"Tangan Naya melayang tepat di depan butik berlian. Satu tamparan untuk Dimas yang berani memukulnya, dan detik itu juga pernikahan mewah itu batal. Tapi nasib punya selera humor yang kejam karena keesokan harinya ia justru berdiri di altar sebagai pengantin pengganti untuk Arga Kusumaatmaja. Konglomerat dingin yang terkurung di kursi roda, pria yang tatapannya saja sanggup membekukan seluruh ruangan, dan perjanjian bisnis yang mengikat mereka lebih erat dari sumpah pernikahan mana pun.
Semula hanya transaksi di atas kertas. Namun ketika keluarga Wiratama mulai menebar fitnah dan mengirim ancaman, Naya dan Arga justru berbalik menjadi tembok bagi satu sama lain. Di tengah rahasia yang berlapis dan kebohongan yang siap meledak kapan saja, mereka menemukan sesuatu yang tidak tertulis dalam kontrak. Bahwa cinta sejati tidak pernah datang sebagai pengganti. Ia datang sebagai pilihan. Dan kali ini, Naya memilih "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13 - Jarak di Atas Ranjang
Berita malam itu tidak sebesar yang akun gosip harapkan.
Mereka mengunggah potongan video Dimas dan Naya, tapi tim hukum Kusumaatmaja bergerak cepat. Beberapa akun menghapus unggahan. Beberapa lainnya menambahkan klarifikasi bahwa pihak Arga memiliki rekaman lengkap.
Yang justru ramai adalah satu kalimat Arga.
Aku memilih Naya karena aku mau.
Kalimat itu dipotong, diberi musik romantis, dan tersebar di TikTok.
Naya menatap layar ponsel dengan wajah kosong saat sarapan.
Rendra mengirim video itu ke grup keluarga Kusumaatmaja dengan caption:
Mas Arga bucin nasional.
Maya, ibu Arga, membalas dengan emotikon tertawa dan hati.
Arga tidak membalas.
Dia duduk di depan Naya dengan wajah seolah tidak terjadi apa-apa, tapi telinganya sedikit merah.
Naya meletakkan ponsel. "Bucin nasional?"
"Abaikan Rendra."
"Dia adikmu."
"Itu musibah keluarga."
Naya hampir tersedak teh.
Arga mendorong tisu. "Hati-hati."
"Kamu selalu terdengar serius bahkan saat menghina adik sendiri."
"Karena aku serius."
Naya tertawa pendek.
Hari itu berjalan lebih ringan. Naya bekerja dari rumah karena dokter menyarankan tidak terlalu banyak bergerak sampai pusingnya hilang. Arga juga tidak pergi ke galeri. Mereka menggunakan ruang kerja yang sama, duduk di meja berbeda.
Kadang Naya menerima telepon tim Kirana.
Kadang Arga bicara dengan Bima tentang galeri dan beberapa dokumen keluarga.
Mereka tidak banyak berbicara, tapi kehadiran masing-masing tidak mengganggu.
Sore menjelang, hujan turun deras. Listrik sempat berkedip, lalu menyala lagi. Naya berdiri di dekat jendela, melihat air mengalir di kaca.
"Kamu suka hujan?" tanya Arga.
"Tidak juga."
"Tapi kamu melihatnya lama."
"Aku sedang berpikir."
"Tentang?"
"Bagaimana caranya hidupku bisa berubah sebanyak ini dalam empat hari."
Arga memutar kursi rodanya mendekat, tapi tetap menjaga jarak. "Menyesal?"
Naya tidak langsung menjawab.
Arga menunggu.
Dia benar-benar selalu menunggu.
"Belum," kata Naya akhirnya.
"Belum?"
"Aku tidak bisa memberi jawaban permanen untuk keputusan yang baru berjalan empat hari."
Arga mengangguk. "Jawaban yang adil."
"Kamu?"
"Aku tidak menyesal."
"Cepat sekali."
"Aku sudah tahu sejak awal."
Naya menoleh. "Tahu apa?"
