Indonesia
NovelToon NovelToon
Lux In Winter

Lux In Winter

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: Ryn Takumi

Kinan harus memilih antara dua pilihan yang ada. Apakah dia akan terus bersembunyi dalam musim dingin yang damai atau berani melangkah menghadapi kenyataan yang sempat ia sangkal dan merasakan sesuatu yang baru. Karena terkadang, kita harus kehilangan segalanya agar kita bisa benar-benar menemukan jati diri.

Lux in Winter yang akan berisi 40 chapter ini, bukan hanya sekedar kisah tentangnya semata. Ini adalah sebuah perjalanan panjang melepaskan, mencintai dan menemukan cahaya di tempat yang paling tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Takumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13 - Suar Rotan

Sudah hampir tiga minggu Kinan melaksanakan praktik mengajar di sebuah sekolah menengah atas negeri. Kebetulan, lokasinya tak begitu jauh dari kampusnya. Ia menjalani praktik mengajar ini bersama kelima temannya dari fakultas yang sama, walau beberapa di antara mereka mengampu mata pelajaran yang berbeda. Sesuai jadwal, mereka akan mengabdi di sekolah tersebut hingga pertengahan bulan Desember mendatang.

Siang itu, Kinan sedang mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di salah satu kelas tahun kedua. Sebelum kedatangan Kinan, kelas itu cukup terkenal karena diisi oleh banyak siswa yang tergolong bandel. Namun, berkat cara pengajaran yang fleksibel serta pendekatan yang hangat, Kinan perlahan berhasil menaklukkan mereka.

Tak lama kemudian, suara bel istirahat berbunyi. Para siswa langsung menutup buku mereka, disusul keriuhan akhir jam pelajaran yang perlahan memenuhi ruangan.

“Sekarang kalian semua boleh istirahat. Tapi ingat, minggu depan kita akan mulai belajar tentang menulis resensi buku, baik fiksi maupun nonfiksi. Kalian harus bawa satu buah buku, entah itu novel, buku kumpulan cerpen atau semacamnya, dan yang paling penting, tidak boleh ada yang sama,” ucap Kinan sembari melangkah pelan menuju ke bangku paling depan.

Seorang siswa yang duduk di bangku paling belakang melirik teman di sebelahnya sejenak, lalu mengangkat tangannya untuk melontarkan sebuah pertanyaan. “Kalo gak sengaja sama, gimana, Bu?”

Kinan menatap siswa tersebut dengan senyum tipis. “Biar tidak ada siswa yang bawa buku yang sama, nanti setiap anak foto bukunya lalu kirim di grup chat. Jadi, siapa yang keduluan, maka harus cari buku lain.”

Setelah mendengar penjelasan dari Kinan, seisi kelas kompak mengangguk paham sembari saling berbisik dan menggumam pelan pada teman sebangkunya.

“Kalian sudah paham?” tanya Kinan memastikan.

Serentak semua siswa menjawab lantang. “Paham, Bu!”

“Karena minggu depan tugas kalian adalah mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan dari sebuah karya sastra, serta berlatih menyampaikannya menggunakan bahasa yang objektif,” jelas Kinan lebih lanjut.

Begitu penjelasan usai, suasana kelas tadinya tenang mendadak riuh. Beberapa siswa tampak bergegas meninggalkan kelas menuju kantin, sementara yang lainnya masih betah duduk santai di tempat masing-masing.

Di depan kelas, Kinan sibuk menghapus papan tulis hingga bersih, lalu menata tumpukan lembar tugas yang baru saja ia kumpulkan.

Meski statusnya di sekolah ini hanya sebatas guru praktik, Kinan selalu berusaha memberi yang terbaik, mulai dari cara penyampaian materi, perhatian yang adil ke setiap siswa, hingga sikap santun yang selalu ia jaga di lingkungan sekolah.

Begitu Kinan melangkah keluar kelas, dua teman sesama guru praktiknya menghampiri dan menyapanya.

“Kin, ayo makan siang bareng,” ajak Wita.

“Iya Kin. Shela dan Desi udah nungguin tuh di kantin,” tambah Kiki sembari mengode ke arah lorong depan.

Kinan mengulas senyum tipis, “Ah, iya. Kalian duluan aja deh, nanti aku nyusul. Soalnya aku mau ke ruang guru dulu naruh ini dan ambil bekal makan siang,” jawabnya sambil menunjukkan tumpukan lembar kerja siswa di dekapannya.

