Seorang gadis yang sangat cerdas dan pendiam, dia lahir di wilayah Abhihar, dia selalu diberi kasih sayang yang melimpah dari orangtuanya, tetapi setelah orangtuanya wafat, dia diasuh oleh tetangganya dimana tetangganya tersebut adalah penasihat kerajaan Abhihar, dia di didik menjadi seorang pejuang sejati.
Di usianya yang masih muda, dia telah menjadi Jenderal di kerajaan Abhihar. Saat di Medan perang, semua musuh akan ketakutan dan bertekuk lutut di hadapannya. Gadis itu bernama Gauri, Gauri Saigupta.
Tetapi pertemuan nya dengan Kaisar dari Kerajaan Kumara telah merubah kehidupan nya. Dimana kerajaannya telah di taklukkan oleh Kaisar Kumara, dan dirinya dipaksa menjadi Permaisuri kerajaan Kumara.
Akankah Gauri menerima menjadi Permaisuri? Siapakah Kaisar dari Kerajaan Kumara tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suci Purwaningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Amarah Gauri
Saat ini Gauri telah sampai di kediamannya, entah mengapa dirinya tidak bisa menahan amarahnya, ini bukan dirinya, Gauri merasa aneh dengan dirinya sendiri.
"Aku memang berhak marah saat Kaisar Aditi mencoba menghina Kaisar Yuvraj dengan memberiku iming-iming kebebasan. Tetapi mengapa amarah ini belum juga mereda. Ini aneh. Ada apa dengan diriku?" Gauri berjalan mondar-mandir dikediamannya dengan gelisah.
"Mengapa aku sangat marah ketika Kaisar Aditi menghina Kaisar Yuvraj. Bukankah aku sangat membenci Yuvraj? Bahkan Yuvraj hampir saja membantai para prajurit Abhihar. Mengapa ada rasa tidak terima saat Aditi menghina Kaisar Yuvraj dan pernikahanku?"
'tak tak tak'
Suara langkah kaki menuju ke kediaman Gauri.
Setelah mendengar suara langkah kaki, Gauri menoleh kearah pintu kediamannya. Menunggu siapa yang datang.
"Gauri. Apa aku mengganggumu?" Tanya Yuvraj di depan pintu.
"Tidak."
Pintu telah dibuka Yuvraj, Yuvraj bisa melihat raut wajah bingung dari Gauri, dan Yuvraj merasakan keresahan yang ada di dalam hati Gauri.
"Ada apa? Mengapa kau sampai meninggalkan tamu, hanya untuk menemui ku?"
Yuvraj bisa mendengar suara halus yang dikeluarkan Gauri saat ini. Selama Yuvraj bertemu Gauri, belum pernah Yuvraj mendengar suara lembut milik Gauri.
"Aku berada disini, karena aku merasa kau sedang membutuhkan ku, Gauri." Yuvraj menatap Gauri dengan tatapan keteduhan.
"Aku ingin bertanya."
"Tanyakan apapun yang mengganjal di hatimu, Gauri. Aku akan mendengarkan."
"Sebenarnya mengapa kau ingin menikahi ku, apa maksudmu dengan menjadikanku sebagai permaisuri mu?" Gauri menatap Yuvraj.
"Karena aku mencintaimu, Gauri. Aku tidak menyalahkan mu saat kau belum mempercayaiku. Tetapi itulah kenyataannya, Gauri. Aku mencintaimu." Perkataan Yuvraj membuat hati Gauri merasa tenang.
Apakah aku sudah membuka hati untuk Yuvraj? Batin Gauri.
"Aku tidak akan memaksamu untuk mencintaiku, tetapi aku memintamu untuk mempertahankan posisimu sebagai Permaisuri ku. Apa kau bersedia?" Gauri menoleh kearah Yuvraj dan menatap bola mata Yuvraj, memastikan apakah ada kebohongan atau tidak dalam perkataan Yuvraj.
"Mengapa kau mengatakan demikian?" Tanya Gauri penasaran.
"Aku mengatakan apa?" Yuvraj bertanya balik.
"Mengapa kau mengatakan mempertahankan posisi sebagai Permaisuri?" Tanya Gauri.
"Aku tahu apa yang dilakukan Aditi padamu," ujar Yuvraj.
Gauri tersentak kaget. Gauri berusaha mengingat sesuatu, apakah saat Aditi menemuinya, ada Yuvraj disana?. Gauri masih ingat pasti, bahwa tidak ada siapapun disana selain dirinya dan Aditi.
"Kau tahu?" Gauri menyerngitkan dahi.
"Aku tahu segalanya, Gauri. Meski aku tidak ada disana saat perdebatan mu dengan Aditi," ujar Yuvraj serius.
"Bagaimana bisa?" Heran Gauri.
"Karena kita telah mengucapkan janji suci pernikahan, sayang," ujar Yuvraj dengan tersenyum manis.
Apa Gauri bilang, Yuvraj memang tidak bisa diajak berbicara serius.
"Kaisar, aku bertanya serius padamu."
