Alarice Jovelyn Dav Dewantara, atau Jove, adalah putri pertama keluarga Dewantara yang hidupnya nyaris sempurna. Namun, kesempurnaan itu runtuh dua hari sebelum pernikahannya ketika ia memergoki calon suaminya sedang bercinta dengan wanita lain di rumah yang telah mereka persiapkan untuk kehidupan setelah menikah.
Tanpa ragu, Jove membatalkan pernikahannya dan memilih menutup hati. Selama dua tahun, ia menenggelamkan diri dalam pekerjaan hingga membuat kedua orang tuanya khawatir.
Alaska Dewantara akhirnya memutuskan menjodohkan Jove dengan Nicholas Alvarendra, putra sahabat bisnisnya.
Nicholas adalah pria dingin yang juga memiliki luka yang sama. Ia pernah dikhianati tunangannya yang justru hamil dari sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Nicholas tidak lagi percaya pada cinta.
Dua hati yang sama-sama terluka akhirnya dipertemukan dalam sebuah perjodohan.
Mereka menikah tanpa cinta dan membuat kesepakatan untuk tidak saling berharap.
“Pernikahan kita hanya sebatas kertas, jangan berharap lebih.”
“Tenang saja, aku juga tidak ada niat menjalankan rumah tangga ini denganmu.”
Tapi, bagaimana jika dua orang yang sama-sama tidak percaya cinta justru perlahan menemukan kembali arti cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shann29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Satu Nama yang Mengusik
Perjalanan kembali menuju Jakarta terasa lebih sunyi dibandingkan perjalanan mereka ketika berangkat.
Nic lebih banyak diam di balik kemudi.
Pikirannya masih dipenuhi berbagai hal yang terjadi sejak beberapa waktu terakhir.
Tentang Jove.
Tentang perasaannya sendiri.
Dan terutama tentang sesuatu yang belum mampu ia pahami.
Sesekali pandangan Nic beralih ke kaca spion tengah.
Dari sana ia bisa melihat Jove yang duduk di kursi belakang bersama Marry.
Keduanya masih asyik mengobrol.
Bahkan sesekali terdengar tawa Jove yang lepas.
Jove terlihat begitu nyaman bersama ibunya.
Seolah mereka sudah saling mengenal selama bertahun-tahun.
“Mama tahu tidak, waktu kecil aku malah punya kucing Persia,” kata Jove sambil tertawa.
Marry ikut tertawa.
“Padahal kucing itu lucu, ya, Ma.”
“Lucu untukmu. Tapi bagi Nic, kucing itu menakutkan.”
Jove menahan tawanya.
“Memangnya kenapa?”
“Jempol kakinya pernah digigit kucing.”
Tawa Jove langsung pecah.
“Serius?”
Marry mengangguk sambil ikut tertawa.
“Serius. Sejak saat itu dia selalu menjauh kalau melihat kucing.”
“Padahal kucingnya mungkin cuma ingin bermain.”
“Entahlah. Nic kecil memang penakut.”
“Ma…”
Akhirnya Nic ikut menyela dari depan.
“Kalian membicarakanku terus dari tadi.”
Marry tertawa.
“Memangnya salah?”
Jove kembali tertawa.
Nic hanya menggeleng.
Namun tanpa sadar, sudut bibirnya ikut terangkat.
Ia kembali melihat jalan di depannya.
Entah mengapa, mendengar suara tawa Jove membuat perjalanan terasa lebih ringan.
Setibanya di rumah keluarga Alvarendra, Nic dan Jove sebenarnya berniat langsung kembali ke apartemen.
Namun baru saja mereka berpamitan, Marry sudah menahan mereka.
“Menginap di sini, kan belum pernah.”
Jove menoleh kepada Nic.
Pria itu terlihat cukup lelah.
Sesekali ia bahkan menguap.
Mungkin karena malam sebelumnya tidur terlalu larut dan pagi tadi harus bangun lebih awal.
Jove akhirnya mengangguk.
“Iya, Ma. Malam ini aku akan menginap di sini.”
Wajah Marry langsung berbinar.
Ia memeluk Jove dengan penuh kasih.
