"Innalilahi wa innailaihi ro'jiun. Telah berpulang ke Rahmatullah atas nama ibu Zulaikha, istri dari bapak Nasrudin sore tadi, yang in sya Allah akan dikebumikan besok di pemakaman desa jam 10 pagi." Terdengar sebuah suara dari pengeras mesjid desa
Pengumuman tersebut sontak saja membuat aku dan istri terkejut dan saling pandang
Pasalnya nama yang baru saja disebutkan adalah tetangga yang pagi tadi bertandang kerumah sambil membawa setandan pisang di beri pada kami.
Namaku Rohiman, aku dan istri baru saja tiba di desa ini pagi kemarin. Yah, kami adalah penduduk baru di desa ini.
Desa ini masih asri karena terletak jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota, penduduknya yang ramah juga membuat kami memutuskan pindah jauh dari kota ke desa ini
Namun, entah mengapa perasaanku tiba-tiba saja menjadi tak enak setelah mendengar berita duka tersebut. Pasalnya baru sehari di desa ini, kami sudah di sambut dengan berita duka.
Entah, kepindahan kami ke desa ini sudah tepat atau tidak.
(.....)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phatric, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# 13
Ketika aku membuka mata . Hari sudah pagi matahari telah menyinari bumi dengan sinarnya.
Aku ingat semalam aku pingsan setelah mendapatkan ingatanku masih samar. Tapi siapa gadis itu ?
apa anak pak ranto?
Ah. Mana mungkin
Namun tak mungkin juga gadis dalam ingatanku itu adalah laras. Laras tak pernah memiliki rambut panjang.
"Sudah bangun kamu mas ? " Pertanyaan laras pertama kali ku dengar ketika membuka mata.
"Berapa jam mas pingsan dek? "Ku pengangi kepalaku yang terasa berdenyut
"Aku nda tau mas. Kamu pingsan atau tidur. Kaya nda ada bedanya. Semalam kamu pingsan dan bangunnya yah baru pagi ini. "Jelas laras
"Kamu ingat sesuatu mas? "Selidik laras.
"Jika aku bilang iya"
Maka laras akan menyimpulkan bahwa aku memiliki sesuatu dengan gadis seperti yang iya ucapkan semalam.
Namum mengapa setelah melihat foto gadis, ingatanku kembali walau masih samar.
"Ndak dek. Mas belum ingat apa-apa. "Jawabku berbohong
"Oh, laras kira mas ingat sesuatu. Terus kenapa semalam setelah melihat foto gadis, mas bertingkah seakan seingat sesuatu. Mana sampai pingsan gitu. Ucap laras yang masih belum puas jawabanku
" Mas ndak tau dek. Tiba-tiba saja kepala mas sakit cenat cenut gitu. Apa kita cek ke dokter lagi. "
"Tapi hari ini kita mau pergi melayat ke rumah pak kades mas. "
Akhirnya laras tak bertanya hal-hal anh lagi
Oh iya jam berapa sekarang dek! "Ucap ku
"Jam tujuh mas, aku sudah menyiapkan sarapan , mas mandi dulu terus sarapan. Kita harus ke rumah pak kades. "Titah laras
Ku usahakan bangun walau kepala masih berdenyut dan sedikit sakit rasanya pusing.
" Sini ku bantu mas ".ucap laras hendak memapahku
" Ndak usah dek mas bisa ku" Tolakku
"Dengan berpegangan tembok, akhirnya kaki ini sampai di depan kamar mandi.
"Mas, jasad gadis beneran ndak ada fi kuburnya? " Tanya laras ketika kami sarapan.
"Iya kemarin pak ranto nyamperin mas kekebun, nuduh mas yang sembunyiin jasad anaknya.
"Orang tua itu benar-benar ya mas. Cuman lantaran mas yang pertama nemu jasad anak nya . Eh dia sudah menuduh yang endak endak "laras terus menyuap nasi ke mulutnya
" Pantes aja muka mas pada lebam gini setelah pulang dari kebun. Ujar laras.
Kukira iya tidak menyadari lebam di wajahku . Soalnya iya sama sekali tak menyinggung wajah lebamku ini.
"Sudah ndak usah di perpanjangan habiskan sarapannya".titah ku
Selesai sarapan aku dan istri bersiap menuju rumah duka.
Sebenarnya sedikit ragu juga untuk mengunjungi rumah duka , takut jika sampai di sana aku malah di tuduh sambut oleh tuduhan sebagai pembunuhan anaknya.
Astaghfirullah mikir apa aku ini.
Aku dan laras pergi dengan menggunakan sepeda motor. Sebenarnya jarak rumah duka tak terlalu jauh dari rumah kami , tapi agar cepat sampai kami lebih memilih menggunakan sepeda motor.
Rumah duka sudah terlihat sangat dekat . Hanya memerlukan waktu 8 menit kami telah sampai di rumah duka.
Tenda sudah terpasang sekelompok ibu-ibu terlihat tengah asik berbincang di depan rumah. Mungkin sekitar 5 orang ibu-ibu.