Kedua temannya mengangguk lalu berjalan lebih dulu.

Baru beberapa langkah Kinan menyusuri koridor, kakinya mendadak terhenti tepat di persimpangan lorong dekat kamar mandi perempuan. Sayup-sayup terdengar suara cekikikan jahil diselingi nada tinggi penuh ejekan. Rasa curiga menuntun langkah pelan Kinan mendekati sumber suara.

Dari balik sudut dinding yang setengah terbuka, Kinan mengintip. Matanya terbuka lebar saat melihat empat siswi sedang mengerubungi seorang siswi berkacamata. Gadis bertubuh mungil dengan rambut dikepang dua itu hanya berdiri kaku. Wajahnya tertunduk dalam-dalam dengan kedua jemari yang saling meremas tegang.

Kinan teringat pernah melihat gadis itu beberapa hari yang lalu. Seorang siswi kelas dua yang saat itu baju olahraganya basah kuyup. Hal ini makin menyakinkan Kinan bahwa kejadian lalu itu pun merupakan ulah perundungan.

"Ya ampun, model rambut macam apa ini? Aneh banget. Culun, bau, pake kacamata lagi!” ujar salah satu siswi sambil terkikik keras, lalu tanpa perasaan menarik kasar salah satu kepang rambut gadis mungil itu.

“Jelek banget deh! Cuman ngotor-ngotorin sekolah aja!” timpal siswi lainnya. Tawa mengejek mereka bergema cukup keras di lorong yang sepi.

Gadis berkacamata itu hanya bisa pasrah tanpa memberi perlawanan sedikit pun. Tak ada yang bisa ia perbuat saat ini, bahkan selama ini. Ketakutan telah merengut keberaniannya untuk membela diri. Ia pun tak memiliki teman yang bisa menolongnya sebab ia di sekolah dikenal sebagai siswi yang sangat pendiam dan hampir tak pernah berbincang dengan siapa pun.

Kinan berdiri terpaku di balik sudut dinding, menahan napas sejenak. Ia tak bisa bertindak sembrono begitu saja, menyadari statusnya sebagai guru praktik yang tindak-tanduknya selalu diawasi oleh guru, para murid, bahkan oleh standar etikanya sendiri.

Klek!

Salah satu dari perundung itu menarik paksa kacamata dari wajah gadis itu lalu menjatuhkannya begitu saja ke lantai. “Denger baik-baik. Harusnya kamu sadar kalo dari awal kamu itu emang udah gak pantes sekolah di sini!”

Siswi yang dirundung itu tak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya memasrahkan diri dan memalingkan wajah.

“Liat yang bener kalo lagi diajak ngomong sama orang!” gertak siswi perundung itu lagi. Tangannya kembali menarik kasar rambut kepangan rambut gadis itu hingga raut wajahnya meringis menahan rasa sakit.

Melihat pemandangan yang makin kelewat batas itu, Kinan merasa bahwa diam jelas bukan lagi sebuah pilihan. Ia menarik napas dalam-dalam untuk meredakan gejolak di dadanya, lalu melangkah tegas menampakkan diri tepat saat tangan salah satu siswi melayang hendak menampar pipi gadis itu.

“Ehem,” deham Kinan dengan nada dingin.

Keempat siswi perundung yang semula merasa di atas angin itu serempak menoleh. Ekspresi mereka seketika panik lantaran tertangkap basah. Wajah-wajah yang semula begitu ketus kini mendadak tampak canggung, buru-buru menghindari tatapan Kinan yang tajam. Tanpa berkata apa-apa, mereka berhamburan melarikan diri dengan tergesa-gesa.

Kinan melangkah mendekat, berjongkok untuk mengambil kacamata yang tergeletak lalu mengulurkan tangan membantu gadis itu berdiri. “Kamu gak apa-apa?”

Gadis itu hanya mengangguk kecil. Tatapannya tetap tertunduk dalam, dengan bibir yang tertutup rapat.

“Apa mereka emang sering kayak gitu ke kamu? Kenapa kamu hanya diam pasrah? Kalau kamu takut, biar aku temani untuk lapor ke wali kelas atau guru BK, ya?" tawar Kinan sembari menyerahkan kembali kacamata tersebut.

Gadis itu masih terdiam kaku. Ia menggelengkan kepala pelan, menyambar kacamatanya, lalu perlahan melangkah pergi menyusuri lorong tanpa mengucapkan satu patah kata pun.

