Lima tahun lalu, keluarga Scoot mengusir seorang pria bernama Tyler Scoot dari kediaman keluarganya dan menguasai seluruh keluarga Scoot.
Lima tahun kemudian, Tyler Scoot kembali dengan indentitasnya yang sangat mengagumkan. Dia akan membalaskan denda lima tahun yang lalu.
Selamat membaca..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumun arch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Dibalik Senyum
Mobil Benz milik Cindy berhenti di depan sebuah kafe mewah di pusat kota. Tempat itu tidak terlalu ramai, tapi cukup elegan untuk dua wanita muda yang ingin bersantai.
Jessica turun lebih dulu, mengenakan pakaian kasual berwarna krem yang membuat kulitnya tampak semakin cerah. Rambutnya dikuncir tinggi, sederhana tapi memikat. Sementara Tyler keluar dari sisi lain, menutup pintu mobil dengan tenang, lalu mengikuti di belakang Jessica.
Cindy yang menunggu di depan kafe, melambaikan tangan dengan semangat.
“Jessica! Lama banget nggak ketemu! Eh… siapa dia?”
Tyler tersenyum tipis dan mengulurkan tangan, “Aku suaminya.”
Senyum Cindy langsung membeku di tempat. Ia sempat melirik Jessica dengan mata membulat, lalu cepat-cepat membalas jabat tangan Tyler dengan canggung. “Oh… jadi ini… suamimu?”
Jessica menatap Tyler dengan kesal begitu mereka duduk. Ia berbisik, “Bisa nggak sedikit lebih lembut? Kamu bikin orang gugup.”
Tyler hanya mengangkat bahu. “Aku cuma bilang kebenaran.”
Kafe itu tenang. Musik lembut mengalun di latar, aroma kopi bercampur vanila mengisi udara. Tapi hanya Tyler yang tidak terlihat menikmati suasananya. Sejak tadi matanya memperhatikan arah luar jendela, menatap ke jalanan dengan tatapan tajam seperti elang.
Jessica sadar akan itu.
“Tyler, kamu bisa santai sedikit nggak? Ini cuma makan siang, bukan rapat perang.”
Tyler menatapnya sebentar, lalu berkata dengan suara datar, “Aku santai kok. Hanya memastikan tidak ada yang mencoba mendekatimu dengan niat buruk.”
Jessica mendengus pelan. “Niat buruk? Ini kafe, bukan markas mafia.”
Namun dalam hati, ia tahu ucapannya hanya untuk menenangkan dirinya sendiri. Karena entah kenapa, sejak Tyler muncul dalam hidupnya, bahaya selalu terasa mengintai dari tempat-tempat yang tak terlihat.
Sementara itu, di luar sana.
Dua mobil hitam berhenti di seberang jalan. Empat pria berjas duduk di dalamnya, menatap ke arah kafe dengan wajah dingin.
“Target sudah terlihat,” ucap salah satu dari mereka melalui alat komunikasi kecil.
“Perintah dari Tuan Eric jelas. Habisi perempuan itu. Tapi jangan sampai pria itu ikut campur.”
Namun, mereka tidak sadar Tyler sudah tahu keberadaan mereka sejak mereka tiba.
Mata tajam itu tidak hanya memperhatikan; ia menghitung langkah, jarak, dan kemungkinan pelarian mereka. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. “Eric… kau benar-benar tidak belajar dari kesalahan, ya?”
Ketika mereka bertiga keluar dari kafe, matahari sore sudah mulai condong. Cindy menggenggam tasnya sambil tertawa kecil. “Aduh, seru banget ngobrol sama kalian! Jessica, lain kali kamu harus”
BRAK!
Suara keras memecah udara. Kaca mobil Cindy pecah, peluru melesat, mengenai pintu logam di samping Tyler. Orang-orang di sekitar berteriak panik.
“Jessica, tiarap!” seru Tyler.
Refleks, ia menarik tubuh Jessica, memeluknya erat dan menundukkan kepalanya di balik mobil. Cindy menjerit ketakutan, bersembunyi di sisi lain.
Tyler menatap tajam ke arah gedung seberang. Suara peluru berhenti, hanya meninggalkan kepanikan.