Samar ku dengar sahutan seorang ibu yang menggunakan gamis biru beranda dengan atasan jilbab merah , wajahnya di poles bedak putih dan lipstik merah menyala. Dia berucap dengan sedikit berbisik namun bisikannya sekampungpun dengar.
"Ini pasti kematian anak pak kades ada sangkut pautnya dengan warga baru itu. "Ucapnya pada kawannya.
"Ahh, mosok sihh. Katanya juga sih kemaren dia di tuduh menyembunyikan mayat si gadis sama pak ranto , apa iyayah . " Sahut kawannya yang lain
"Pasti dia itu, setelah kedatangan nya rasanya desa ini kena kutukan ada saja yang meninggal , mana masih muda semua lagi. "Sahut ibu bergamis tadi
Ketika melihat kehadiranku , seorang ibu yang berdiri tepat di sampingnya menyenggol lenganya seakan mengisyaratkan untuk diam karena yang mereka bicarakan telah ada di depan mata.
"Pembunuhnya datang melihat korban, ndak punya malu apa, dasar pembawa petaka. "Ujar seorang ibu bergamis biru itu lagi . Sepertinya dia memang tipe ibu tak Berperikemanusiaan
" Mass..... "
Laras nampak menghentikan langkahnya dan menahan pergelangan tanganku
Sudah ayo lanjut . Kita datang dengan niat baik. Ujar ku menenangkannya
Kamipun melanjutkan langkah dan melewati ibu-ibu itu. Ketika langkah kami kian dekat dengan mereka. Ibu bergamis biru bercelutuh .
Dasar ndak punya malu.. Keluarga pembawa sial. "Ucapnya
"Jangan gitu Roh ndak baik... Yegur salah satu ibu yang berada di dekatnya
Mungkin yang dia panggil Roh adalah ibu yang menyinggung kami.
"Ayo.lanjut dek ndak usah di hiraukan ".ujarku kepada laras ketika kulihat ia mengepalkan tangan dengan mimik wajah marah.
"Sudah ayo masuk niat kita datang melayat bukan menghibah "Ucap Ibu berbaju hitam.
Kulihat mereka mulai melangkah bersamaan memasuki rumah , mendahului kami hingga tiba-tiba....
Bruggh....
Ibu yang tadi julid padaku dan laras terjatuh karena menginjak gamisnya sendiri
Tu lihat bicarain keluarga mereka aku sudah kena sialnya. Bagaimana jika aku berdekatan dengan mereka. Bisa pindah alamku.
Ia melampiaskan rasa malunya pada kami. Padahal kami berad cukup jauh dari mereka. Posisi mereka telah memasuki teras rumah duka sementara kami masi berada di halaman rumah.
Kulihat istriku berlalu mendahului ku , sepertinya iya tak tersinggung sama sekali oleh ucapan ibu itu.
Hingga tiba-tiba ia berhenti tepat di samping ibu itu.
Perasaan ku seketika menjadi takaruan . Apa yang istriku lakukan padanya
. Apa akan terjadi keributan di rumah ini.?
Ohhh jangan sampai. Ini adalah rumah duka
"kalau mau bilang aja buk!... Lainkali kalau jalan pakai mata bukan pakai mulut, biar ndak jatuh dan ketimpah malu "ujar laras pada ibu tersebut
Ibu tersebut nampak mengempalkan tangan , dengan mata melotot terkejut dengan perkataan istriku . Namun ia tak bisa berkata apa-apa , selain terus saja membersihkan gamisnya.
Ketika kaki ini melangkah masuk, mataku menangkap sosok Pak mujito mendorong seorang bapak memasuki garasi mobil kepala desa.
Aku yang memang mempunyai rasa penasaran yang tinggi pun segera mencuri dengar apa yang hendak mereka bahas.
"Kowe belum kasih barang itu lagi kedia, sudah tak bilangin barang itu harus kasih setiap jum'at . Kalau ndak efek mantranya bisa pudar 'ujar pak mujitor berbisik
Aku yang bersembunyi di samping garasi tak berani mencari tahu siapa sosok lawan bicara pak mujito .
"Apa mereka ndak akan curiga kalau tiap jum'at aku kasih barang ini "ucap lawan bicara pak mujito
"Yah kamu pura-pura saja bertemu kerumahnya . Terus selipin ini ketempat yang ndak bakalan mereka tau. Hari ini adalah hari Jum'at pokoknya kamu harus kasih ini ke dia , firasatku bilang bahwa dia mulai mengetahui sesuatu.
Pembicaraan mereka makin lama makin terdengar pelang di telinga ku.Aku terus mencoba mendengar apa yang mereka ucapkan dengan cara mengepalkan badan sedekat mungkin dengan garasi . Namun nihil aku tak mendengar apa-apa lagi.
"Loh... Man ngapain kamu disini ?
Sosok intiman tiba-tiba keluar dari dalam garasi mobil pak kades.
Apa lawan bicara pak mujito tadi adalah pak intiman?
_____Next On____