Emily terpaksa menjadi pengantin dari Leon Anderson yang merupakan seorang mafia lumpuh menggantikan sang kakak yang kabur menjelang hari bahagia. Pernikahan mereka juga terjadi karena orang tuanya Emily memiliki utang besar kepada Leon dan Emily juga tak tau jika dirinya hanya seorang anak angkat. Seiring berjalannya waktu, cinta mereka pun tumbuh dan Emily mengandung. Namun, sebuah insiden memisahkan keduanya.
Beberapa tahun kemudian, mereka kembali bertemu tetapi semua telah berubah. Emily yang telah melahirkan bocah laki-laki yang pintar tak mengingat Leon. Akankah keduanya dapat kembali bersatu lagi untuk merawat dan membesarkan buah hati mereka? Atau keduanya memilih jalan hidup masing-masing dengan orang berbeda?
Diharapkan tidak menabung bab. Terima kasih 🙏🏼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Leon sekilas melihat ke arah bahu kirinya yang berdarah, lalu menatap Emily dengan mata berkaca-kaca menahan rasa sakit dihatinya. Ia tak menyangka wanita yang dicintainya dan wanita yang pernah disuruhnya belajar menembak akhirnya mempraktekkan ilmunya kepadanya.
Tanpa mengucapkan satu kata, Leon pun ambruk dengan luka tembakan.
"Ayah!!!" pekik Zayn berlari ke arah Leon yang tergeletak di lantai gudang kosong.
Tangannya gemetaran, keringat mengucur deras dari keningnya. Bayangan masa lalu terbesit di depannya sangat jelas. Persis kejadian beberapa waktu lalu. Emily melepaskan pistol dan tubuhnya terhuyung ke belakang. Teriakannya terngiang di pikirannya.
Jason yang disampingnya lantas memegang tubuhnya agar tak ambruk.
"Ayah, bangunlah!!" teriak Zayn memanggil, ia jongkok dan menggoyang-goyang tubuh Leon agar bergerak.
Melihat Leon tak berdaya membuat Jason, Belinda dan Caroline tersenyum senang. Sedangkan, Jenni berdiri terpaku, ia tak menyangka Emily berbuat nekat.
Zayn bangkit berdiri, ia membalikkan badannya menatap marah ke arah ibunya, "Kenapa Ibu menembak Ayah? Apa salah Ayah?"
Emily masih kelihatan syok. Karena emosi, ia tak dapat berpikir jernih dan melakukan perbuatan melukai seseorang yang mencintainya.
"Ibu jahat!" teriak Zayn diiringi isak tangis.
"Aku membunuhnya!" Bibir Emily bergetar diikuti dengan tangisan ketakutan dan penyesalan.
Jason memeluk Emily. "Kamu sudah benar!"
Emily mendorong tubuh Jason. Ia lalu berteriak sekencang-kencangnya sambil memegang kepalanya, "Aaargghh....!"
Jenni mendekat dan memeluknya, ia juga turut menangis.
Zayn kembali berjongkok di dekat tubuh ayahnya yang lemah. "Ayah, jangan tinggalkan aku!!" isaknya.
Tak lama kemudian, Emily yang tergoncang akhirnya pingsan.
"Emily!" pekik Jenni dan Jason.
-
Dua jam kemudian, Emily tersadar. Ia memegang kepalanya yang masih terasa sedikit sakit. Ia mengedarkan pandangannya dan memegang perutnya, lalu menoleh ke samping.
"Kamu sudah sadar, Nak!" Jenni tersenyum lega.
Emily mengernyitkan keningnya.
"Emily?"
"Bibi siapa?" tanya Emily.
"Kamu tidak ingat Ibu?" Jenni balik bertanya.
"Di mana calon bayiku?" Emily memegang perutnya.
"Emily, kamu ingat semuanya?" Jenni tampak senang.
Emily tak menjawab.
Jenni lalu memanggil dokter dan perawat untuk memeriksa kesehatan Emily.
Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter menyatakan bahwa ingatan Emily telah kembali seperti beberapa tahun lalu ketika sebelum dirinya jatuh. Namun, dokter memberikan saran agar pelan-pelan mengingatnya tanpa perlu terburu-buru.
"Aku lupa ingatan?" tanya Emily terbata.
Selepas dokter dan perawat meninggalkan ruangan. Jenni lalu menceritakan semua dari Emily yang terjatuh ke jurang hingga menembak Leon.
"Apa? Aku menembak suamiku sendiri?" Emily bertanya dengan mata berair.
Jenni mengangguk mengiyakan.
"Sekarang di mana dia? Apakah dia selamat?" Emily hendak turun tetapi dicegah.
"Emily, kamu belum sepenuhnya sehat. Leon baik-baik saja. Dokter sedang berusaha mengeluarkan peluru dari tubuhnya!" ujar Jenni.
"Aku hampir melenyapkan nyawanya, Bu!" kata Emily menangis.
"Iya, Ibu tau. Tapi, kondisi kamu tidak memungkinkan untuk melihatnya. Ada mertua dan anakmu menemaninya!" ucap Jenni memeluknya.
-
Tiga jam setelah Emily sadar. Jason, Caroline dan Belinda datang menjenguk. Melihat kehadiran ketiganya, Emily mengepalkan tangannya di balik selimutnya.
Ketiganya memasang wajah penuh kepalsuan. Mereka berpura-pura khawatir dengan kondisi Emily.
"Emily, kami senang akhirnya kamu sudah sadar!" kata Belinda.
"Keputusan kamu menembaknya tepat sekali!" puji Caroline.