Dia mengeluarkan ponsel, menekan satu nomor tanpa bicara lama. “Tangkap mereka hidup-hidup. Aku ingin tahu siapa yang memberi perintah.”
“Siap, Tuan,” suara dari seberang menjawab.
Lima belas menit kemudian.
keadaan kembali tenang. Polisi datang, tapi semuanya terasa terkendali seperti sudah diatur sebelumnya. Cindy dibawa pulang oleh sopir pribadi, masih gemetar ketakutan.
Jessica menatap Tyler dengan wajah pucat. “Tadi… itu tembakan sungguhan?”
Tyler tidak menjawab. Ia hanya menatap jalan yang mulai sepi, lalu berbalik padanya.
“Kalau aku tidak ada di sana, kamu mungkin sudah tidak bernapas sekarang.”
Jessica terdiam. Ia ingin marah karena Tyler terlalu tenang, tapi pada saat yang sama, dadanya terasa sesak. Ada rasa takut tapi juga rasa aman yang aneh.
Tyler menatapnya lembut. “Mulai sekarang, jangan pergi sendirian tanpa aku.”
Jessica menatap mata itu, dan tanpa sadar mengangguk.
Entah mengapa, kata-kata Tyler selalu membuatnya tidak bisa membantah.
Malam harinya, Tyler duduk di balkon rumah sambil menatap langit. Angin malam berembus pelan, membawa aroma laut dari kejauhan. Teleponnya berdering.
“Tuan, ketiga penembak sudah diamankan. Mereka orang bayaran. Setelah kami interogasi, mereka mengaku dikirim oleh Eric Kruger.”
Tyler menatap jauh ke langit malam, wajahnya perlahan mengeras. “Eric lagi…”
“Perintah, Tuan?” tanya suara di seberang.
Tyler menatap foto Jessica yang tersimpan di layar ponselnya. Matanya dingin, namun nada suaranya tenang.
“Jangan bunuh dulu. Hancurkan semua aset yang atas nama Eric. Aku ingin dia tahu… kemarahan yang sebenarnya belum dimulai.”
Beberapa jam kemudian, di kediaman keluarga Kruger — Eric melempar ponselnya ke lantai.
“Apa? Semua rekeningku dibekukan?!”
Asisten pribadinya gemetar. “I-iya, Tuan… semua bank menolak transaksi Anda. Dan… saham Kruger Group anjlok tajam malam ini.”
Eric mengepalkan tinjunya dengan wajah penuh amarah.
“Tyler… kau pikir aku takut padamu?”
Namun di dalam hatinya, ada sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan: rasa panik yang dingin. Karena setiap kali ia menantang Tyler… selalu ada sesuatu yang lebih buruk menunggunya.
Malam itu udara terasa berat.
Langit di atas Garden Residence diselimuti awan kelabu, seperti menandakan sesuatu yang besar akan terjadi.
Jessica berdiri di depan jendela kamarnya, menatap jalanan gelap di bawah sana. Bayangan Tyler masih terlihat di halaman, sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Tatapannya dingin, posturnya tegap — seperti seorang komandan yang sedang menyiapkan pasukan untuk perang.
Dia tak tahu apa yang sedang Tyler lakukan. Tapi yang pasti, sejak kejadian penembakan siang tadi, Jessica belum bisa tenang. Setiap kali mengingat suara peluru yang melesat di dekat tubuhnya, jantungnya berdegup kencang, dan yang muncul di kepalanya hanyalah wajah Tyler — wajah pria yang menahannya agar tidak terluka.
“Apa dia selalu hidup di dunia berbahaya seperti ini?” bisiknya pelan.
Tyler masuk ke dalam rumah dengan langkah tenang. Tubuhnya berbalut mantel hitam panjang, wajahnya masih membawa sisa dingin malam. Begitu matanya bertemu dengan Jessica yang menunggunya di ruang tamu, sorot matanya sedikit melunak.
“Kamu belum tidur?” tanyanya lembut.
Jessica menggeleng. “Aku… nggak bisa tidur. Aku terus kepikiran kejadian tadi.”
Tyler menatapnya beberapa saat, lalu berjalan pelan mendekat. Ia menaruh jasnya di sandaran kursi dan duduk di seberang Jessica.
“Kejadian tadi tidak akan terulang lagi. Aku sudah menanganinya.”