“Sekolah seharusnya jadi tempat belajar yang menyenangkan, bukan ladang untuk menanam luka,” batin Kinan miris. Pandangannya terus mengikuti tiap langkah gadis itu hingga menghilang di balik belokan lorong.

Keheningan itu membawa Kinan teringat kembali pada masa-masa SMA-nya dulu. Masa ketika ia pernah merasa begitu terasing di antara teman-temannya sendiri hanya karena tak mampu membeli barang-barang yang sedang tren saat itu.

Memang tak pernah ada ejekan langsung, tak ada pula kontak fisik yang menyakitkan. Namun, dinginnya rasa itu tetap saja membekas begitu dalam di hatinya.

Kinan berjalan keluar dari area toilet, menatap punggung siswi itu yang kian menjauh di koridor. Ia menghentikan langkahnya sejenak lalu menarik napas panjang.

"Kalau aku bisa jadi tempat aman untuk satu orang saja mungkin itu sudah cukup berarti," ucap Kinan dalam hati.

Ada gelombang empati mendalam yang tiba-tiba memenuhi dadanya, merasa seakan terhubung dengan kondisi siswi tersebut.

Hal-hal besar sering kali lahir dari sesuatu yang sederhana, terutama dalam hal kebaikan. Setiap orang memandang dunia dengan cara yang tak selalu bisa dimengerti oleh orang lain. Namun, justru di sanalah letak pentingnya kehadiran dan kepedulian seseorang walau hanya setitik.

Setelah menaruh tumpukan lembar kerja siswa di meja ruang guru dan mengambil kotak bekalnya, Kinan langsung menuju kantin. Dari kejauhan tampak teman-temannya yang berkumpul, tenggelam dalam obrolan yang begitu antusias hingga sesekali tertawa bersama.

Kinan segera duduk di antara mereka dan ikutan menyimak apa yang mereka obrolkan.

“Heboh banget. Lagi pada ngobrolin apa, sih?” tanya Kinan sembari membuka kotak bekalnya.

“Nah, akhirnya dateng juga kamu, Kin!” seru Wita menyambutnya.

“Lagi ngomongin soal Pak Vian. Tau kan, orangnya?” jelas Shela. Dialah yang tampak paling antusias di antara mereka berempat.

“Pak Vian?” ulang Kinan dengan kening berkerut. Ia memang belum begitu tahu dengan nama-nama guru di sekolah ini, selain mereka yang berhubungan langsung dengan praktik mengajarnya.

“Iya, Pak Vian. Guru olahraga yang cakep itu!” Jelas Shela heboh. Ia menurunkan volume suaranya sedikit sembari condong ke depan. “ Banyak lho siswi-siswi yang terpesona sama ketampanannya dan sering cari-cari alasan buat modus.”

“Ohh…” sahut Kinan manggut-manggut.

Desi yang duduk disebelah Kinan menyenggol lengan Kinan dengan siku. “Menurutmu gimana orangnya, Kin?”

“Menurutku?”

“Ganteng, kan? Gantenglah, masa gak? Ya, Kan?” goda Kiki, lengkap dengan tatapan jahilnya.

Kinan tertegun. Ia teringat beberapa saat lalu saat baru saja tiba di ruang guru. Ia tak sengaja bertabrakan dengan seorang guru muda. Pria itu bahkan sempat membantunya mengambil lembar kerja siswa yang tercecer di lantai.

Namun, karena Kinan cukup terburu-buru, ia hanya  mengucapkan terima kasih dan bergegas pergi tanpa banyak interaksi.

“Menurutku… ya gitu deh. Biasa aja,” sahut Kinan santai sambil menyendok kembali makanannya.

Keempatnya temannya serempak menatap ke arah Kinan dengan raut wajah heran. Meski begitu, tak ada satu pun dari mereka yang menanyakan lebih lanjut. Mereka sudah cukup terbiasa dan paham bagaimana  watak Kinan kalau sudah menyangkut urusan cowok.

“Umurnya udah hampir tiga puluh lho, tapi wajahnya kayak cuman beda dua tiga tahun dengan kita,” ucap Shela melanjutkan topik gosip mereka. Sementara Kinan masih tetap tenang melanjutkan makan siangnya.