"Tapi, dia tidak mati dan aku sangat senang," kata Emily tersenyum.
Belinda, Caroline dan Jason saling pandang.
"Apa ada yang salah?" tanya Emily menatap ketiganya bergantian.
"Dia menculik Zayn dan mau membawanya kabur dari negara ini," jawab Jason.
"Biarkan saja, lagian Leon adalah ayahnya. Aku tidak bisa melarangnya," kata Emily.
Caroline memegang kening Emily namun ditepisnya dengan kasar.
"Emily, kenapa kamu berubah begini?" Caroline tampak curiga.
"Emily butuh istirahat yang banyak. Bisakah kalian keluar dan membiarkannya beristirahat?" pinta Jenni.
"Kami ini keluarganya. Kau tidak bisa seenaknya mengusir kami!" protes Caroline.
"Iya, aku tau tapi Emily butuh istirahat. Apalagi beberapa minggu ini hari-harinya terasa berat!" ujar Jenni.
"Itu karena mantan suaminya tiba-tiba datang dan mengacaukan semua!" celetuk Belinda.
"Kami belum bercerai. Jadi, dia bukan mantan suamiku!" sahut Emily.
"Emily, kenapa kamu masih saja terus membelanya?" tanya Jason.
"Kamu tidak suka. Silakan pergi, aku juga tidak butuh pria sepertimu!" jawab Emily.
Jason mengepalkan tangannya, ia merasa terhina.
"Bu, aku mau tidur. Obat yang diberikan dokter membuatku mengantuk!" kata Emily menoleh ke arah ibu angkatnya.
"Kalian dengarkan, Emily butuh istirahat!" singgung Jenni.
"Ayo, Ma. Kita pulang!" Belinda menarik tangan ibunya keluar dari ruangan kamar inap.
Jason yang kesal juga ikutan keluar.
Begitu ketiganya keluar dari kamar inap, air matanya Emily kembali menetes. Ia merasa sangat bersalah pada suaminya.
"Bu, aku ingin bertemu dengan Leon!" lirih Emily memohon.
"Ibu mau melihat kondisinya Leon dulu dan meminta izin pada mertuamu. Kamu diperbolehkan atau tidak mengunjungi Leon!" kata Jenni.
-
Dari kamar inap putrinya, Jenni melangkah ke sebuah ruangan tempat Leon dirawat. Meskipun peluru berhasil dikeluarkan namun pria itu belum juga sadar.
"Oma Jenni!" Zayn mendekat dan memeluknya. "Ayahku selamat, dokter sudah menolongnya. Aku sangat senang!" serunya.
Jenni tersenyum tipis dan berkata, "Syukurlah, Zayn. Oma juga senang!"
"Bagaimana dengan Emily?" tanya Frans menoleh ke arah Jenni yang berdiri.
"Dia sudah sadar dari tiga jam lalu. Dia ingin menemui Leon. Apa kalian mengizinkannya?" tanya Jenni dengan terbata, ia takut kedua orang tuanya Leon marah besar.
"Untuk apa lagi dia mau bertemu Leon? Bukankah dia senang Leon terluka?" singgung Rachel yang kesal dan kecewa.
"Emily menyesal telah melakukannya dan ingatannya juga sudah kembali pulih," jelas Jenni.
Rachel dan Frans tercengang mendengarnya.
"Dia ingin sekali bertemu Leon," kata Jenni.
"Kami mengizinkannya!" sahut Frans.
"Pa...Mama takut jika Emily akan menyakiti Leon lagi!" khawatir Rachel.
"Kondisi tubuhnya masih lemah, tak mungkin Emily menyerang Leon. Kita ada di sini menjaga Leon!" Frans meyakinkan istrinya.
Setelah mendapatkan izin dari kedua orang tuanya Leon. Menggunakan kursi roda dan ditemani Jenni, Emily mendatangi ruang rawat inap suaminya.
Emily kelihatan bingung ketika melihat bocah laki-laki yang berdiri dihadapannya sembari melipat tangan di dada.
"Kenapa Ibu di sini? Mau menyakiti Ayah lagi?" tudingnya dengan raut wajah kesal.
"Apa dia anakku, Bu?" Emily mendongakkan wajahnya ke samping menatap ibunya.
"Iya, Emily. Dia anak kamu dan Leon. Namanya Zayn. Kamu melahirkannya beberapa tahun lalu," jelas Jenni.
Mendengar obrolan keduanya, sontak membuat Rachel dan Frans tercekat.
Emily lantas menunduk dan menangis. "Maafkan Ibu, Zayn!"
"Jika terjadi sesuatu pada ayah. Zayn tidak akan pernah memaafkan Ibu!" tegas Zayn.
"Ibu terima, Nak. Asal itu membuatmu lega!" ujar Emily terisak.
Jenny sedikit menunduk dan berucap, "Emily, jangan terus bersedih. Ingat, kamu tidak boleh terlalu banyak menangis. Itu dapat membuat kondisi tubuhmu lemah!"
"Aku merasa bersalah pada Leon dan Zayn, Bu!" ungkap Emily.
"Ya, tapi sekarang belum terlambat. Kamu bisa memperbaikinya!" kata Jenni memberikan semangat.
Jenni mendorong kursi roda Emily. Ia meletakkannya di samping ranjang. Lalu kemudian ia keluar dan meninggalkannya.
Emily meraih tangan kanan suaminya dan menempelkannya di pipi, "Maafkan aku! Aku sangat merindukanmu!" lirihnya dengan mata berair.