Violyn seorang wanita yang terpaksa untuk menikah dengan lelaki bernama Mads Mikkelsen atas perjanjian kontrak bisnis yang di jalin oleh kedua orang tua mereka membawanya berakhir dengan tragis.
Mads Mikkelsen yang selalu mengelak atas pernikahan ini, tetapi ia tidak bisa menolak begitu saja karena ayahnya yang sangat kukuh untuk menjaga dunia bisnis nya itu.
Hingga akhirnya semua kekecewaan dan emosi tersebut di salurkan kepada salah seorang yang berada di sampingnya, dan hidup bersama nya.
Apakah Mads akan tetap bersikap seperti ini? ataukah mungkin Violyn akan menyerah atas keadaan tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lynearys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Breathe
Di tengah ombak yang terus menerus membawa gelombang air hingga di pesisir pantai, matahari pun mulai tenggelam dan langit biru seketika menjadi jingga perlahan-lahan di gantikan oleh gemerlapnya langit malam.
Violyn berjalan kembali menuju hotel dan dengan langkah nya yang masih lambat karena menahan sakit di sekitar area bawahnya, dan ia tiba-tiba merasakan seseorang mencengkram tangannya, dengan perlahan Violyn berhenti dan membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang dengan tiba-tiba mecengkram lengannya itu.
Mads tergesa-gesa dan menatap Violyn dengan kedua alisnya yang bertekuk,
“Katakan padaku, semalam.. dimana aku mengeluarkan nya?” Tanya Mads tanpa basa basi.
Violyn terkesiap dan mengernyitkan dahinya,
“A-apa maksudmu, Mads?”
Dengan cepat Mads mencengkram rahang milik Violyn dan menatapnya dengan bengis dan penuh amarah, Violyn dapat merasakan bahwa Mads telah menyimpan pertanyaan ini semenjak ia keluar dari kamarnya.
“Bodoh! Jangan berpura-pura tidak tahu maksud dari pertanyaan saya! Semalam saya menyetubuhi kamu di saat saya mabuk kan?!?” Tanya Mads dengan kesal
Violyn meneguk ludahnya dengan cepat dan mengangguk kaku, di saat ia mencoba untuk melupakan kejadian tersebut namun takdir berkata lain.
“Iya Mads..” Jawab Violyn dengan pelan.
Seolah-olah Violyn mencoba untuk menahan nada bicara nya karena takut akan reaksi yang Mads berikan, dengan gerakan kaku ia mendongak untuk melihat wajah Mads dengan lebih jelas.
“Apakah saya mengeluarkan sperma saya di dalam tubuhmu? Karena saya sangat sadar bahwa saya tidak membawa kondom sama sekali..” jelas Mads sambil melihat Violyn dengan tatapannya yang serius.
Violyn hanya membuang muka nya dan tidak menjawab ucapan dari Mads membuat pria tersebut merasa geram atas sikap Violyn yang sangat tertutup padanya.
“Jawab saya, Violyn.” Ucap Mads penuh dengan penekanan di setiap kata.
Mads mulai memperhatikan keadaan sekitar, banyak sekali orang berlalu-lalang di lobby hotel ini, mungkin Violyn merasakan malu membicarakan tentang hal ini di kerumunan publik?
Mads mulai menarik lengan Violyn dan mereka mulai berjalan menuju Lift yang terletak di pojok ruangan, Violyn hanya terdiam dan mengikuti kemana Mads membawa dirinya pergi.
Beberapa orang mulai melihat keduanya dengan tatapan heran dan aneh, karena raut wajah Mads yang sangat menggambarkan bahwa pria tersebut sedang emosi dan Violyn yang hanya tertunduk memendam rasa sedih dan.. Takut?
Ya, Violyn merasakan ketakutan. Ia sangat takut jika pada akhirnya Mads akan menyalahkan dirinya atas kejadian tersebut. Mads mungkin akan menyalahkan dirinya yang dengan lantang membuka pintu untuk pria tersebut, Mads mungkin akan menyalahkan dirinya yang hanya diam saja saat Mads melakukan nya.
Begitu banyak ketakutan yang bersarang di fikiran milik Violyn, hingga pertanyaan Mads memecahkan seluruh ketakuan nya.
“Nomor berapa?” Tanya Mads
Violyn menatap Mads dengan heran, bukankah semalam pria itu mengetahui dimana letak kamarnya berada? Untuk apa ia bertanya kembali?
Tetapi Violyn tidak ingin membuat Mads semakin marah kepadanya, dengan cepat ia menjawab
“Kamar nomor enam ratus tujuh” jawab Violyn.
Mads mulai menekan tombol angka 6 dan melihat ke arsh Violyn dalam diam, sedikit merasa heran ketika ia menyadari bahwa Violyn selalu mencoba untuk tidak menatap wajah miliknya. Namun persetan dengan semua itu, Mads hanya ingin meluruskan kejadian semalam.
