Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Suara desing mesin jet pribadi memecah keheningan di atas langit biru, membawa Baskara dan Alena terbang membelah awan menuju Jakarta.
Di dalam kabin privat yang hangat dan nyaman, Baskara duduk dengan postur tegak, mengenakan jaket longgar untuk melindungi punggungnya yang masih dalam tahap pemulihan.
Di sampingnya, Alena menggenggam erat tangan sang suami dengan tatapan matanya menyiratkan ketegasan yang sama sekali berbeda dari wanita ketakutan beberapa hari lalu.
Mereka berdua telah siap—membawa serta seluruh bukti, restu hukum, dan kejutan terbesar yang akan menghantam keluarga besar mereka tanpa ampun.
Sementara itu, di lantai atas gedung pencakar langit pusat kota Jakarta, atmosfer di luar ruang meeting utama terasa sangat pekat oleh ambisi.
Billy dan Yanuar melangkah beriringan menyusuri koridor marmer menuju pintu kaca ruang rapat.
Langkah kaki mereka terdengar mantap dan penuh percaya diri. Hari ini adalah hari penentuan; hari di mana mereka berencana mengesahkan dokumen pengambilalihan seluruh aset dan saham Baskara secara sepihak di hadapan para pemegang saham utama.
Billy merapikan jas mahalnya, lalu melirik Yanuar dengan seringai tipis di bibirnya.
"Ingat, Yanuar. Begitu kita masuk, tidak ada ruang bagi keraguan. Semua dewan direksi sudah kita suap dan kendalikan. Perusahaan ini sepenuhnya milik kita."
Yanuar mengangguk angkuh, memegang map hitam berisi surat kuasa palsu dan draf pengalihan saham di tangannya.
"Baskara sudah hancur bersama abu toko rotinya, dan tidak ada seorang pun yang bisa menghentikan kita sekarang."
Dengan gerakan penuh kemenangan, Yanuar mendorong pintu kaca ruang rapat tersebut terbuka lebar, siap menyambut kekuasaan mutlak yang telah lama mereka dambakan.
Namun, mereka tidak tahu bahwa di saat yang sama, roda pendarat jet pribadi yang membawa Baskara dan Alena baru saja menyentuh landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta—membawa serta badai yang akan menyapu bersih seluruh kesombongan mereka dalam hitungan jam.
Suasana di dalam ruang rapat utama terasa begitu tegang namun dipenuhi aura kemenangan semu bagi segelintir orang.
Di ujung meja panjang berbalut kayu jati mahoni, Billy dan Yanuar duduk berdampingan dengan senyum penuh kepongahan.
Di sekeliling meja, para dewan direksi dan pemegang saham utama duduk bersitegang, menunggu detik-detik pengesahan.
Yanuar berdiri dari kursinya, membuka map hitam di hadapannya dengan gerakan teaterikal.
Ia berdehem pelan untuk menarik perhatian seluruh orang di dalam ruangan.
"Baiklah, para pemegang saham yang terhormat," suara Yanuar menggelegar, penuh keyakinan palsu.
"Mengingat tragedi tak terduga yang menimpa CEO kita, almarhum Baskara, serta untuk menyelamatkan stabilitas perusahaan agar tidak vakum terlalu lama, saya dan Billy telah menyiapkan draf pengalihan hak suara dan aset mayoritas. Mari kita langsung lakukan voting sekarang juga. Siapa yang setuju penunjukan kepemimpinan baru diserahkan kepada kami?"
Billy ikut berdiri, mengangkat dagunya tinggi-tinggi, siap melihat tangan-tangan di sekeliling meja terangkat untuk mendukung mereka.
Namun, sebelum satu pun tangan sempat terangkat, sebuah suara berat, dingin, dan sangat familier memecah keheningan pintu utama ruang rapat.
"Aku tidak setuju!!"
Seketika, seluruh kepala di dalam ruangan menoleh serentak ke arah pintu kaca kedap suara yang baru saja terdorong terbuka lebar.
Jantung Billy dan Yanuar seolah copot dari tempatnya.
Napas mereka tercekat, mata mereka membelalak lebar seakan-akan sedang menatap hantu di siang bolong.
Di ambang pintu, berdiri sosok pria berpostur tegap mengenakan jas rapi.
Di sisi kanannya, dengan kepala tegak dan sorot mata setajam elang, Baskara menggandeng tangan Alena yang tengah mengandung dengan anggun.
