“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”
Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.
Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilas balik : 33
“Mbak nunggu mas mu pulang, Desita. Tumben banget mas Arwan pulang telat, biasanya jam segini sudah di rumah,” Arum berkeluh kesah dengan raut muka menahan kesal yang sebenarnya hanya bercanda.
Desita dalam balutan baju terusan, rambut ikalnya tergerai di depan dada, dan dia memakai bando polos — terkekeh seraya menyahut. “Mbak nungguin mas Arwan pulang, atau lagi nunggu kue lemper yang dijanjikan akan dibelikan sewaktu jalan pulang?”
Senyum Arum sungguh mempesona, wajahnya berseri-seri. “Mbak lagi pengen banget makan lemper yang ada di warung kota kabupaten.
“Ndoro Arum, saya tak pamit pulang dulu, kasihan si Ajik cuma berdua sama simbahnya,” asisten rumah tangga meminta izin.
“Pulanglah Rosna. Lauk sama sayur ada kamu bawa tidak, untuk makan malam anak dan ibumu?” Arum bertanya, suara merdu.
Rosna tampak jauh lebih muda, murah senyum, dan binar matanya cerah. Dia menepuk tas kain yang disandangnya. “Ada, Ndoro.”
Ia pun pamit pulang dengan menaiki sepeda ontel. Dirinya sudah lima tahun bekerja di hunian juragan Arwan Dana sebagai pembantu. Suaminya pun salah satu orang kepercayaan sang juragan, sekarang ikut ke kota mengantarkan Sapi ke pedagang Sapi langganan.
“Ayo masuk, Mbak. Kasihan calon dedek bayi ikut kedinginan,”ajak Desita.
Ayu meronta-ronta minta gendong ibunya, tetapi dicegah oleh bibinya.
“Ibu lagi hamil adikmu, Ayu. Sama bibi saja, nanti malam baru bobo sama Ibu, Bapak.” Desita menenangkan sang keponakan, mengalihkan perhatiannya.
Jarum jam terus berputar ke kanan, dan mendung tadi tergantikan hujan deras. Suara guntur menggelegar, kilat halilintar tampak dari balik tirai tipis jendela.
“Mbak, jangan bergerak! Tetap duduk di kursi! Biar aku nyalakan lampu minyak!” Desita berusaha tidak panik.
Lampu listrik mati total, dalam rumah gelap gulita, membuat kilat halilintar seakan menyambar-nyambar.
“Ibu, Bu ….”
Sukma Hamima melihat Ayu menangis dalam dekapan ibunya, balita tersebut takut gelap.
Lima buah lampu minyak tergantung di dinding sudah dinyalakan. Desita juga menyalakan lampu petromax.
‘Benar disitu letak tangga menuju ke atas,’ sekarang Hamima tidak ragu lagi, hunian ini memang sebelumnya dilengkapi tangga.
“Sudah jam 7 malam, mas Arwan dan suaminya Rosna kenapa belum pulang ya, Desita?” suara Arum kentara sekali kalau dia mulai cemas.
“Mungkin karena hujan deras, mobil tidak bisa melaju kencang seperti biasanya, Mbak. Makanya terlambat sampai rumah,” Desita menenangkan kakak iparnya.
Mereka masih menunggu dengan perasaan kian cemas, sorot mata tertuju pada pintu tertutup rapat.
Teng teng teng ....
Jam klasik berbunyi menandakan sudah pukul delapan malam.
Diluar masih hujan deras, suara angin tidak kalah kencang dari bunyi buliran air jatuh di atas atap rumah.
Tiga sosok beda usia tersebut masih menunggu kepulangan pria yang mereka sayangi, hormati.
Arwan Dana dikenal sebagai seorang dermawan, membuka lapangan pekerjaan bagi warga desa. Ia kaya raya, bisnis peternakan sapi dan kambing mendulang sukses.
Sumber kekayaannya bukan cuma dari peternakan saja, dia juga dikenal sebagai tuan tanah. Sawah, kebunnya luas membentang.
“Itu suara truk mas Arwan kan, Desita?” tanya Arum saat mendengar deru mesin sayup-sayup dan terhalang oleh bunyi hujan.
Desita beranjak, mengambil lilin di atas meja. Dengan penerangan minim, ia mengintip lewat jendela depan.
‘Kenapa ada dua mobil yang mengikuti, terus laju kendaraan mas Arwan seperti sedang dikejar-kejar?’ ketakutan mulai menyergap, tetapi dia tidak memberitahukan ke kakak iparnya yang sedang hamil 3 bulan.
“Desita!” Arum kehilangan rasa sabar, mau beranjak takut tersandung sesuatu, dan ia sedang memangku Ayu, putri sulungnya.