“Tapi denger-denger, sampe sekarang masih belum nikah juga. Jadi penasaran apa alesannya. Padahal hidupnya kayak gak ada kurangnya,” tambah Shela dengan mata berbinar. Teman-temannya pun ikut menunjukkan ketertarikan sama dan berakhir hening sejenak.

Shela memang terkenal di fakultas mereka sebagai ‘ratu gosip’ yang selalu tahu lebih dulu tentang hal-hal rahasia. Bahkan, dulu Shela sempat beberapa kali menyebarkan gosip tentang Kinan. Namun anehnya, dari sanalah mereka justru makin dekat dan akhirnya menjadi teman baik.

“Eh, kalo soal Bu Citra gimana?” sahut Desi memecahkan keheningan, mengalihkan topik perbincangan.

“Gimana, Shel?” timpal Wita ikut penasaran.

Shela langsung memajukan badannya. Di sekolah ini, Selain Pak Vian, Bu Citra memang salah satu figur yang begitu terkenal, baik di kalangan para siswa maupun sesama guru.

“Dari info yang aku dapet sih, Bu citra itu umurnya seumuran dengan Pak Vian, dan dia itu lulusan S2 luar negeri,” jelas Shela berbisik penuh rahasia.

Kiki hampir saja tersedak minumannya. “S2 Luar negeri jadi guru SMA?!”

Semua orang di meja itu, selain Shela, tampak terkejut mendengar fakta tersebut, tak terkecuali Kinan. Terlebih lagi Desi. Ia sudah beberapa kali mengobrol langsung dengan Bu Citra, dan awalnya menduga bahwa usianya pasti tak berbeda jauh mereka.

“Gak cuman pinter, Bu Citra itu juga cantik dan badannya langsing kayak model! Dan ada satu hal lagi yang bakal membuat kalian tercengang,” lanjut Shela semakin bersemangat saat melihat reaksi antusias teman-temannya.

“Apaan, Shel?” tuntut Desi, makin tidak sabar.

Shela memang sengaja menggantung ucapannya. Ia malah menyesap minumannya santai, menikmati raut penasaran yang terpancar di wajah teman-temannya. Sebuah senyum puas terukir di bibirnya.

“Iya, Shel. Apaan?!” Wita ikut mendesak, menopang dagunya di meja.

Lain halnya dengan Kinan. Ia tak begitu menunjukkan ekspresi heboh sama sekali. Tangannya tetap sibuk menyuap makanan, sementara matanya sesekali melirik dan telinganya sekedar mendengarkan obrolan tersebut.

Shela menyipitkan matanya, berbisik makin pelan. “Bu Citra emang beneran seorang model dan…”

“Dan apa?!” potong ketiga temannya serempak.

“Bu Citra juga kalo ke sekolah selalu naik mobil. Dan gak tanggung-tanggung... mobil mewah! Keliatan paling beda sendiri di parkiran,” tambah Shela dengan gaya dramatis.

Tanpa Kinan sadari, ekspresinya sedikit berubah menunjukkan ketertarikan atau mungkin sedikit tidak percaya. Mulutnya bahkan sempat berhenti mengunyah makan siang untuk sesaat.

“Padahal sempurna banget kayaknya, ya. Cantik iya, pinter iya, kaya juga iya,” cetus Wita membeberkan kekagumannya.

“Tapi, tapi, tapi… denger-denger dia juga belum nikah-nikah sampe sekarang!” Shela lagi-lagi melontarkan sebuah informasi baru yang semakin membakar rasa penasaran teman-temannya.

“Mungkin lagi fokus ke karier atau hobinya gitu,” timpal Desi.

Kinan dalam hati pun ikut bertanya-tanya mengapa sosok sesempurna Bu Citra masih belum menikah, andaikan semua yang diucapkan Shela itu memang benar adanya.

Hingga isi kotak bekalnya habis, obrolan mereka masih terus mengalir. Tak hanya membahas guru-guru muda, tetapi juga menyenggol beberapa guru senior di sekolah itu.

Siang menjelang sore, bel pulang sekolah akhirnya berbunyi. Di area parkiran, Kinan sedang bersiap untuk segera berangkat menuju tempat kerja sampingannya. Namun tiba-tiba, ia dihampiri oleh teman-temannya yang sudah siap diatas motor.

“Kin, ikut anak-anak ke cafe yuk!” ajak Desi dari atas boncengan.

Kinan tersenyum tipis sambil menggeleng pelan. “Gak bisa. Aku abis ini mau langsung ke tempat kerja.”

