannya, bukankah kemarin-kemarin dia sudah sering tersenyum dan selalu mengusiliku, tapi kenapa dia sekarang kembali dingin dan datar seperti waktu aku pertama kali bertemu dengannya" Allia bingung dengan perubahan sikap Ardiaz yang sebentar-sebentar dingin dan sebentar-sebentar ramah
" heeehh aku pusing memikirkannya,lebih baik sekarang aku turun ke bawah untuk makan malam, dari pada memikirkan dia tidak akan membuka ku kenyang" Allia keluar dari kamar nya dan turun menuju ruang makan
Saat makan malam Ardiaz melirik Allia yang sedang makan " apa yang tadi ingin kau sampaikan" tanya Ardiaz pada Allia
" oh yang tadi, aku hanya ingin bertanya, apa kau tidak salah ingin menguliah kan aku di kampus yang sangat mahal itu" jawab Allia lalu meminum air nya
" kenapa apa kau tidak setuju dengan keputusan ku" ucap Ardiaz menghentikan makannya
" bukan seperti itu, tapi biaya nya sangat mahal, apa kau mau mengeluarkan uang sebanyak itu untuk ku" Allia juga ikut menghentikan makannya
" kau tidak perlu memikirkan biaya dan yang yang harus ku keluarkan, tugas mu hanya belajar dan jangan pernah membuat ku menyesal karena telah menguliah kan mu di tempat yang mahal" jawab Ardiaz meninggalkan meja makan
" tapiii..." belum selesai Allia bicara mama Tias sudah memotong perkataan Allia
" sudahlah Allia, diaz benar kok kamu hanya perlu belajar dan memberikan mama cucu, masalah biaya Ardiaz bisa menanggungnya" ucap mama tias lembut dan Allia mengangguk pelan
Setelah selesai makan malam Allia naik ke lantai dua dan menuju kamarnya, Saat ingin meraih handle pintu Allia teringat kejadian saat mama Tias menyuruhnya memanggil Ardiaz untuk makan malam bersama dan bodohnya dia, dia tidak mengetuk pintu dahulu dan langsung membuka pintunya alhasil dia tidak sengaja melihat badan kekar milik Ardiaz dan itu membuatnya menjadi sangat malu
Tok..Tok..Tok.. Allia mengetuk pintu tapi tidak sahutan dari dalam kamar
BERSAMBUNG...
masih hidup ?
Jangan di kasih pelakor lagi thor🙏🙏🙏🙏🙏