“Iya, Mbak.” Desita menyibak gorden lebih lebar lagi.
“Kamu kok malah ngintip, buka pintunya, Desita! Kasihan mas mu kehujanan!” serunya kencang agar terdengar.
Banyak keraguan yang membuat gerakannya lambat menggeser grendel, lalu memutar handle.
Ketika pintu terbuka separuh, angin kencang masuk membawa tampias air hujan.
Mbak jangan kemana-mana!” Desita yang keluar, dia melangkah sampai pertengahan teras.
Dor!
Akhhhh!
Gadis remaja berumur enam belas tahun tersebut terpekik. Suara senapan angin terdengar meski tak kencang, kalah sama bunyi hujan.
“Kenapa, Desita? Ada apa?!” Arum berdiri, melangkah pelan-pelan.
“Masuk ke dalam rumah, Dek! Naik ke lantai dua, kunci pintu kamarnya!” suaranya menggelegar, teriakan itu sekuat tenaga.
Jedder!
Cahaya kilat halilintar, lampu mobil dan truk menyorot sosok basah kuyup tengah memegang senapan angin.
“Ndoro naik ke atas, ndoro Arum!” seorang pria berlari dibawah hujan deras, diikuti pria lebih tinggi.
“Mas Arwan, ada apa?!” Arum memaksa mau keluar, pintu dihalangi badan Desita.
“Ayo naik ke lantai dua, Mbak!” Desita bergerak gesit meski badan gemetaran.
Hamima tidak sadar kalau dia hanyalah jiwa, ia berlari hendak menolong Ayu yang kejepit di antara ibu dan bibinya.
Jelas tindakannya tidak membuahkan hasil karena transparan.
“Jangan biarkan seorang pun hidup! Bunuh mereka semua!” seruan kejam itu tertelan derasnya hujan, suaranya seperti tidak asing di pendengaran Hamima.
Arum dipaksa naik ke lantai dua, dan Ayu digendong oleh Desita yang sebelah tangan menjinjing tali kawat lampu petromax.
Brak!
“Bergegaslah naik! Bersembunyi di sana! Jangan ada yang keluar sebelum Mas suruh!” Arwan Dana menggigil, matanya memerah, ia tatap nanar istri, anak, dan adik kandungnya yang menapaki tangga.
“Mereka siapa, Mas? Mau apa? Kenapa menyerang kita?!” sambil naik tangga, Arum bertanya.
“Para anak buahnya paman Sarkam!” ungkap pria menjaga pintu rumah.
“Pria tamak itu belum puas juga dengan pembagian harta. Dia menginginkan semua yang kita miliki!” lanjut Arwan.
Dorr!
Pyarr!
Kaca jendela pecah terkena tembakan senapan angin.
Brak!
Suara dobrakan pintu kian nyaring. Grendel sedikit bergeser dan pintu bergetar.
Yadi, suaminya Rosna bersiaga dengan sebuah golok dalam genggaman tangan.
Sang tuan masih memegang senapan angin, di pinggangnya tersampir sarung berisi parang tajam.
“Jumlah mereka lebih dari sembilan orang, Juragan!” Yadi mengintip dari lubang ventilasi atas jendela, ia naik ke meja sudut, berdiri di samping kusen.
Dobrakan pintu bertambah kencang, pada akhirnya terhempas.
Slash!
Arwan melukai tangan seseorang yang dia sendiri tidak kenal. Gerakannya tangkas, dan berhasil membacok wajah seseorang.
Arghhh!
Jeritan itu disusul badan pelaku ambruk, dia menggeliat menahan rasa sakit luar biasa.
Perkelahian pun tidak terelakkan. Bunyi benda tajam saling beradu, para preman terus maju menyerang.
Di lantai atas pada sebuah kamar bercahaya lampu petromax — Arum menimang putrinya yang merengek.
Desita bersiaga di samping pintu, ia memegang pedang, siap menebas siapa saja yang hendak melukai para orang kesayangannya.
Jleb!
Arwan Dana terluka, pundaknya ditusuk sebilah belati tembaga berujung runcing, sang pelaku menarik topi ninja yang menutupi wajah.
“Sarkam!” Pria mengeluarkan banyak darah dari luka tusukan itu menggeram, goloknya diacungkan, tetapi tiga orang sudah mengepung, dan mengayunkan senjata tajam mereka.
“Penggal kepalanya!”
.
.
Bersambung.
emang laki plin-plan kaya kamu mah pantesnya di buang😂
siap2 galih kamu jadi dudah, eh tapi kan punya istri muda ya, pa dong panggilannya🤔
patut diganti 😆😆😆😆