"Gauri, bukankah setiap manusia ketika mengucapkan janji suci satu sama lain janji itu akan menghubungkan takdir kita? Kita telah terikat, Gauri. Tidak hanya janji saja, tetapi jiwa kita telah terhubung satu sama lain. Kita adalah satu, Gauri."
"Dimana pun kau berada, aku juga akan berada disana. Saat kau merasa sedih, aku juga merasakan kesedihanmu. Ketika kau marah, amarahmu juga membangkitkan amarah pada diriku, Gauri."
"Mengapa kau selalu saja membuatku merasa tenang?"
"Ketika salah satu diantara kita marah, sudah kewajiban yang satunya untuk menunduk dan menenangkan yang sedang marah, Gauri."
Gauri takjub dengan kalimat yang diucapkan oleh Yuvraj. Saat ini Yuvraj telah menghilangkan pemikiran buruk Gauri tentang diri Yuvraj. Yuvraj telah membuktikan ketulusan hatinya. Dan Gauri akan menjaga janji suci pernikahannya dan akan selalu ada disamping Yuvraj. Gauri akan menghilangkan kebenciannya kepada suaminya sendiri.
"Bantu aku, agar aku bisa merasakan hal yang sama yang kau rasakan padaku." Yuvraj mengangguk.
"Meski aku belum mencintaimu dan menerimamu. Tetapi aku sekarang sudah menjadi Isterimu. Aku akan melindungi pernikahan ini dan melindungi janjiku."
Gauri berjanji, orang bodoh seperti Kaisar Aditi tidak akan bisa menghancurkan pernikahannya.
Yuvraj merasa senang dengan perubahan sifat Gauri kepadanya.
"Ketika kita mempercayai pasangan kita, maka musuh tidak akan bisa menjadi penghalang kita, Gauri."
Entah mengapa kebencian Gauri kepada Yuvraj semakin memudar, yang dirasakan Gauri saat ini adalah ketenangan.
"Aku percaya itu, My Lord." Gauri melengkungkan senyum tulusnya.
"My Lord?" Tanya Yuvraj.
"Itu adalah panggilanku untukmu. Entah mengapa rasanya aku pernah memanggil seseorang dengan sebutan my Lord. Dan aku merasa nyaman saat aku memanggilmu dengan sebutan itu. Di dalam ingatanku terdapat bayanganku dengan seseorang entah siapa dan bayangan itu terlihat sangat nyata, seperti aku pernah menjalani kehidupan sebelum ini." Gauri memandang kearah mata Yuvraj.
"Itu hanya perasaanmu saja, Gauri. Sudahlah jangan kau fikirkan hal seperti itu, tenanglah," jawab Yuvraj.
"Gauri, Aku suka dengan panggilanmu itu, sayang." Yuvraj berusaha mengalihkan pikiran Gauri.
"Kau tahu? Aku sangat bahagia saat ini, karena kau telah menerimaku dan memberiku kesempatan untuk menjadi pasanganmu. Terimakasih, Gauri." Yuvraj memegang kedua tangan Gauri dan mencium kedua tangan itu. Berusaha menghilangkan keresahan yang dialami Gauri.
Seketika pipi Gauri memerah, meski Gauri berusaha menutupinya dengan memalingkan wajah, tetap saja Yuvraj melihat itu.
"Kau semakin cantik ketika malu seperti itu, Gauri."
"Sebaiknya kau kembali ke ruang penjamuan, tidak baik meninggalkan para tamu sebelum acaranya selesai." Gauri membalikkan tubuhnya, agar Yuvraj tidak mengetahui ekspresi malunya saat ini.
"Aku berhak meninggalkan acara itu demi menemui Isteriku. Aku adalah seorang Kaisar, dan aku berhak melakukan apapun di Istanaku sendiri."
"Tetapi lebih baik kau mendatangi tempat lain di Istanamu ini," sahut Gauri.
"Mengapa? Apa aku tidak berhak berada satu ruangan dengan Isteriku sendiri? Apa aku harus meminta izin kepada para Menteri untuk bersama Isteriku?" Protes Yuvraj.
"Ini adalah malam pengantin kita, Gauri." Goda Yuvraj.
"Yuvraj. Aku memintamu untuk cepat meninggalkan ruangan ku sekarang!" Teriak Gauri dengan wajah malu.
Saat ini wajah Gauri memerah sampai ke telinga, karena sangat malu. Mengapa Yuvraj selalu saja menggodanya. Gauri sungguh kesal pada Yuvraj.
"Dimana Kaisar sekarang?" Tanya Nandu kepada Sora.
"Mengapa kau menanyakan Kaisar? Tentu saja Kaisar sekarang berada di kediaman Isterinya. Ada apa?" Jawab Sora.
"Hari masih Sore, bahkan para tamu masih ada di ruang penjamuan. Hufttt."
"Kau jangan mengeluh seperti itu, Nandu. Jika Kaisar sedang sibuk saat ini, tentu saja kita yang akan mengambil alih tugasnya, agar para tamu tidak merasa di acuhkan."