“Ohh, kamu kerja Kin? Baru tau aku,” sahut Kiki sedikit terkejut.

“Iya.”

“Yaudah kalo gitu. Kita duluan, ya!” pamit mereka.

Kinan mengangguk, lalu mengenakan helm dan menaiki sepeda motornya. Ia menyalakan mesin, perlahan keluar melewati gerbang sekolah menuju cake shop tempatnya bekerja.

Namun, baru beberapa puluh meter berkendara, matanya melihat siswi korban perundungan tadi yang sedang berjalan kaki seorang diri.

Kinan menepi, mematikan mesin motor tepat di samping gadis itu sebelum akhirnya turun menghampirinya.

“Kamu jalan kaki?”

Gadis itu hanya mengangguk tanpa bersuara, enggan menatap langsung ke arah mata Kinan.

“Gak ada yang jemput?”

Ia kembali menggelengkan kepala,. Bibirnya masih terkunci rapat, enggan untuk bicara.

“Kalo gitu, ayo aku anterin pulang,” tawar Kinan.

Gadis itu melirik ragu ke arah Kinan, lalu lagi-lagi hanya menggelengkan kepala. Kinan mencoba membujuk agar ia mau menerima tawarannya, namun kembali ditolak secara halus.

Tapi Kinan tak menyerah begitu saja. Setelah beberapa kali membujuk dengan penuh kesabaran, akhirnya siswi itu luluh dan mau diantarkan pulang.

Sepanjang perjalanan, Kinan mencoba menanyakan beberapa hal untuk mencairkan suasana. Namun, gadis di boncengannya itu hanya menjawab lewat anggukkan atau gelengan kepala. Di tengah jalan, Kinan baru menyadari bahwa jarak dari sekolah ke rumah siswi ini ternyata lumayan jauh, apalagi harus ditempuh dengan jalan kaki di bawah terik matahari.

Beberapa menit kemudian, siswi itu menepuk pelan pundak Kinan, mengisyaratkan minta berhenti. Motor Kinan pun menepi di mulut sebuah gang kecil. Sesaat setelah turun, gadis itu akhirnya membuka mulutnya dan mengucapkan terima kasih kepada Kinan, walaupun suaranya begitu pelan nyaris seperti bisikan. Senyum tipis sempat terukir sebelum ia berbalik dan menghilang di balik gang.

Kinan termenung sesaat di atas motornya, menatap ke arah gang tersebut. Banyak pertanyaan dan rasa penasaran yang berkecamuk di kepalanya. Hingga akhirnya, ia tersadar bahwa jam kerjanya sudah sangat mepet dan seketika Kinan langsung menancap gas bergegas pergi.

Beberapa hari kemudian, di sebuah Minggu pagi yang tenang. Kinan sedang duduk membantu ibunya memotong sayur di dapur.

“Hari ini mau masak apa, Bu?” tanya Kinan sambil tangannya tetap telaten mengiris wortel.

“Masak sayur sop. Kalau sudah, nanti sekalian kamu cuci, ya, wortel sama buncisnya,” sahut ibunya dari depan kompor.

Namun tanpa diduga, fokus Kinan sedikit teralihkan. Ujung mata pisau yang tajam menggores jarinya cukup dalam hingga darah segar mulai mengucur.

Kinan meringis kaget. Hal itu sontak membuat ibunya panik dan langsung menghampirinya. Saat ibunya hendak melangkah mengambil plester, Kinan menahannya dan berkata biar ia saja yang mengambilnya sendiri.

Kinan menuju kamar ibunya, lalu menarik laci meja tempat biasa kotak obat disimpan. Namun, di balik tumpukan kain di laci itu, Kinan justru menemukan foto lama ayahnya beserta beberapa barang peninggalan yang penuh kenangan masa lalu.

Dada Kinan seketika terasa sesak. Dengan jari gemetar, ia menggenggam foto itu, melangkah kembali ke dapur, lalu menghampiri ibunya dengan nada suara yang mendadak sangat berbeda jauh dari biasanya.

“Kenapa ibu masih nyimpen foto orang ini?”

1
Crestfall
Mika favoritku sih
Crestfall
👍👍👍
Rey
Cukup menarik. sepertinya aku bakal stay ngikutin ini
Ryn Takumi: Makasih, Kak.
Jangan bosen bacanya 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!