Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Sang Mafia

Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Pengantin Pengganti
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: L U N E

Aurora Valencia dipaksa menuruti permintaan kedua orang tuanya, yaitu menjadi pengantin pengganti, menggantikan kakaknya yang melarikan diri di hari pernikahan.

Demi menjaga kehormatan keluarga, Aurora akhirnya setuju dan menikah dengan Rozen Salvadore. Seorang pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan sulit ditebak.

Walau pernikahan itu berawal dari keterpaksaan, Aurora perlahan-lahan berusaha beradaptasi dengan kehidupan barunya. Gadis itu juga menyadari bahwa di balik sikap suaminya yang kaku, tersimpan perhatian yang tidak pernah pria itu tunjukkan secara terang-terangan.

Hingga di tengah kesalahpahaman, rahasia keluarga dan ancaman kecil dari dunia mafia, mereka dipaksa belajar untuk saling percaya.

Akankah pernikahan yang awalnya hanyalah sebuah pengganti berubah menjadi kisah cinta yang abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L U N E , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sarapan yang Berbeda

Hujan semalam menyisakan udara sejuk dan jejak aroma unik dari tanah basah di taman belakang. Titik-titik air masih menggantung di ujung dedaunan. Kicau burung terdengar samar berpadu dengan langkah kaki para pelayan yang mulai menjalankan rutinitas pagi mereka.

Aurora menyambut hari baru dengan suasana pagi yang selalu sama. Dimulai dengan kehadiran cahaya lembut matahari yang perlahan menembus tirai kamarnya, disusul pejaman mata yang perlahan terbuka.

Kelopak mata dengan bulu mata lentik itu mulai bergerak. Aurora membuka matanya dengan perasaan yang sedikit berbeda.

Kali ini tidak seperti pagi sebelumnya ketika Aurora terbangun dengan pikiran dipenuhi rasa malu setelah pertemuannya dengan Rozen di tangga. Pagi ini Aurora justru merasa lebih tenang, meski ingatan tentang perhatian Rozen masih sesekali muncul. Kabar baiknya Aurora sudah tidak lagi merasa ingin bersembunyi setiap kali mengingatnya, melainkan ingin menghadapinya.

Setelah sepenuhnya terjaga, Aurora duduk di tepi ranjang lalu menarik napas panjang. Akhir-akhir ini ia merasakan ada sesuatu yang perlahan berubah dalam dirinya. Seperti suasana mansion yang awalnya terasa asing kini Aurora mulai memiliki keakraban tersendiri. Mulai menyukai suara langkah para pelayan, aroma bunga dari taman, bahkan lorong panjang yang dulu sempat membuatnya takut tersesat. Semua itu mulai terasa layak menjadi bagian dari kesehariannya.

Terkecuali satu hal yang masih belum berubah. Tentang bagaimana jalan hidupnya bermula. Tentang fakta bahwa dirinya adalah pengantin pengganti. Aurora juga ingin terbiasa dengan hal itu, tapi hingga saat ini Aurora memang masih belum bisa sepenuhnya membiasakan diri.

Aurora menggeleng kecil. Itu adalah bentuk kebiasaan baru yang Aurora lakukan ketika berusaha menyingkirkan pikiran buruk dari pikirannya.

...***...

Ruang makan Mansion Salvadore selalu terasa bergerak lebih santai. Seolah pagi hari adalah waktu khusus untuk menikmati hidup yang sesungguhnya.

Pagi yang kerap disinggahi suasana tenang dan hangat kembali terulang. Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela tinggi dan mendarat jatuh di atas meja makan panjang yang telah tertata rapi. Kilau dari peralatan makan berbahan perak sesekali memantulkan cahaya sementara aroma kopi, roti panggang dan makanan hangat mulai memenuhi ruangan.

Beberapa pelayan bergerak tanpa banyak suara, meletakkan hidangan di atas meja dengan gerakan teratur dan mundur dengan sikap sopan. Saat itu tidak ada percakapan keras. Hanya bunyi samar peralatan makan yang bersentuhan dengan piring serta suara lembaran koran yang sesekali dibalik oleh Rozen.

