Andini Putri, gadis yang begitu mencintai kekasih yang ia perjuangkan hingga rela kehilangan banyak uang untuk kemajuan Alfin.
Membiayai kulian S2 Alfin selama 2 tahun di lakukan oleh Andini tanpa protes dan komentar hingga akhirnya Alfin sukses mendapatkan jabatan tinggi di kantornya.
Saat Andini sedang bersama sang bos di sebuah restoran. Tanpa sengaja ia bertemu sang kekasih yang sedang bermesraan dengan gadis lain yang merupakan mantan kekasih Alfin dahulu.
Hancur hati Andini melihat hal itu, apa lagi saat itu juga Alfin memutuskan dirinya dan menghinanya.
Bagaimana cara Andini membalas semua perlakuan Alfin dan selingkuhannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuyuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13.
"Nda, kamu mau gak buka usaha sama aku?" Tawar Andini saat sudah sampai di kosan Dinda.
"Usaha apa?" Tanya Dinda.
"Karena kita hobi buat kue, gimana kalo kita buka toko kue aja? Atau toko desert yang juga jual minuman, jadi pembeli bisa duduk sambil bersantai. Kita buat toko kita senyaman dan semenarik mungkin," ucap Andini mengatakan idenya.
"Hm, bagus juga sih ide kamu. Tapi itu pasti butuh modal yang besar, Din. Sedangkan uang tabunganku paling cuma 80 juta kalau gak salah," ragu Dinda dengan keuangannya sendiri.
"Uang kamu 80, di tambah uangku 250 juta. Pasti cukuplah itu, Nda. Kita buat toko yang sederhana aja dulu, gak mesti harus langsung wah."
"Gimana kalau kita buka cafe kekinian aja, Din. Cafe yang sesuai sama bajet anak muda dan remaja. Aku yakin peluangnya bakalan lebih baik, apa pagi anak muda dan remaja zaman sekarang hobi selfi dan upload foto. Jadi kita buat tempat yang cocok untuk spot foto dari gambar yang menarik sama suasana yang baik," kata Dinda mengeluarkan idenya juga.
"Wah, itu juga boleh. Kita usung gambar 3 atau 4 dimensi supaya lebih menarik lagi," ujar Andini di angguki Dinda tak kalah antusias.
"Ya udah, aku pulang dulu. Besok kita bahas lagi masalah usaha kita," lanjut Andini yang mulai menghidupkan mesin mobilnya.
"Iya, hati-hati di jalan calonnya pak bos." Andini mendengus mendengar godaan dari Dinda yang sudah beberapa kali di ucapkan gadis itu sejak tahu kalau calon tunangan Andini adalah atasan mereka di kantor.
Dinda hanya terkekeh geli melihat Andini yang nampak mendengus mendengar godaannya.
Setelah beberapa saat berkendara di jalanan yang sedikit macet. Kini Andini sudah tiba di rumah dengan selamat meski wajahnya terlihat lelah.
"Kamu baru pulang, Nak? Apa jalanan macet banget?" Tanya bu Asih yang menyambut ke pulangan anak gadisnya.
"Gak macet-macet banget sih, Ma. Papa sama Mas Anto, udah pulang belum Ma?"
"Udah, mereka lagi pada mandi sepertinya. Kamu pergi mandi juga gih, supaya seger." Bu Asih mengusap rambut Andini sayang.
"Iya." Andini melepas pelukannya pada sang ibu lalu pergi naik ke kamarnya sendiri.
Andini langsung mandi dan bersantai sejenak di kasurnya untuk menghilangkan lelahnya. Sembari bermain ponsel, Andini melupakan waktu yang sudah di janjikannya bersama Varel.
Tok tok tok
"Din! Kamu di dalam, Nak?" Terdengar suara bu Asih yang memanggil.
Andini bangkit dari tempat tidurnya lalu melihat jam di dinding. Betapa kagetnya ia saat melihat jam di angka 7.
"Astaga! Bukannya pak Varel bilang mau datang jam 7 ini," gumam Andini panik.
"Dini, kamu dengar Mama?" Suara bu Asih kembali terdengar memanggil.
"Iya, Ma. Aku lagi siap-siap bentar," teriak Andini sembari membuka lemari bajunya dan memilih baju apa yang akan di pakainya.
"Cepat lah, Nak. Ada Varel di bawah," ucap bu Asih sedikit berteriak pula.
Andini tidak menjawab karena sedang panik dan kebingungan. Apa lagi baru kali ini ia di datangi langsung ke rumah oleh seorang pemuda. Bahkan kali ini bukan Andini yang menunggu, melainkan di tunggu.
