Aurel Luvenia, takdirnya begitu konyol mendapati kekasihnya sedang bercumbu dengan sahabat dekatnya. Ternyata kecerdasannya selama ini masih bisa di bodohi oleh kedua makhluk yang sangat ia percayai.
Karena sangat prustasi dan lelah, Aurel meminum Bir dan membuatnya mabuk. Hingga terbangun di sebuah hotel. Tentunya, ia sangat menyesali perbuatan bodohnya, lalu meninggalkan Sang pria.
Aurel, pergi meninggalkan negaranya dan terbang ke Inggris karena ia merasa sangat tidak sanggup untuk berada di negara yang penuh dengan kenangan buruk.
Hingga kenyataan konyol lainnya muncul, ia hamil. Mengandung anak pria yang sama sekali tidak ia kenali. Merawat, menjaga dan melindungi kedua bocah kembar itu, hingga tumbuhlah mereka menjadi anak yang sangat aktif, cerdas dan memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Karena kedua anaknya terus bertanya tentang Ayah kadung mereka.
Akhirnya Aurel memutuskan untuk kembali.
Bagaimana dengan Arga? Apakah bisa menerima mereka? atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ☆Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 - Kesedihan Ferrell dan Ferlin
Halo semua?
...~JANGAN LUPA LIKE YAH, Terima Kasih~...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seperti yang telah di janjikan, hari ini hari pertama bagi Ferrell dan Ferlin untuk bersekolah. Tampak keduanya sangat antusias, seperti bangun lebih pagi, mandi dan membuat sarapan. Bahkan, Aurel baru terbangun jam 6 pagi karena mencium aroma masakan Ferrell.
"Sayang. Pagi-pagi begini udah siap aja," tegur Aurel, setelah bangun dari tidurnya.
"Iya Mom, Aku sama Kak Rel. Bangun lebih pagi, Aku senang bisa sekolah," ujar Ferlin, berceloteh.
"Haha, ya sudah Mommy siap-siap dulu yah. Kalian makan sarapannya." Aurel pergi setelah mendapat jawaban dari kedua bocah kesayangannya.
"Kak, Aku senang sekali bisa sekolah. Bisa dapat teman-teman," ujar Ferlin, Ferrell hanya mengangguk.
Sebenarnya, ada rasa takut tersendiri bagi Ferrell untuk sekolah. Ia juga takut adiknya yang lemah itu mentalnya akan down. Karena bagaimanapun, mereka tidak memiliki Ayah. Ferrell berharap, semoga berita itu tidak sampai ke teman-temannya di sekolah.
15 menit kemudian.
Aurel sudah siap dengan setelan kantornya, lalu mengajak Ferrell dan Ferlin untuk berangkat. Dengan menggunakan taksi. Sepanjang jalan Aurel tak henti-hentinya merapikan pakaian Ferrell dan Ferlin, juga menyemangati keduanya, agar semangat belajar dan berteman dengan baik. Aurel juga antusias dengan perginya kedua anaknya ke sekolah, mungkin mereka akan menemukan teman dan bermain bersama hingga Ferrell dan Ferlin tidak selalu kesepian apa lagi merindukan sosok Ayah.
"Belajar yang rajin ya, Sayang. Mommy akan jemput kalian nanti."
Cup! Cup!
Aurel meninggalkan kedua anaknya di sana. Sedangkan Ferrell dan Ferlin mulai mencari kelas mereka dengan teliti, tatapan anak-anak lainnya tak lepas dari mereka. Wajah mereka yang tampan dan cantik, menarik perhatian semua orang. Apa lagi keadaaan mereka yang kembar, membuat orang-orang semakin iri melihat keduanya.
"Hai? kalian murid baru yah?" tanya seorang wanita paruh baya, mungkin adalah seorang guru disini.
"Iya, bisakah antarkan kami ke kelas," jawab Ferrell dingin, tentunya guru tersebut kaget. Ia tak pernah melihat seorang anak dengan sikap seperti ini, guru tersebut berpikir sebenarnya apa yang terjadi dengan anak itu.
"Baik, mari ikut Ibu guru."
"Hai anak-anak, lihat kalian punya teman baru sekarang. Nah kalian berdua silakan perkenalkan nama kalian," ujar Ibu Guru pada murid lainnya, lalu beralih pada Ferrell dan Ferlin.
Semua murid di kelas itu menatap kagum Ferrell dan Ferlin, kecantikan dan ketampanan mereka seperti tidak wajar bagi seorang anak di usia dini.
"Halo semua? kenalin Aku Ferlin Farizkia," ujar Ferlin, memperkenalkan dirinya.
"Ferrell," ujar Ferrell, dingin membuat teman-teman melongo tidak percaya, begitu juga dengan guru yang lagi-lagi kaget dengan sikap Ferrell.
"Eh, baiklah. Kalian berdua duduk di pinggir sana yah," ujar guru, mengarahkan keduanya.
"Nah sekarang kalian keluarkan buku kalian yah. Kita akan belajar, ingat yah belajar enggak boleh mengeluh dan cepat putus asa," ujar guru menjelaskan dengan senyuman.
"Baik Bu."