"Selamat pagi." Aurora tiba di ruang makan lantas duduk di tempatnya dengan tenang.

Rambut panjangnya dibiarkan terurai dengan sedikit gelombang alami, sementara gaun sederhana berwarna krem membuat penampilannya terlihat semakin lembut.

"Pagi."

Sepenggal percakapan yang selalu mengawali pertemuan mereka di meja makan. Singkat tanpa perlu bumbu basa-basi.

Aurora, dari tempatnya duduk bisa melihat Rozen dengan jelas. Pria itu selalu tampak tenang. Pagi ini Rozen mengenakan kemeja gelap dengan lengan yang tergulung hingga siku. Ekspresi wajahnya tetap dingin dan datar seperti biasa, seolah dunia di sekelilingnya tidak boleh dan tidak mampu mengganggu ketenangannya.

Aurora tidak lagi merasa terintimidasi oleh keheningan tersebut. Ruang makan yang dulu terasa terlalu besar dan asing perlahan mulai terasa akrab. Aurora mulai mengenali tempat duduknya, mengenali suara langkah pelayan, bahkan terbiasa dengan kebiasaan Rozen membaca koran setiap sarapan.

Sepasang mata dengan bulu mata lentik, yang tampak apik setiap kali Aurora berkedip itu, sempat tertuju pada koran di tangan Rozen. Hanya beberapa detik kemudian kembali pada hidangan di hadapannya sambil tersenyum.

Hingga akhirnya Aurora sadar bahwa menu sarapannya pagi ini terasa berbeda. Ia menyaksikan di hadapannya sudah tersaji secangkir teh hangat dan sepiring sup hangat. Di mana roti panggangnya?

Aurora menatap makanan tersebut, kemudian menoleh kepada pelayan.

"Aku tidak meminta ini," ucap Aurora lembut.

Pelayan itu tersenyum sopan sebelum memberi jawaban. "Tuan Rozen yang memintanya disiapkan untuk Nona Aurora."

Aurora yang awalnya tersenyum mendadak terpaku dengan senyum yang perlahan memudar. Ia menoleh menatap Rozen yang masih sibuk dengan lembar korannya dengan mimik wajah penuh tanya.

"Kamu yang memintanya?” tanya Aurora pelan, tidak ingin mengusik Rozen dan koran di tangannya.

Rozen membalik halaman koran bisnisnya dengan gerakan santai.

"Semalam kau kehujanan."

"Jadi?"

"Makan sesuatu yang hangat."

Aurora menatap hidangan di hadapannya dengan senyuman kecil yang muncul tanpa disadari.

"Terima kasih."

Rozen mengangguk tanpa ekspresi berlebih, tanpa kata yang mengakhiri. Percakapan terhenti ditutup anggukan kepala singkat. Walau keheningan kembali tercipta di antara mereka, tetapi kali ini keheningan itu tidak lagi terasa seperti sebuah jarak. Melainkan seperti dua orang yang perlahan belajar terbiasa dengan keberadaan satu sama lain.

Aurora mengambil cangkir tehnya. Memberikan tiupan lembut yang bermaksud mengurangi panas sebelum meneguk perlahan.

Hangat.

Bukan hanya tehnya tapi juga hatinya.

Dan tanpa Aurora sadari, pagi itu sudut bibirnya tidak berhenti terangkat membentuk senyuman manis.

Untuk pertama kalinya Aurora merasa bahwa mansion itu tidak lagi terasa asing dan dingin. Walau hanya sebentar, Aurora tidak lagi merasa bahwa dirinya adalah pengganti seseorang.

Mungkin, sedikit demi sedikit Mansion Salvadore bisa menjadi rumahnya juga. Tempat di mana kehadirannya diperhatikan. Tempat di mana sosoknya dihargai. Tempat di mana dirinya diterima.

Dan pagi itu adalah pagi pertama bagi Aurora merasa kehangatan yang luar biasa.

Pagi itu hanya ada Aurora, Rozen, meja makan yang panjang dan sebuah kehidupan baru yang perlahan mulai terasa nyata.