"Bahwa aku ingin menikahimu."
Jantung Naya berdetak sedikit salah.
Dia memalingkan wajah kembali ke hujan. "Kamu terlalu mudah bicara seperti itu."
"Aku tidak mudah. Aku hanya tidak ingin membuang waktu berpura-pura."
Naya tidak menjawab.
Malam itu, setelah makan, Bu Sri mengirim susu hangat ke kamar. Naya duduk di tepi ranjang sambil membaca laporan. Arga selesai mandi dan keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Dia memakai kaus hitam dan celana tidur panjang.
Kursi rodanya berhenti di depan meja kecil.
"Kamu masih bekerja?"
"Sedikit lagi."
"Sedikit lagi versi kamu bisa berarti dua jam."
"Tiga puluh menit."
"Aku catat."
Naya mengabaikannya.
Tapi benar, tiga puluh menit kemudian dia menutup laptop.
Arga tersenyum kecil.
"Jangan bangga," kata Naya.
"Aku sangat bangga."
Dia berpindah ke ranjang lebih dulu. Naya mematikan lampu utama dan naik dari sisi kanan. Jarak di antara mereka masih ada. Tidak selebar malam pertama, tapi tetap jelas.
Hujan di luar membuat kamar terasa lebih sunyi.
"Naya."
"Hm?"
"Boleh aku memegang tanganmu?"
Pertanyaan itu membuat Naya menoleh.
Arga menatapnya dengan serius, seolah ini negosiasi penting.
"Hanya tangan," tambahnya.
Naya memandang tangan Arga di atas selimut.
Dia bisa berkata tidak.
Arga akan menerima.
Justru karena tahu itu, Naya mengulurkan tangan.
Jemari Arga menggenggamnya pelan.
Hangat.
Tidak menekan.
Tidak menarik.
Hanya menggenggam.
Naya menatap langit-langit. "Kamu selalu meminta izin?"
"Untuk hal yang menyentuhmu, ya."
"Kenapa?"
"Karena tubuhmu milikmu."
Kalimat itu menancap lebih dalam daripada yang Naya duga.
Dulu Dimas sering menyentuhnya tanpa bertanya. Menarik tangan. Merangkul bahu saat ada orang. Menyentuh punggungnya di acara keluarga. Semua orang menganggap itu wajar karena mereka bertunangan.
Naya juga membiarkannya karena tidak ingin membuat suasana canggung.
Ternyata selama ini dia hanya terbiasa menahan tidak nyaman.
Arga mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. Gerakannya kecil, hampir tidak terasa.
Tapi tubuh Naya menegang.
Arga langsung berhenti.
"Maaf."
"Tidak apa-apa."
"Aku berhenti."
"Aku bilang tidak apa-apa."
"Tubuhmu bilang sebaliknya."
Naya terdiam.
Dia menarik napas pelan. "Aku tidak tahu kenapa."
"Tidak perlu menjelaskan sekarang."
"Aku bukan takut padamu."
"Aku tahu."
"Aku hanya..."
Kata-kata itu berhenti di tenggorokan.
Arga melepaskan tangannya, tapi tidak menjauh. "Kita tidur."
Naya seharusnya merasa lega.
Namun entah kenapa, dadanya justru sesak.
"Arga."
"Ya?"
"Kalau aku seperti ini terus, kamu akan keberatan?"
Dia tidak bertanya apa maksud "seperti ini". Dia paham.
"Aku menikah denganmu bukan untuk mengejar malam pertama."
Wajah Naya memanas.
"Aku tidak bermaksud--"
"Aku tahu." Suara Arga lembut. "Dengar. Aku laki-laki dewasa. Aku punya keinginan. Aku tertarik padamu. Sangat. Tapi aku tidak mau mendapatkan tubuhmu saat pikiranmu sedang bertahan hidup."
Naya menggigit bibir.
Dia benci betapa kata-kata itu membuat matanya panas.
"Aku tidak serapuh itu."
"Aku tidak bilang kamu rapuh."
"Kamu memperlakukanku seperti kaca."