"Hah, baiklah."
Yuvraj tidak bisa menghilangkan senyumannya, hari ini dia merasa bahagia dengan pernikahannya, dan yang membuatnya semakin bahagia adalah Gauri sudah menerimanya.
Yuvraj berjalan kembali kearah ruang penjamuan yang sempat dia tinggalkan tadi.
"Sora, apakah semua baik-baik saja saat aku tidak ada?" Yuvraj menghampiri ajudannya, yaitu Sora.
"Semua baik-baik saja, Kaisar. Jika Kaisar membutuhkan istirahat, Kaisar beristirahatlah, biar kami yang menangani disini," ujar Sora.
Harka dan Nandu menghampiri Kaisarnya.
"Yang Mulia, ada yang ingin saya sampaikan kepada Yang Mulia. Bisakah kita berbicara sebentar, Yang Mulia?" Izin Nandu.
"Kau ingin membicarakan apa dengan Yang Mulia?" Tanya Sora penasaran. Karena sejak tadi, Nandu selalu menanyakan keberadaan Kaisar Yuvraj.
"Baiklah, Nandu. Ikut denganku." Yuvraj berjalan kearah pintu keluar ruang penjamuan yang diikuti para ajudannya di belakang. Yuvraj membawa para ajudannya ke ruang pertemuan.
Setelah sampai, Yuvraj duduk di singgasananya, dan para ajudannya berada di samping kanan kirinya.
"Katakan, apa yang terjadi?"
"Yang Mulia, sebelum Kaisar Aditi meninggalkan Istana Kumara, Kaisar Aditi meminta agar Yang Mulia Kaisar memberikan Kerajaan Abhihar beserta Permaisuri Gauri kepadanya. Saya sangat khawatir, Yang Mulia," ujar Nandu menunduk takut.
"Lalu, apa lagi yang dia katakan, Nandu?"
"Kaisar Aditi berkata jika Yang Mulia Kaisar tidak menuruti keinginannya, maka akan ada pertempuran, Yang Mulia."
"Aku memilih menyetujui ajakannya untuk bertempur. Kirimkan pesan untuk ditujukkan kepada Aditi bahwa aku lebih memilih bertempur ketimbang menyerahkan Abhihar dan Gauri kepadanya, dan sampai kapanpun aku tidak akan memberikan Abhihar kepadanya. Dan apa tadi dia bilang? Menyerahkan Permaisuri Gauri? Sepertinya aku harus menyadarkannya dari mimpi indahnya. Aku tidak sabar ingin mencabik-cabiknya di Medan perang nanti," ujar Yuvraj geram.
"Baik, Yang Mulia." Nandu membungkukkan badan. Sedangkan Harka dan Sora mengikuti gerakan Nandu, karena mereka, takut akan kemarahan Kaisarnya.
"Yang Mulia, kapan Permaisuri Gauri akan mengingat jati dirinya?" Tanya Sora berusaha mencairkan suasana.
"Untuk saat ini, aku lebih berharap dia belum mengingat jati dirinya, karena tidak baik saat ingatannya kembali, tetapi dia belum bisa menguasai emosinya." Harka dan Nandu saling memandang, sedangkan Sora bingung dan belum mengerti yang dibicarakan oleh Kaisarnya.
"Apa maksud Yang Mulia Kaisar?" Tanya Sora lagi.
"Aku merasakan amarah dalam diri Gauri saat bertemu dengan Aditi, aku tidak ingin amarahnya akan menghancurkan dirinya sendiri."
"Amarah memang salah satu kekuatannya, tetapi ketika dia tidak bisa mengendalikannya, amarah itu akan merugikan dirinya sendiri dan semua makhluk hidup yang dia temui."
"Mengapa bisa begitu, Kaisar?" Tanya Nandu.
"Karena kekuatan yang terpendam dalam diri Gauri sangatlah besar, hanya sisi gelapku yang bisa menandinginya."
"Jadi, aku minta kepada kalian untuk selalu menjaga Gauri. Jangan biarkan Gauri bertemu dengan Kaisar Aditi ataupun seseorang yang membuatnya tidak terkendali. Karena saat ini amarahnya belum stabil."
"Baik, Yang Mulia. Kami akan melakukan yang terbaik untuk Permaisuri Gauri," ujar Harka.
"Hn. Dan perketat lagi penjagaan di perbatasan, jangan sampai musuh memasuki wilayah Kumara."
"Akan saya sampaikan kepada para penjaga, Yang Mulia. Kami izin undur diri, Yang Mulia." Harka, Nandu dan Sora membungkukkan badan tanda hormat, dan mereka keluar dari ruang pertemuan.
Hadeuh... ngantuk maaak mau tudurrr
jangan lupa mampir di novelku
"My Life"
soal nya udah penasaran sma kelanjutan nya,..
LIKE dan tetap jaga kesehatan juga semangat nulis ya thor💪🏽
mampir yuk ke SERENDITY
🍂🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🍂
semangat terus ya
salam hangat dari novel ku 🙏
🌺🌺🌺🌺🌺🌺