Baskara melangkah masuk ke dalam ruangan, membiarkan bunyi sepatu pantofelnya beradu dengan lantai marmer—suara yang menjadi lonceng kematian bagi ambisi busuk sepupunya.
Ia berhenti di tengah ruangan, lalu melemparkan senyuman maut ke arah dua pria yang kini gemetar ketakutan di ujung meja.
"Halo semuanya," ucap Baskara dengan nada santai namun menusuk tulang, "terkejut melihat kami masih hidup?"
Keheningan yang mencekam seketika melumpuhkan seluruh sudut ruang rapat.
Suara napas yang tercekat dan detak jantung yang berpacu kencang seolah menggantikan suara pendingin ruangan.
Billy dan Yanuar berdiri mematung di ujung meja. Wajah mereka yang tadinya memerah karena ambisi kini sepucat mayat, seolah darah di tubuh mereka tersedot habis.
Mata mereka terbelalak lebar menatap sosok Baskara dan Alena dimana dua manusia yang seharusnya sudah menjadi abu di balik reruntuhan toko roti, kini berdiri tegap di hadapan mereka tanpa cacat sedikit pun.
Map berisi draf pengalihan saham yang dipegang Yanuar terlepas begitu saja dari tangannya, jatuh membentur meja rapat.
"B-baskara, A-alena?" gumam Billy terbata-bata, suaranya nyaris tak terdengar, bergetar hebat di ambang kepanikan total.
Ia mundur perlahan hingga punggungnya membentur dinding kaca, keringat dingin bercucuran deras membasahi kemeja mahalnya.
Yanuar menggelengkan kepalanya panik, bibirnya bergetar hebat menolak kenyataan di depan mata.
"I-itu tidak mungkin! Kalian, seharusnya sudah mati! Mayat kalian,"
Kalimat Yanuar terpotong seketika saat Baskara mengangkat tangan kanannya, menghentikan igauan ketakutan sepupunya itu.
Langkah kaki Baskara kembali bergemerincing mendekat, membawa aura intimidasi yang membuat seluruh direksi di dalam ruangan menunduk ketakutan, tidak berani mengangkat kepala.
"Mayat kami?" potong Baskara dengan suara rendah, dingin, dan penuh penekanan yang menusuk tulang.
Ia berhenti tepat di depan kursi utama ruang rapat, tempat di mana Billy dan Yanuar tadi berdiri dengan sombongnya.
"Kalian sangat kecewa karena kami gagal terbakar hidup-hidup, hm?"
Alena melangkah maju mendampingi suaminya. Tatapannya menyapu setiap wajah pemegang saham, lalu berhenti tepat pada dua pengkhianat di hadapannya.
Tidak ada air mata, tidak ada rasa takut. Yang ada hanya kilatan kembalinya kekuasaan mutlak dan tuntutan keadilan.
Tiba-tiba, suara ketukan sepatu tegas terdengar dari luar pintu ruang rapat yang masih terbuka lebar.
Brak!
Pintu terbuka sepenuhnya. Bukan hanya Kenan yang melangkah masuk, melainkan tiga orang perwira kepolisian berpakaian dinas lengkap, didampingi oleh dua penyidik cyber crime yang membawa serta koper perangkat keras digital.
Di tangan perwira terdepan, sebuah surat perintah penangkapan berkop resmi terpampang jelas.
"Billy dan Yanuar " suara perwira polisi itu menggelegar tegas, memecah kesunyian ruangan.
"Kalian atas nama hukum dinyatakan sebagai tersangka utama atas percobaan pembunuhan berencana, penipuan dokumen korporasi, serta sabotase aset milik Tuan Baskara."
Dunia seolah runtuh seketika bagi Billy dan Yanuar.
Kaki Yanuar lemas seketika hingga ia terjatuh berlutut di lantai marmer, sementara Billy hanya bisa melongo menatap borgol yang kini sudah ditarik keluar oleh petugas.
Baskara menundukkan sedikit tubuhnya, menatap rendah ke arah Yanuar yang terduduk tak berdaya di lantai.
Senyuman tipis tersungging di bibirnya—senyuman kemenangan mutlak seorang predator yang baru saja menjebak mangsanya ke dalam jurang kehancuran mereka sendiri.
"Permainan selesai," bisik Baskara dingin.
"Sekarang, nikmati sisa hidup kalian di balik jeruji besi."
kalo pun ad di real life yx perbandingan ny 1 : 10000
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