Jessica menatap mata itu, tajam tapi menenangkan. “Tyler… siapa kamu sebenarnya?”
Pertanyaan itu membuat suasana seketika hening.
Tyler tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap api kecil di perapian yang berkerlip lembut.
“Aku… hanya pria yang melindungi keluarganya,” jawabnya akhirnya.
“Tapi aku tahu itu bukan jawaban sebenarnya.” Jessica menggigit bibir bawahnya. “Kamu selalu tahu lebih dulu sebelum sesuatu terjadi. Kamu bisa memerintah orang hanya lewat telepon. Bahkan… tiga direktur besar tunduk padamu tanpa berani melawan.”
Tyler tersenyum kecil. “Kalau aku bilang aku cuma orang biasa, kamu percaya?”
Jessica terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Tyler berdiri dan mendekatinya. Setiap langkahnya terasa berat namun tegas. Ia berhenti tepat di depan Jessica, menunduk sedikit hingga wajah mereka berjarak hanya beberapa sentimeter.
“Yang perlu kamu tahu hanya satu,” ucapnya pelan namun penuh tekanan. “Siapa pun yang berani menyakitimu… akan lenyap dari dunia ini.”
Jessica menatap mata itu, dan untuk pertama kalinya, ia merasa… bukan ketakutan, tapi rasa aman yang aneh menjalari hatinya.
Ia memalingkan wajah dengan pipi yang memanas. “Kamu… menakutkan, tapi entah kenapa aku percaya.”
Tyler tersenyum samar. “Percayalah. Aku tidak akan membiarkan apa pun menyentuhmu, bahkan bayangan sekalipun.”
Sementara itu, di sisi lain kota, kantor pusat Kruger Group penuh kekacauan.
Lampu-lampu ruang direksi menyala terang, staf panik ke sana kemari. Berita saham anjlok, kontrak besar dibatalkan, dan sistem keuangan diblokir oleh pihak bank internasional.
Eric berdiri di depan jendela, wajahnya gelap penuh amarah.
“Tuan! Semua perusahaan rekanan memutus kerja sama! Bahkan perusahaan luar negeri menolak bicara dengan kita!”
“Bagaimana bisa secepat ini?! Siapa yang melakukannya?!” teriak Eric sambil membanting gelas di mejanya.
Salah satu bawahannya menunduk takut. “Seseorang mengirim pesan ke seluruh direktur dan investor besar. Mereka hanya menuliskan satu kalimat, Tuan…”
Eric menoleh tajam. “Apa?”
“‘Ini baru permulaan.’”
Wajah Eric langsung memucat.
“Tyler…” desisnya dengan rahang mengeras.
Di waktu yang sama, Tyler masih berdiri di balkon rumahnya. Ponselnya bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Isi Pesan:
“Kau pikir sudah menang, Tyler? Aku tidak akan diam. Tunggu saja, aku akan membuat Jessica menyesal sudah memilihmu.”
Tyler menatap layar itu lama, lalu tersenyum tipis. Senyum yang dingin, nyaris menyeramkan.
“Baiklah, Eric,” bisiknya. “Kalau kau ingin perang… maka kau harus siap untuk benar-benar merasakannya.”
Ia menghapus pesan itu, lalu memandangi malam yang sunyi.
Bintang-bintang di langit tampak redup, seolah ikut bersembunyi dari amarah Tyler yang mulai membara.
Keesokan harinya, Jessica terbangun dengan kepala berat. Ia berjalan ke ruang tamu, dan melihat Tyler sudah duduk di sofa sambil membaca koran pagi.
“Pagi,” sapa Jessica pelan.
Tyler menatapnya dan tersenyum hangat, “Tidurmu nyenyak?”
Jessica mengangguk. “Lumayan.”
Ia hendak duduk di sebelahnya, tapi matanya menangkap berita utama di halaman depan koran.
“KRUGER GROUP TERANCAM BANGKRUT. INVESTOR INTERNASIONAL TARIK DIRI.”
Matanya membesar.
“Tyler… ini, ini tentang Eric, kan?”
Tyler hanya melipat koran itu perlahan, lalu menatap Jessica tanpa menjawab.
Namun dari matanya Jessica tahu, jawabannya iya.
...****************...