Dengan langkahnya yang cepat Mads mulai berjalan menuju kamar 607 milik Violyn, ia melihat wanita itu mulai menempelkan kartu miliknya pads kunci pintu smartlock tersebut dan pintu kamar itu mulai terbuka.
"Violyn, jawab sejujurnya."
Wanita itu hanya menunduk dan mengangguk pelan,
“Ya, malam itu kamu mengetuk pintu kamarku.. Dan aku sangat menyadari bahwa kamu tengah mabuk, lalu semuanya terjadi begitu saja.. kamu tidak menggunakan pengaman, Mads." Jelas Violyn.
“Fuck, seharusnya ini tidak terjadi. Mengapa kamu membiarkan aku melakukannya, huh?!? Apakah kamu sengaja agar mendapatkan keturunan dariku hingga kita akan terus terikat pada pernikahan sial ini!?!" Bentak Mads kepada Violyn.
Violyn menggelengkan kepalanya dan kedua matanya mulai berair, “Tidak, Mads..."
“Omong kosong! tentunya kamu memiliki niat tersembunyi itu! saya tahu niat burukmu Violyn, saya sangat memahami itu”
Violyn menatap Mads penuh dengan kekecewaan, bagaimana bisa suami nya menuduh dirinya dengan hal-hal negatif seperti itu? Bahkan tidak ada niat Violyn untuk mengambil kesempatan pada apa yang telah terjadi itu.
Melainkan Violyn khawatir, khawatir terhadap Mads, apa yang akan Mads lakukan kepadanya?
“Demi tuhan, Mads.. Aku tidak memiliki niat terselubung apapun..” Ucap Violyn dengan suaranya yabg bergetar.
“Seharusnya saya melakukan itu bersama Hanne, seharusnya Hanne lah yang menjadi ibu dari anakku! Bukan kamu, Violyn!”
Mads mengepalkan tangannya dengan erat dan menatap Violyn dengan penuh kebencian, ia sangat membenci Violyn begitu dalam nya. Karena wanita tersebut, kehidupan dan masa depan yang telah ia rangkai bersama Hanne seketika pupus.
Mads mulai berjalan menuju Violyn dan mencengkram baju milik Violyn,
“Ingat Violyn, seandainya.. Seandainya saya telah membuatmu hamil pun saya tidak sudi memanggil anak itu sebagai anakku sendiri.”
“Saya tidak ingin bertanggungjawab atas kehamilan mu, maka dari itu saya harap kamu meminum tablet pil pencegah kehamilan untuk antisipasi.”
Violyn membulatkan matanya terkejut atas perkataan Mads,
“Mads.. Apa salahnya seorang istri mengandung anak dari suami nya sendiri?!?” Violyn mulai menaikkan nada bicara nya.
“Siapa yang kau sebut suami? Saya? Apakah perlu saya jelaskan kembali bahwa saya tidak akan pernah menjadi suamimu Violyn, saya hanya milik Hanne semenjak dulu hingga selamanya!”
Dengan penuh amarah dan kekesalan Mads mulai mendorong bahu kecil milik Violyn hingga wanita itu jatuh tersungkur mengenai lantai.
“Jangan memancing emosi saya, Violyn. Saya bisa saja berbuat lebih buruk dari ini.” ucap Mads yang terengah-engah menatap Violyn dengan gejolak amarah yang membara.
“Bisakah kita berbicara dengan baik..? Mads, aku mohon.. Jangan sakiti tubuh aku." Ujar Violyn dengan penuh ketakutan.
Badan kecil itu terlihat bergemetar dan mencoba untuk menjauh dari Mads, tidak luput dari airmata yang turun mengalir dari kedua kelopak mata tersebut.
Mads hanya terdiam mendengar permohonan kecil dari Violyn, Ia hanya menatap Violyn dengan amarah dan sejujurnya ia ingin sekali menyakiti wanita tersebut.
Ia harus memastikan bahwa Violyn tidak mengandung anak darinya, bahkan kalimat itu terdengar seperti mimpi buruk bagi Mads, sudah cukup ia menerima pernikahan paksa tersebut namun jika di tambah dengan kehamilan Violyn? tidak. Itu seperti neraka.
Mads berjongkok untuk menyetarakan tubuhnya dengan Violyn, lalu ia menarik rambut milik Violyn hingga membuat wanita tersebut mendongakkan kepala nya kearah Mads.
“Saya akan memastikan bahwa anak itu tidak lahir. Demi apapun Violyn, saya akan menemukan cara itu."
Mads hanya menyeringai ketika melihat Violyn yang menangis dan terisak karena dirinya, Ia pantas mendapatkan semua ini ketika ialah yang sebenarnya merusak kehidupan Mads. wanita tersebut seperti kutukan yang datang tiba-tiba pada kehidupan Mads.
Mads sangat membenci Violyn hingga akhir hidupnya.
TAPI PSYCHO ANJIRR