Sang guru menjelaskan semuanya dengan teliti, karena baru memasuki kelas satu pelajarannya tidak sulit. Tapi, bagi Ferrell dan Ferlin ini hal yang sangat mudah. Dengan mudah dan lincah kedua bocah itu selalu menjawab pertanyaan guru lebih dulu, membuat teman-temannya sekali lagi kagum dengan kedua bocah itu, termasuk guru.
"Aku enggak suka mereka, mereka terlalu pamer," lirih salah satu siswa, yang tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk menjawab.
Kring! Kring!
Bel istirahat berbunyi, sudah waktunya anak-anak untuk makan siang. Mereka mengeluarkan bekal masing-masing dengan guru yang membantu. Karena, ada urusan di kantor sang guru meninggalkan anak-anak muridnya dengan perjanjian mereka tidak ribut dikelas dan berteman dengan baik.
Ferrell mengeluarkan bekal, Ferlin juga ikut mengeluarkan bekal dengan semangat lalu melahapnya. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan salah satu temannya, seorang perempuan dengan beberapa temannya.
"Hey kalian berdua!" ucapnya sedikit berteriak, menatap tidak suka pada Ferrell dan Ferlin.
"Apa?" tanya Ferrell dingin, wajahnya mendatar.
"Jangan sok pintar. Tidak berbagi Pertanyaan, apa kalian pikir hanya kalian yang ingin menjawab?" tanyanya dengan kesal, perempuan kecil itu bernama Rania. Walau ia masih terbata-bata.
"Jika ingin menjawab harusnya lebih cepat, jangan salahkan kami!"
"Kak, sudah. Jangan berantem," lirih Ferlin berbisik pada Ferrell.
"Cepat minta maaf!" teriak Rania, sangat kesal.
"Aku tidak salah, pergi."
"Dasar tidak sopan! Hanya punya Ibu tapi tidak punya Ayah. Mangkanya tidak tau sopan santun," celoteh Rania, sebab Rania tinggal tak jauh dari rumah Ferrell dan Ferlin tentu saja ia mengetahui hal ini.
Ferrell seketika terdiam, ia menatap tajam Rania. Tapi, masih berusaha untuk sabar.
"Cepat minta maaf! apa kau tidak pernah diajarkan oleh Ibumu, kalo salah itu minta maaf."
"Jangan bawa-bawa Ibuku! Kau yang kurang pendidik! Punya orang tua lengkap tapi tidak punya akhlak yang baik!" teriak Ferrell, menatap tajam Rania.
"Kau---."
Belum sempat perempuan itu menjawab, guru sudah tiba dan melerai keduanya. Tapi, sayang rasa sakit hati Ferrell dan Ferlin tidak bisa dihentikan. Ferlin menangis, tersedu-sedu memikirkan ucapan anak-anak lainnya yang mengatakan mereka tidak memiliki ayah.
"Mereka tidak punya Ayah," tanya murid 1.
"Aku tidak berteman dengan mereka," ujar murid 2.
"Kasihan dia tidak punya Ayah."
Ferrell yang melihat Ferlin menangis menjadi sangat tidak berguna, ia gagal menjadi Kakak yang baik untuk adiknya. Ferlin, tau bahwa Kakaknya sangat sensitif pada Mommy, apapun yang menyinggung Mommy pasti dia akan marah.
"Ferlin, jangan menangis," bujuk Ferrell.
"Kak ... Hiks ... Aku ingin Daddy," lirih Ferlin tersedu-sedu.
"Diam!" bentak Ferrell, saat anak-anak lainnya mulai membicarakan mereka lagi. Ferrell menatap tajam semuanya, tanpa memperdulikan gurunya.
"Apa! Apa kalian pikir dengan mengatai kami kalian senang! Lihat, apa yang kalian perbuat pada Adikku. Kalian semua tidak tau rasanya tidak memiliki orang tua lengkap!" teriak Ferrell, putus asa.
"Tapi, seenaknya kalian menghakimi kami. Kalian pikir kami mau? Mau tidak memiliki Ayah, enggak! Kami enggak mau, tapi takdir sudah ditentukan!" sambung Ferrell, mereka semua terdiam bahkan guru pun ikut terdiam. Tangis Ferlin merendah.
'Aku pastikan, Daddy akan membuat kita bahagia dan membungkam semua orang yang pernah mengatai kami!'
'Daddy, Kami sangat membutuhkanmu. Kuharap kau cepat menyadari keberadaan kami secepat mungkin. Dan mencintai Mommy, aku tidak ingin lagi hidup dengan orang tua yang tidak lengkap,' batin Ferrell, rasanya ingin sekali ia menangis, tapi ia tidak mau terlihat lemah.
'Aku butuh kamu Daddy, sangat butuh. Ferlin sayang Daddy' batin Ferlin.
Ditempat lain.
Deg!
Jantung Arga tiba-tiba berdetak kencang.
"Ada apa ini? kenapa tiba-tiba aku memiliki firasat buruk," gumam Arga, di tengah-tengah rapatnya.
Aurel yang berdiri disebelahnya juga ikut merasakan hal yang sama. Ia mulai memikirkan kedua anaknya yang di sekolah. Apa terjadi sesuatu pada mereka.
Best juga cerita ini
tp kalau boleh nk tahu tentang anak dia. lagi lagi yg laki tu. dia sampai ada trauma and nk tahu dia jadi mafia ke atau apa saja