"Aduh! Yang mana, ya? Apa yang ini? Atau yang ini aja? Akh yang mana nih?" Andini mencocokkan beberapa dres di tubuhnya sembari melihat cermin.
"Ini aja deh." Pilihan Andini jatuh pada dres selutut berwarna biru muda dengan corak abstrak.
Andini juga memakai lipstik berwarna pink dengan riasan natural. Sendal hak yang di pakainya tidak terlalu tinggi, tapi cukup menunjang untuk semakin menampilkan kaki Andini yang sudah jenjang.
Andini memutar tubuhnya di depan cermin besar untuk menilai penampilannya sekali lagi. Setelah di rasa semuanya sudah pas dan cocok, gadis itu berjalan keluar dari kamarnya.
Saat di pertengahan tangga menuju lantai bawah, Andini baru sadar satu hal. Kenapa ia harus memperhatikan penampilannya hingga sempurna? Kenapa pula ia harus kebingungan hanya karena sudah di jemput dan di tunggu oleh Varel?
Ah sudahlah, Andini tidak mau terlalu lama berpikir hingga membuat Varel lama menunggu. Karena menunggu itu tidak enak dan membosankan.
Gadis itu melanjutkan langkahnya turun ke bawah. Dapat di lihatnya kalau di ruang keluarga ada sang papa bersama seorang pemuda yang akan menjadi tunangannya beberapa hari lagi.
"Mas Anto kemana, Pa? Kok gak kelihatan dari tadi," ucap Andini sembari mencari keberadaan Anto.
"Kamu yang baru kelihatan, malah nyariin Mas yang udah dari tadi di sini." Andini membalik tubuhnya saat mendengar suara di belakangnya.
"Cie cie yang mau ngedate sama calon, cantik banget adikku ini," goda Anto sembari memegangi kedua pipi Andini lalu di gerakkan ke kanan dan kiri.
"Aduh, apaan sih Mas." Andini menarik tangan Anto lalu mengusap kedua pipinya sembari menghadap ke arah lain.
Ia merasa malu mendengar godaan dari Anto, karena Andini juga menyadari kalau penampilannya kali ini berbeda dari biasanya.
"Cantiknya adikku ini, Mas boleh ikut ngedate juga gak? Sekalian kita doble date," tawar Anto.
"Gak boleh, Mas pergi sendiri aja sama mbak Rini," tolak Andini.
"Cie yang gak mau kencannya di ganggu ... Mas juga gak mau ikut kali Dek, mbak Rini lagi kurang sehat," kata Anto yang membuat Andini hanya mendengus.
"Sudah-sudah jangan godain adikmu lagi, To. Ini Varel udah nungguin dari tadi malah di biarin aja," ucap pak Bejo.
Varel yang namanya di sebut segera tersadar dari lamunannya. Sepertinya ia sejak tadi terus menatap Andini dengan intens hingga tidak sadar sedang berada dimana. Wajah cantik Andini semakin terlihat manis dengan makeup sederhananya.
Benar-benar memikat hati Varel yang memang sedang jatuh cinta pada gadis itu. Andini menatap ke arah Varel yang nampak semakin berkharisma saja malam ini.
Entah karena mapam ini mereka berpakaian non formal hingga nampak berbeda. Andini terkagum melihat penampilan santai Varel malam ini.
"Ehem, udah janjian ya kalian? Warna bajunya sama gitu," ucap Anto yang lagi-lagi menggoda Andini.
"Oh, atau kamu tadi ngintip Varel ya Dek sebelum ganti baju. Jadi kamu tahu harus pakai baji apa supaya kelihatan samaan," lanjutnya.
Andini tidak menanggapi ucapan Anto karena ia merasa semakin malu saja.
"Ehem, Om saya ijin bawa Andini keluar dulu." Varel mengutarakan maksud kedatangannya sekaligus ijin membawa anak gadis orang keluar rumah.
"Ya baiklah, jaga anak gadis Om baik-baik," kata pak Bejo.
Setelah berpamitan, Varel dan Andini berjalan bersama keluar dari kediaman keluarga pak Bejo. Malam ini Varel membawa sendiri mobilnya tanpa supir.
"Kamu cantik," ucap Varel setelah menutup pintu mobil dimana Andini duduk.
Wajah gadis itu memanas begitu mendengar pujian tulus dari Varel. Ia merasa sangat senang karena seperti di spesialkan malam ini. Namun Andini mencoba bersikap biasa saja dan sewajarnya. Ia tidak ingin terlena dengan ucapan manis laki-laki.
Takut kejadian dan apa yang pernah di alaminya terulang lagi.