"Tidak. Kaca mudah pecah. Kamu lebih mirip pisau. Tajam, kuat, tapi kalau digenggam sembarangan bisa melukai dirimu sendiri dan orang lain."
Naya menoleh padanya.
Arga tampak tenang.
"Perumpamaanmu aneh."
"Tapi akurat?"
"Sedikit."
Arga tersenyum.
Naya memalingkan wajah, tapi kali ini bukan karena marah.
Malam itu mereka tidur tanpa sentuhan lagi.
Namun sekitar pukul tiga pagi, Naya terbangun karena mimpi buruk.
Dia bermimpi berada di rumah keluarga Adisatria saat pertama kali dibawa pulang. Semua orang tersenyum, tapi tangannya diikat benang-benang halus. Setiap kali dia bergerak, benang itu menariknya ke arah meja akad, meja rapat, ruang keluarga, wajah Dimas, wajah Sekar, suara Ratna, suara Rina.
Kamu harus tahu diri.
Kamu anak yang ditemukan.
Kamu harus membalas darah keluarga.
Naya membuka mata dengan napas berat.
Kamar gelap.
Hujan sudah reda.
Di sisi kiri, Arga terbangun. "Naya?"
"Tidak apa-apa."
Suaranya terlalu cepat.
Arga tidak menyalakan lampu. Dia hanya bertanya, "Mimpi buruk?"
"Tidak."
"Naya."
Dia diam.
Beberapa detik kemudian, Arga berkata, "Aku di sini."
Kalimat itu sederhana.
Tidak memaksa.
Tidak bertanya.
Hanya memberi tahu.
Naya menutup mata lagi.
Tangannya bergerak sedikit di atas selimut. Dia tidak menggenggam Arga, hanya meletakkannya di tengah jarak di antara mereka.
Setelah beberapa detik, tangan Arga mendekat dan berhenti sebelum menyentuh.
"Boleh?"
Naya mengangguk dalam gelap.
Arga menggenggam tangannya.
Kali ini tubuhnya masih tegang, tapi dia tidak menarik diri.
Pagi harinya, ketika Naya bangun, tangan mereka masih bertaut.
Arga sudah terbangun lebih dulu.
Dia tidak berkata apa-apa.
Hanya tersenyum kecil.
Dan untuk pertama kalinya, Naya tidak merasa perlu melepaskan tangan itu dengan cepat.
Dia bahkan membiarkannya beberapa menit lagi. Di luar, pagi mulai masuk lewat celah tirai. Suara Bu Sri terdengar samar dari bawah. Untuk orang lain, ini mungkin hanya pagi biasa setelah hujan. Untuk Naya, ini adalah pagi pertama ketika dia bangun di samping seorang pria dan tidak merasa harus segera memasang wajah kuat.
Arga tidak menanyakan mimpinya. Tidak menyentuh luka yang belum siap dibuka. Dia hanya menggeser gelas air di meja kecil ke arah Naya, seolah tahu tenggorokannya kering setelah malam panjang. Perhatian kecil itu seharusnya biasa saja, tapi justru membuat Naya ingin menghindar. Hal-hal besar mudah dia tolak. Hal kecil yang konsisten jauh lebih sulit.
"Terima kasih," katanya.
"Sama-sama."
Hanya itu. Namun bagi Naya, dua kata itu terdengar seperti perjanjian baru yang belum berani dia beri nama.
Dia tidak tahu kapan batas di antara mereka bergeser. Mungkin sejak Arga bertanya sebelum menyentuh. Mungkin sejak pria itu berhenti saat tubuhnya menegang. Mungkin sejak dia bangun dan tangannya masih diterima, bukan dituntut. Yang jelas, jarak di atas ranjang itu tidak lagi terasa seperti tembok. Lebih seperti jembatan yang belum selesai.
Dan Naya belum ingin merobohkannya.
Setidaknya, bukan pagi itu.
Pagi itu, dia memilih diam dan tinggal.
setiap pemeran memiliki karakternya kuat .
authornya the best