“Terima kasih, Sayang. Kamu mengerti sekali Mama.”
Jove tersenyum tulus.
“Sama-sama, Ma. Mama kan Mamaku juga. Aku harus membuat Mama merasa senang.”
Nic yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya diam memperhatikan.
Jove tulus sekali pada Mama.
Pikiran itu kembali muncul.
Dan sekali lagi, masa lalu datang tanpa diundang.
Alifa.
Dulu perempuan itu terang-terangan mengatakan bahwa ia tidak menyukai Marry.
Menurut Alifa, ibunya terlalu kuno.
Terlalu manja.
Terlalu banyak menuntut perhatian Nic.
Bahkan beberapa kali Alifa mengatakan bahwa Marry selalu merebut perhatian Nic darinya.
Dulu Nic berusaha memahami semuanya.
Ia pikir setelah menikah, Alifa mungkin akan belajar menerima keluarganya.
Namun sekarang, ia melihat Jove justru melakukan hal yang sama sekali berbeda.
Jove mendekati Marry tanpa paksaan.
Tidak pernah terlihat keberatan ketika Marry ingin dekat dengannya.
Bahkan dengan tulus mengatakan bahwa Marry adalah ibunya juga.
Ada rasa hangat yang kembali memenuhi dada Nic.
Namun bersamaan dengan itu, ada rasa sakit kecil dari masa lalu yang ikut muncul.
Marry mengantar Jove hingga ke kamar Nic.
Begitu masuk, Jove langsung memperhatikan sekeliling.
Ada beberapa perubahan pada interior kamar tersebut.
“Ini berbeda dari sebelumnya,” ujar Nic yang baru menyadari kamarnya mengalami perubahan.
Marry tersenyum.
“Mama sengaja merubah sedikit interior kamar Nic supaya istri kamu nyaman.”
Jove menoleh.
“Mama baik sekali.”
“Karena kamu juga anak yang baik. Mama menyayangimu.”
Jove tersenyum hangat.
“Terima kasih, Ma.”
Marry kemudian menunjuk beberapa bagian kamar.
“Kalau kamu butuh sesuatu, katakan saja kepada pelayan. Mama harap kamu betah di sini.”
Marry berhenti sebentar.
“Kalau bisa, pindah saja ke sini. Tidak usah tinggal di apartemen.”
Jove langsung tertawa.
“Jadi ini maksud Mama.”
“Iya.”
Marry tertawa.
“Mama akan melakukan apa pun supaya menantu Mama betah di sini.”
Jove kembali memeluk Marry.
“Terima kasih ya, Ma.”
Nic yang sejak tadi hanya memperhatikan kembali terdiam.
Lagi-lagi hatinya menghangat.
Semudah itu ibunya menyayangi Jove.
Dan semudah itu pula Jove menerima kasih sayang tersebut.
Marry akhirnya meninggalkan mereka.
Begitu pintu tertutup, Jove melihat sekeliling kamar.
“Di kamarmu tidak ada sofa panjang?”
Nic menggeleng.
“Tidak ada.”
Jove mengembuskan napas.
Itu berarti mereka akan kembali tidur dalam satu ranjang.
Jove tidak mempermasalahkannya.
Ia mengambil pakaian santai lalu membersihkan diri.
Ketika keluar dari kamar mandi, Nic sudah tertidur di tempat tidur.
Jove memperhatikannya sebentar.
“Ya Tuhan, sepertinya dia mengantuk sekali.”
Karena masih sore, Jove memilih tidak ikut tidur.
Ia turun ke halaman belakang dan meminta pelayan membuatkannya secangkir cokelat hangat.
Jove kemudian duduk menikmati udara sore sambil melihat kolam ikan koi milik Arman.
Sesekali ia membalas pesan dari Jayden, sepupunya yang masih berada di Jerman.
Satu jam berlalu tanpa terasa.
Nic terbangun karena tenggorokannya terasa kering.
Ia mengusap wajah lalu melihat sekeliling kamar.
Kosong.
Tidak ada Jove.
Nic duduk di tepi tempat tidur.
Entah mengapa hal pertama yang muncul di pikirannya justru keberadaan Jove.