...***...

Sarapan masih berlangsung walau beberapa menit telah berlalu dalam keheningan. Sesekali Aurora mencuri pandang kepada Rozen yang masih membaca koran karena rasa penasaran yang menggerogoti pikirannya.

"Um, Rozen?” Aurora memberanikan diri membuka kata.

"Hm?"

"Kamu selalu membaca koran saat sarapan?" Pertanyaan itu sudah pernah dibahas sebelumnya, tapi Aurora sepertinya masih belum puas mendengar jawaban Rozen. Padahal jawaban Rozen masih sama saja, singkat dan datar.

"Ya."

"Setiap hari?" tanya Aurora lagi.

Mungkin Aurora hanya menyukai cara Rozen mengatakan 'ya' sehingga Aurora tetap melayangkan pertanyaannya.

"Ya."

"Kalau begitu aku akan membaca koran juga."

"Kenapa?" Rozen menurunkan korannya, melirik ke arah Aurora.

"Supaya kita bisa sarapan tanpa perlu berbicara."

Rozen menatap Aurora, kali ini bukan hanya sebuah lirikan, tapi tatapan penuh selidik.

Menyadari perubahan itu, Aurora langsung merasa salah bicara.

"Aku bercanda," ucapnya kikuk.

Beberapa detik berikutnya, Aurora semakin salah tingkah begitu Rozen justru melipat korannya.

"Kau mau berbicara?"

Pertanyaan Rozen itu tidak terpikirkan sebelumnya di kepala Aurora. Sungguh, Aurora tidak bisa membaca pergerakan Rozen yang selalu tiba-tiba.

Tapi pada akhirnya, Aurora pun tersenyum. "Kalau kamu tidak keberatan," ucapnya kemudian.

"Aku tidak keberatan."

Itu adalah kalimat yang membuat Aurora bersemangat. Kalimat yang menjadi pembuka untuk Aurora menceritakan hal-hal sederhana yang diketahui dan dialaminya.

Misalnya sesederhana tentang bunga yang hampir rusak akibat hujan semalam. Tentang kekhawatirannya akan rumah kaca yang mungkin terkena banjir karena air hujan yang mulai naik ke jalan setapak. Tentang Bibi Rosa yang memarahinya karena pergi ke taman. Bahkan tentang bagaimana Aurora yang hampir terpeleset ketika kembali ke mansion.

Rozen mendengarkan semua itu dengan baik dan penuh fokus seakan apa yang diocehkan oleh istrinya tersebut sama pentingnya dengan isi rapat bisnisnya.

Tidak banyak memberikan tanggapan. Namun tetap memberikan perhatian.

Aurora menyadarinya, bahwa Rozen benar-benar mendengarkan ceritanya. Walau suaminya hanya menjadi pendengar, Aurora sudah merasa senang.

Hingga tiba seorang pelayan datang membawa sebuah kotak kecil, Aurora menghentikan ceritanya.

"Nona Aurora, ini untuk Anda."

Aurora mengernyit sedikit kebingungan. "Untukku?" tanyanya memastikan lagi.

Setelah menerima anggukan, Aurora menerima kotak tersebut lalu membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah syal lembut berwarna biru muda.

Aurora menyentuh kain itu dengan ujung jarinya.

"Dari siapa?" tanyanya pada pelayan.

Aurora menjadi semakin bingung saat pelayan itu tiba-tiba melirik Rozen.

"Tuan Rozen."

Aurora perlahan menoleh pada sosok pria yang tidak berniat mengatakan sesuatu itu. Bahkan Rozen tampak sama sekali tidak tertarik dengan reaksi kebingungan yang Aurora perlihatkan secara terang-terangan itu.

"Kenapa?" Akhirnya Aurora yang bertanya.

"Karena kau mudah kedinginan."

...***...

1
Anonim
lanjut tor aku penasaran dgn cerita nya
Lumina Vivian
Seru, tulisannya juga rapi.
Lumina Vivian
Lanjutkan ceritanya kak, semangat!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!