Ia bangkit, membersihkan diri, kemudian turun.
“Jove ada di mana?” tanyanya kepada salah satu pelayan.
“Non Jove ada di halaman belakang, Tuan.”
Nic mengangguk.
Ia segera berjalan menuju halaman belakang.
Namun langkahnya terhenti ketika melihat Jove duduk sendirian.
Perempuan itu tersenyum.
Ponselnya berada di tangan.
Sesekali jarinya mengetik sesuatu.
Kemudian tersenyum lagi.
Nic mengernyit.
Jove chat dengan siapa?
Ada sesuatu yang terasa tidak nyaman di dalam hatinya.
Perasaan itu muncul begitu saja.
Nic sendiri tidak menyukainya.
“Jove.”
Jove langsung menoleh.
“Kamu sudah bangun.”
Nic mengangguk.
“Kamu tidak istirahat?”
“Aku tidak mengantuk.”
Jove menunjuk kolam di hadapannya.
“Di sini adem. Aku senang melihat ikan koi koleksi Papa.”
Nic duduk di kursi yang tidak jauh darinya.
Namun matanya masih tertuju pada ponsel Jove.
“Kamu lagi chat sama siapa?”
Jove menjawab santai.
“Oh, ini Jayden.”
Hanya satu nama.
Jayden.
Entah mengapa nama itu terasa begitu mengusik telinga Nic.
Siapa itu Jayden?
Pertanyaan itu langsung muncul dalam pikirannya.
Namun Nic tidak mengatakannya.
Ia tahu betul mereka memiliki kesepakatan.
Ia tidak boleh mencampuri kehidupan pribadi Jove.
Jove bebas berteman dengan siapa pun.
Bebas berkomunikasi dengan siapa pun.
Lalu kenapa dirinya merasa tidak nyaman?
Nic mengalihkan pandangan menuju kolam.
Tetapi pikirannya tidak ikut beralih.
Nama itu terus berputar di kepalanya.
Jayden.
Malam harinya mereka makan malam bersama keluarga Alvarendra.
Seperti biasa, Marry meminta chef keluarga menyiapkan berbagai macam makanan yang disukai Jove.
Sebagian besar adalah seafood.
Jove bahkan terlihat menikmati makan malam itu.
Marry beberapa kali menambahkan makanan ke piring Jove.
“Makan yang banyak, Sayang.”
“Iya, Ma.”
Nic yang duduk di samping Jove hanya memperhatikan.
Namun pikirannya masih tertahan pada satu hal.
Jayden.
Setelah makan malam, mereka berkumpul sebentar di ruang keluarga.
Arman dan Marry berbicara tentang keluarga.
Jove sesekali ikut menanggapi.
Nic lebih banyak diam.
Bahkan ketika Jove mengajaknya berbicara, jawabannya hanya singkat.
Jove tidak merasa ada yang aneh.
Ia hanya berpikir Nic mungkin kelelahan setelah perjalanan.
Tidak lama kemudian mereka kembali ke kamar.
Jove melihat tempat tidur.
“Aku tidur di tempat tidur?”
Nic mengangguk.
“Tidurlah.”
Jove tidak bertanya lagi.
Ia langsung merebahkan tubuhnya.
Tidak sampai beberapa menit, napasnya kembali terdengar teratur.
Jove sudah tertidur.
Nic masih terjaga.
Matanya kembali menatap perempuan di sampingnya.
“Dia mudah sekali tertidur,” gumamnya dalam hati.
Entah mengapa ia sedikit kesal.
Namun Nic tidak menyadari bahwa yang membuatnya kesal bukanlah Jove yang mudah tertidur.
Bukan pula karena perempuan itu tidak mengajaknya berbicara.
Melainkan karena sejak sore tadi, ada satu nama yang terus mengusik hati dan pikirannya.
Jayden.
Nic memejamkan mata.
Tetapi nama itu masih ada di kepalanya.
Dan untuk pertama kalinya, Nic mulai menyadari bahwa mungkin ada sesuatu yang salah dengan dirinya.
Sesuatu yang tidak seharusnya ada dalam pernikahan yang sejak awal mereka sepakati hanya sebatas kertas.
💪up othor